
"Jadi cemana ceritanya?" Tanya Butet, setelah Sri puas menangis dan mulai tenang.
Sri menghela nafas panjang dan menatap Butet dengan seksama.
"Tapi kalok kau belom siap cerita sama aku, gak papa loh Sri. aku gak mau maksa kau. Minom kau dulu Sri, sesak napas kau ku tengok." Butet meraih gelas minuman Sri dan menyerahkannya kepada sahabatnya itu.
Sri meraih gelas minuman itu dan meminum teh yang sudah dingin tersebut. Lalu menaruhnya kembali ke atas meja.
"Tet, tapi kowe janji yo... Jangan cerito sama si Cempaka dan Siti." Pinta Sri.
"Sumpah demi Tuhan, aku gak akan cerita sama siapa-siapa, kalok itu memang mau mu. Tapi asal kau tau ya. Si Moan udah tau dia. Jadi aku gak janji kalok dia aku kasi tau."
Sri tertawa kecil, saat Butet begitu jujur kepada dirinya.
"Iyo, Tet."
"Ha, jadi cemana. Ish... gak sabar kali lah aku. Mendidih darah ku pas tau bang Dewa kek gitu. Macam macam aku yang di selingkuhi lah. Naek sasak ku nengok orang tu berdua tadi siang," Ucap Butet, seraya mendengus kesal.
"Menurut cerita mas Dewa, semua berawal dari hampir dua tahun lalu Tet. Jadi cewek itu mabuk, tidak sengaja menabrak mobil mas Dewa." Sri mengawali ceritanya.
"Iihhhh.. mabok dia? Perempuan macam apa dia itu! Pakek nabrak mobil suami orang pulak! Sengaja nya dia?" Belum apa-apa, Butet sudah emosi duluan.
"Sek to Tet," Sri menepuk dahi Butet yang terlihat begitu emosi.
"Iya, teruskanlah. Biar cepat ku tau."
"Terus kan karena dia tidak bisa menyetir lagi, mas Dewa saking baiknya, dia mengantar perempuan itu pulang ke rumahnya. Terus singkat cerita, besoknya mereka bertemu lagi."
"Hah! Di antar pulang? Sok ke baikan kali bang Dewa ya! Kenapa gak dia biarkan tekapar di jalan sanan! Biar di angkut satpol-pp dia! Ih... geram nya aku ya Tuhaaaannn....! Atau bawak dia ke kantor polisi, kan bisa! Pakek besoknya jumpa pulak..!" Butet terus mengomel dengan wajah yang memerah.
"Gustiiiii.. Tet! Kowe gelem denger ceritaku toh? Yo denger dulu toh yo!" Protes Sri.
"Eh iya... Maaf lah ya Sri, muncong ku ini agak susah aku rem." Butet memukul pelan bibirnya.
"Ya pokoknya begitu. Mereka bertemu di bengkel mobil. Terus perempuan itu mau bertanggung jawab. Sebelumnya mas Dewa sudah meninggalkan nomor teleponnya. Dengan maksud, si perempuan itu menghubungi dia, untuk tanggung jawab dengan mobilnya yang rusak." Lanjut Sri.
"Kegatalan memang si Dewa ini ya! Terus?" Timpal Butet.
"Ya, entah gimana, mereka jadi akrab. Sekali lagi ini versi mas Dewa. Terus suatu saat perempuan ini nangis-nangis ngajak ketemu bojo ku. Curhat lah ceritanya."
"Memang kemana mamak bapaknya? Yatim piatu dia memangnya? Pakek curhat sama suami orang! Kawan kawan nya yang laen kan ada! Kenapa harus Dewa!" Butet terlihat tidak dapat menahan emosinya.
"Mbuh lah." Sahut Sri.
"Trus?"
"Ya, katanya dia di pukuli pacar nya. Terus mereka putus atau gimana gitu, Tet. Aku lali. Pokok ne, setelah itu, perempuan itu ngejar-ngejar bojo ku. Bojo ku yo males. Tapi mas Dewa ini kan terlalu baik yo Tet..,"
"Iya.. entah terlalu baek tah terlalu bongak!" Timpal Butet.
"Jadi suatu saat, si perempuan mengundang mas Dewa ke acaranya. Ulang tahun kayak ne. Mbuh lah...."
"Ooo... jadi Dewa mati ke gatalan dia datang?" Tanya Butet, seraya mendengus kesal.
"Ya gitu lah Tet. Mas Dewa di paksa datang, katanya."
"Si betina itu pun gatal kali! Ngundang-ngundang lakik orang! Mau ku jambak jambak kek nya!" Butet semakin emosi, hingga ia bergidik gemas.
"Nah, pas acara itu, mas Dewa tidak pulang Tet.." Sri tertunduk lesu.
Brakkkkk...!
Butet menggebrak meja, hingga Sri terperanjat dan mencoba menenangkan Butet.
"Oooo.. Tidor orang itu iya!"
"Tenang toh, Tet.."
"Gak bisa aku Tenang! Di mana rumah perempuan itu! Biar ku hajar dia, ku buat jadi tape dia.. ! Ku pijak kan ke tanah! Ku libas sampek mintak ampon!"
"Tet... aduhhh... tenang.. Tet.. Tenang..." Sri tampak begitu memohon kepada Butet.
__ADS_1
"Bunda kenapa?" Tiba-tiba saja Ardi datang ke ruang tamu, seraya menatap Butet dan Sri secara bergantian. Terlihat jelas ke khawatiran di mata bocah laki-laki tersebut.
