
"Bang, pinjam aku dulu kunci rumah," Ucap Butet, saat ia menghubungi Moan melalui sambungan telepon.
"Wuihh..! mau pulang kau dek?" Tanya Moan dengan nada suara yang bersemangat.
"Iya, aku mau pulang." Jawab Butet.
"Ok! Jadi malam ini aku ikot pindah lah ya. Sama kita pulang dek!"
"Eh, kata siapa aku mau balek sama kau, bang? Aku cuma mau pinjam kunci rumah aja. Ada urusan aku lah." Terang Butet.
"Urusan apa dek?" Tanya Moan, penasaran.
"Adalah, nanti aku cerita. Kau di mana ini, bang?"
"Di cafe, biasalah." Sahut Moan.
"Ya udah aku ke sanan ya. Jang kemana-mana kau, bang!"
"Iya, abang tunggu." Jawab Moan, seraya tersenyum gembira.
"Tumben si Butet mau ke cafe, jumpa aku." Batin Moan.
"Kenapa kau senyom-senyom sendiri?" Tanya Choky yang duduk di hadapan Moan.
"Mau ke sini si Butet." Sahut Moan.
"Eh, udah ada titik terang rupanya lay?" Tanya Choky lagi.
"Belom...! Gara-gara kau ni. Memanglah kau biang kerok!" Ucap Moan dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Choky hanya tersenyum dan mendadak lupa ingatan. Yang membuat Moan semakin kesal padanya.
"Eh, nantik malam, kawan-kawan mau keluar. Ikot gak kau lay?" Tanya Choky.
"Gadak! Mau keluar aku dari club. Kelen pun bahaya kali maen nya. Tah apa-apa aja kelen kerjakan. Club cuma casing aja ku tengok!"
Choky terkekeh mendengar ucapan Moan dan kembali menyeruput kopi pesanannya.
"Ingatku, binikmu gak ada nanyak nanyak kau kemana siap kopdar?" Tanya Moan.
"Ya nanyak. Tapi ada aja alasanku." Jawab Choky.
"Kalok kau gak pulang, kek mana ceritanya?" Moan semakin penasaran.
"Bilang aja aku nginap di rumah salah satu member. Biasanya si Joko ku kambeng hitamkan. Hahahahaha! Dia pon nurut aja. Saling jaga kami, jan sampek ada yang bocorkan rahasia." Terang Choky.
Moan hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tak percaya dengan kelakuan temannya itu.
__ADS_1
"Hati-hati kau, hari sial gak ada di tanggalan," Ucap Moan.
"Halahhh... mintak cere binikku, cere lah! Gak masalah sama aku. Bujang balek aku," Ucap Choky, jumawa.
"Hedehhh... susah memang. Udah setan aja yang besarang di hotak kau itu!" Hardik Moan.
"Hahahahaha, dah lah. Pigi aku dulu. Malas aku jumpa binikmu. Nengok aku udah kek nengok penjahat aja," Ucap Choky, seraya menaruh uang sebesar tiga puluh ribu rupiah di atas meja, untuk membayar kopi pesanannya.
"Pigi lah kau sanan. Bekawan sama kau sesat kali!" Ucap Moan.
Choky kembali terkekeh dan beranjak meninggalkan cafe tersebut.
Lima belas menit kemudian, Butet pun tiba bersama dengan Moana. Seperti biasa, Moana berlari menghampiri Moan dan memeluk bapaknya itu dengan erat.
"Ish, rindu kaliiiii lah aku sama bapak," Ucap Moana, lalu ia mengecup pipi Moan dengan lembut.
"Baru semalam kita jumpa. Gombal kali anak bapak ini memang," Ucap Moan, seraya terkekeh melihat kecerdasan buah hatinya tersebut. Lalu ia melirik Butet yang berjalan menuju ke meja kasir, untuk memesan dua gelas minuman untuk dirinya dan Moana. Setelah memesan minuman, Butet pun beranjak duduk di sudut cafe milik lelaki yang masih sah menjadi suaminya itu.
Melihat hal itu, Moan yang tengah menggendong Moana pun langsung menghampiri Butet dan duduk di depan istrinya tersebut.
"Mana kuncinya?" Tanya Butet, tanpa berbasa basi sebelumnya.
