
"Kau ini bagaimana! Masa bundo lagi sakit kau suruh tinggal sama kami!" Keluh Fadli pada Siti, melalui sambungan telepon.
"Astaghfirullahalazim uda. Bundo sudah Siti larang untuk ka sinan da! Tapi kareh hati bundo tu bana nan indak bisa di larang mah!" Ucap Siti yang merasa tidak terima dengan ucapan Fadli.
"Ni Rima indak amuah bundo tingga di siko doh! Jampuik lah bundo lai! Uda indak bisa doh maantaan bundo ka kampuang. Uda alah indak ado cuti!"
Siti menghela napas panjang saat mendengar segala keluh kesah uda nya.
"Da, biarlah dulu bundo di sinan. Bundo juo indak amuah tingga jo Siti doh!" Keluh Siti.
"Taruih, iko baa?" Tanya Fadli.
"Bia bundo tingga di sinan sementara waktu. Nanti bia kami nan manjampuik." Tegas Siti.
"Indak biaa doh! Pokoknyo, bisuak alah haruih di jampuik!"
Siti terdiam mendengar ucapan Fadli.
"Memang kenapo da? Uda takuik bana jo bini uda tu?" Sindir Siti.
"Ondeh mak! Jago muncuang kau Siti!"
"Kalau uda indak amuah bundo di sinan, tanyo jo bundo surang, kama nyo amuah tingga? Di siko indak amuah, di sinan indak di tarimo! Baa lai. Lah! Ambo paniang bana!" Ucap Siti, seraya mengakhiri percakapan tersebut.
Siti pun langsung menonaktifkan ponselnya, karena ia merasa malas dengan teror Fadli yang terus memaksa agar Siti menjemput ibu mereka. Siti berada di posisi yang serba salah, satu sisi ia menyayangkan sikap Fadli, satu sisi bundo Halimah lah yang tidak mau tinggal dengan dirinya, hanya karena ia bersuamikan Batra.
Siti memijat pelipisnya yang terasa pusing, lalu ia menghela napas panjang dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Batra yang baru saja masuk ke dalam kamar, menatap sang istri dengan seksama. Lalu ia pun berjongkok di hadapan Siti yang sedang berada di atas ranjang.
"Kenapa?" Tanya Batra dengan lembut.
"Gak apa da." Sahut Siti.
"Gak apa, tapi kenapa wajahnya di tekuk? Nanti cantik nya hilang loh..."
Mendengar ucapan sang suami, Siti pun tersenyum.
"Uda bisa aja." Ucap Siti, seraya menepuk pundak Batra.
"Kenapa? Masalah bundo lagi? Sudah ada kabar dari uda Fadli?" Tanya Batra.
"Sudah, tadi sore bundo sampai di sinan da. Tapi.."
"Tapi apa?" Tanya Batra penasaran.
"Ni Rima menolak bundo."
Batra menghela napas panjang dan beranjak duduk di samping istrinya.
"Terus gimana?" Tanga Batra.
"Uda Fadli katanya gak punya cuti. Jadi dia meminta kita menjemput. Gimana mau menjemput? Kan bundo gak mau tinggal sama kita." Siti mendengus kesal. Sedangkan Batra hanya mampu terdiam dan memikirkan bagaimana baiknya.
Cukup lama mereka terdiam. Hingga akhirnya Batra pun menyampaikan ide nya.
"Biarkan bundo di sana dulu. Nanti kan mereka tidak tahan, dan mau gak mau mereka menyempatkan diri untuk mengantar bundo ke sini," Ucap Batra.
Siti menatap Batra dengan seksama, seraya mengerutkan keningnya.
"Saya mau fokus sama pembangunan rumah yang sebentar lagi mau finishing. Kalau kamu, tidak mungkin membawa dua anak ke Batam. Kalau mereka tidak mau, mereka yang harus memulangkan. Toh di sini kita pun menerima dengan senang hati. Biar mereka ada usaha sedikit," Ucap Batra.
"Iya juga ya." Gumam Siti.
