Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Pertanyaan Moana


__ADS_3

"Mamakkkk..." Sapa Moana, seraya berlari ke arah Butet yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah kost.


"Eh, darimana kau nak ku?" Tanya Butet, seraya menoleh ke arah Moana yang mendekat kepadanya.


"Ada yang mau ku kasikan dulu sama mamak."


"Apa itu?" Tanya Butet yang tampak bersemangat.


"Happy Valentine mak," Ucap Moana, seraya mengeluarkan cokelat dari balik punggung mungilnya dan menyerahkan cokelat itu kepada Butet.


"Ish! belik cokelat dia buat mamaknya." Butet tampak terharu dan tersenyum menatap Moana. Lalu ia meraih cokelat itu dan kembali menatap Moana dengan seksama.


"Tau-taunya kau ya nak e, sama Valentine day. Sampek belik cokelat jugak buat mamaknya. Ish, terharu kali aku bah!" Butet mengibaskan tangannya di hadapan wajahnya.


"Terima kasih ya buru ku," Ucap Butet, seraya memeluk tubuh mungil Moana.


"Jangan samaku bilang makasi nya mak," Ucap Moana dengan wajah yang polos.


"Iyah, sama siapa pulak kalok gak samamu," Ucap Butet dengan ekspresi wajah yang terheran-heran.


"Sama bapak lah. Dia bilang titip cokelat ini buat mamak. Katanya happy valentine day, I love you Butet."


Butet langsung mengerutkan keningnya dan menatap Moana dengan tatapan yang tampak serius.


"Jumpa kau rupanya sama bapakmu? Kesini nya dia?" Tanya Butet.


"Iya mak, jumpa aku tadi di depan. Tapi dia gak berani masok katanya. Takot dia sama mamak. Mamak pun tah apa nya, marah-marah aja kerjanya," Ucap Moana, seraya beranjak duduk di samping Butet.


Butet pun terdiam, lalu ia menghela nafas panjang, seraya meletakkan cokelat itu di atas meja.


"Mak, betol nya mamak mau cerai sama bapak?" Tanya Moana.


Butet menatap Moana dengan seksama, lalu ia menundukkan pandangannya.


"Mak, kalau mamak sama bapak pisah. Aku cemana mak?" Tanya Moana lagi.


"Kau ikot mamak lah. Kau kan anakku," Ujar Butet.


"Tapi aku kan jugak anak bapak mak. Apa perlu ku belah dua badanku ini mak? Biar bisa ku dapat dua-duanya orangtuaku?"

__ADS_1


Jantung butet berdegup kencang, menghadapi pertanyaan polos dari bibir putrinya yang masih duduk di taman kanak-kanak itu.


"Kok gitu kau cakapnya, nak ku? Bingung mamak jawabnya."


"Mamak bingung jawab. Aku bingung cemana caranya nantik ku belah dua badanku ini. Apa gak kurus kali aku kalok di belah dua. Tapi masih idop aku kan mak?" Tanya Moana lagi.


"Apanya pertanyaan mu itu. Sekarang mana bapakmu?" Butet berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Udah pigi dia. Ish mak, kasian kali aku nengok bapak lah. Kurus kali dia bah! Gadak semangat idop ku tengok."


Butet kembali mengerutkan keningnya.


"Kau ini, berlebihan kali." Celetuk Butet.


"Sumpah aku mak. Tau mamak apa yang dia bilang mak?"


"Apa?" Tanya Butet penasaran.


"Katanya kan, di dunia ini cuma tiga nya cewek yang dia cintai."


"Bah! Banyak kali, leboy bapak kau ya Moana!" Nafas Butet mulai sesak mendengar pengakuan putrinya.


"Apa? Apa lagi cakapnya?" Tanya Butet.


"Ha, gitu lah mak. Sabar sikit...! Jadi kan, katanya ada tiga perempuan yang dia cintai. Pertama kan mak, opung boru."


Butet terdiam mendengar ucapan Moana.


"Yang kedua, aku lah."


"Yang ketiga?" Tanya Butet, yang tampak tak sabar.


"Yang ketiga, tentunya mamak lah. Siap itu gak ada lagi mak."


