
Suasana canggung tercipta, saat Sri baru saja membuka kedua matanya. Di sampingnya terlihat Dewa yang sedang menatap dirinyansedari tadi, saat ia masih tertidur.
"Pagi," Sapa Dewa, seraya tersenyum kepada Sri.
"Pa-pagi," Sahut Sri, seraya memastikan selimut benar-benar sudah menutupi tubuhnya, tanpa terkecuali. Lalu ia terdiam dan mencoba mengingat semua yang terjadi semalam. Perlahan, pipinya mulai merona dan lalu mengalihkan pandangannya ke segela arah.
"Mandi yuk," Ucap Dewa, tanpa merasa canggung sama sekali. Seolah di antara mereka berdua sedang tidak ada masalah yang begitu berat. Hingga membuat Sri merasa aneh dengan sikap Dewa. Bukan merasa aneh karena Dewa adalah sosok yang asing, melainkan sudah cukup lama ia tidak merasakan hal yang seromantis itu lagi.
"Ng-mas duluan saja," Ucap Sri, seraya sekilas melirik Dewa.
"Gak mau. Mau nya bareng-bareng," Ucap Dewa, seraya memasang wajah manja, layaknya anak kecil.
Sri mengerutkan keningnya dan menatap Dewa dengan seksama.
"Mas gak ke kantor hari ini?" Tanya Sri.
"Aku cuti. Aku gak mau melewati masa-masa yang sudah lama aku rindukan bersama denganmu." Jawab Dewa.
Sri kembali terdiam. Ingin sekali ia beranjak dari ranjang, namun ia mengurungkan niatnya. Pasalnya Sri merasa canggung, karena ia sedang tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Hanya selimut saja yang menutupi tubuh indahnya pada pagi ini.
"Aku ingin mengajak kamu dan Ardi jalan-jalan. Dia pasti sangat senang sekali. Sudah lama kita absen dari jalan-jalan keluarga. Aku ingin menebus itu semua," Ucap Dewa yang tidak sekalipun melepaskan pandangannya dari wajah Sri yang terlihat begitu cantik pada pagi ini.
"Ng... ba-bagaimana dengan..." Sri mengurungkan niat nya untuk bertanya tentang Grazia.
"Apa? Grazia?" Tanya Dewa.
Sri menatap Dewa dengan seksama, lalu ia menghela napas panjang dan kembali melemparkan pandangannya ke segala arah.
"Aku sudah bilang, aku ingin menghabiskan waktuku denganmu dan Ardi, satu bulan ini. Aku mohon..." Ucap Dewa dengan memasang wajah yang tampak memohon.
Sri kembali menghela napas panjang dan menatap langit-langit kamarnya.
"Kalau ternyata itu anakmu, bagaimana? Kamu pikir aku tidak rugi?" Tanya Sri, seraya mengerutkan dagunya.
"Anggap saja saat ini kita sedang berselingkuh," Ucap Dewa, tanpa berpikir panjang.
Plokkkk!
Dengan cepat telapak tangan Sri mendarat di dahi Dewa.
"Duhhh..!" Dewa tertawa seraya mengeluh sakit pada dahinya.
"Enak saja!" Ucap Sri, seraya menarik selimut dan beranjak memunguti pakaiannya.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku dong," Ucap Dewa, seraya menutupi bagian sensitifnya yang terbuka, karena Sri menarik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Aku gak nyangka, kalau mas Dewa sebajingan itu," Ucap Sri seraya beranjak menuju ke kamar mandi.
"Kalau ternyata aku memang bukan bajingan, bagaimana?" Pertanyaan Dewa, sukses membuat Sri menghentikan langkah kakinya. Lalu ia menoleh dan menatap Dewa dengan tatapan sinisnya.
"Kalau ternyata itu bukan anak ku bagaimana? Apakah kamu mau berjanji untuk seumur hidup denganku?" Tantang Dewa.
Sri mengerutkan dagunya. Lalu tanpa sepatah katapun, ia kembali melanjutkan langkahnya dan memasuki kamar mandi.
Brakkk..!
Dengan kasar, Sri menutup pintu kamar mandi tersebut.
Dewa pun tersenyum sendiri melihat tingkah Sri. Lalu ia pun beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi. Saat ia berusaha membuka pintu kamar mandi, ternyata pintu tersebut sudah di kunci oleh Sri.
"Sriii.. oh... Sriii.. Istri ku yang cantikkk.. buka fong pintunya... " Ucap Dewa seraya mengetuk-ngetuk pintu tersebut.
"Wegah!" Teriak Sri dari dalam kamar mandi.
"Sriiii sayang.. buka dong.." Dewa kembali mengetuk pintu tersebut.
"Moh!" Sahut Sri lagi.
Dewa terkekeh di depan pintu tersebut, seraya mengingat betapa liar nya Sri tadi malam.
