
"Chokkkkkk...!" Terdengar suara lantang Moan dari ujung sana.
"Alamakjang!" Choky yang baru saja terbangun dari tidurnya, karena suara Moan yang meneleponnya pun terperanjat dan menjauhkan ponselnya dari telinga kirinya.
"Apa nya kau!" Ucap Choky yang merasa kesal dengan Moan.
"Kimbek nya kau! Di mana kau!" Maki Moan.
"Di rumah aku.. Ck! ada apa? Kok marah-marah pulak kau!"
"Eh, tolong lah kau kasi tau binik ku. Jumpa kita betiga ya. Gak iya ini Chok, makin ngamok dia. Tiba-tiba ada yang kirim dia gambar pas aku ada di depan karoke!" Keluh Moan.
"Hah!" Choky terkejut mendengar ucapan Moan. Hingga ia beranjak duduk di atas ranjang dan mengucek ke dua matanya.
"Serius kau?" Tanya Choky.
"Iya.. Arghhhh.. memang penyakit kali dekat-dekat sama kau!" Keluh Moan lagi.
"Kok aku pulak yang kau salahkan. Masalah aplikasi, iya lah aku yang salah. Tapi masalah gambar itu mana tau-tau aku itu."
"Iya, makanya, kau kan saksi idop. Cepat lah jumpa betiga kita! Udah mau kiamat ini rumah tanggaku. Sumpah demi Tuhan aku ya Chok! Sempat cere aku sama si Butet, kau ku tuntotttt!" Ancam Moan.
"Bah! apa pulak kau! Gak iya kau ni. Cok bilang dulu, jumpa di mana kita? Biar aku yang ke sanan!"
"Jumpa di cafe punyak ku aja. Cepat kau ya datang. Awas kalok kau gak datang, ku rusak juga rumah tangga kau!"
"Omak... gak iya kau Moan!"
"Cepatlah! Apa mau tau jugak kau rasanya rumah tanggamu itu kiamat?"
__ADS_1
"Eh, jangan kek gitu lah sodaraku. Iya, ke sanan aku sekarang." Janji Choky.
"Siapa bang? Kok wajah abang pucat sekali?" Tanya Nella kepada Choky, suaminya.
"Tah lah dek, adanya kawan abang. Mintak tolong nya dia sama abang. Cakapnya rumah tangganya mau kiamat ini." Terang Choky, seraya beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Loh, kok bisa? Terus, rumah tangganya yang mau kiamat, kenapa harus abang yang dia hubungi?" Tanya Nella, penasaran.
"Ng....." Choky yang sedang buang air kecil di dalam kamar mandi, pun bingung untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Kok aneh ya?" Gumam Nella.
"Bukan kek gitu dek. Jadi, abang itu biasa jadi penengah lah gitu, kalau orang tu ada masalah," Ucap Choky, beralasan.
"Oh begitu. Ya... gimana ya..., masa harus melibatkan orang lain. Padahal kan, masalah rumah tangga itu privasi."
"Ya... mau kek mana lagi. Dah lah, mandi abang dulu," Ucap Choky, seraya menutup pintu kamar mandi tersebut.
*
Di cafe miliknya, Moan terlihat begitu gelisah menunggu kedatangan Choky. Sesekali ia melihat ke arah parkiran cafe tersebut, berharap Choky sudah tiba di sana. Namun Choky belum juga terlihat batang hidungnya. Hingga membuat rasa kesal Moan kepada Choky menjadi berlipat ganda.
"Manaaaaa lah si bodat itu lah!" Gumam Moan.
"Tapi, bagos aku hubungi si butet dulu aja. Ku ajak dia kemari kan. Jadi bisa jumpa betiga aku sama si Choky dan binikku itu." Gumamnya lagi.
**
Butet yang baru saja selesai membersihkan rumah kost yang akan ia tempati, pun mencoba untuk beristirahat dan duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu rumah kost tersebut. Ia menyenderkan punggungnya yang terasa pegal ke senderan sofa tersebut. Lalu ia menatap langit-langit ruang tamu tersebut seraya menghela nafas lega.
