Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Wanita-wanita kuat


__ADS_3

"Jadi kek gitu ceritanya Sri. Itulah makanya aku gampang terpancing emosi," Ucap Butet, seraya tersenyum pilu dan mengusap air matanya.


Tanpa di sadari, Sri pun meneteskan air matanya. Lalu ia menatap Butet dengan seksama.


"Tet,"


"Ya?"


"Kamu hebat. Sadar gak kenapa kamu bisa hebat dan kuat?" Tanya Sri.


Butet menggelengkan kepalanya seraya terus menatap Sri.


"Itu karena ibumu. Anak-anak yang kuat, hanya terlahir dari rahim wanita yang hebat."


Tangisan Butet pun semakin pecah, hingga ia menyembunyikan wajahnya kala ia menangis sesenggukan. Sri beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Butet dengan erat.


"Tet, apa yang terjadi di masa lalu, mungkin tidak gampang untuk kita lupakan. Karena itu semua terpatri dalam otak kita. Tetapi, keputusan kita juga untuk merubah segala yang telah terjadi, untuk hidup yang lebih baik." Sambung Sri.


Baru kali ini Sri melihat Butet yang begitu sangar, menangis sesenggukan seperti layaknya anak kecil yang tak berdaya. Jauh di dalam diri Butet, ia tak lebih dari seorang anak yang terpaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya. Itulah mengapa, saat dia tumbuh dewasa, ia menjadi selalu ingin di mengerti, selalu mengedepankan egonya. Itu semua karena masa kecilnya yang tidak indah. Masa kecil yang terpaksa harus memahami sulitnya ekonomi dan masalah kedua orang tuanya. Masa kecil yang di pertontonkan kekerasan dalam rumah tangga, bahkan sempat menjadi korban kekerasan oleh ayahnya sendiri.


"Sri..." Butet terus menangis seraya membalas pelukan Sri dengan erat. Seolah Sri bukanlah sahabatnya, melainkan Sri adalah sosok ibu baginya.


"Kita cari psikiater atau psikolog ya," Ucap Sri, seraya terus mengusap lembut rambut Butet.


Butet mengangguk tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Sri.


"Kamu tahu gak Tet? Kisah ibumu, itu jadi inspirasi bagiku," Ucap Sri.


Butet melepaskan pelukannya dari tubuh Sri dan lantas menatap Sri dengan seksama.


"Maksudnya?"


"Aku jadi paham, ternyata wanita memang makhluk terkuat di bumi, mereka masih dapat hidup, setelah mendapatkan siksaan secara mental dan fisik. Makhluk pemaaf, makhluk yang hatinya begitu luas, makhluk yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Semua ada di diri ibumu."


Butet mengerutkan keningnya.


"Mungkin ibumu bukan satu-satunya, tetapi salah satunya. Aku sempat berpikir, kalau masalahku sudah paling berat. Tetapi, ternyata ibumu jauh lebih berat." Sambung Sri.


Butet terdiam membisu.


"Mas Dewa mungkin hanya menyiksa ku secara mental. Itupun aku yakin dia tidak sengaja. Tetapi dia tidak pernah melukaiku secara fisik. Dia tidak pernah memukuli Ardi. Dia tidak pernah mau bertengkar denganku di depan Ardi. Dia tetap bertanggung jawab dan menjadi ayah yang baik untuk Ardi. Itupun aku masih merasa sulit untuk memaafkannya. Tetapi ibumu... Mungkin dalam kaca mata orang-orang, ibumu adalah perempuan bodoh. Dia rela kembali lagi dengan ayahmu, setelah dia menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Pun terhadap anaknya yang telah di siksa oleh suaminya. Tetapi dia berani mengambil keputusan untuk memberikan maaf. Bukankah ibumu lebih pantas di sebut bidadari?"


"Dan lihat... Akhirnya ayahmu berubah menjadi lebih baik. Bertanggung jawab. Lebih perhatian dengan anak dan istri. Lebih bekerja keras untuk hidup kalian. Walaupun, dia sudah menciderai kepercayaan kamu dan ibumu. Tetapi dia tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua. Bagaimanapun juga, kamu sampai di dunia ini, kamu sampai di titik ini, ada campur tangan ayahmu Tet."

__ADS_1


Butet menghela napas panjang dan tertunduk lesu.


"Terkadang laki-laki memang butuh mendapatkan pelajaran. Kamu lihat ayahmu, bukankah wanita yang dia pilih tidak sebaik ibumu? Tidak sesempurna ibumu? Bukankah dia hidup membutuhkan anak dan istrinya? Entah apa yang terjadi padanya, mungkin dia sudah mendapatkan pukulan yang hebat atas keputusannya. Tidak lupa itu semua juga ada campur tangan Tuhan melalui doa doa ibumu." Sambung Sri.


Butet menyeka air matanya. Lalu ia menatap Sri dengan seksama.


"Sri, kau mau kan kawani aku ke psikiater?" Tanya Butet.


Sri tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Makasih ya Sri.."


Butet kembali memeluk Sri dengan erat.