"Dan biar bundo juga merasakan, bagaimana tinggal bersama dengan anak dan menantu kesayangannya itu. Hihihihi..." Sambung Siti seraya tertawa geli.
"Hust!" Dengan cepat, Batra menggelengkan kepalanya.
"Gak boleh seperti itu ah. Bagaimanapun itu ibu kamu. dan mertuaku." Tegas Batra.
"Upsss!" Siti pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
.
"Hoekkk...!"
"Hoekkk...!"
"Hoekkk...!"
__ADS_1
"Hoekkk...!"
"Bah! Ajab kali bah! Kenapa aku ya? Bawaan nya pening sama mual kali!" Ucap Moan, seraya beranjak keluar dari kamar mandi.
"Hoekkk...!"
"Hoekkk...!"
"Bah!"
Moan kembali ke kar mandi seraya memuntahkan isi perutnya.
"Inanggg... kenapa aku inanggg.."
Moan menangis seraya terduduk di atas lantai kamar mandi.
"Moan! Woi! Moan!"
Tok!
Tok!
Tok!
Nyak Komariah mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan rait wajah yang terlihat sangat khawatir.
Cklek!
Moan pun membuka pintu kamar mandi dan menatap nyak Komariah dengan wajah yang terlihat pucat.
"Kenape lu? Astaga anak orang!"
"Gak tau nyak. Mual kali aku. Masok angin aku kek nya."
"Sini dah, nyak bantu berdiri. Lu mau kerokan kaga?" Ucap nyak Komariah seraya membantu anak kost nya itu untuk berdiri.
Dengan tubuh gemetar, Moan pun berdiri dan di tuntun nyak Komariah ke branda kost.
"Lu tunggu sini ye, nyak buatin teh anget ama ambil balsem buat ngerokin elu," Ucap nyak Komariah dengan wajah yang tampak khawatir.
"Duh, malah mukenye pucet amat kek habis kena tilang pulisi." Gumam nyak Komariah.
"Tet, rindu kali aku sama mu. Tapi..."
Moan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Saat ini ia masih ingin memberikan Butet pelajaran, atas emosi Butet yang tidak terkendali pada dirinya.
"Tet, abang sakit Tet. Buatkan lah dulu bandrek." Gumam Moan.
Tidak terasa, air matanya pun mengalir di pipinya.
"Nah, ini teh nya. Lu buka dah baju lu, biar nyak kerokin punggungnya," Ucap nyak Komariah yang tiba-tiba saja muncul dan membuat Moan terperanjat dari lamunannya.
"Eh, nangis lu?" Tanya nyak Komariah yang baru saja melihat air mata Moan yang meleleh di pipi.
"Enggak kok nyak." Dengan cepat, Moan pun menyeka air matanya. Lalu ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Et dah, lu kira gue bloon. Ntu aer nyang di pipi lu emang dateng dari mane coba? Pipis burung? Aer ujan? Ujan kagak, kemarau iye. Lu mau ngadalin gue!"
Moan hanya mampu menundukkan wajahnya.
"Buka baju lu. Biar gue kerokin."
"Iya nyak."
Dengan malas, Moan pun membuka kaos nya dan duduk membelakangin nyak Komariah. Nyak komariah pun segera mengoleskan balsam dan mulai mengerik kulit punggung Moan.
"Hedeehh.. hedeeehh.. au.. au.. adooh.. pelan-pelan nyak.. duh.. aaaahh.. sakeeettt.. wadaaauuu!" Keluh Moan.
"Et dah! Bocah! Sakit kerokan aje lu kek lagi di cambuk algojo!"
"Sakit nyak! Hoooogghhheekkk!"
Sesekali Moan bersendawa di sela kata-kata keluhan yang keluar dari bibirnya.
"Kagak enak kan lu, sakit kaga ada bini? Makanyaaa udeh baekan sono!"
"Gengsi aku nyak! Biar dia dulu yang minta maaf! Biar dia tau, aku pun punya harga diri!" Ucap Moan.
__ADS_1
"Astaga bocah! Laki kalau harga dirinye ketinggian juga kaga baek buat rumah tangga!" Ucap nyak Komariah seraya menolak kepala Moan dengan ujung jarinya.
