Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Gara-gara Gaun


__ADS_3

"Ini buat bang Romi.., ini buat rumi, ini buat Roma," Ucap Moana, yang sedang membagikan mainan yang semalam ia beli untuk anak-anaknya Cempaka.


Butet tersenyum melihat Moana yang tampak begitu senang saat berbagi mainan pada anak-anak sahabatnya itu. Sedangkan Cempaka juga tersenyum dan membimbing anak-anaknya untuk mengucapkan terima kasih pada Moana dan Butet.


"Banyak sekali Tet," Ucap Cempaka yang terlihat tidak enak hati, saat menerima banyak mainan dari Butet.


"Gak apa Cem. Oh iya, aku jugak punyak sesuatu untukmu," Ucap Butet, seraya beranjak ke dalam kamar dan mengambil salah satu kantung belanja yang sudah ia persiapkan untuk Cempaka. Setelah itu ia kembali lagi ke ruang tamu dan memberikan kantung belanjaan itu kepada Cempaka.


"Apa ini Tet?" Tanya Cempaka.


"Buat kau. Bukak lah.. semoga kau sukak ya," Ucap Butet, seraya tersenyum kepada Cempaka.


Cempaka tersenyum sungkan. Lalu ia menurunkan Roma dari gendongannya dan meraih kantung belanjaan dari Butet dan melihat isinya. Setelah melihat isinya, Cempaka menatap Butet dengan seksama.


"Keluarkan lah. Kau cobak."


Cempaka kembali tersenyum sungkan dan mengeluarkan isi dari kantung belanja itu.


Terlihat sebuah gaun berwarna Lilac dengan model terbaru.


"Tet.." Cempaka tidak dapat berkata-kata. Pasalnya ia juga sudah memimpikan untuk memiliki gaun tersebut.


"Kau cobak lah. Sanan ganti baju di kamar. Sehari-hari ku tengok kau pakek dasterrr aja."


Cempaka tersenyum dan beranjak dari duduknya dan lalu bergegas ke dalam kamar. Di dalam kamar, Cempaka kembali menatap gaun tersebut dengan wajah yang begitu bahagia. Lalu ia mulai melepaskan pakaiannya dan mencoba gaun pemberian Butet tersebut.


Cukup lama cempaka menatap bayangan dirinya di depan cermin. Ia tampak sangat mengagumi dirinya sendiri dalam balutan gaun tersebut. Cempaka pun mulai mengikat rambutnya dengan rapi, lalu ia meraih tas tangan Butet yang terletak di atas meja. Lalu ia kembali menatap dirinya di depan cermin.


"Astaga... geulis pisan euy..." Batin Cempaka.


Seketika senyum di wajahnya mulai memudar. Lalu Cempaka kembali meletakkan tas tangan Butet di tempatnya, dan kini ia kembali menatap dirinya di depan cermin tersebut.


"Cem, kamu teh pantesnya jadi orang kantoran. Kamu teh geulis pisan kalau begini." Gumamnya.


Cempaka pun beranjak duduk di tepi ranjang, tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari bayangan dirinya di depan cermin.


"Tetapi teh apa daya. Hidupmu hanya di dedikasikan untuk anak, anak, anak, dan suami terus. Sebenarnya teh saya lelah... Saya teh cemburu sama orang-orang yang bisa bekerja, jadi wanita karir. Minimal mereka teh punya banyak teman, otaknya bekerja. Tidak seperti saya, yang masih kuliah saja, eh harus mengurus anak dan suami." Gumam Cempaka lagi, seraya mengerutkan dagunya.


"Eh.. kok lama kali!"


Cempaka terperanjat saat Butet tiba-tiba membuka pintu kamar tersebut.


"Ng..." Cempaka pun beranjak dari duduknya.


Butet yang melihat Cempaka yang terlihat murung, pun langsung menghampiri Cempaka.