"Tunggu lah.. ligat kali," Ucap Moan, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Kenapa? Kesal kau, bang?" Tanya Butet dengan nada suara yang tinggi.
"Apa?" Tanya Butet.
"Kau mau pulang kenapa?" Tanya Moan penasaran.
"Urusan ku lah. Itu kan masih rumahku!" Jawab Butet.
"Ish, bukan kek gitu. Ada urusan apa? Kau mau tinggal di rumah lagi? Kalau iya kan senang kali aku, dek. Maksudku kek gitu." Terang Moan.
Butet mendengus kesal, lalu ia menatap Moan dengan seksama.
"Eh, bang. Ada yang mau ku bilang," Ucap Butet, dengan raut wajah yang tampak serius.
"Apa dek?" Tanya Moan, seraya mendekatkan wajahnya ke arah Butet.
"Aku udah jumpa sama binik baru si Dewa lah," Ucap Butet dengan gaya ibu-ibu tukan gosip.
"Kok bisa!" Moan terkejut mendengar pernyataan dari Butet.
"Bisa lah, jan maen maen sama aku. Dapat pun aku nomor hape dia. Jadi kawan aku sekarang!" Terang Butet.
"Hah! Nyebrang kau dek? Ingat dek, si Sri itu kawanmu." Moan terkejut mendengar pengakuan Butet.
__ADS_1
"Ish! Dengar dulu kau bang! Ini salah satu rencana kami." Terang Butet.
Moan terpaku, lalu ia mengerutkan keningnya.
"Lupa kau? Aku kan udah cerita samamu,bang," Ucap Butet.
"Ah.. ya ya ya.. Tapi mana sangka aku sampek kek gini. Jadi cemana ceritanya kau mau pulang?" Moan kembali bertanya tentang hal yang belum juga di jawab oleh Butet.
"Jadi kek gini bang. Dia mau mamper ke rumahku. Masak aku bawak dia ke kost? Mana tau dia udah kenal Cempaka, kan kita gak tau itu. Sedangkan rencana kami, Cempaka kan gak tau." Terang Butet.
"Oooo.. kek gitu.." Moan mengangguk paham.
"Iya, jadi mana kuncinya?" Desak Butet.
Moan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah loker. Lalu ia kembali dengan membawa kunci yang di minta oleh Butet.
"Ini. Tapi ikot lah aku." Pinta Moan, seraya menyerahkan kunci tersebut.
"Eh! Jangan!" Butet terlihat panik.
"Kenapa rupanya?" Tanya Moan.
"Pokonya janganlah, bang!" Cegah Butet.
"Iya, kenapa. Kan aku harus tau alasannya."
Butet terdiam sejenak, lalu ia tersenyum dengan salah tingkah.
"Ish, misteri kali memang binikku ini." Moan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya menatap Butet dengan tatapan tak sabar.
"Eh, kek gini bang. Aku kan ngakunya janda."
"Hah!" Moan terlihat begitu terkejut, hingga ia hampir saja menyenggol karyawannya yang sedang menyajikan minuman yang Butet pesan.
"Kok bisa! Kapan pulak kita cere! Ingat ya dek, aku sama kau belom cere! Harom kau ngaku janda!" Ucap Moan yang terlihat emosi.
"Dengar kau dulu bang. Aku nyarik simpati dia aja nya. Lagipulak, kan memang kita mau cere," Butet mengerutkan dagunya.
"Kata siapa! Gadak cerita! Kau selamanya jadi binikku!"
"Ish! Malas aku cakap samamu, Moan!" Butet mulai terlihat kesal.
"Ribot lagi ribot lagi. Gadak hari tanpa ribot mamak sama bapak ini lah!" Celetuk Moana yang sedari tadi terlihat bingung menyaksikan tingkah kedua orangtuanya.
perlahan, Butet dan Moan mulai merasa malu. Masing-masing dari mereka saling membuang muka dan diam seribu bahasa.
"Jangan-jangan mau bawak laki-laki dia ke rumah." Batin Moan, dengan raut wajah yang sedang merasa cemburu buta.
__ADS_1
"Sebenarnya malas kali aku jumpa samamu, Moan. Mukak mu buat kesal! Dasar pelanggan aplikasi Men_cretttt..!" Batin Butet, seraya mendengus kesal.