"Nanti ah nyak!" Ucap Moan, seraya menggerutu.
"Payah lu," Ucap nyak Komariah, seraya menambah kekuatan nya saat mengerik punggung Moan.
"Adohhhh! Adohhh nyak pelan-pelan nyakkkk! Sakeeeettt...!" Keluh Moan seraya meringis.
"Dikit lagi. Terus lu minum noh teh!"
"Udah nyakkk ampoonnn ampoonn!"
Saking kencangnya suara Moan, Rozi yang sedang berada di ruang tamu rumahnya pun melongo ke luar untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Nyak! Kenapa Moan?" Tanya Rozi.
"Kesurupan kuda nil!" Sahut nyak Komariah sekenanya.
"Set dah ah!" Dengan terburu-buru Rozi pun bergegas ke rumah nyak Komariah. Lalu ia naik dan menuju ke beranda kost.
"Oh, lagi kerokan," Ucap Rozi yang baru tiba di beranda.
"Lah iyak, lu kira die gue perkaossss ape?"
"Ya gak gitu juga nyak." Rozi menggelengkan kepalanya.
"Udah nyak udahhh.. adohhh!" Keluh Moan.
"Iye udah. Langsung lu minum noh teh nye!" Ucap nyal Komariah, seraya beranjak dari duduknya dan membawa serta balsam dan koin miliknya.
"Makasih ya nyak.." Ucap Moan seraya meringis.
"Iye, bocah cengeng lu!" Ledek nyak Komariah seraya tertawa dan berlalu begitu saja, meninggalkan Moan dan Rozi.
"Nape lu?" Tanya Rozi.
"Masuk angin aku bang," Sahut Moan.
"Eh, tadi bini lu ama si Sri ke rumah gue, kata bini gue sih."
Moan yang hendak memakai kaos nya pun menatap Rozi dengan seksama.
"Yang betol bang? Ada orang tu bahas aku?" Tanya Moan.
"Kata bini gue kagak ada sih. Hahahaha.. udeh kaga di aku laki kali lu. Makanya lu pulang!" Canda Rozi.
"Eeeeeee..." Moan mengibaskan kaos nya dan mengeluh kesal.
"Udah lah Moan... pulang lah lagi lu. Kalau sama-sama emosi, kapan selese nye lu berdua."
Moan mendengus kesal, lalu ia menyeruput teh yang sengaja di buatkan oleh nyak Komariah untuk dirinya.
"Emang lu kaga takut, kalau ada yang deketin bini lu ntar?"
"Eeehh.. bagos bagos abang cakap ya!" Moan terlihat kesal.
Rozi terkekeh melihat ekspresi Moan.
"Ya udeh dah, pulang lu..! Senen ini anak lu mau masuk Sd. Kaga kepengen ape lu liat anak lu pake seragam merah putih? Jangan sampe bapak laen yang nganterin sekolah anak lu."
"Kimbek nya!" Moan mengibaskan kaos nya ke arah Rozi.
Rozi tertawa terbahak-bahak, lalu ia beranjaj dari duduknya.
"Cepat sembuh ye. Gue mau balik dulu. Maklum malam jumat. Bini udeh ready nunggu Arjuna nya datang."
"Omakjang! Ckckckc...! Pigi lah sanan! Aku masih ada guleng!" Ucap Moan.
Rozi kembali terkekeh dan berjalan meninggalkan beranda kost tersebut. Saat Rozi sudah sampai di halaman rumah nyak Komariah, Rozi pun kembali melihat ke arah Moan yang ada di beranda atas.
"Jangan lupa ganti sarung guling!" Seru Rozi.
"Omakjang!"
"Hahahaha.." Rozi terkekeh dan berlari menuju ke rumahnya.
Sedangkan Moan mengerutkan dagunya dan kembali menyeruput teh buatan nyak Komariah. Tiba-tiba saja Moan tertawa sendiri saat ia mengingat masalah guling.
__ADS_1
"Hehehe, guling." Gumam Moan, seraya mengingat kenangannya bersama guling, Bambang, Agus dan nyak Komariah.