
"Adooo sajo masalah rumah tangga tu yo da," Ucap Siti, seraya membantu Batra merapikan kemeja yang sedang Batra pakai.
"Namanya rumah tangga. Kalau rumah makan, kenyang." Celetuk Batra.
"Ish, uda ko! Ambo serius mah." Siti menepuk tangan Batra, dengan wajah yang serius.
Batra tertawa geli melihat ekspresi wajah istrinya tersebut.
"Uda setia indak jo Siti?" Tanya Siti, dengan tatapan wajah yang menyelidik.
Batra membalas tatapan Siti dan tersenyum.
"Gak ada wanita yang lebih sempurna daripada istri ku." Jawab Batra.
Siti tersenyum manja dan langsung memeluk Batra dengan erat.
"Kamu melahirkan anakku. Kamu berada di rumah, mempertaruhkan gelar sarjanamu. Kamu melayaniku dengan baik. Kamu mengajari anak-anak mengaji, belajar, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Kamu jiga berbelanja, terkadang kamu membuat pesanan kue dan masakan Padang. Kamu itu yang terbaik," Ucap Batra, seraya membalas pelukan Siti yang semakin erat.
"Uda..." Siti menatap Batra dengan haru di wajahnya.
"Siti, jangan tinggalkan aku ya. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak tahu bila tidak ada kamu di sisiku." Batra membalas tatapan Siti dengan wajah yang tampak memohon.
Siti kembali tersipu malu, lalu ia mengusap pipi Batra dengan lembut.
"Tidak akan uda. Uda sudah yang paling sempurna," Balas Siti.
"Terima kasih istriku." Batra mengecup kening Siti dengan lembut.
"Ya sudah, sekarang uda serapan dulu. Terus udah barangkek karajo yo."
"Ok siap." Batra merangkul Siti dan mereka pun berjalan ke ruang makan untuk serapan.
__ADS_1
Di ruang makan, Siti terus menatap Batra yang tengah lahap menyantap hidangan sarapan yang di buatkan Siti untuknya. Sedangkan Siti terus menatap suaminya tersebut. Angan Siti kembali ke beberapa bulan yang lalu, dimana ia masih tinggal di Padang bersama dengan keluarga kecilnya.
"Bundo lah bilang jo kau Siti. Jan kau nikah jo paja tu! Inyo indak jaleh, ancak kau nikah jo si Yasril nan PNS tu! Lai jaleh nyo!" Ucap ibunya Siti saat Batra baru saja berangkat kerja.
Siti menatap ibunya dengan tatapan tidak suka, lalu ia kembali melemparkan pandangannya ke punggung Batra yang sedang berjalan ke arah jalan raya.
"Bundo malu, Sitiiii... Kau itu sarjana. Kau itu keturunan datuak, tapi kau nikah jo urang rantau nan indak jaleh," Ucap ibunya Siti lagi.
"Bundo, kok bundo indak merestui bana, manga dulu bundo malapehan awak jo inyo!"
"Tu karena kau bakareh jo inyo!" Bentak ibunya Siti.
Siti terdiam, ia beranjak masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.
"Itu akibaik kau indak mau menuruti ucapan urang tuo, Siti! Tu mangkonyo kau dapek suami nan karajonyo indak jaleh!"
"Lah tu bundo. Awak panek, setiok hari bundo membahas iko!" Siti mengeluh dan beranjak menuju ke kamarnya.
"Ancak kau carai se Siti!" Sambung ibunya Siti.
Siti menutup kedua telinganya. Lalu ia menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Air mata keluar deras dari kedua matanya. Ia tidak menyangka bila ibunya akan mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan hatinya.
Siti menerima Batra apa adanya, karena ia sangat mencintai Batra. Siti percaya, bila saat ini hidupnya dalam kesulitan, bahkan sampai menumpang pada orangtuanya. Ia yakin suatu saat Batra akan membawa dirinya pada kejayaan.
Namun rasa percaya itu tidak di miliki oleh kedua orangtuanya yang memang sejak awal menentang pernikahan dirinya dengan Batra.
