
Plakkkkkkk...!
Tamparan keras mendarat di pipi Dewa, yang membuat Dewa mengencangkan rahangnya dan menatap Grazia dengan tatapan yang dingin.
"Akhirnya ingat anak? Hah!" Grazia terlihat begitu emosi hingga napasnya memburu.
Dewa hanya diam membisu, lalu ia tidak mempedulikan Grazia dan beranjak masuk ke dalam ruang rawat inap yang baru saja di tempati oleh Kimberly. Dewa melangkah mendekati Kimberly yang kini sudah tertidur dengan pulas.
"Enak liburannya? iya?" Tanya Grazia dengan penuh cemburu.
Dewa melirik Grazia sesaat, setelah itu ia mengabaikan wanita itu dan merapikan selimut Kimberly yang tersingkap di bagian kakinya.
"Bagaimana keadaannya? Apa kata dokter?" Tanya Dewa.
"Jawab dulu pertanyaan ku mas!" Bentak Grazia.
Tentu saja suara Grazia yang begitu keras, membuat Kimberly terkejut dan membuka kedua matanya. Lalu batita itu menangis karena merasa tidurnya terganggu. Dengan cepat, Dewa meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya dalam pelukan nya.
"Kamu ini, bisa gak sih bicara pelan-pelan? Gak mikirin anak sama sekali!"
"Aku gak mikirin anak? Kamu tuh yang gak mikirin anak! Malah asik-asikan liburan sama si Sri! Sedangkan anak mu sakit begini! Kamu punya anak dan istri mas, bukan hanya Sri dan anakmu yang lainnya!" Ucap Grazia yang semakin tampak emosi.
Tangisan Kimberly semakin kencang, saat mendengar ibunya mengomel dengan nada tinggi. Sedangkan Dewa mengabaikan Grazia dan terus menenangkan Kimberly.
"Aku ke rumahmu tau gak! Ponselmu kamu matikan! Seminggu mas! Tega kamu!"
"Huaaaaaa...!" Kimberly meronta. Di samping merasa tidak nyaman karena demam yang ia derita, jarum infus yang menancap di tangannya dan suara Grazia yang cukup mengganggu, membuat Kimberly semakin menggila.
"Nanti kita bahas, sekarang lebih baik kamu diam! Kamu gak lihat anaknya nangis begini!" Bentak Dewa.
Grazia terdiam. Walaupun ia masih ingin meluapkan emosinya, namun melihat Kimberly yang tidak nyaman, membuat Grazia mulai berpikir bila lebih baik dirinya diam saat ini. Lalu Grazia memilih duduk di samping suster pengasuh Kimberly dan mendengus kesal. Sedangkan Dewa terus menenangkan Kimberly, hingga bocah itu kembali tertidur pulas.
Sayangnya setelah tertidur pulas pun, Kimberly tidak ingin terlepas dari Dewa. Sudah berkali-kali Dewa berusaha untuk meletakkan bocah itu di atas ranjang, namun usahanya sia-sia. Pasalnya setelah ia meletakkan Kimberly, bocah itu kembali terbangun dan menangis. Akhirnya Dewa memilih untuk berbaring di atas ranjang dan meletakkan Kimberly di atas tubuhnya. Hingga akhirnya Dewa pun ikut tertidur tanpa sempat mengabari Sri atau melanjutkan perdebatan nya dengan Grazia.
Grazia pun memilih untuk tidur, karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sebelum tidur, Grazia terus menatap Dewa yang tertidur pulas, seraya memeluk Kimberly, putri kecilnya. Grazia terdiam, tiba-tiba saja air mata menetes di pipinya.
"Maafkan aku mas." Batin nya.
.
"Selamat pagi.."
__ADS_1
Dewa, suster pengasuh dan juga Grazia terbangun karena Dokter menyapa mereka yang masih tertidur dengan lelap.
"Pagi dok," Sahut Dewa, seraya beranjak duduk di atas ranjang. Posisi Kimberly masih tertidur di dekapannya.
"Anda ayahnya adik Kimberly?" Tanya dokter.
"Ng... iya dok," Jawab Dewa.
"Ah, begini, hasil laboratorium sudah keluar. Biar saya jelaskan dulu ya. Setelah itu, adik Kimberly biar di bersihkan oleh suster dan kita akan melanjutkan penanganannya." Terang dokter tersebut.
"I-iya dok." Ekspresi cemas mulai terbaca di wajah Dewa. Lalu ia menaruh tubuh Kimberly di atas ranjang dan saat itu juga Kimberly terbangun dan menangis.
"Pa.. pa.. pa.. pa.!" Jerit Kimberly, seraya merentangkan kedua tangannya dengan tatapan memohon agar Dewa kembali mendekap tubuh mungilnya.
"Sebentar ya dek, kita bersihkan dulu tubuhnya. Nanti sama papa lagi," Ucap Suster.
Sementara Dokter membuka hasil laboratorium dan beranjak mendekati Dewa. Pun dengan Grazia, wanita itu beranjak mendekati Dewa dan dokter yang menangani anaknya.
