Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Janjian


__ADS_3

"Hai, hai, hai...!" Seru Cempaka, saat ia baru saja tiba di rumah kost.


"Ini dia orangnya!" Seru Butet, saat melihat kehadiran Cempaka.


"Kok suwe banget toh?" Tanya Sri kepada Cempaka.


"Iya, saya teh ngurusin a' Rozy dulu." Jawab Cempaka.


"Eh, marilah kita bahas permasalahan si Butet," Ucap Siti yang terlihat tidak sabar ingin mengetahui permasalahan yang tengah di hadapi oleh Butet.


"Sabar atuh Ti,"


"Iya, gak sabar kali kau!" Timpal Butet.


"Onde mandeeee.. capek lah wahai Siti Nurbaya!" Celetuk Siti.


"Ah, malas aku cerita lagi. Kau terangkan cobak Sri, sama si Siti." Pinta Butet.


Sri menghela nafas dan memasang wajah malas.


"Kowe wae Cem," Sri melemparkan tugasnya menerangkan kepada Siti ke Cempaka.


"Eleh, eleh, kok saya?" Cempaka mengerutkan keningnya dan menatap ketiga sahabatnya.


"Ish! Jadi kek gini," Butet terlihat sebal kepada teman-temannya, dan akhirnya memutuskan untuk bercerita.


"Astaghfirullahalazim, Na'udzubillah, Ih.. serius kau Tet?" Tanya Siti, setelah mendengar segala permasalahan antara Butet dan Moan, yang baru saja di ceritakan oleh Butet.


"Iya! Gak percaya kau Ti! Aku saksikan sendiri loh.... Mau men cewek dia, janjian di karoke, siap tu mau asik-asik joss orang tu!" Ucap Butet.


"Innalillahi..." Siti mengusap dada, mendengar cerita Butet.


"Itulah kenapa aku mau cere sama dia. Gak bisa aku kek gini weee.." Sambung Butet lagi.


Cempaka, Sri dan Siti pun terdiam, mereka saling berpandangan satu sama lainnya.


"Jadi, tujuan kita rapat, muktamar, atau Konfrensi meja bulat ini apa wee? Cuma mau dengar dongeng ku aja kelen?" Tanya Butet.


"Bukan begitu Tet, tapi apa salahnya toh kalo kamu dengarkan dulu apa kata Moan. Mana tahu kan, apa yang di katakan Moan itu benar."


Butet melotot kepada Sri, saat mendengar ucapan Sri.


"Jadi kau bela si Moan itu Sri?"


"Bukan begitu Tet... Tet.., tapi ini menyangkut anakmu juga toh."


Butet terdiam, lalu ia menoleh kearah Moana yang sedang asik bermain dengan Romi. Lalu ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Gini wee, aku kek nya memang lagi gondok aja sama si Moan itu kan. Jadi saat ini, aku belom bisa maafin dia." Terang Butet.


"Saya teh paham Tet. Makanya, lebih baik teh, kamu jangan langsung tuntut cerai atuh. Kalau kamu mau tenang dulu, ya di sini saja atuh Tet," Ucap Cempaka dengan mimik wajah khas nya.


Butet tersenyum tipis dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Ojok sedih Tet.." Ucap Sri, seraya mengusap lengan Butet yang duduk di depannya.


"Iyo Tet, ado kami di sini. Kami berjanji untuk menemani kau seperti waktu kost dulu," Ucap Siti.

__ADS_1


"Eh, maksud kowe opo? Tinggal di sini juga?" Tanya Sri.


"Iyo lah, apo lagi?"


"Gendeng kon!"


"Serius kau Ti? Ish setia kawan dia bah!" Butet terlihat begitu bersemangat setelah mendengar ucapan Siti.


"Lah terus piye anak bojomu Ti?" Tanya Sri.


"Ya di siko kan rumah mertua ambo," Ucap Siti sambil tersenyum meledek.


"Oh iyo yo.." Ucap Sri, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu teh gimana kakak ipar?" Tanya Cempaka, seraya tersenyum geli.


"Kakak ipar.. walaupun bener aku kakak iparmu ya Cem, tapi aku moh di celuki kakak ipar. kowe iku boloku!"


Siti, Cempaka dan Butet pun terkekeh mendengar ucapan Sri.


"Jadi kek mana? Kau bilang tadi si Dewa lagi di luar Kota. Nginap aja kau lah!" Ucap Butet.


"Gimana ya... hmm." Sri tampak bingung.


"Iya atuh.. lagipula besok hari Sabtu, anak-anak teh libur sekolah." Timpal Cempaka.


"Hmmmm, yo wes lah! Let's go kita ramaikan Kost Putri!" Teriak Sri.


"Yeayy...!" Sahut Butet, Cempaka dan Siti.


"Kenapaaaaa lah orang-orang tua tu.. Ck ck ck ck, macam anak gades aja pon!" Gumam Moana.