"Kenapa bengong?" Tanya Batra yang menyadari istrinya yang sejak tadi termenung di hadapannya.
"Indak apo-apo uda." Sahut Siti.
"Mikirin apa?" Tanya Batra lagi.
__ADS_1
"Dak do doh uda." Siti tersenyum untuk menutupi kegelisahannya. Lalu ia menatap Batra yang kembali menyantap menu sarapan nasi goreng buatan Siti.
"Da,"
"Ya?" Sahut Batra.
"Kalau kita kayo, apo nan uda lakukan pertama kali?" Tanya Siti.
Batra membalas tatapan Siti dengan seksama. Lalu ia tersenyum kepada istrinua tersebut.
"Uda akan bawa kamu naik haji. Tidak hanya kamu, tapi kedua orangtuamu. Kita akan bangun rumah impianmu. Uda akan masukkan anak kita ke sekolah yang terbaik. Uda juga akan memberikan semua yang kamu mau. Sekarang tugasmu, doakan uda ya...., mana tahu Tuhan menjawab niat uda dengan rezeki yang melimpah." Jawab Batra.
Siti tersenyum, seraya menahan tangis harunya.
"Kenapa uda mau membawa kedua orangtua ambo naiak haji?" Tanya Siti.
"Uda pernah punya niat akan menaikkan haji kedua orangtua uda. Tapi, Allah sudah menjemput mereka saat uda belum punya apa-apa. Kalau nanti uda di izinkan punya harta yang melimpah, rezeki yang baik, apa salahnya uda mewujudkan impian uda kepada kedua orangtuamu? Bukankah kedua orangtuamu itu juga orangtua uda?"
Air mata Siti pun bergulir tanpa mampu ia tahan. Lalu dengan cepat ia mengusap air mata harunya tersebut.
"Aamiin, semoga Allah selalu memberikan rezeki yang cukup untuk kita da. Semoga Allah mewujudkan segala cita-cita uda. Semoga Allah memberikan uda kekuatan dan kesehatan dalam mencari nafkah yang halal," Ucap Siti.
"Aamiin." Sahut Batra, seraya tersenyum manis kepada Siti.
Setelah sarapan, Siti pun mengantarkan Batra dan anaknya untuk berangkat bekerja dan sekolah, sampai di depan gerbang rumah kontrakannya. Batra yang mengendarai sepeda motor, berbonceng tiga dengan kedua anaknya. Sebelum Batra ke kantor, ia bertugas untuk sekalian mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Setelah itu barulah ia berangkat ke kantor. Sedangkan anak-anaknya pulang sekolah, Siti lah yang bertugas menjemput anak-anak tersebut dengan menumpang ojek langganannya.
Meskipun kehidupan Siti yang serba pas-pasan, atau bahkan terkadang kurang, namun siti sangat bahagia hidup dengan Batra. Uang memang mampu menciptakan kebahagiaan, namun ucapan dan juga sikap suami yang menyayangi dan juga menghargai, itulah yang paling utama dalam rumah tangga.
Banyak orang yang memiliki harta melimpah, namun tidak merasakan kebahagiaan, walaupun mereka bisa mewujudkan kebahagiaan mereka dengan uang. Namun semua itu terasa semu, bila pasangan tidak memiliki komunikasi yang baik, tidak saling menghargai dan juga tidak saling mengungkapkan perasaan cinta pada suami atau istrinya.
Komunikasi dan menghargai adalah yang utama. Semua wanita sanggup untuk hidup apa adanya dengan lelaki yang ia cintai. Namun tidak ada satupun wanita yang sanggup hidup berdampingan dengan lelaki yang tidak menghargai dirinya, walaupun hartanya melimpah.
__ADS_1
Permintaan wanita cukup sederhana, cukup di cintai, di hargai, dan di anggap ada. Namun itu semua sangat sulit bagi laki-laki, padahal itu semua tidak mengeluarkan modal sama sekali. Begitulah...