"Kau kenapa Cem? Gak sukak ya kau sama bajunya?" Tanya Butet yang terlihat sedih, saat Cempaka murung saat memakai gaun pemberiannya.


"Eh, bukan begitu atuh. Saya teh merasa bahagia sekali Tet. Sumpah! Ini teh gaun paling bagus yang pernah saya punya, dan gaun ini teh dari kamu," Ucap Cempaka, yang merasa tidak enak kepada Butet yang memergoki dirinya yang terlihat bersedih.


"Masak? Tapi ku tengok mukak kau sedih kali. Ku piker kau gak sukak."


"Sumpah Tet, saya teh suka sekali. Terima kasih ya Tet..." Cempaka tersenyum lebar dan memeluk Butet dengan erat.


"Betol nya?" Tanya Butet yang hanya ingin memastikan bila ucapan Cempaka benar adanya.


"Sumpah! Ini teh gaun impian saya. Saya teh senang sekali." Cempaka mencoba meyakinkan Butet.


"Yodahlah. Sama-sama ya Cem," Ucap Butet, seraya membalas pelukan Cempaka.


..


"Rapi bener.."


Rozi yang baru saja pulang kerja, terpaku saat melihat Cempaka yang tampak begitu anggun dan cantik, di balut oleh gaun pemberian dari Butet.


Cempaka yang sedang berdiri di depan cermin pun tersentak dan langsung menoleh ke arah Rozi yang masih berdiri di ambang pintu kamar.

__ADS_1


"Eh, a'a sudah pulang?" Cempaka pun beranjak menghampiri Rozi yang masih terus menatap Cempaka.


"Kamu punya gaun? Kok aku gak pernah liat ya?" Tanya Rozi.


Cempaka tersenyum dan mengecup punggung tangan Rozi. Lalu ia meraih tas kerja Rozi dan menaruhnya di atas meja.


"Ini teh pemberian si Butet. Dia teh sengaja membelikan aku gaun." Terang Cempaka.


Rozi beranjak masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang.


"Cantik sekali. Ini pasti mahal."


"Iya a' memang mahal. Saya teh gak tahu, kenapa Butet membelikan ini untuk saya. Warnanya teh ungu, warna favorit saya."


"Iya ya.. kok tumben tumbenan si Butet membelikan kamu baju." Ucap Rozi seraya membuka kemejanya.


"Tapi memang kamu cantik sih pakai gaun itu. Sudah lama rasanya kamu tidak berdandan Cem." Sambung Rozi.


Cempaka terdiam. Rupanya wajah murung istrinya mulai menyita perhatian Rozi.


"Kamu kenapa?" Tanya Rozi yang hendak beranjak mandi.


"Tidak apa-apa a'." Sahut Cempaka, masih dengan raut wajah yang murung.


"Tidak apa-apa kenapa murung?" Tanya Rozi lagi.


"Maaf ya a', kalau sudah lama saya tidak pernah berdandan lagi."


Deggg...!


Rozi langsung menyadari bila ucapannya telah menyinggung Cempaka.


"Ng... maksud a'a..."


"Saya teh hampir dua puluh empat jam sibuk sama anak-anak dan pekerjaan rumah. Maaf kalau saya sudah melupakan diri saya sendiri."


"Kalau tidak Butet yang membelikan gaun ini, mungkijn saya teh juga lupa mau membelinya untuk saya sendiri." Sambung Cempaka.


Rozi semakin tidak enak hati dengan ucapan Cempaka.


"Kamu butuh asisten?" Tanya Rozi.


"Menurut a'a?" Tanya Cempaka kembali.


Rozi terdiam membisu.


"Kalau saya tidak bekerja, untuk apa saya ada asisten?"


"Ya.. harusnya sih kerja tidak kerja, ku butuh asisten," Ucap Rozi, seraya mengusap wajahnya.