Suasana canggung pun juga tercipta, saat Butet mendapati Moan yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi, saat ia baru saja selesai mandi. Butet hampir saja melompat, karena terkejut melihat Moan yang menatap dirinya saat ia sedang mengeringkan rambutnya yang basah, sehabis keramas.
"Astaga!" Pekik Butet.
"Hai primadona ku. Good morning, cantek ku," Sapa Moan.
Butet menatap Moan dengan sinis, lalu ia mencoba mengabaikan Moan begitu saja.
"Mandi gak ngajak-ngajak kau dek, padahal udah ngarap kali aku lah," Ucap Moan tanpa rasa canggung sama sekali.
Butet mengerutkan keningnya dan kembali menatap Moan dengan tatapan sinis.
"Pede kali kau!" Ucap Butet.
"Pede lah, aku lakikmu." Sahut Moan.
Mendengar ucapan Moan, Butet mulai naik darah. Ia pun mendekati Moan dengan wajah yang terlihat siap untuk menjambak rambut Moan lagi.
__ADS_1
"Jangan merasa hebat kau semalam ya bang!" Ucap Butet dengan emosi, seraya siap untuk menjambak Moan.
"Nah jambak lah kalau kau mau. Tapi liat lah nanti, ku seret kau ke dalam kamar mandi, mintak tolong kau nantik," Ucap Moan, seraya menundukkan kepalanya dan bersiap untuk Butet jambak rambutnya.
Merasa di ancam, Butet mengurungkan niatnya untuk menjambak Moan.
"Gak berani kan kau," Tantang Moan.
Butet terdiam membisu dengan raut wajah yang salah tingkah.
"Iya lah semalam aku gak hebat. Udah lama aju gak setoran. Cobak sekarang, berani kau? Ku buat kau melolong kek srigala di hutan sanan!" Tantang Moan lagi.
"Diam kau bang!" Butet terlihat semakin kesal, hingga mengepalkan kedua tangannya.
"Takot kau kan?" Moan terkekeh, seraya beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Butet terlihat menahan kesal, hingga menghela napas panjang dan menepuk-nepuk dadanya untuk menurunkan perasaan emosinya.
Baru saja Butet hendak beranjak dari sana, tiba-tiba saja terdengar Moan bersenandung lagu dari musisi terkenal yang di ganti liriknya oleh Moan, dari dalam kamar mandi.
"Akulah makhluk Tuhan yang paling seksi, seksi sekali.. Akulah makhluk Tuhan yang paling ganteng, ganteng sekali. Lalalalalala..!"
"Iiiiihhhh...!" Butet merasa semakin kesal, hingga ia berteriak dan menghentakkan kakinya di lantai.
"Diam kau Moan!" Teriak Butet.
"Anu ku seksi, itu terbukti dari caramu berteriak, au! au! au! ahhh! ahhhh! ahhh! au au au! ah! ah! ah!" Moan mengabaikan teriakan Butet, namun ia terus bernyanyi di iringi bunyi air yang baru saja ia guyur ke tubuhnya.
"Moaaaaaaannn! Gilakkkkk kauuu!" Jerit Butet, seraya beranjak dari sana.
"Hahahaha!" Moan pun tertawa geli dari dalam kamar mandi.
"Mamak kenapa? Recok kali ku dengar," Keluh Moana yang baru saja muncul dari dalam kamar.
Butet menatap Moana dan mencoba mengatur emosinya.
"Gak ada loh nang, mamak lagi nyuruh bapakmu cepat-cepat mandinya," Ucap Butet, seraya terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Mau main ke kebun teh kita ya mak?" Tanya Moana dengan wajah yang terlihat antusias.
"Iya, nantik setelah makan ya," Ucap Butet.
"Asekkk..! Pakkkk, oh pakkkk, cepat mandinya, aku mau mandi!" Ucap Moana, seraya beranjak menuju ke arah kamar mandi.
"Iya nang!" Sahut Moan dari arah kamar mandi.
__ADS_1
Butet terus menatap punggung Moana. Ada rasa bahagia di hatinya pada pagi ini. Seolah semua waktu yang sudah terlewati dengan sia-sia, kini kembali seperti semula. Moana menemukan senyumnya lagi dan dirinya pun kembali menemukan sosok yang sama. Yaitu Moan, kekasih hati, suami, teman bertengkar, teman jalan-jalan, teman cerita dan sebagainya.
Dari awal berjumpa, Butet dan Moan tidak pernah akur dan cocok seratus persen. Namun Moan adalah lelaki yang baik, ia terus bertahan hingga detik ini. Justru di situlah seninya dalam berumah tangga. Jangan mencari orang yang seratus persen sama dengan diri kita. Karena perbedaan itulah, maka selalu tercipta komunikasi dan perdebatan yang justru membuat kita semakin sering berbicara, bahkan mengungkapkan isi hati kita pada pasangan.