"Alahhh.. bisa bisaan bapakmu aja itu." Butet melengos dan meraih ponselnya yang berada di atas meja.


"Mamak gak percaya? Nangis pun dia cakap kek gitu samaku."


Butet terdiam membisu.

__ADS_1


"Mak, kenapa mamak gak percaya sama bapak? Memangnya sering dia nokoh? Kan enggak mak."


"Udahlah, mandi kau sanan. Bauk kali kau.." Butet kembali mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu lah mak."


"Malas aku. Sanan kau mandi..!"


"Mak..." Moana tampak begitu memohon kepada Butet.


"Apa nya!" Butet tampak terganggu dengan desakan Moana.


"Jawab dulu mak.."


Butet menghela nafas dan menatap putrinya dengan seksama.


"Nak ku..., kau dengar dulu."


"Apa mak?"


"Banyak hal yang terjadi sama orang dewasa yang kau gak tau. Jadi, bagos sekarang kau mandi, jangan lupa kau bros gigi kau itu. Biar wangi kau sikit, paham kau?"


Moana menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya.


"Bagos. Sanan kau mandi," Ucap Butet.


Moana pun bergegas ke kamar mandi. Kini tinggallah Butet sendirian di ruang tamu rumah kost itu. Ia menatap cokelat pemberian Moan yang ia taruh di atas meja. Perlahan air matanya pun mengaburkan pandangannya. Dengan bersusah payah ia mencoba untuk tidak menitikkan air mata. Namun itu semua sia-sia, air mata itu pun terjatuh di pipinya dengan begitu deras.


"Masih ingat nya kau sama aku bang?" Batin Butet.


Angan Butet kembali ke beberapa tahun yang lalu. Saat ia dan Moan merayakan valentine pertama mereka. Saat itu Moan memberikan dirinya sebuah gelang emas, yang langsung Moan pakaikan ke pergelangan tangan Butet. Tidak hanya gelang emas, cokelat dan bunga pun tidak lupa Moan berikan kepada dirinya. Moan adalah lelaki cuek yang ternyata begitu romantis. Itulah yang Butet sukai dari sosok suaminya itu.


Pertanyaan Moana tadi tidaklah salah. Moan memang tidak pernah berbohong kepadanya. Apa saja Moan ceritakan pada Butet. Masalah keuangan, masalah keluarga, masalah usaha mereka, mantan Moan dan lain sebagainya. Namun masalah kelakuan teman-teman Moan yang suka menggunakan aplikasi kencan online, belum sempat Moan ceritakan pada Butet.


Ada benarnya apa yang di katakan Moana, saat para sahabat Butet masih menemani dirinya di rumah kost itu kemarin. Moana sempat mengatakan akhir-akhir ini Butet memang sibuk dengan teman-teman masa kuliahnya dulu. Entah itu saat berkumpul bersama dan juga saat di rumah melalui sambungan telepon. Terkadang Moan pulang pun, Butet masih terlihat sibuk dengan dunianya.


Sebenarnya ada alasannya mengapa Butet seperti itu. Di tahun-tahun pernikahan menjelang ke sepuluh tahun ini, mulai ada perasaan bosan, stress dan lain sebagainya saat menjadi ibu rumah tangga. Sosok 'Teman' sangat di butuhkan oleh Butet. Terutama saat suami sibuk sendiri dengan dunianya. Entah itu sibuk dengan pekerjaan, hobi, club, game dan lain sebagainya.


Untuk kasus Butet sendiri, Butet mulai merasa jenuh dan kurang perhatian, saat Moan sibuk dengan usahanya. Awalnya Butet mencoba mengerti, namun ternyata Moan pun mulai merasa jenuh dan mencari pelampiasan dengan ikut club motor yang sebenarnya tidak perlu Moan lakukan.

__ADS_1


Awalnya Butet ingin protes, namun Butet mencoba kembali mengerti. Menimbang Moan yang sudah berusaha keras dalam usahanya, pastilah Moan membutuhkan hiburan. Namun jauh di dalam hati Butet, ada ketidakpuasan yang tidak dia ucapkan. Yaitu, merasa dirinya sudah tidak lagi mampu membuat Moan betah di rumah. Dan itu tidak pernah ia ungkapkan kepada Moan.


__ADS_2