"Gimana sih rasanya bekerja a'? Dulu waktu kuliah, saya teh harus mengurus anak. Terus saat lulus, saya juga harus di rumah, karena saya mengandung lagi. Terus sudah lahiran teh, saya di larang bekerja, karena kasihan anak-anak. Terus setelah si Rumi sudah bisa mandiri, saya sudah niat bekerja. Tapi teh saya mengandung lagi."


"Pasti enak ya a' bekerja itu..? Bisa bertemu banyak orang, bisa memegang duit hasil jerih payah sendiri. Bisa beli apa saja pakai duit sendiri. Yang jelas tidak stress ya a'?" Tanya Cempaka lagi.


Rozi masih terdiam membisu.


"Saya teh sudah kepengen lama gaun ini a', cuma saya tidak berani minta ke a'a. Saya teh takut menghabiskan uang suami. Coba saya bekerja, mungkin saya teh bisa membelinya tanpa berpikir. Saya juga bisa terlihat cantik setiap hari."


Hati Rozi semakin perih mendengar ucapan Cempaka. Rozi menyadari bila ia hanya sibuk bekerja tanpa memperhatikan Cempaka yang tidak bekerja. Sehari-hari, Rozi hanya melihat Cempaka memakai daster. Bahkan beberapa daster Cempaka sudah terlihat lusuh dan sobek, tanpa ada kesadaran Rozi untuk membelikan istrinya pakaian yang layak.


Rozi memang mencintai Cempaka, namun cinta saja tidak cukup tanpa adanya perhatian. Hari ini ia baru menyadari bila ia memiliki istri yang tidak pandai menuntut, melainkan menunggu perhatian darinya tanpa sekalipun protes. Cempaka juga tidak memusingkan gaji Rozi, apalagi meminta uang dan mengorek informasi tentang seluruh gajinya. Namun seakan terlena, Rozi pun alpa tentang membahagiakan istrinya sendiri.


Bukan Rozi tidak mampu. Rozi sudah mapan sejak bujangan. Bahkan ia sudah memiliki rumah sendiri yang kini ia kontrakan. Penghasilannya saat bujangan pun dapat ia bagikan kedua adiknya dari istri kedua babe nya, yaitu nyak Komariah. Namun seakan berbanding terbalik saat ia memiliki istri. Istrinya tampak seperti istri orang dengan taraf hidup yang sangat kurang.


Rozi tersadar, lalu ia menatap Cempaka yang ikut terdiam di sampingnya. Rozi menatap Cempaka dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Mendadak hati Rozi merasa pilu. Istrinya bukan tidak cantik lagi, namun karena istri terlalu baik kepada dirinyalah yang membuat penampilan istrinya menjadi jauh di bawah yang semestinya. Buktinya kini Cempaka terlihat jauh lebih cantik di bandingkan dengan memakai daster.


"Astaghfirullahalazim.." Rozi menutupi wajahnya dan mulai menangis sesenggukan.

__ADS_1


"A', a'a teh kenapa? Kok a'a menangis?" Cempaka terlihat khawatir dengan Rozi yang mendadak menangis hingga sesenggukan.


"Cem..., Ya Allah..." Ucap Rozi, di sela tangisannya.


"Kenapa atuh a'a? Ngomong dong a'... Saya teh jadi bingung..."


"Maafkan aku. Astaghfirullahalazim... Astaghfirullahalazim... Aku sudah terlalu jahat sama kamu Cem. Maafkan saya. Saya tidak perhatian padamu, saya tidak peka. Saya tidak memberikan kamu yang terbaik. Saya malah kesannya membuat kamu seperti pembantu. Padahal kamu itu istri.. Lantas untuk apa saya terus menerus bekerja, kalau kamu menderita seperti ini." Rozi berlutut di hadapan Cempaka dan menenggelamkan wajahnya di pangkuan Cempaka.


Kedua mata Cempaka mulai memerah, ada rasa haru yang menyentuh kalbunya. Akhirnya tanpa harus ada pertikaian dalam rumah tangganya, kini Rozi dapat mengerti apa yang sebenarnya tengah ia rasakan selama ini.


