
Dewa tersentak dari tidurnya. Ia menatap ke sekelilingnya dan mendapati Moan yang sedang tertidur di sofa sebelahnya. Dewa memijat pelipisnya dan beranjak duduk, lalu ia menatap jam yang terletak di dinding ruang keluarga tersebut.
"Hah! sudah pukul lima pagi?" Batinnya.
Beruntung hari ini adalah hari libur, maka Dewa terlihat santai saja. Karena ia tidak perlu pergi ke kantor, untuk bekerja.
Mengingat Sri dan Butet yang semalam pergi berdua, Dewa pun mulai merasa khawatir, apakah kedua wanita itu sudah pulang ke rumah atau belum. Dewa pun beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke depan untuk mengecek mobil Butet. Melihat mobil Butet sudah terparkir di carport, Dewa pun mulai merasa tenang. Lalu ia mulai beranjak menuju ke kamar Sri.
Sesampainya di depan kamar Sri, Dewa pun membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Lalu ia mengintip dari celah pintu kamar tersebut. Lalu ia tersenyum, kala melihat Sri dan Butet sedang tertidur lelap sambil berpelukan. Tidak ingin menganggu, Dewa pun beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air putih, yang merupakan rutinitasnya di pagi hari. Setelah itu, ia beranjak ke kamar Ardi, putranya dengan Sri.
Sesampainya di kamar Ardi, ia mendapati putranya tersebut sedang tertidur nyenyak. Dewa pun melangkah masuk dan membangunkan putranya tersebut.
"Ardi..." Panggil Dewa dengan lembut.
Ardi menggeliat dan membuka kedua matanya dengan perlahan. Lalu Ardi menatap Dewa dengan seksama.
"Ya ayah.." Sahut Ardi.
"Bangun nak, sholat Subuh. Sebelum ambil wudhu, ayah minta tolong bangunkan Bunda mu. Ayah tidak enak masuk ke dalam kamar, karena ada tante Butet," Ucap Dewa.
Ardi beranjak duduk dan mengusap kedua matanya yang masih mengantuk.
"Iya ayah." Sahut Ardi. Lalu ia beranjak dari ranjangnya dan bergegas menuju ke kamar Sri. Sedangkan Dewa beranjak menuju ke samping ruang mushola yang sengaja ia buat tepat di sebelah kanan ruang keluarga. Setelah berwudhu, Dewa melihat Sri yang sedang berjalan menuju tempat wudhu. Dewa menatap Sri yang terlihat masih mengantuk, lalu ia tersenyum kepada Sri.
"Pulang jam berapa, Sri?" Tanya Dewa.
Sri membalas tatapan Dewa dan membalas senyuman Dewa dengan senyuman tipisnya.
"Pukul dua belas malam mas. Tetapi baru tidur pukul dua pagi." Sahut Sri.
"Kok? Kenapa?" Tanya Dewa lagi.
"Ya, biasa lah. Cerita-cerita dengan Butet." Jawab Sri.
"Oh. Mau sholat berjamaah?"
Sri menundukkan pandangannya dan lalu menatap Ardi yang baru saja selesai berwudhu.
"Ayo bun.." Ajak Ardi, seraya tersenyum semringah kepada Sri.
Deggg..!
Sri merasa canggung. Karena sudah lama sekali ia tidak sholat berjamaah dengan Dewa.
"Ng..."
__ADS_1
"Ayo dong bun..., Sholat berjamaah itu, pahalanya berkali-kali lipat loh bun," Ucap Ardi, dengan bersemangat.
Sri tersenyum canggung, lalu ia terpaksa mengangguk setuju dengan ajakan Ardi.
Sri pun beranjak berwudhu, sedangkan Dewa dan Ardi menunggu Sri di dalam ruang mushola.
Setelah berwudhu, Sri beranjak masuk ke dalam ruang mushola. Lalu ia meraih mukena nya dan memakainya dengan rapi. Setelah itu ia menatap Dewa yang sudah bersiap untuk menjadi imam dalam sholat Subuh ini.
"Tunggu pak, bu..!" Terlihat asisten rumah tangga dan juga suster yang biasa mendampingi Ardi, tergesa-gesa memasuki ruang mushola dengan wajah yang terlihat begitu semringah.
"Alhamdulillah.. saya rindu pak, bu, sholat berjamaah seperti ini." Celetuk susternya Ardi.
Dengan cepat, asisten rumah tangga mencolek tangan suster dan membulatkan kedua matanya. Tanda ia menyayangkan celetukan suster tersebut. Ia khawatir bila saja ucapan suster itu menyinggung hati kedua majikannya.
"Iya bun, yah, Ardi juga rindu." Celetuk Ardi.
Dengan cepat, suster tersebut tersenyum setuju kepada Ardi dan melirik asisten rumah tangga dengan ekspresi wajah yang terlihat menang. Kini Dewa dan Sri saling bertatapan. Terlihat tatapan rindu yang sama yang tersirat dari tatapan mereka berdua.
"Ya sudah, kita mulai saja. Nanti subuhnya terlewat," Ucap Dewa, seraya tersenyum kepada Ardi dan Sri.
