
Butet menghentikan laju mobilnya di depan rumahnya. Ia menatap rumahnya yang kini tampak lengang, dengan tatapan yang prihatin. Lalu ia beranjak keluar untuk membuka gerbang rumah tersebut. Saat pagar rumah itu terbuka, terlihat asisten rumah tangga yang menjaga dan merawat rumah itu berlari menghampiri dirinya.
"Alhamdulillah... Ibu akhirnya pulang." Ucap Asisten rumah tangga itu.
Butet hanya tersenyum dan kembali memasuki mobilnya. Lalu pagar rumah tersebut di buka lebar lebar oleh asisten rumah tangga itu, agar mobil Butet dapat masuk ke pekarangan rumah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Butet dan Moana pun beranjak turun. Asisten rumah tangga yang baru saja menutup pagar rumah itu, pun kembali menghampiri Butet dan Moana.
"Non Moana.. ya Allah, bibik kangen sama non!" Ucap Asisten rumah tangga itu.
"Aku pun jugak, bik. Bibik apa kabar?" Tanya Moana, seraya memeluk asisten rumah tangga yang sudah ia kenal sejak balita.
"Alhamdulillah, bibik baik non. Non apa kabar? Ibu apa kabar? Non sama ibu kembali tinggal di sini lagi ya?"
"Baik bik. Enggak, kami mampir." Jawab Butet.
Terlihat raut wajah kecewa pada asisten rumah tangga tersebut.
"Kenapa toh bu? Kenapa gak tinggal di sini lagi saja sama bapak," Ucap asisten rumah tangga itu seraya menahan kesediaanya.
"Udahlah bik. Sekarang bantu aku ambil belanjaan di bagasi ya. Kita masak untuk malam ini. Soalnya ada tamu," Ucap Butet, seraya membuka bagasi mobilnya.
"Oh, baik bu." Asisten rumah tangga itu pun beranjak membantu Butet, menurunkan barang belanjaan tersebut dari dalam bagasi. Lalu mereka beranjak masuk ke rumah seraya membawa beberapa kantong belanjaan yang sengaja Butet beli di salah satu supermarket yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Masak apa bu?" Tanya Asisten rumah tangga itu.
"Kita masak arsik ikan mas. Terus, masak daon ubi tumbok. Jan lupa sambal tuktuk jugak. Oh iya, goreng kerupok jugak ya, bik. Bikin telor di sambal, sama buat juga goreng ayam. Pokoknya yang enak-enak lah." Terang Butet yang tampak begitu bersemangat.
"Memangnya siapa tamunya, bu? Pasti tamu istimewa ya, bu? Apa bapak juga pulang?" Tanya asisten rumah tangga itu, seraya tersenyum menggoda Butet.
Butet menatap tajam asisten rumah tangganya, lalu ia melengos dan mengeluarkan bahan-bahan yang akan di masak, dan menaruhnya di atas meja dapur.
"Masak ajalah kau bik. Nantik kau liat aja sendiri siapa yang datang. Tapi ingat, jan kau cakap macam macam sama tamu ku ya," Ucap Butet.
Asisten rumah tangga itu pun mengangguk dan tersenyum canggung kepada Butet.
"Ya udah, kau siapkan ini semua ya bik. nantik ku bantu kau masak. Aku mau nengok Moana dulu. Mana nya anak itu tadi ya?" Butet pun melangkah meninggalkan dapur. Lalu ia mencari Moana di ruang tamu. Tetapi putrinya tersebut tidak ada di sana. Butet pun kembali mencari Moana di luar, namun tidak juga ia temukan. Akhirnya, Butet pun beranjak ke kamar Moana. Di sana ia menemukan Moana yang sedang berdiri menatap foto keluarga. Butet pun merasa bersalah kala melihat Moana termenung, akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan berdiri di samping Moana.
"Apa yang kau liat nak ku?" Tanya Butet, seraya menatap Moana.
__ADS_1
Moana membalas tatapan ibunya dan tersenyum kecil. Lalu ia kembali nenaruh foto keluarga tersebut kembali di atas meja belajarnya.
"Mak.."
"Ya?" Sahut Butet.
Moana kini beranjak duduk di atas ranjang dan kembali menatap Butet dengan seksama.
"Kenapa nak ku?" Tanya Butet.
"Aku senang kali lah mak."
"Senang? Kenapa kau senang?" Tanya Butet lagi.
"Aku senang kita balek ke rumah ini. Walaupun, kita gak tinggal di sini lagi. Akhirnya aku bisa liat foto keluarga kita lagi mak."
