
"Pagi Butet.."
Butet yang hendak keluar mencari sarapan, menoleh dan memperhatikan sekitarnya. Ada suara yang menyapanya, namun tidak ada wujudnya. Butet pun terlihat bingung, hingga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Suittt suittt.. Butet... mau abang antar gak?"
Lagi-lagi ada seseorang yang suaranya mirip sekali dengan Moan, memanggil namanya.
"Bah! udah jadi hantu rupanya si Moan? Adanya suaranya, tapi gak ada wujudnya. Apa aju mulai rindu sama dia, sampek aku berhalusinasi?" Batin Butet.
"Butet.."
Butet kembali mencari sumber suara tersebut. Hingga akhirnya ia melihat Moan yang sedang berdiri di teras atas rumah kost nyak Komariah.
Butet pun terperangah, saat melihat Moan berdiri di sana.
"Ngapain kau di situ!" Teriak Butet.
"Jadi anak kost balek kita Tet." Celetuk Moan.
"Gilak kau!" Butet pun berlalu begitu saja.
Moan tersenyum dan bergegas turun ke bawah untuk menyusul Butet. Moan begitu hafal kegiatan anak kost pada umumnya, karena ia pun dulu melakukan hal yang sama. Pastilah pagi-pagi seperti ini, semua anak kost akan membeli sarapan di ujung gang komplek perumahan tersebut.
Moan mempercepat langkah kakinya untuk dapat mengejar Butet yang berjalan dengan cepat di depannya.
"Tet, sama kita.."
Butet menoleh ke belakang dan menatap Moan dengan ekspresi wajah yang terlihat jijik.
"Ish.. kek gitu kali dia sama suaminya."
"Apa? Suami? Suami yang nakal ya, sukak kali maen aplikasi buat carik cewek bayaran!" Butet mulai menyinggung tentang akar masalah yang terjadi di hubungan mereka berdua.
"Sssstt... jangan keras-keras kau cakapnya Tet. Dengar orang nanti," Ucap Moan yang sudah berjalan di samping Butet.
Butet menoleh ke kanan dan kekiri, terlihat beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka berdua.
"Kenapa? Malu kau rupanya? Kan memang faktanya kau kek gitu," Ucap Butet, seraya mendelik kepada Moan.
"Tah kek mana aku mau jelaskan sama kau Tet. Sikitpun aku gadak selera sama perempuan laen."
"Alah, banyaknya cakap kau lagi bang!" Butet terlihat kesal kepada Moan.
Moan menghela nafas panjang dan terus mengimbangi langkah kaki Butet.
"Mana Moana?"
"Tidor dia. Belom bangun." Sahut Butet.
__ADS_1
"Kau ngapain di rumah nyak Komariah? Kost lagi rupanya kau bang?"
"Tadinya aku mau pindah ke kostan mu. Tapi takut aku di user. Jadi biar dekat, aku pindah aja ke kostan nyak Komariah. Jadi tetangga balek kita Tet."
Butet menghentikan langkah kakinya dan ngernyitkan dahinya.
"Jadi betolnya kau ikut kost di sanan?" Tanya Butet dengan ekspresi wajah tak percaya.
"Iya, ngapain aku nokoh. Eh, asal kau tau ya Butet istriku yang paling cantik, aku gak bisa jaoh dari kau dan Moana. Liat kau kek gini aja udah bahagia kali hatiku." Pungkas Moan.
"Alahhhh... gilak kau. Banyak kali ceritamu." Butet kembali berjalan ke arah para pedagang dadakan yang berjejer di depan gang.
"Terserah kau lah, mau percaya apa enggak. Tah kek mana aku mau meyakinkan kau." Keluh Moan.
Butet diam saja, ia terus memilih jajanan pasar yang akan ia beli.
"Abang juga mau, Tet."
"Kau belik sendiri!" Ucap Butet dengan ketus.
Moan memasang wajah cemberut. Lalu ia ikut memilih jajanan pasar yang ia mau dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang baru saja di berikan oleh pedagang tersebut.
"Berapa semua buk?" Tanya Moan, kepada pedagang tersebut, seraya menyerahkan jajanan pasar yang sudah ia masukkan ke dalam kantong plastik kepada pedagang tersebut untuk di hitung.
"Sepuluh ribu mas," Ucap pedagang itu, setelah menghitung jumlah yang harus Moan bayar.
"Ini sekalian buk," Ucap Butet, seraya menyerahkan belanjaannya.