"Begini bu, pak, dari hasil laboratorium, mengatakan bila adik Kimberly menderita virus RSV, atau Respiratory Syncytial Virus. Virus ini bisa menyebabkan infeksi di saluran napas dan paru-paru, jadi nanti kami juga akan merontgen bagian paru-paru dan saluran pernapasan adik Kimberly." Terang dokter tersebut.
Grazia dan Dewa pun terkejut mendengar penjelasan dokter tersebut.
"Apakah akhir-akhir ini adik Kimberly berada di keramaian atau kontak fisik dengan banyak orang? Soalnya ini sepertinya tertular dari orang yang memiliki virus yang sama.
"Seminggu yang lalu, kami ada pergi ke keramaian sih dok," Jawab Grazia.
"Nah, mungkin dari sana bu. Atau ibu tidak sadar bila ada yang menyentuh anak ibu."
Grazia tertunduk penuh dengan penyesalan. Sedangkan Dewa hanya dapat menghela napas panjang dan menatap Kimberly dengan tatapan iba.
"Apakah berbahaya dok?" Tanya Dewa.
"Berbahaya bila tidak segera di tangani pak. Masalahnya ini menyangkut saluran pernapasan dan paru-parunya. Tetapi bapak jangan khawatir, kita coba rontgen terlebih dahulu, setelah adik Kimberly sarapan. Nanti suster akan menjemput Kimberly dan mengantarkan Kimberly dan juga bapak dan ibu ke ruangan rontgen." Terang dokter itu lagi.
Dewa kembali menghela napas dan terlihat begitu khawatir.
"Jangan khawatir pak, bu, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Berdoa saja, semoga adik Kimberly baik-baik saja," Ucap dokter tersebut.
Akhirnya dokter tersebut pun beranjak dari ruangan rawat inap Kimberly, setelah Kimberly ia periksa keadaannya. Kini Kimberly tengah sarapan bersama dengan suster pengasuhnya. Sedangkan Dewa terduduk lemas di atas sofa bersama dengan Grazia yang tampak begitu khawatir.
"Semoga ini jadi pelajaran untuk kamu, bila kamu juga harus memperhatikan Kimberly. Bukan hanya anak mu yang di sana!"
__ADS_1
Dewa mengerutkan keningnya dan menatap Grazia dengan seksama.
"Lagian kamu ngapain bawa anak ke keramaian?"
"Kamu pikir tidak stress, saat tahu suami sedang liburan dengan wanita lain?" Tanya Grazia.
Dewa tertawa kecil mendengar ucapan Grazia dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Ada yang lucu? Kamu gak merasa bersalah ya mas?" Tanya Grazia lagi.
"Lucu saja, kamu sudah tahu aku tidak mencintai kamu. Kamu sudah tahu, bila sebelumnya aku sudah memiliki anak dan istri."
Grazia menatap Dewa dengan tatapan penuh dengan amarah.
"Apa? Mau menampar lagi?" Tanya Dewa.
Grazia mendengus kesal, seraya terus menatap Dewa dengan tatapan penuh rasa cemburu dan sakit hati.
"Begini ya. Aku tengah mengetes ulang DNA aku dan Kimberly. Bila dia terbukti bukan anakku, kamu harus bersiap-siap untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Apa yang aku lakukan saat ini, hanyalah karena aku masih merasa dia anak ku dan itu salah satu kebaikanku. Jadi, jangan menuntut lebih kepadaku."
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh Grazia terpaku dan napasnya terlihat begitu sesak.
"Test DNA?" Tanya Grazia.
"Ya." Jawab Dewa, seraya tersenyum sinis kepada Grazia.
"Test DNA dimana? Kapan?" Tanya Grazia lagi.
"Kamu tidak perlu tahu. Aku tidak meragukan dokter yang pernah mengetes DNA aku dan Kimberly. Tetapi, aku hanya ingin mengetes ulang saja. Kamu tahu, terkadang ada orang-orang licik seperti kamu yang sanggup menjerumuskan demi uang. Aku pernah mengatakan kepadamu, aku tidak bodoh."
Grazia menelan salivanya dan terdiam tanpa kata.
"Tetapi dia jelas anakmu mas.."
"Ya, untuk hasil yang pertama. Aku hanya ingin melihat hasil yang kedua." Tegas Dewa.
"Tetapi bisa saja hasil tes DNA yang kedua salah mas! Atau kamu memang sengaja membuat tes DNA yang kedua itu tidak cocok, agar kamu bisa menghindari tanggung jawab!"
"Aku tidak selicik itu Grazia! Aku bukan kamu! Bila memang Kimberly darah dagingku, aku akan mendampingi dia hingga habis usiaku. Bila dia bukan anakku, bersiap-siap lah kamu!" Ucap Dewa, seraya menunjuk wajah Grazia dengan jari telunjuknya.
Grazia terdiam, ia tampak begitu gelisah.
__ADS_1
"Bisa-bisanya aku tidak tahu bila ia membawa Kimberly untuk tes DNA. Apakah rambut Kimberly yang ia bawa? atau.. arghhhh...!" Grazia terlihat begitu putus asa. Sedangkan Dewa beranjak keluar dari ruangan itu dan bergegas untuk menghubungi Sri yang sudah pasti menunggu kabar darinya sejak tadi malam.