"Cem, jangan membenciku. Aku mohon jangan pernah membenciku. Katakan saja terus terang bila aku salah. Katakan terus terang bila kamu butuh sesuatu, katakan apa saja yang mengganjal hatimu. Jangan diam saja. Saya memang kurang peka, tetapi saya mohon bantuanmu untuk membantu saya agar lebih dapat memahami dirimu," Ucap Rozi di iringi isak tangisnya.


"A', saya teh tidak menuntut apa-apa. Saya teh hanya ingin a'a lebih perhatian pada saya. Itu sudah cukup bagi saya a'," Ucap Cempaka.


"Ya Allah.., ampuni hamba. Ampuni hamba. Terima lasih istriku. Saya berjanji untuk lebih memperhatikan kamu," Ucap Rozi.


"Beneran a'?" Tanya Cempaka, dengan raut wajah polosnya dan senyum lebar di wajahnya.


"Insya Allah. Bila a'a lupa, tolong jangan segan mengingatkan a'a."


Cempaka menghela nafas panjang dan memasang wajah malas.


"Eh, iya.. a'a berjanji. Terima kasih kamu mau bersabar pada a'a selama ini. Terima kasih ya Cem."


"Nah.. yang bener teh begitu....." Ucap Cempaka, masih dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Iya, iya. Ya sudah.. Sekarang.. a'a mau sidak lemarimu."


"Lah.. kenapa atuh a'?" Tanya Cempaka seraya terlihat panik saat melihat Rozi yang sedang menghamburkan daster daster lusuh miliknya.


"Buang aja ini semua. Besok kita belanja, kamu beli semua yang kamu mau." Tegas Rozi.


"Tapi a'..." Cempaka dengan cepat mengemasi daster dasternya dari atas lantai.


"Tapi kenapa?" Tanya Rozi.


"Jangan di buang atuh a'a. Ini teh baju paling nyaman!" Ucap Cempaka yang terlihat semakin kesal.


"Tapi.... kan kita mau belanja baju untuk kamu. Buat apa lagi dasternya?" Tanya Rozi.


"Kalau saya masak, nyuci, nyetrika, ini teh baju paling nyaman a'!"


"Tapi sudah jelek..." Protes Rozi.


"Enak saja, jelek-jelek gini bikin nyaman!"


"Tidak bisa! Istriku harus selalu tampil cantik. No daster di rumah ini!"


"Gak bisa a'a!" Protes cempaka.


"Pokoknya tidak boleh!"


"Tidak bisa begitu atuh ah a'! "


"Bisa kalau ada asisten!"


Cempaka terdiam.


"Sekarang tugasmu hanya mempercantik diri. Kamu istirahat, biar tidak stress dengan pekerjaan rumah tangga. Sudah cukup perjuanganmu selama ini. Sekarang kamu Ratunya. No protes protes lagi!" Ucap Rozi, seraya merampas daster daster lusuh dari tangan Cempaka dan membawanya ke dapur. Lalu ia membuang daster daster itu ke tempat sampah dan setelah itu ia pun beranjak ke kamar mandi, untuk membilas tubuhnya yang terasa lengket setelah seharian bekerja.


Sedangkan di dalam kamar, Cempaka tersenyum sendiri. Walaupun hatinya tidak rela melepaskan daster daster kesayangannya itu, tetapi ada perasaan yang tidak biasa, untuk pertama kalinya yang ia rasakan. Yaitu bukti cinta Rozi yang luar biasa kepada dirinya.


"So sweet si a'a teh." Gumamnya, seraya tertawa girang.


Lalu ia kembali menatap dirinya di depan cermin dan mengusap lembut gaun pemberian dari Butet itu.


"Ya Allah, mungkin inilah alasannya kenapa engkau mengirimkan Butet kembali ke kost an ini." Batin Cempaka.

__ADS_1


__ADS_2