
"Bun.. bangun bun.." Ardi menggoyangkan lengan Sri dengan lembut.
"Ng... ya.." Dengan malas, Sri membuka kedua matanya.
"Bun, pasti gak sholat Subuh ya.." Ucap Ardi serya menatap Sri dengan tatapan menyelidik.
"Astaga! ini jam berapa?" Tanya Sri seraya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas.
"Sudah jam setengah delapan pagi loh bun.."
"Astaghfirullah. Iya nak, bunda ketiduran." Sri tampak begitu menyesalinya.
"Lain kali jangan begitu ya bun."
"Iya sayang." Sri tersenyum dan mengatupkan kedua telapak tangannya, tanda ia meminta maaf pada putra semata wayangnya itu.
"Hmmm, jam berapa tadi?" Tanya Sri yang berangsur mendapatkan kesadarannya.
"Jam setengah delapan bun...."
"Ya Tuhan!" Sri pun beranjak dari ranjangnya dan bergegas untuk ke kamar mandi.
"Bunda kenapa?" Tanya Ardi dengan polosnya.
"Bunda ada janji dengan tante Butet nanti jam sembilan. Kamu di rumah saja ya sayang," Ucap Sri, sebelum ia menutup pintu kamar mandinya.
"Jadi aku sendirian? Ayah gak ada, bunda gak ada. Masa sama si mbooookkk terus." Protes Ardi.
"Jam sepuluh nanti ayahmu pulang kok!" Seru Sri dari dalam kamar mandi.
"Beneran bun?"
"Iya, kalau tidak percaya, telepon saja ayah."
Dengan bersemangat, Ardi pun langsung mencoba menghubungi Dewa.
"Halo, ayah.." Sapa Ardi.
"Halo sayang.." Sahut Dewa dari ujung sana.
"Ayah, kata bunda, ayah mau pulang jam sepuluh nanti ya?" Tanya Ardi.
"Ng.. iya sayang. Memangnya kenapa?"
"Aku bete nih yah! Bunda mau pergi sama tante Butet. Aku gak ada yang ngajakin main. masa sama si mbok dan si mbak terus!" Protes Ardi.
Dewa tersenyum mendengar anak bujang kecil nya itu protes.
"Ayah akan segera pulang kok. Hmmm.. bagaimana kalau kita memancing ikan setelah ayah pulang nanti. Lamu masih libur kan?"
"Beneran yah!" Seru Ardi dengan bersemangat.
"Iya benar. Sebentar lagi ayah pulang. Tidak usah menunggu jam sepuluh."
"Asikkk..!" Ardi tampak semakin bersemangat.
"Ngomong-ngomong, memangnya bunda mau pergi kemana sama tante Butet?" Tanya Dewa penasaran.
__ADS_1
"Ardi gak tau yah. Kayaknya bunda terburu-buru sekali." Terang Ardi.
"Oh.. ya sudah, mungkin ada urusan mendesak saja. Ya sudah, tinggu ayah pulang ya. Pukul delapan atau pukul sembilan ini ayah pulang." Janji Dewa.
"Ok ayah, Ardi tunggu ya.."
"Iya sayang," Sahut Dewa.
Tiba-tiba saja Dewa melihat Grazia memasuki ruang rawat inap milik Kimberly.
"Eh, sudah dulu ya. Ayah ada urusan dulu. Nanti ayah pasti datang. Kamu jangan lupa bersiap-siap. Pakai baju lengan panjang, biar gak hitam terkena sinar matahari," Ucap Dewa, seraya menatap Grazia dengan tatapan tajam.
"Ok ayah. Dah ayah!"
"Dah sayang."
Dengan cepat Dewa mengakhiri sambungan telepon tersebut. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Grazia yang sedang berjalan menuju ke ranjang Kimberly.
"Sini kamu dulu!" Ucap Dewa, seraya menahan lengan Grazia.
Grazia menghentikan langkah kakinya dan menatap Dewa dengan seksama.
"Apa?" Tanya Grazia.
"Kemana kamu semalam?" Tanya Dewa.
"Apa urusanmu?" Tanya Grazia dengan ekspresi wajah yang terlihat datar.
"Kemana kamu semalam? Kata orang di rumah, kamu tidak pulang! Apa yang kamu lakukan di luar? Kamu tahu, anak mu sedang sakit!" Bentak Dewa.
Dewa terdiam membisu, lalu ia menatap lengan Grazia yang terlihat memar.
"Graz, sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Dewa, yang kini mulai memelankan nada suaranya.
Grazia menyusuri tatapan Dewa yang berujung pada bekas memar yang ada di tangannya. Lalu dengan tidak nyaman, Grazia pun menutupi bekas memar tersebut dengan menurunkan lengan kemejanya.
"Apakah ada yang jahat sama kamu? Apakah kamu. mendapatkan penyerangan? Kamu di rampok?" Tanya Dewa dengan membabi buta.
"Sudahlah, apapun yang terjadi denganku, kamu tidak akan pernah peduli." Grazia melepaskan tangan Dewa dan melanjutkan langkahnya menuju ranjang Kimberly.
