Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Yang akan di kenang


__ADS_3

"Halo, Nella," Sapa Butet, dari sambungan teleponnya.


"Hai, bestiiii..., apa kabar?" Sahut Nella di ujung sana.


"Kabar baek aku. Kau apa kabar?" Tanya Butet.


"Kabar baik dong, bahagia dan rumah tangga ku aman damai sentosa."


Butet membulatkan kedua matanya dan menyunggingkan senyumannya, kala mendengar ucapan riya dari Nella.


"Ohh... bagos lah kalo kek gitu," Ucap Butet, dengan ekspresi wajah jijik.


"Iya dong. Oh iya, ngomong-ngomong, kamu sama suamimu gimana? Sudah baikan kah? atau jadi bercerai?" Tanya Nella.


Darah Butet mendadak mendidih mendengar pertanyaan dari Nella. Namun ia masih berusaha untuk bersabar, karena ia masih membutuhkan informasi tentang keberadaan Nella.


"Ah, biasa aja kok aku. Namanya punya anak," Ucap Butet.


"Jadi, kalian jadi cerai? Udah cerai aja. Masih banyak laki-laki lain. Kalau suamimu seperti ular, kamu bisa jadi ular naga. Nanti aku kenalkan sama laki-laki kece badai deh. Kenalan ku banyak loh, mulai dari brondong sampai tua bangka yang duit nya banyak, cyiiinnn.."


Butet kembali menyunggingkan senyumannya, saat mendengar ucapan Nella.


"Oh, gitu.." Ucap Butet, seraya memutar kedua bola matanya.


"Malam ini kamu mau ikut gak? Mumpung suamiku sedang asik sama gank motornya. Mereka sedang touring ke luar Kota. Jadi, ladies night lah ini ceritanya."


"Mau kemana?" Tanya Butet, dengan antusias.


"Kalau kamu nau ikut, nanti aku share deh lokasinya. Tapi ingat, ini rahasia kita berdua aja ya. Jangan sampai teman-teman yang lainnya tahu," Ucap Nella.


Butet tersenyum lebar. Seakan umpan berhasil menjebak target, ia melirik Moan yang sedari tadi berada di sampingnya.


"Aaaamaaann itu!" Seru Butet.


"Ya sudah. Jam tujuh malam, kamu siap-siap ya. Kita ketemuan di sana," Ucap Nella.


"Ashiappp, pasti mantap kali malam ini ya, Nel," Ucap Butet dengan bersemangat.


"Gak ada obat pokoknya, bestiii.."


"Ok lah kalok kek gitu. Tapi betol ya, ajak aku! Stress kali aku bah!"


"Iyaaa.. pokoknya, begitu aku share lokasinya, kamu datang ya.."


"Siap!" Sahut Butet, seraya tersenyum licik.


"Ok deh bestiii, sampai jumpa nanti malam," Ucap Nella.


"Bye!" Sahut Butet.


Dan sambungan telepon itu pun berakhir.


Butet menatap Moan yang mengangguk-angguk seraya tersenyum kepada Butet.


"Mantap, dek!" Seru Moan.


"Sekarang, giliran kau bang," Ucap Butet dengan ekspresi wajah yang antusias.


"Ok," Sahut Moan, seraya mencoba menghubungi Choky.


Terdengar suara panggilan dari ujung sana. Hingga akhirnya Choky menerima panggilan telepon dari Moan.

__ADS_1


"Halo," Sapa Choky.


"Hoii, di mana kau?" Tanya Moan, dengan bersemangat.


"Di kantor lah. Jam berapa ini. Kau pun ada-ada aja."


"Kemana rencana malam ini? Stress kali aku, udah lama juga aku gak ikot sama kelen," Ucap Moan.


"Hahahaha, tapi kau pokus kali sama keluargamu. Kek mana cerita?" Tanya Choky.


"Cemana lah, kek gitu-gitu aja." Sahut Moan.


"Iyah, cere nya akhirnya kelen?" Tanya Choky.


"Mak! gak lah! Enteng kali mulotmu itu kalo cakap!" Seru Moan.