"Aku tau kau lagi banyak masalah. Tapi kau tetap mendahului kawan-kawanmu. Kau pun salah satu bidadari Sri. Kau pun salah satu wanita terkuat. Aku kalau jadi kau, aku gak tau lah kek mana lagi. Mungkin aku gak sanggup terima curhat dari siapapun, karena aku udah pening sama masalahku sendiri," Ucap Butet.


Sri tersenyum lebar. Lalu ia mengusap punggung Butet dengan lembut.


"Kalau kata mbok ku, terkadang pengalaman itu gak harus kita sendiri yang merasakan Tet."


"Maksud kau?" Tanya Butet, seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Sri.


"Ya begini ini. Dengan mendengarkan masalah orang lain, itu salah satu pengalaman yang berharga tanpa harus kita sendiri yang merasakan. Dan di saat kita sendiri menghadapi posisi itu, kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Kita sudah tahu bagaimana mengelola emosi. Kita sudah tahu, langkah apa yang harus kita ambil," Ucap Sri, seraya tersenyum lebar.


"Ish.. Beruntung kali lah aku kenal kau Sri." Butet tersenyum dan mengusap punggung tangan Sri dengan lembut.


"Waalaikumsalam," Sahut Sri.


Dewa yang baru saja datang, menatap Sri dan lalu menatap Butet yang sedang sibuk menghapus air matanya dengan tisu yang baru saja ia ambil dari kotak tisu yang berada di atas meja.


"Eh, ada Butet," Ucap Dewa dengan kikuk, setelah menyadari bila Butet sedang menangis.


"Eh, bang Dewa. Apa kabar bang?" Tanya Butet yang sedang mencoba berbasa-basi.


"Baik. Moan mana?" Tanya Dewa.


Butet sempat terdiam, lalu ia mencoba untuk tersenyum dan mengatakan bila Moan sedang sibuk di cafe. Dewa hanya mengangguk paham dan mulai berpamitan kepada Butet dan juga Sri, untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu.


"Lakik kau udah pulang. Pulang lah aku ya.." Ucap Butet seraya beranjak dari duduknya.


"Loh... kok buru-buru? Gak apa loh Tet."


"Gak enak aku. Kelen lagi ada masalah. Nanti kita bicara di telepon aja, sekalian mau bahas masalah psikiater," Ucap Butet.

__ADS_1


Sri tersenyum dan mengangguk.


Lalu Butet memanggil Moana dan lalu berpamitan untuk pulang kepada Sri.


"Salam aja sama bang Dewa ya. Kita pulang dulu," Ucap Butet, seraya melangkah keluar dari rumah tersebut.


"Iyo Tet. Kamu hati-hati ya.."


"Iya Sri. Makasih kali loh aku.."


"Sama-sama Tet." Sahut Sri, seraya mengantarkan Butet menuju ke mobilnya. Lalu Sri melambaikan tangannya, saat mobil Butet beranjak meninggalkan halaman parkir rumahnya.


"Yah.. Moana pulang," Ucap Ardi dengan penuh kekecewaan.


"Kapan-kapan kan bisa ketemu lagi sama Moana..." Sri mencoba menghibur Ardi.


"Aku maunya Moana tinggal di sini aja. Kalau gak, bunda kasih aku adik dong!"


Sri terdiam mendengar ucapan Ardi.


"Aku kesepian tau bun. Setiap hari temen ku cuma game sama si bibik dan sus, aku kepengen adik bun.." Rengek Ardi.


Sri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya berpikir alasan apa yang akan ia ucapkan kepada Ardi, agar bocah tersebut dapat menerimanya.


"Ng..."


"Kasih adik ya bun..." Rengek Ardi lagi.


"Sayang.. untuk sementara waktu, Tuhan belum memberikan kamu adik. Tetapi, kalau kamu berdoa terus, Tuhan pasti kabulkan kok," Ucap Sri, seraya menatap Ardi dengan seksama.


"Aamiin.."


Ardi dan Sri pun menoleh ke arah sumber suara tersebut. Terlihat Dewa sedang tersenyum dan mengangkat kedua tangannya dengan penuh harapan.


"Aamiin," Sahut Ardi.


Kini Sri menoleh kepada Ardi. Melihat sorot mata Ardi dan wajah penuh asa, membuat Sri mau tidak mau tersenyum, walaupun itu sedikit membuat kikuk.


"Bunda bilang aamiin juga dong!" Desak Ardi.


Dengan ragu, sekilas Sri melirik Dewa dan kembali melirik Ardi yang tampak menunggu kata 'aamiin' yang keluar dari bibir Sri.


"Ayo bun, biar Tuhan mengabulkan.." Desak Ardi lagi.

__ADS_1


"A-a-aamiin," Ucap Sri dengan terbata.


Kini Ardi dan Dewa tersenyum puas. Lalu Ardi berlari ke arah Dewa dan memberikan ayahnya hi 5. Dengan bersemangat, Dewa pun menyambut tangan Ardi dan tertawa puas seraya melirik Sri yang hanya bisa diam mematung di depan pintu.


__ADS_2