"Iya, dia kan aturannya masih kasih nafkah sama aku." Sindir Butet.
Moan tersenyum dan melirik Butet yang tak acuh kepadanya.
"Gak mau orangnya, tapi mau duet nya. Perempuan kali kau ya..." Bisik Moan ke telinga Butet.
"Iyalah aku perempuan. Kalok gak, cemana rupanya si Moana itu keluar dari perot ku? Ku muntahi dia?" Balas Butet.
Moan tersenyum lebar. Seakan ada harapan baru di awal harinya. Moan mulai merasakan suasana saat ia kost dulu. Suasana di mana ia mulai mendekati Butet, walaupun sempat bermusuhan dengan Butet.
"Tet.." Panggil Moan, saat ia baru saja membayar semua belanjaan.
"Apa!" Sahut Butet, seraya melangkah ke arah tukang sayur, untuk berbelanja bahan makanan yang akan ia masak.
"Kita kek waktu pertama kali kita jumpa ya Tet."
Butet melirik Moan, lalu ia mencoba mengabaikan Moan.
"Waktu itu kan kita kek Tom dan Jerry kali ya Tet. Tapi seru, akhirnya kita jatuh cinta dan menikah."
Butet menatap Moan dengan seksama. Lalu ia kembali mengabaikan Moan.
__ADS_1
"Tet, masih adanya cinta untukku?" Tanya Moan.
"Aku lagi belanja sayooorr ini loh. Mau kau kulibas pakek daon ubi ini?" Ucap Butet, seraya mengangkat seikat daun singkong setinggi-tingginya.
"Enggak Tet, aku cuma mau damai. Kalau gak mau damai, ngapain aku sibuk kali kost di rumah nyak Komariah. Aku berjuang Tet, biar bisa sama lagi kita. Kau pulang kenapa Tet, baek-baek kita bicara lagi," Ucap Moan.
Jebreeettt...!
Seikat daun singkong menerpa wajah Moan.
"Recok kau! Jadi lupa aku mau masak apa!"
"Aduh!" Moan mengusap wajahnya dan menatap Butet dengan wajah yang terlihat begitu lucu.
"Janganlah kasar-kasar sama abang,Tet. Kek gini-gini pernah nya aku buat kau mabok kepayang."
"Babami!" Celetuk Butet, yang terlihat kesal kepada Moan, seraya meninggalkan gerobak sayur tersebut.
"Tet! Tunggu.." Moan pun mengejar Butet, yang berlalu dari hadapannya.
"Gara-gara kau ya bang, gak jadi aku masak!" Keluh Butet, seraya mempercepat langkahnya.
"Gak usah masak. Ngapain masak? Kasar nanti tanganmu. Makan aja kita di luar nantik siang ya..." Bujuk Moan.
"Sama kau?" Tanya Butet.
"Iya lah, kan abang yang ngajak." Jawab Moan.
"Gak mau aku. Sini aja duet nya!" Butet pun menadahkan tangannya di hadapan Moan.
Moan pun menatap Butet dengan seksama.
"Kok mintak duet. Maksudku, ayok kita makan siang sama-sama. Sama Moana jugak. Gak rindu nya kau Tet?"
"Aku rindu duet mu!" Celetuk Butet.
"Oh gitu. Ya gak apa lah. Pertama rindu duet nya. Besok rindu orangnya ya Tet," Ucap Moan, seraya mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu ATM nya kepada Butet.
"Ha.. kek gitu lah. Namanya kau masih tanggung jawab sama anak kau," Ucap Butet, seraya meraih kartu ATM milik Moan.
"Kata siapa aku lupa tanggung jawab. Kau baru beberapa hari nya keluar dari rumah. Biar aku ingat teros, serumah balek kita ya." Moan tidak mau patah semangat.
"Gadak cerita!" Butet pun kembali berjalan meninggalkan Moan.
"Ish! Butetttt....!" Moan tampak begitu memohon.
Butet tidak menghiraukan Moan. Ia terus berjalan hingga dengan cepat ia pun masuk ke dalam halama rumah kost nyak Tatik.
"Tet.. ish.. kek gitu kali dia bah..! Ah, tapi aku gak nyerah lah! Sampek mati pun ku kejar kau, Tet!" Gumam Moan.
__ADS_1
Butet terus melangkah menuju ke rumah kost. Tanpa Moan sadari, saat ini terbingkai senyum di bibir Butet.