"Ku kira jadi, makanya bisa bebas kau sekarang," Celetuk Choky.


"Kimbek nya kau. Oh iya, kemana nantik malam?" Tanya Moan lagi.


"Jumpa aja kita di cafe waktu itu. Nah, siap tu ikot aja kau. Kami mau carik hiburan, siap kopdar. Jadi, tinggal bawak badan aja kau, nantik enak lah pokoknya." Terang Choky.


"Ah, mantap ini. Adanya cewek cantek?" Moan mencoba memancing Choky.


"Mau yang kek apa kau? Ada semua, hahahaha! Tapi tumben kali ku tengok. Udah gak tahan kali ucok kau itu rupanya? Udah lama kau gak ya?"


Moan tertawa sinis, lalu ia melirik Butet yang terlihat ikut menyimak pembicaraan yang sengaja Moan loudspeaker.


"Apa nya cakap kau. Pokoknya kasi tau aku aja, nantik malam mau kemana kelen," Ucap Moan.


"Siap bro! Ya udah, balek kerja aku lagi ya," Ucap Choky.


"Siap." Sahut Moan, dan panggilan telepon itu pun berakhir.


"Kelakuan lakik binik sama aja pon! Mau jadi apa anak orang tu, kalok mamak bapaknya gak pernah ada di rumah. Sibok-sibok sendiri aja," Ucap Butet.


"Malam ini kita pegang kartu AS orang itu!" Ucap Moan.


.


Sri menatap Ardi dan Dewa yang sedang berlarian di padang rumput yang berada di atas bukit. Ia terus tersenyum, melihat kebahagiaan yang kini kembali menghiasi wajah tampan putra semata wayangnya. Tidak ada kebahagiaan yang melampaui kebahagiaan yang kini tengah ia rasakan, saat melihat Ardi dan Dewa yang sedang bercanda gurau.


Tiba-tiba saja terlintas di benak Sri, tentang hasil test DNA yang akan keluar pada akhir bulan ini. Perlahan, senyuman di wajahnya pun memudar. Layaknya sedang bermain judi, Sri mempertaruhkan seluruh kebahagiaan nya saat ini, untuk mencari tahu apakah dirinya masih beruntung atau tidak.


Sri menggerakkan giginya, kala ia mengingat cerita dari si mbok. Grazia sudah segila itu dan sudah berani memunculkan identitas dirinya pada orang-orang di rumah Sri. Sebenarnya Sri merasa malu pada para pegawainya. Namun hal itu telah terjadi dan dia berusaha untuk baik-baik saja, walaupun nanti akan muncul pertanyaan dari para pegawainya, saat ia kembali ke rumah.


"Sebesar itukah, cinta Grazia untuk mas Dewa?" Batin Sri, seraya terus menatap Dewa yang sedang tertawa lepas saat mengangkat tubuh Ardi.


Dan kini, wajah Kimberly yang cantik, juga terlintas di benak Sri. Sorot mata batita mungil itu seolah mengatakan bila ia hanya ingin di cintai. Senyuman polos Kimberly yang cantik membuat hati siapa saja yang melihatnya akan luluh begitu saja. Sri tidak merasa heran, bila Dewa begitu mencintai Kimberly yang memang begitu lucu di mata Sri.


"Pantas saja kamu berhasil merebut hati suamiku," Batin Sri, seraya tersenyum sendiri.


"Tetapi, bagaimana bila kamu benar-benar anaknya mas Dewa?" Batin Sri lagi. Kini senyuman di wajahnya kembali menghilang begitu saja.


Menjadi Sri, tidak lah gampang. Berusaha bersabar dan mencari fakta, itu sangat menyiksa batinnya. Namun, ia berusaha untuk bijak, karena di sini yang di pertaruhkan adalah keutuhan rumah tangganya dan kebahagiaan putra semata wayangnya.


"Bundaaaaa!" Panggil Ardi, seraya melambaikan tangannya. Mengisyaratkan bila Ardi menginginkan Sri untuk bergabung dengan dirinya dan juga ayahnya.