Dewa memperhatikan wajah Grazia dengan seksama, saat Grazia mengusap lembut rambut Kimberly yang masih tertidur. Grazia juga mengecup punggung tangan buah hatinya itu dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan putri kecil nya tersebut.
Dewa tidak dapat berkata-kata lagi, selain diam mematung di sana. Hingga dokter pun tiba untuk mengontrol kondisi Kimberly.
"Selamat pagi," Sapa dokter spesialis anak yang menangani Kimberly.
"Pagi dok," Sahut Dewa dan juga Grazia.
"Kami periksa dulu adik Kimberly nya ya pak, bu."
"Baik dok."
Dokter itu pun mulai memeriksa Kimberly. Kimberly pun terbangun saat dingin nya ujung besi stetoskop menyentuh dadanya.
"Nggg..." Kimberly mulia menggeliat, lalu perlahan membuka kedua matanya. Melihat dokter di hadapannya, Kimberly pun mulai menangis.
Dokter dan suster pun terus memeriksa keadaan Kimberly, tidak peduli Kimberly meronta karena ketakutan dengan figur dokter dan suster di depannya.
__ADS_1
"Mama.. papa.." Jerit Kimberly.
"Sebentar ya dek.." Ucap dokter tersebut dengan lembut.
"Baik.. sudah." Ucap dokter tersebut setelah selesai memeriksa Kimberly.
"Nanti suster akan mengambil sampel darah lagi ya pak, bu."
"I-iya dok," Sahut Dewa dan Grazia.
"Ok, kami permisi dulu. Semoga adik Kimberly sudah jauh lebih baik ya. Berdoa saja."
"Iya dok," Sahut Grazia.
"Ok, saya tinggal dulu. Nanti suster Nima akan datang untuk mengambil sampel darah ya."
"Baik dok," Sahut Dewa.
Setelah dokter itu pergi, tidak berapa lama muncul lah suster dengan peralatan medisnya untuk mengambil sampel darah milik Kimberly. Kimberly pun meraung saat suster tersebut menusuk kan jarum ke permukaan kulitnya hingga menembua ke dalam. Dengan sigap, Dewa pun berusaha untuk menenangkannya. Setelah sampel darah berhasil di ambil, suster itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Kimberly yang terus menangis tanpa henti.
Dewa mencoba menenangkan Kimberly, namun gadis kecil itu terus menangis. Jarum jam sudah menyentuh angka delapan. Pikiran Dewa sudah mulai terpecah belah. ia memiliki janji dengan Ardi, namun ia masih dapat bertoleransi hingga pukul sembilan pagi ini. Entah mengapa, Kimberly tidak mau lepas darinya, hingga detik demi detik membuat Dewa semakin panik.
"Aku harus pulang," Akhirnya Dewa memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya pada Grazia.
Grazia menatap Dewa dengan seksama. Lalu entah ada angin apa, Grazia hanya mengangguk dan meraih Kimberly dari gendongan Dewa. Sikap Grazia yang seperti itu, cukup membuat Dewa merasa bingung. Pasalnya baru ini Grazia terlihat pasrah dan tak banyak bertanya kepadanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dewa pada Grazia.
"Tidak apa. Pergilah," Ucap Grazia.
Dengan ragu, Dewa pun mengangguk dan meraih ponsel serta kunci mobilnya.
"Kamu yakin?" Tanya Dewa sekali lagi.
"Aku yakin," Ucap Grazia.
"Baiklah," Dewa pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
"Sus, suster pergi beli sarapan ya. Biar saya yang menjaga Kimberly," Ucap Grazia kepada pengasuh anaknya.
"Baik bu." Suster pengasuh itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Grazia yang sedang menggendong Kimberly pun mengecup lembut pipi putrinya itu. Lalu ia mendekap erat Kimberly dalam pelukannya. Grazia menatap ke arah jendela yang terletak di samping sebelah kanan ruangan itu. Grazia pun termenung seraya menatap birunya langit pada pagi hari ini. Tanpa di sadari, Grazia mulai meneteskan air mata dan menangis sesegukan.
"Aku menderita, sangat menderita," Batin nya.
Kimberly yang menyadari mamanya menangis pun terdiam dan terus menatap kedalam dua bola mata sang ibu yang terlihat sangat menderita. Kimberly mengusap air mata ibunya dengan perlahan.
"Mama.. angan angissss.." Ucap Kimberly.
"Mama tidak menangis kok nak. Mata mama hanya sakit," Ucap Grazia, seraya tersenyum kecut.
"Ma ta ma ma sakit?"
"Iya sayang." Grazia tersenyum, lalu kembali mendekap Kimberly dengan erat.
"Andaikan kehadiranmu di saat yang tepat, mungkin aku akan lebih bahagia lagi nak... dan andaikan Ronald tidak datang lagi atau mengganggu hidup mama lagi, mungkin mama tidak semenderita ini nak.." Batin Grazia.
__ADS_1