Butet terdiam mendengar ucapan Moana.
"Mak, kalok aku boleh jujur. Pening kali aku liat mamak sama bapak, betekak panjang aja. Mamak sama bapak gak pening apa? Mak, kenapa gak balek aja mamak sama bapak. Kata guru ku di sekolah, damai lebih indah, mak."
Butet masih terdiam, tanpa mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Mendengar keluhan putrinya, Butet pun beranjak duduk di samping Moana, dan lalu ia menghela napas panjang.
"Gak bisanya mamak maapkan bapak? Jujur ya mak, aku gak suka loh, kek gini." Protes Moana.
Butet menoleh dan menatap Moana yang pandangan matanya tampak menerawang jauh.
"Kau dengar ya nak ku, terkadang ada masalah orang tua yang anak kecil gak paham." Terang Butet.
"Kenapa ya, orang tua egois egois ya mak? Katanya kami gak paham. Tapi gak mau kasih paham kami," Ucap Moana.
Degggg...!
Jantung Butet berdegup kencang, kala mendengar buah pikir putrinya tersebut.
"Kok pintar kali kau nak? Dapat bahasa dari mana pulak kau itu?" Tanya Butet, seraya menatap Moana dengan terheran-heran.
"Aku kan punyak hape. Jadi ku tonton di yutob, apa aja masalah orang tua jaman sekarang. Jadi aku hapal lah bahasanya." Jawab Moana.
__ADS_1
"Mak... ngeri kau ya..., jangan lah kau tonton itu yuton lagi!" Ucap Butet, seraya meraih ponsel Moana yang tergeletak di atas meja.
"Ish mamak!" Moana tampak protes dengan aksi Butet.
"Kek mana cara setting buat anak-anak ya?" Batin Butet, yang terlihat panik, seraya membuka aplikasi tersebut.
"Mak...!" Protes Moana.
"Ngeri kau aku tengok Moana! Pinjam dulu hape mu. Kalok udah betol, baru mamak balekkan," Ucap Butet, seraya membawa pergi ponsel Moana.
"Mak!" Panggil Moana.
"Gadak cerita ya Moana. Udah lebih tua kau ku tengok daripada aku!" Protes Butet, seraya beranjak keluar dari kamar Moana.
Moana pun tampak cemberut, lalu ia kembali menatap foto keluarga yang berada di atas meja belajanya. Lalu tanpa ia sadari, air mata pun meleleh di pipinya.
"Kek gini kali lah!" Protes Moana. Lalu ia menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
......................
Tepat setengah tujuh malam, semua masakan sudah terhidang di atas meja makan. Sedangkan Butet, berada di kamarnya dan mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Grazia yang berjanji akan ke rumahnya pada pukul tujuh malam ini. Butet berdandan layaknya seorang wanita berkelas. Ia memakai gaun berwarna lilac dengan potongan V neck. Sedangkan rambut panjangnya, sengaja Butet gulung, agar terlihat lebih rapi. Riasan wajahnya pun tampak begitu elegan tanpa harus berlebihan.
Ting!
Sebuah pesan baru saja masuk. Butet pun segera meraih ponsel tersebut dan langsung membaca pesan dari Grazia.
"Kak, saya sedang berada di perjalanan. Jalanan macet sekali. Mudah-mudahan saya tidak telat."
Begitulah bunyi pesan yang Grazia kirimkan kepada Butet.
"Oh iya, gak apa. Hati-hati di jalan ya besti.." Balas Butet.
"Besti.., ish mual aku!" Butet memprotes tulisannya sendiri, seraya bergidik, layaknya seseorang yang sedang merasa jijik.
"Kalok gak karena sahabatku, malas aku baek baek samamu! Sebenarnya pen kali aku pijak mukak mu itu." Gumam Butet lagi.
Namun tiba-tiba saja Butet termenung, seraya menatap bayangan dirinya sendiri di depan cermin. Lalu ia terduduk di atas kursi meja rias dan tertunduk lesu. Entah mengapa, ia terus terpikir apa yang Moana katakan pada dirinya tadi sore. Hal itu terus menerus mengusik pikirannya yang sebenarnya sedang sama stress nya dengan Sri. Status yang tergantung, masalah yang belum terselesaikan, hingga perasaan yang masih cinta, namun begitu gengsi untuk mengakui, apalagi memaafkan apa yang telah terjadi.
"Masalah orang kau selesaikan, Butet. Tapi apa kabar dengan masalahmu sendiri." Batinnya, seraya mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir, tanpa mampu ia bendung.
__ADS_1