Sri tersenyum seraya menatap Ardi dari kejauhan. Sri juga menatap Dewa yang turut melambaikan tangannya. Sri membalas lambaian tangan anak dan suaminya itu, dengan melambaikan tangannya juga.


Tiba-tiba saja Ardi dan Dewa berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Bunda, kita foto yuk!" Pinta Ardi, seraya menarik tangan Sri.


Sri menatap Ardi dan lalu ia menatap Dewa yang kini sudah bersiap menyalakan fitur kamera di ponselnya.


"Ah, iya," Sahut Sri, seraya berjalan mengikuti langkah Ardi ke arah tepi bukit dengan pemandangan laut tersebut.


"Ok, siap ya," Ucap Dewa, seraya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan siap untuk menangkap momen bahagia tersebut.


"Satu, dua, tiiiiii.. ga!"


Satu momen bahagia terabadikan. Dewa dan Sri menatap hasil foto tersebut dengan senyuman di wajah mereka.


"Sekarang, Ardi ambil foto ayah dan bunda ya," Ucap Ardi, seraya mengadahkan tangannya, mengisyaratkan untuk Dewa segera memberikan ponsel tersebut kepada dirinya.


Dewa tersenyum, lalu ia menyerahkan ponselnya kepada Ardi. Dengan cepat, Ardi meraih ponsel tersebut dan berjalan mundur ke belakang.


"Ayah, ayah rangkul bunda dong! Atau peluk bunda, gitu," Ucap Ardi, yang berusaha untuk mengarahkan gaya kepada Dewa dan Sri.


Sri menatap Dewa dengan canggung dan menatap Dewa yang sedang tersenyum kepada dirinya.


"Ayo yah, bun!" Seru Ardi lagi.


Dewa meraih pinggang Sri, lalu merapatkan tubuh Sri ke tubuhnya, tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah Sri.


"Nah begitu... Sekarang bunda peluk ayah," Perintah Ardi.


Sri menatap Ardi sejenak, lalu ia mencoba tersenyum dan kembali menatap Dewa yang masih terus memandangi wajahnya. Dengan ragu, Sri mencoba untuk melingkarkan lengannya di leher Dewa.


"Ya begitu! Satu dua tiiiiga!" Seru Ardi.


Dewa dan Sri saling tersenyum. Ibaratkan dua insan yang sedang jatuh cinta, momen tersebut terabadikan dengan sempurna.


"Bagus kan fotonya?" Tanya Ardi, seraya menunjuk kan hasil fotonya kepada kedua orang tuanya tersebut.


Sri dan Dewa mencoba melihat hasil foto itu dengan senyuman di wajah mereka.


"Bagus! Anak ayah hebat sekali," Puji Dewa.


"Iya bagus sekali," Puji Sri.


"Kalau begitu, ayah berikan tugas pada Ardi."


"Tugas apa yah?" Tanya Ardi.


"Jadi fotografer ayah dan bunda, selama liburan ini," Ucap Dewa dengan bersemangat.


"Ish! Apaan sih!" Wajah Sri tampak merona merah.


"Biar saja, kita abadikan kenangan ini sebanyak-banyaknya," Ucap Dewa.


Sri terdiam dan menghela napasnya dalam-dalam.


"Kalau kedepannya kita di takdirkan bersama, foto-foto ini akan aku pajang di dinding dan aku simpan di album, untuk di tunjukkan pada anak dan cucu kita nanti." Terang Dewa.


"Kalau kita tidak di takdirkan bersama, bagaimana?" Tanya Sri.


"Kalau tidak, biar aku simpan foto-foto ini dan biar aku nikmati sendiri."


Sri terdiam mendengar jawaban dari Dewa.


"Sri, bagaimanapun, apapun kata takdir, cinta ku tidak akan pernah usia padamu. Bila aku tidak bisa nerangkulmu dalam pelukan masa tua ku, biar aku mengenangmu dalam memori dan foto-foto ini," Sambung Dewa.

__ADS_1


Sri menelan salivanya. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan air mata yang kini mendesak leluar dari kedua matanya yang indah.


"Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga," Ucap Ardi yang terus mengabadikan momen Sri dan Dewa pada sore hari itu.


__ADS_2