Sholat berjamaah pun di mulai. Pemandangan yang telah lama tidak pernah terjadi lagi itu pun terlihat begitu syahdu. Dewa juga membaca surah-surah dengan suara yang terdengar begitu merdu. Sehingga menambah syahdunya suasana di awal hari tersebut.
Dewa mengucapkan kedua salam di akhir sholat nya. Setelah itu ia tampak berdoa dengan begitu khusyuk nya. Segala harapan dan keinginannya ia sampaikan kepada sang Pencipta. Setelah amin nya terucap, ia pun menoleh ke belakang dan di sambut oleh tangan mungil Ardi yang bersiap untuk menyalaminya. Lalu pandangan nya tertuju kepada Sri yang tertangkap mata, sedang menatap dirinya.
"Bunda kok tidak salim sama ayah?"
"Bun.." Panggil Ardi.
"Ah, iya." Sahut Sri, lalu ia mengulurkan tangannya ke depan Dewa.
Dewa tersenyum dan menyambut tangan wanita yang masih menjadi istrinya tersebut.
Sri menundukkan kepalanya dan mengecup punggung tangan Dewa. Di sambut senyuman semua orang yang berada di dalam ruang mushola tersebut. Semua tampak begitu senang dengan pemandangan tersebut. Namun tidak dengan Sri, ia tampak sedikit canggung dan merasa malu dengan Dewa.
"Ya sudah pak bu, bibik mau masak dulu." Ucap asisten rumah tangga itu, seraya beranjak dari duduknya.
"Hmmm, mas Ardi.. Ayo mandi yuk." Ajak susternya Ardi.
"Ayo!" Seru Ardi, seraya beranjak keluar dari ruangan mushola tersebut bersama dengan susternya.
Kini tinggal lah Sri dan Dewa saja berdua di ruangan tersebut. Merasa canggung, Sri pun hendak beranjak dari duduknya dan meninggalkan Dewa sendiri. Namun dengan cepat, Dewa menahan tangan Sri dan memintanya untuk tetap duduk di depannya.
"Aku mau bicara," Ucap Dewa.
Sri mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruangan tersebut dan kembali duduk di depan Dewa.
__ADS_1
"Mau bicara apa, mas?" Tanya Sri.
"Hmmm, maaf aku bertanya. Semalam kamu kemana?" Tanya Dewa.
Sri terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Kamu tidak bertemu dengan Cempaka dan Siti kan? Coba jujur sama aku," Ucap Dewa lagi.
Sri terlihat gugup dan menatap Dewa dengan tatapan bersalah.
"Kenapa mas nanya seperti itu?" Tanya Sri.
"Ya, bukan mas mencurigai kamu. Tetapi, biasanya kalau ada pertemuan seperti itu, Butet dan kamu pasti mengajak pasangan. Seperti yang sudah bertahun-tahun ini kita lakukan. Sebenarnya kamu kemana?" Tanya Dewa.
Sri menghela napas panjang dan kembali menundukkan pandangannya.
"Kalau kamu tidak mau membicarakan ini, tidak apa-apa. Aku tidak marah. Aku hanya sedang mengkhawatirkan kamu dan Butet." Terang Dewa.
"Ng... mas.. Sebenarnya.." Sri tampak ragu ingin mengatakan yang sejujurnya.
"Sebenarnya apa?" Tanya Dewa dengan lembut.
Sri kembali menatap Dewa dengan seksama. Mencoba meyakinkan dirinya, bila inilah saatnya untuk berbicara jujur kepada Dewa. Setelah sekian detik berlalu, akhirnya Sri memutuskan untuk jujur kepada Dewa.
"Sebenarnya aku dan Butet bertemu dengan seseorang yang dapat di percaya."
"Seseorang yang dapat di percaya?" Tanya Dewa yang belum mengerti dengan apa maksud dari ucapan Sri.
"Begini mas... sebenarnya.." Sri kembali ragu untuk menceritakan apa yang telah ia lakukan di belakang Dewa.
"Sebenarnya apa?" Desak Dewa.
Wajah Sri mulai memerah. Ia merasa sangat malu, bila ia mengakui semua ini kepada Dewa. Yang membuat Sri malu adalah, fakta bahwa dirinya masih peduli dan penasaran dengan kehidupan Dewa dengan Grazia.
"Tenang no ati mu Sri.. Sri.. Ini demi mas Dewa. Kamu hanya kepo sama Grazia kok, bukan sama kehidupan rumah tangganya Grazia dengan mas Dewa." Batin Sri.
"Mas.."
"Ya?" Sahut Dewa.
"Aku mau jujur, tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Dewa.
"Tapi... tunggu Butet sama Moan bangun ya. Aku janji akan jujur. Biar mereka yang menjelaskan. Aku... aku rodok isin.." Ucap Sri. Lalu ia beranjak dari duduknya dan melepaskan mukenanya. Setelah itu Sri berlari keluar dari ruangan mushola dan meninggalkan Dewa begitu saja.
__ADS_1
Dewa mengangkat kedua alisnya dan menatap Sri dengan tatapan tak percaya.
"Ada apa sih?" Batin Dewa.