
"Mamakkkk.. cepatlah!" Teriak Moana yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah di hari pertama ia masuk sekolah dasar.
"Sebentar dulu!" Sahut Butet dari dalam rumah.
"Ish, lama kali. Kek mau jumpa Lee min hoo aja." Keluh Moana.
Tak lama kemudian, Butet muncul dengan terburu-buru seraya membawa sepasang sandal yang hendak ia pakai.
"Pakek sendal tinggi mamak?" Tanya Moana.
"Iya lah!" Sahut Butet yang segera duduk di bangku teras dan memakai sepatunya.
"Mamak mau ngantar aku sekolah apa mau undangan Martumpol?" Celetuk Moana.
"Muncong mu lagi Moana!" Butet mendelik kepada Moana.
Moana hanya menghela napas seraya menatap ibunya itu dengan tatapan putus asa.
"Ayok!" Seru Butet, seraya membuka pintu mobilnya, agar Moana masuk ke dalam mobil.
"Kurang merah ku rasa pipi mamak itu. Tambah sikit mak merah-merah nya, biar kek siap kenak tampar," Ucap Moana, seraya memasuki mobil tersebut.
"Kau!" Butet kembali mendelik, lalu ia menutuppintu mobil tersebut dan memutar untuk masuk ke kursi kemudi.
Setelah Butet masuk ke dalam mobil, ia melirik Moana yang sedang memakai safety belt.
"Siap nya kau sekolah SD nang?" Tanya Butet sebelum ia menyalakan mesin mobilnya.
"Siap lah, langsung S2 pun aku siap," Jawab Moana.
"Ya Tuhan! Anak siapa lah kau! Kalok di tanya gak pernah betol jawabmu!" Ucap Butet, seraya menyalakan mesin mobilnya.
Sesampainya di sekolah, Moana dan Butet di sambut guru-guru yang sudah berjejer di depan gerbang sekolah untuk menyambut siswa dan siswi peserta didik baru di sekolah itu.
"Halo.. Siapa namanya?" Tanya Guru yang bernama Suhartini kepada Moana.
"Moana bu guru," Jawab Moana.
"Kelas satu berapa kamu sayang?" Tanya guru itu lagi.
"Mak, kelas satu berapa?" Tanya Moana.
__ADS_1
"Kelas satu A," Jawab Butet.
"Oh, ini di kelas ibu ini. Ibu adalah wali kelas kamu. Ruang kelasnya ada di pojok sebelah kanan ya. Moana dan mamanya ke kelas dulu ya. Nanti kalau sudah bell, baru ibu guru susul." Terang bu Suhartini.
"Baik bu." Jawab Moana.
Butet mengangguk saat melintasi para guru dan langsung mengantarkan Moana ke kelasnya.
Baru saja sampai di kelas 1 A, sudah terdengar riuh suara tangis anak-anak yang tidak mau di tinggal oleh orang tuanya. Sedangkan Moana, sudah terlebih dahulu masuk dan duduk di bangku yang masih tersedia.
Butet tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Moana. Pun dengan Moana yang dengan semangat membalas senyuman dan lambaian tangan ibunya tersebut.
"Anak ku mantap kali bah! Gak ada takot-takotnya kek anak orang laen!" Batin Butet, bangga.
Tiba-tiba saja kedua mata Butet tertuju pada seorang ibu yang sedang mengintip anaknya dari jendela sekolah tersebut. Butet menatap ibu tersebut dari kepala hingga kaki, lalu ia tersenyum sendiri saat melihat kehebohan dandanan ibu tersebut.
"Ku kira aku aja yang heboh, ternyata ada yang kek badut." Batin nya lagi.
Teeeettt!
Teeeeett!
Bel pun berbunyi, tanda jam pelajaran di mulai. Butet dan orang tua murid lainnya enggan untuk beranjak, mereka tetap berdiri di samping jendela, agar dapat melihat kegiatan anak-anak mereka.
Namun tidak ada satupun anak yang menyahut atau memperhatikan ucapannya. Tidak ada yang mampu ibu Tini lakukan, selain hanya tersenyum lebar saat menghadapi anak-anak yang baru saja lulus dari taman kanak-kanak tersebut. Anak-anak swusia Moana dan lainnya masih belum mengerti apa itu 'sekolah'. Mereka hanya mengerti bersenang-senang dan bermain bersama dengan teman-teman baru mereka.
"Huaaaa..!" Dari beberapa sudut, masih yerdengar suara tangisan anak-anak yang masih asing dengan lingkungan sekolah barunya. Bahkan, ada anak yang tidak mau sama sekali berpisah dari ibunya.
"Sekarang, karena hari pertama sekolah, kita kan belum saling kenal ya teman-teman. Jadi, bagaimana kalau kita berkenalan dahulu. Jadi, nanti belajarnya lebih menyenangkan. Teman-teman sudah memiliki teman dan bisa bermain bersama. Juga dengan ibu Tini, ibu jadi bisa mengenal dan memanggil nama teman-teman semua," Ucap ibu Tini dengan bersemangat.
"Huaaaaa..!" Kembali terdengar suara anak menangis. Ada yang menangis karena merasa asing dan takut. Ada juga yang menangis karena bertengkar dengan teman sebangkunya.
Tidak ada pilihan lain bagi ibu Tini, selain mencoba menenangkan dan melerai anak-anak didiknya.