*


"Eh bang, rasa-rasanya, gue kok gak percaya ya si Moan begitu," Ucap Batra, setelah mereka lama terdiam karena habis membahas kepergian nyak Tatik.


"Sama, gue juga." Sahut Rozy, seraya meraih gelas kopinya yang berada di atas meja.


"Ngomong-ngomong, lu punya nomor si Moan?" Tanya Batra.


"Kaga, kenape mang? Lu mau hubungi si Moan? kagak baek ah, urusi rumah tangga orang lain. Pamali," Ucap Rozy.


"Bukan begitu bang, tapi sayang aje kalau beneran pisah. Secara bini-bini kite nih kan bersahabat bang. Moan juga udeh kek keluarga sendiri ame kite. Jadi ape salah nye sih bang. Lagipula elu kan dituakan di kumpulan kite-kite orang. Kalik lu bisa jadi penengah bang." Terang Batra.


Rozy terdiam sejenak. Memang benar, selain dirinyalah yang paling tua diantara mereka semua, ia juga kerap menjadi penengah untuk rumah tangga adik-adiknya. Sedangkan Butet dan Moan pun sebenarnya sudah Rozy anggap sebagai adik sendiri. Namun apa salahnya bila ia mencoba untuk menjadi penengah untuk Butet dan Moan.


"Tapi gue udeh gak ada nomor Moan, Bat. Hape gue ke wipe!"


"Gaptek sih lu, jadi asal pencet aja. Gue punya nih," Ujar Batra.


"Serius lu?"


"Iyak, nih..." Batra menyerahkan ponselnya kepada Rozy, sambil tersenyum bangga.


"Wuihhh.. lu hubungin dah.." Ucap Rozy.


"Ok..... bentar."

__ADS_1


Batra pun mulai menghubungi Moan.


*


Hari kedua tidak ada Butet di rumah. Membuat Moan mulai linglung. Ia terus menerus membuka lemari makan hanya untuk melihat ada makanan atau tidak di dalam lemari tersebut. Padahal sudah dipastikan bila jelas tidak akan ada makanan, karena tidak ada Butet di rumah. Tidak hanya sampai di situ saja, Moan juga kerap mengunjungi kamar Moana dengan raut wajah yang lesu.


"Makjangggg... kek gini kali gak ada anak sama binik." Keluh Moan.


Dreeeettt..! Dreeettt..! Dreeeettt...!


Moan yang sedang termenung di kamar Moana terkejut saat ponselnya berbunyi.


"Butet!" Serunya seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


Seketika raut wajahnya berubah saat melihat layar ponselnya. Ternyata yang menghubunginya bukanlah orang yang ia harapkan, melainkan Batra.


"Ngapain si Batra hubungi aku? Masih idop dia?" Batin Moan.


"Halo!" Sapa Moan saat menerima panggilan dari Batra.


"Halo, buset dah! Jangan teriak-teriak apa lu Moan!"


"Tumben kau hubungi aku Bat, apa cerita?" Tanya Moan.


"Gue denger-denger, lu pisah sama si Butet?" Tanya Batra.


"Dengar darimana pulak kau. Udah masok berita nasional rupanya?" Tanya Moan.


Batra terkekeh mendengar celetukan Moan.


"Bukan gitu, pasalnya si Butet tinggal di sini sekarang."


"Hah!" Sontak Moan beranjak berdiri dan mulai terlihat panik.


"Jadi dia langsung kawen sama kau Bat? Kok bisa dia tinggal di rumahmu?"


"Astaghfirullah, bukan di rumah gue Moan... et dahhh..! Bini gue mau gue kemanain? Di Kost-kostan woi!" Terang Batra


"Hah! Serius kau?" Tanya Moan lagi.


"Iyak, ini lagi ngumpul sama bini-bini kite-kite orang."


"Aku kesana lah ya... rindu kali aku sama anak binik ku Bat."


"Mending kaga usah Moan. Kayaknya serius banget masalah lu sama si Butet. Jadi bang Rozy pengen kita ketemu dulu. Gimana? Kalau lu langsung temui Butet, gue yakin dah lu bakal di usir sama si Butet. Gak hanya Butet aje, tapi bini kita-kita."


"Omakjangggg... Iya nya?" Tanya Moan.


"Serius, apalagi masalah selingkuh."


Moan terdiam saat Batra mengatakan kata 'Selingkuh'.


"Kita ketemuan aja besok, gimane? Gue nginep di rumah bang nyak. Kita ketemu di luar aje. Nanti gue ke sono sama bang Rozy. Enaknye ketemu di mane kite?" Tanya Batra.


"Di cafe ku aja lah ya. Besok ya, tapi betol kau datang."


"Iye... tenang.. siap. Besok kite meluncur!" Ucap Batra.

__ADS_1


__ADS_2