Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
AADB (Ada Apa Dengan Butet)


__ADS_3

Ting tong!


Ting tong!


"Moanaaaaaa...!"


Ardi yang sudah di beritahu oleh bundanya bila Moana akan datang ke rumah mereka pun berteriak dan berlari menuju ke pintu depan rumahnya. Lalu bocah lelaki itu pun bergegas membukakan pintu untuk Moana dan ibunya.


"Moanaaaa!" Seru Ardi lagi.


"Abang!" Moana berlari ke pelukan Ardi.


Dari belakang, terlihat Sri tersenyum melihat tingkah anak-anak itu. Lalu ia segera menghampiri Butet yang sedang menatap dirinya dengan tatapan prihatin.


"Apa kabar Tet?" Tanya Sri, seraya mengecup kedua pipi Butet.


"Amboradol aku Sri," Sahut Butet, seraya membalas pelukan Sri dan mengecup kedua pipi Sri.


"Hmmm, kalian main ya di ruang tengah, bunda dan tante Butet akan berbincang di sini," Ucap Sri kepada Ardi.


"Iya bun.." Sahut Ardi, seraya menggandeng tangan Moana menuju ke ruang tengah.


"Ku tengok-tengok, senang kali si Ardi kalau si Moana datang. Udah ada tanda-tanda dia mau adek tu Sri.." Seloroh Butet.


"Apa sih Tet," Sri tersipu malu dan mempersilahkan Butet untuk duduk di sofa ruang tamu tersebut.


"Pastilah dia pen kali punya adek, Sri. Umur si Ardi udah berapa.." Ucap Butet seraya tersenyum.


Sri menundukkan pandangannya dan menghela napas panjang.


"Eh, saket apa si Kimberly? Jadi, jumpa lagi orang tu? Gak pulang rupanya si Dewa?" Butet mulai memberondong Sri dengan banyak pertanyaan.


"Mas Dewa katanya mau pulang siang ini. Aku belum tahu Tet, Kimberly sakit apa." Jawab Sri.


"Alasan aja gak tu?" Terka Butet.


"Kayaknya memang serius Tet,"


"Ah yang betol.." Butet masih tidak percaya, mengingat betapa liciknya Grazia selama ini.


"Wong di rawat kok anak nya."


Butet terdiam, lalu ia menatap Sri dengan seksama.


"Kau belom tidor ya Sri? Nampak kali kantong mata kau."


Sri tersenyum dan kembali menundukkan pandangannya.


"Aku mau bilang, jangan di piker kali.. tapi cemana ya? pastilah kepikeran sama kau ya Sri. Namanya otak kita kadang gak kompak kali," Ucap Butet lagi.


Sri tersenyum dan kembali menatap Butet dengan seksama.


"Lah, kamu kenapa toh?" Tanya Sri.

__ADS_1


"Apanya?"


"Katanya kamu amburadul, amburadul kenapa toh? Kamu ribut lagi sama bang Moan?"


Butet mendengus kesal, lalu ia mengusap wajahnya dengan gusar.


"Iya Sri."


"Astaga.. kenapa lagi sih Tet... Tet.."


"Kau ingat gak? Perempuan yang namanya si Risma Risma itu?" Tanya Butet.


"Risma sopo?" Sri berusaha untuk mengingat-ingat nama yang baru saja di sebutkan oleh Butet.


"Itu loh.. Risma mantan nya si Moan."


Sri memutar bola matanya ke atas, mencoba memanggil lagi ingatannya yang sudah bertahun-tahun lamanya mengendap di dalam otaknya.


"Gak ingat kau?" Tanya Butet.


"Sek toh.. Risma... Risma.. sing mana yo?"


"Ituuuu.. yang dulu sempat datang ke cafe si Moan. Masak kau lupa. Mantan Moan yang putih putih tinggi itu loh...!"


Sri mulai kembali mendapatkan ingatannya. Lalu ia membulatkan kedua matanya dan menatap Butet dengan seksama.


"Ah...! dia! Ya... kenapa toh?" Tanya Sri, yang mulai penasaran.


"Jadi, dia semalam datang kan ke cafe si Moan. Ish.. getek kaliiiii lah dia sama lakik ku. Si Moan pun mati ke gantengan kali, udah jelas aku gak sukak liat dia sama si Risma itu, bukannya pindah dudok, malah di layani nya juga si Risma!" Keluh Butet.


"Itu.. di layani cakap-cakap orang itu. Jadi maksudmu layani cemana? Men cewek orang itu? Ooooohhh... mati ku buat iya kalok sempat kek gitu!" Butet mendengus kesal.


"Sebentar, maksudnya mereka cuma berbincang-bincang aja kan Tet?" Tanya Sri dengan polosnya.


"Iya, tapi ada yang buat aku marah kali!"


Sri mengerutkan keningnya dan menatap Butet dengan seksama.


"Opo toh?"


"Si Moan, di usap-usapnya dada si Risma!"


"Innalillahi!" Sri terkejut dan menutup mulutnya dengan cepat.


"Ya... walaupun aku tau, dia gak sengaja numpahin air dan kena baju si Risma. Tapi kok kek gitu kali," Keluh Butet, seraya mengerutkan dagunya.


"Oh.. jadi tidak sengaja toh?"


"Sengaja gak sengaja, tetap aja aku saket hati!" Butet melotot dan kembali mendengus kesal.