"Teman-teman yang pintar dan baik hati, bisa diam dulu ya..., Ibu mau berbicara. Kalau mengerti, katakan mengerti Ok?"
"Ok! Ok!" Sahut anak-anak dengan nada suara tokoh kartun yang terkenal membawa map di tas nya. Namun hanya sebagian yang menyahut apa kata bu Tini. Sebagian lainnya sibuk dengan dirinya sendiri dan ada yang terus menangis.
"Anak siapa itu? Cengeng kali," Ucap Butet.
Seorang ibu yang mendengar ucapan Butet pun melirik Butet.
__ADS_1
"Gak tahu mam, kayaknya orang tuanya tidak menunggunya di sini." Sahut ibu itu.
"Oh kek gitu. Pekak kali telingaku dibuatnya. Nangeeesss aja kerjanya dari tadi. Gak kayak anakku, tengoklah santai kali dia dudok di sanan," Ucap Butet, seraya menunjuk Moana yang sedang duduk anteng di kursinya.
Ibu itu pun tersenyum sinis saat mendengar Butet memuji anaknya sendiri.
Merasa tidak mau kalah dengan Butet, ibu itu pun ikut membanggakan anaknya. Perang menyombongkan anak pun di mulai antara ibu itu dan Butet. Tak henti-hentinya mereka menyebutkan kelebihan anak mereka. Sedangkan ibu guru Tini mulai memanggil satu-satu anak untuk memperkenalkan diri di depan kelas.
Hingga akhirnya giliran anak dari ibu yang sedang saling membanggakan anak dengan Butet.
"Liat tuh kan mom, anak saya Amelia pinter banget..!" Ucap ibu itu dengan wajah yang terlihat begitu bangga, setelah anaknya mampu memperkenalkan diri dengan baik di depan kelas.
"Halah, biasa aja nya itu. Anakku pun bisa kek gitu," Ucap Butet dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal dengan ibu tersebut.
Ibu tersebut pun terlihat mencibir dan membuang muka karena kesal pada Butet.
Akhirnya, tibalah nama Moana di sebutkan oleh ibu Tini. Terlihat Moana berjalan ke depan kelas dengan percaya diri. Pun dengan Butet yang terlihat bangga dan juga harap-harap cemas.
"Eh mam, tengok ya... itu anak aku," Tidak mau kalah dengan ibunya Amelia, Butet pun segera membanggakan dan mempromosikan anaknya yang sedang tampil di depan kelas. Ibu tersebut hanya melengos dan ikut memperhatikan Moana yang akan memperkenalkan dirinya.
"Halo teman-teman, namaku Moana Patricia Pangaribuan. Rumahku di Jalan Semangka, nomor tujuh. Usiaku tujuh tahun. Hobiku bermain game," Ucap Moana dengan lugas dan begitu percaya diri.
Butet terlihat begitu bangga dan melirik ibunya Amelia. sedangkan ibu tersebut kembali melengos dan kembali mencoba mencari kekurangan Moana.
"Aku gak punya adek ataupun kakak. Aku anak satu-satunya. Aku udah minta adek sama mamak dan bapakku. Tapi kata bapakku, "kek mana mau punya adek? mamak kau aja gak mau berdamai sama bapak.". Memang orang itu lagi berantam, dan sekarang lagi pisah rumah. Entah kapan bisa balek lagi. Aku pun pening, kawan-kawan. Jadi ada solusi buat mamak sama bapakku, biar orang itu bisa kasih adek buat aku? Gak enak ku rasa jadi anak satu-satunya loh..." Sambung Moana.
Deg!
Butet terkejut saat mendengar ucapan polos anaknya. Sedangkan ibunya Amelia terlihat begitu bersemangat dan mulai tersenyum lebar seraya menatap Butet.
"Kimbek nya, ketawa si ondel-ondel ini!" Batin Butet, saatmelihat ibunya Amelia tersenyum lebar karena mendapatkan kekurangan dalam tubuh keluarga Butet.
Tidak hanya sampai di situ, Moana terus meracau, hingga ibu Tini merasa canggung dan meminta Moana berhenti untuk bicara dan kembali ke bangkunya. Hal hasil, Butet hanya bisa tertunduk malu di depan ibunya Amelia.
"Banyak kali cakap kau!" Bentak Butet, saat ibunya Amelia mulai menyindir dirinya. Lalu Butet pun beranjak ke kantin sekolah tersebut seraya terus menyesali kata-kata Moana saat di depan kelas tadi.
Tidak hanya sampai di situ, karena kepolosan Moana, di hari Moana sekolah, Butet sudah di panggil ke kantor ibu Tini. Merasa prihatin, ibu Tini berusaha untuk menasihati Butet untuk ke baikan tumbuh kembang Moana. Saking malunya, Butet hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang ibu Tini ucapkan kepada dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang, Butet terus mengomel kepada Moana. Sedangkan Moana sibuk dengan gamenya dan merasa ia tidak bersalah. Butet pun mulai merasa bila dirinya bersalah, karena setiap ia bertengkar dengan Moan, Moana kerap mengetahuinya karena suara Butet dan Moan yang tidak bisa pelan saat bertengkar.
"Huffff..!" Butet merasa kesal, menyesal dan ada perasaan menyalahkan Moan yang belum juga mau pulang ke rumah.
__ADS_1
"Semua salah kau lah ini Moan!" Batin Butet.