
"We.. jadi cemana?" Tanya Moan, saat Batra dan Rozy baru saja tiba di cafe.
"Ah elu, ngaso dulu apa? Gue belom pesen minum juga, lu udeh nanya-nanya aje." Celetuk Batra.
"Eh iya ya." Moan tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oi.. sini dulu kau." Panggil Moan ke seorang pegawainya.
"Ya pak?" Tanya pegawai cafe itu, saat ia baru saja sampai di meja mereka.
"Abang-abang ini mau pesan minum dia. Cok kau tanyak dulu."
"Iya pak, bapak mau minum apa?" Tanya pegawai itu seraya menyerahkan buku menunya kepada Batra dan Rozy.
"Kopi hitam satu yak," Ucap Rozy.
"Gue cappucino aje. Amaaaa... hmmm.." Batra kembali melihat-lihat buku menu tersebut.
"Kentang goreng aje dah. Lu mau makan ape bang?" Tanya Batra pada Rozy.
"Hmmmm, gue soto betawi ade?"
"Mana ada di sini. Ente kadang-kadang bang!" Batra terlihat kesal, karena Rozy mencari makanan yang tidak ada di buku menu tersebut. Sedangkan Moan semakin terlihat tidak sabar.
"Terus ape dong?" Rozy terlihat semakin bingung.
"Banyak bang, cicak goreng ada. Tokek rebus apalagi. Oseng-oseng buaya darat juga ada." Celetuk Moan.
"Ah, serius lu Moan?"
"Alah, kagak bang, canda die mah!" Batra mencoba menenangkan Rozy yang mulai panik.
"Kalik kan, gue kira bener aje."
"Kagak, udeh tau si Moan kadang-kadang."
"Weee.. cepatlah! aku mau tau kek mana binikku di sana!" Ucap Moan yang terlihat semakin gelisah.
"Ya udeh, burger aje." Pinta Rozy.
"Et dah, gegayaan makan burger lu bang... bang..." Batra tertawa mendengar permintaan Rozy pada pegawai Moan.
"Udah, cepat buat. Makin lama orang ni nantik." Perintah Moan.
__ADS_1
"Baik pak." Pegawai itu pun meninggalkan meja mereka dan bergegas memberitahu pegawai lainnya untuk membuatkan pesanan Rozy dan Batra.
"Jadi cemana?" Tanya Moan lagi.
Rozy dan Batra saling bertatapan, lalu mereka mulai terlihat salah tingkah.
"Cepat lah. Apa kata si Butet?" Tanya Moan.
"Sebenarnye gimane ceritanye Moan?" Tanya Rozy.
"Ish.. kok nanyak balek kelen?"
"Ye iye lah, pan gue kudu tau dulu nih, duduk perkaranye ape aje," Ucap Rozy.
Moan menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Wajahnya tampak begitu frustasi dan terlihat begitu sedih.
"Jadi kek gini bang, Bat. Kan aku sekarang ikot club motor kan."
"Yak.." Sahut Rozy.
"Nah, kawan-kawan ku ini memang agak laen ku tengok. Nah, siap kumpol-kumpol lah kami ni ya. Aku mau pulang bang, udah malam jugak. Nah, orang ni mau lanjot dia, mau karokean katanya."
"Trus?" Tanya Batra.
"Betol," Sahut Rozy.
"Eh, kok betol pulak kata abang? Abang sukak karoke rupanya?" Tanya Moan.
"Ng... kaga lah. ente sekate-kate. Menurut pengalaman temen-temen gue aje Moan." Terang Rozy.
"Oh, ku kira abang kek gitu juga."
"Mane ade. Gue pulang gawe ye langsung pulang. Temen ngajak nongkrong, gue kaga mau. Kadang-kadang doang palingan. Itu juga gue kaga maen cewek. Gue pikir, daripada gue maen cewek, ngeluarin duit nih ye, mendingan gue tabung tuh duit buat bekel anak gue jadi tukang insinyur," Jelas Rozy.
"Nah, aku jugak miker gitu bang. Daripada kita buang uang buat kesenangan sama cewek-cewek kan, bagos ku kumpol uangnya buat si Moana kuliah, apa belik skincare binikku." Timpal Moan.
"Nah, gitu dah!" Celetuk Rozy.
"Lanjot..!" Seru Batra.
"Nah kan, jadi ada kawanku yang hapenya abes batrenya kan. Nah, jadi orang-orang ni, niat mau sewa cewek lah. Nah pinjam lah dia hape ku. Awalnya malas ku pinjami. Tapi desak-desak lah dia. Bilangnya, nantik mau dia hapos aplikasinya."