__ADS_1
"Udah bersih rumahnya. Tadi di situ banyak kali sarang Laba-laba nya. Sekarang udah bersih semua. Awas aja udah bersih kek gini, datang si Cempaka kan, di usirnya aku dari sini. Ooooo... ku serak kan nantik sampah-sampah di belakang itu ke dalam rumah ini!" Gumam nya.
Dreeeettt...! Dreeeettt..!
Butet mengalihkan pandangannya kepada ponselnya yang sedang berdering. Lalu ia beranjak meraih ponselnya yang berada di atas meja.
"Bang Moan? Ngapain pulak dia telepon aku?" Batin Butet.
"Ah, malas lah aku terima telepon dari dia. Udah saket kali hatiku pon!" Batinnya lagi, seraya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Lalu ia bergegas menyenderkan punggungnya kembali ke senderan sofa.
Akhirnya panggilan itu pun berhenti, setelah tiga kali Moan mencoba menghubungi Butet. Butet pun tersenyum, seakan ia merasa puas karena sudah sukses bersikap tak acuh kepada Moan.
"Mampooos lah kau bang! Kek mana rasanya gak ada binik! Sepi kau rasa? Gadak yang siapkan makan mu kan? Gadak yang sayang-sayangkan kau waktu kau bangun tidor? Gadak yang bersihkan iler mu itu dari sarong bantalmu kan bang! Rasakan lah itu bang! Mau nya cewekmu itu bersihkan bekas iler mu? Ooooo... gadak satupun cewek yang mau ku rasa, kecuali aku." Batin Butet, seraya tersenyum penuh kemenangan.
Ting!
Satu pesan di terima
Butet mengerutkan keningnya, lalu ia kembali meraih ponselnya dan menatap layar ponselnya tersebut.
"Oooo.. kirim pesan kau ya. Encer jugak kepala hotak kau itu Moan!" Batin Butet, seraya membuka pesan yang baru saja di kirim oleh Moan.
Dek, abang gak tau kau di mana sekarang. Tapi kali ini abang mintak samamu, jumpa kita dek. Biar selese masalah kita dek. Masih bisa nya kita cakap baek-baek dulu, sebelum kau nuntut abang ke pengadilan. Sumpah demi Tuhan dek! Tuhan mana aja lah..., semua Tuhan yang ada di mukak bumi ini dek, gadak abang men cewek di luar sana dek. Ini cuma salah paham aja nya. Ini gara-gara kerjaan si Choky kawan abang dek. Nah... jumpa kita ya dek.... Sama si Choky jugak, biar dia yang jelaskan samamu. Abang ada di cafe cabang sekarang. Please... mohon kali abang samamu. Biar selese semuanya, biar bisa kau balek ke rumah lagi. Ish... rindu kali pon abang samamu dan Moana.
Butet tersenyum sinis, setelah membaca pesan dari Moan.
"Aku percaya samamu? Jelas-jelas ID nya, pakek namamu. Teros, cewek itu telepon ke hape mu. Masik mau gak ngaku kau Moan? Sekarang kau bawak kawanmu yang udah kongkalikong samamu! Bodoh kali aku rupanya? Gadak cerita ya Moan!" Ucap Butet dengan nada suara yang terdengar begitu kesal dan emosi. Lalu ia kembali menaruh ponselnya ke atas meja dan lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Eh, mananya si Moana tadi? Udah sore nya, bukan balek dia ke sini. Apa lagi men maen dia sama anak si Cempaka? Tapi teringatku, nama anak si Cempaka bukan maen kali bah! Siapa namanya? Romi, Roma, sebijik lagi tah siapa namanya. Penggemar dangdut dia kurasa!" Gumam Butet, seraya terkekeh dan melongo ke arah pintu depan.
__ADS_1
"Gak nampak pun si Moana. Dah lah, capek pun aku, tidor lah sebentar, agak lima belas menit." Gumamnya lagi, seraya mencoba memejamkan kedua matanya.