"Tet.. Tet.. itu kan insiden. Menurutku, bang Moan itu orang baik Tet. Jadi dia gak sampai hati mengabaikan si Risma. Masalah suamimu gak sampai seperti mas Dewa kan Tet. Kalau sampai seperti mas Dewa, aku yakin, reaksimu pasti lebih kacau dari ini," Ucap Sri, seraya menundukkan wajahnya.


Butet terdiam. Lalu ia menghela napas panjang dan mulai meraih tangan Sri.

__ADS_1


"Aku paham Sri. Kau udah paling mantap kali jadi perempuan. Sabar mu udah kek bidadari kali ku tengok. Aku rasa, matipun kau, gak lah kau pakek di tanyak-tanyak sama malaikat kelen. Pasti langsong aja kau di ajak ke surga," Ucap Butet dengan wajah prihatin nya.


Tiba-tiba saja Sri tertawa kecil dan kembali menatap Butet dengan seksama.


"Lebay koe Tettt Tett.." Ucap Sri, seraya tertawa geli.


"Ish betol lah. Sempat aku jadi kau. Oh my God! Ku pecahkan lah gigik si Grazia itu. Ku benamkan dia dalam paret!" Ucap Butet dengan emosi yang tampak berapi-api.


Sri kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Jadi, gimana bang Moan?" Tanya Sri.


"Merajok dia! Gak pulang dia!"


"Kok bisa?" Sri tampak terkejut. Pasalnya selama ini yang kerap meninggalkan rumah, hanya Butet. Namun tidak pada kasus kali ini, agak sedikit aneh bagi Sri, bila Moan tidak pulang ke rumah.


"Jadi kan, aku ngamok. Aku pas bawak arsik ikan mas pulak. Liat dia kek gitu sama si Risma, ku lemparkan lah itu rantang ke orang tu bedua! Siap tu marah-marah si Moan." Butet menekuk wajahnya dan tampak sedikit penyesalan di sana.


"Astaga Butet..., kamu paham gak sih.. kalau kamu agak keterlaluan?"


Butet mengangkat wajahnya dan menatap Sri dengan seksama.


"Maksud kau Sri?"


"Tet, maaf ya.. aku sebagai sahabatmu, lebih baik aku berterus terang aja sama kamu."


"Apa tuh?" Tanya Butet yang tampak penasaran.


"Tet, dari dulu, emosimu itu agak sedikit mengganggu. Mungkin bagi kita-kita yang paham kamu seperti apa, kami masih dapat memaklumi kamu. Tetapi... mungkin bagi orang-orang yang gak paham sama kamu, kamu akan di anggap gak cerdas secara emosional."


Butet terdiam mendengar ucapan Sri.


"Tet, kamu gak kasihan sama Moana? Kamu gak kasihan sama bang Moan yang selalu berusaha untuk tetap mencintai kamu, walaupun dia tahu kamu seperti itu? Tet, mungkin kalau laki-laki lain, belum tentu ada yang sesabar bang Moan dalam menghadapi kamu."


Deg!


Butet terdiam membisu.


"Tet, coba cerita sama aku. Sebenarnya kamu tuh kenopo sih? Kenopo kamu cepat sekali terpancing emosi? Opo kamu punya trauma masa kecil?" Tanya Sri.


Butet memberanikan diri untuk menatap ke dua bola mata Sri. Lalu ia kembali menjatuhkan pandangannya.


"Kita sahabat toh? Kita harus bisa bangkit dan saling support. Aku pribadi, jujur wae, aku gak tau lagi kalau hidupku tanpa ada koe Tet. Sekarang, aku juga gak mau kamu gagal. Aku mau kamu cerita semua, kenapa kamu iso seperti ini."


Butet masih diam membisu.


"Jujur yo Tet, kami-kami ini, terus terkadang aku lihat bang Moan, seolah dia itu dan orang terdekatmu kerap jadi sasaran pelampiasan emosimu. Sebenarnya sudah lama aku mau bertanya. Tapi yo gak enak.. Sekarang ada kesempatan, lebih baik kita jujur jujuran aja ya Tet.." Ucap Sri, seraya mengusap punggung tangan Butet.


Butet semakin menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Gak apa Tet, aku gak akan cerita sama yang lainnya. Sama seperti koe gak cerita masalahku sama yang lainnya. Aku sangat berterima kasih sama mu Tet. Sekarang, kalau kamu ada masalah atau trauma yang belum bisa kamu maafkan, lebih baik cerita sama aku. Mana tahu kamu jadi lega. Kalau tidak, aku bisa mencarikan kamu psikolog kok Tet."


"Bukan aku mau bilang kamu bermasalah dengan kejiwaan. Tetapi, jujur yo Tet, tak delok delok, kamu butuh untuk memaafkan masa lalumu. Biar semuanya terselamatkan. Moana, rumah tanggamu.. dan lain-lain. Tet, sekali lagi aku bukan membela bang Moan, tetapi aku menyayangi kalian semua. Sekarang, jujur saja Tet.." Sambung Sri.

__ADS_1


Butet mulai meneteskan air matanya. Lalu ia menatap Sri dengan wajah yang tampak malu.


"Kau benar Sri. Aku ada trauma.." Ucap Butet, lalu ia terisak dengan begitu pilu.


__ADS_2