"Oh, jadi sewa lewat aplikasi?" Tanya Rozy.
__ADS_1
"Iya bang. Nah, donlot lah dia aplikasi lewat hapeku. Jumpa dia sama cewek kan. Deal orang ni. Nah, tiba-tiba si Butet telepon aku. Ligat aku langsung ku angkat teleponnya. Rupanya, nyuruh pulang si Butet. Kebetulan orang tu mau bubar pulak kan ya. Nah, gak sadar aku aplikasinya belom di apos sama si Choky, kawan ku yang pinjam hape ku ini."
"Terus?" Tanya Batra yang mulai tak sabar.
"Nah, singkat cerita ni ya. Pulang lah aku. Di suruh mandi aku sama si Butet. Eh.... rupanya cewek itu telepon. Tau lah si Butet, di angkatnya, di tengok-tengok nya lah hape aku. Kenak aku jadinya. Ngamok dia bah! ajab kali memang!" Moan menepuk dahinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh gitu..." Rozy mengangguk paham.
"Tapi lu gak ikutan sama temen lu kan Moan?" Tanya Batra.
"Sumpah demi Tuhan. Kalok nipu aku sama kelen, kenak ajab aku. Berani aku..." Ucap Moan mencoba menyakinkan Batra dan Rozy.
"Nah bang, gue kate juga ape? Si Moan ama Butet itu cuma salah paham."
"Iye, tapi kalau begini mah payah Moan. Mau lu kate ape juga, namenye cewek, bini, mane ade percaye," Ucap Rozy.
"Eh, kok buat semangatku makin tepurok kau bang?"
"Bukan begitu Moan. Pertame ye... hape, hape elu. Aplikasi, ade di hape elu."
"Iya bang. Id nya pun pake namaku. Kawan bodattt memang itu.." Sesal Moan.
"Nah... itulah kenape gue bilang susah. Kecuali nama ID nya, nama temen lu. Itu pun lu kudu berjuang buat meyakinkan."
Moan menghela nafas panjang dan tertunduk lesu.
"Jadi cemana bang?"
Mereka bertiga pun terdiam dan berpikir untuk mencari jalan keluar dari permasalahan rumah tangga Moan dan Butet.
*
Suasana di Kost Putri, terlihat begitu ramai pada akhir pekan ini. Aroma masakan tercium begitu menggoda, mulai dari dapur, hingga ke rumah tetangga. Terdengar juga gelak tawa dan candaan segar dari dapur rumah kost tersebut. Sedangkan anak-anak terlihat bermain di halaman rumah, kecuali yang Roma, yang terlihat begitu nyaman di gendongan ibunya.
Butet, Cempaka, Sri dan Siti, terlihat begitu bahagia, tanpa terbesit sedikitpun masalah yang sedang mereka emban. Kehidupan rumah tangga terkadang membuat seorang wanita seperti terkurung di dalam rumah. Kehadiran teman bicara, atau teman-teman dan sahabat adalah pelipur lara bagi mereka.
Kehadiran teman, membawa semangat dan juga bisa menjadi tempat berbagi bagi seorang wanita. Apalagi teman atau sahabat saat mereka remaja ataupun saat kuliah. Pertemuan itu seakan dapat membawa mereka kembali ke jaman yang sudah terlewati. Membahas hal-hal klasik yang kini hanya bisa sebatas mengenangnya pun sudah menjadi hiburan bagi wanita yang sudah berumah tangga.
Kesibukan bekerja, ataupun mengurus anak memang begitu membuat wanita merasa stress. Apalagi yang harus tinggal 24 jam lamanya di dalam rumah saja, dan mengurus rumah tangga. Tingkat stress mereka akan semakin menggila. Itulah mengapa kehadiran dan pengertian suami, seakan surga bagi semua wanita yang menikah.
Bukan tidak mandiri, manja, cengeng, mengeluh atau apalah namanya. Wanita hanya ingin merasakan PUNYA TEMAN dalam hidupnya. Jika suami tidak dapat menjadi teman, sudah dapat di pastikan rumah tangga akan hancur. Sedangkan suami bisa menjadi sosok teman pun, wanita tetap butuh teman lain selain suami. setidaknya bila wanita tidak bisa keluar rumah hanya untuk dirinya sesaat bersama dengan teman-temannya, suami harus siap menerima segala keluh kesahnya. Karena jadi wanita itu sulit, cenderung tidak mudah. Apalagi harus menjadi ibu dari banyak anak yang butuh kasih sayang dan perhatian.
'Jika bukan suami, lalu siapa lagi?' -De'rini-
__ADS_1