"Tidak ada apa-apa kok sayang. Ardi sama si bibik dulu ya." Pinta Sri.
"Eh, anak tante. Tidak ada apa-apa nak. Ini tante sedang cerita-cerita sama mamak mu dulu ya nak," Ucap Butet, seraya mengatur ekspresi wajahnya seramah mungkin."
"Oh, kirain ada apa." Ardi pun kembali ke ruang keluarga.
"Kowe Tet! Tenang Tet. Anak ku loh sampai jantungan!" Protes Sri.
"Iya... iya..." Butet menarik nafas panjang, sebelum Sri melanjutkan ceritanya.
"Trus!"
"Iya. Menurut cerita mas Dewa, aku gak tau ya Tet, ini jujur apa enggak. Setelah itu dia gak komunikasi lagi dengan perempuan itu. Dia blokir semuanya dan dia mencoba menghilang. Tapi, perempuan itu tiba-tiba ngasih kabar kalo dia hamil. Sampai mas Dewa di teror di kantornya.. Tidak hanya dia, bahkan sampai orang suruhan dan orang tuanya yang datang ke kantor mas Dewa. Sampai mas Dewa tidak tahan dengan ancaman, akhirnya dia datangi rumah perempuan itu. Nah orang tuanya langsung minta mas Dewa untuk menikahi perempuan itu. Yo jenenge wis hamidun Tet, ya mau gimana lagi. Akhirnya mas Dewa menikahi perempuan itu." Terang Sri.
"Teros, kau di madu? Kau mau idop kek gini?" Cecar Butet.
Sri menghela napas dalam-dalam dan menundukkan wajahnya.
"Terus, dia cerita kek gitu, santai aja kau? Gak mintak cere kau rupanya?" Cecar Butet lagi.
"Tet, aku sudah minta cerai."
"Terosss? Gak mau dia ceraikan kau? Egois kali memang si Dewa ini lah!" Butet terlihat semakin emosi.
"Bukan. Tapi aku membatalkannya, Tet."
Butet terdiam mendengar pengakuan Sri.
"Satu sisi, karena Ardi, Tet. Satu sisi lagi, Mas Dewa bersumpah padaku, kalau dia gak merasa pernah tidur dengan perempuan itu Tet. Dia merasa dia di jebak. Tapi, setelah aku lihat jelas wajah perempuan itu, aku gak yakin kalau dia di jebak. Kayak ne yo sama-sama mau." Sri mendengus kesal.
"Di jebak cemana?" Butet mengernyitkan dahinya dan menatap Sri dengan seksama.
"Jadi, menurut mas Dewa, Malam itu mas Dewa seperti di kasih minuman. Terus gak sadarkan diri. Tiba-tiba dia bangun sudah begituan. Tapi mas Dewa tidak merasa. Dan juga, kata mas Dewa dia tidak pernah tidur dengan perempuan itu, hingga detik ini Tet." Terang Sri.
"Heh?" Butet tercengang dan terlihat bingung.
"Mbuh ah, Tet. Mungkin mas Dewa bohong sama aku." Keluh Sri.
"Gak test DNA aja dia?" Tanya Butet, yang semakin penasaran.
"Kata mas Dewa sudah."
"Hasilnya?" Desak Butet.
"Anaknya mas Dewa." Jawab Sri dengan polos.
"Oooo... anak dia. Teroosssss kek gitu dia bilang kalok dia gak merasa melakukannya? Gilak si Dewa? Lupa ingatan dia? Mau ku tokok kepalanya dulu, biar jalan sumbatan di jaringan hotak nya itu!"
"Entahlah, Tet. Ngelu slirah ku." Sri memijat pelipisnya.
"Jadi, sampek kapan kau mau kek gini Sri? Kau bertahan demi anak kau, tapi kau sengsara? Nikah lagi kau gak bisa. Mau marah kau gak bisa. Mau melangkah pun gak bisa. Kek di sinetron sinetron itu kau ku tengok! Kau mandiri Sri! Kau ada kerjaan! Kau udah punyak anak! Kau cantek! Kau bisa melakukan apapun yang kau mau! Jadi kenapa takot kali kau!"
Sri terdiam membisu.
"Sri! Aku tau si Moan kek gitu aja, gak terima aku Sri. Apalagi dia sampek kawen lagi. Yang namanya kawen lagi, udah pasti ngapa-ngapain orang tu! Sri, bangkit kau lagi!" Butet terlihat begitu gemas dengan diamnya Sri.
"Ada satu yang mau aku bilang sama kamu Tet."
"Apa!"
"Aku tersiksa bukan kerena mas Dewa menikah lagi."
"Hah! Gilak kau! Terosss apa yang kau rasa?" Desak Butet.
"Aku ini istrinya mas Dewa. Terkadang aku melihat di matanya itu ada kejujuran. Aku tahu, saat ini dia pun tersiksa menjalani dua rumah tangga. Apalagi harus mengorbankan perasaan Ardi. Aku juga bertahan bukan karena mas Dewa, tetapi karena Ardi yang terlalu dekat dengan Dewa. Setidaknya, Ardi tidak bingung karena kami tidak bercerai. Dia masih bisa lihat ayah dan bundanya." Terang Sri.
"Cere juga bisa liat ayah bundanya kok. Asal pande pande aja kelen bagi waktu. Kau jalani kek gini sama aja kau udah bercerai! Kadang si Dewa di sana kadang di sini. Kau piker saat ini anak kau gak bingung? Sama aja! Asal kau tau!" Protes Butet.
Sri pun bungkam. Ada hal yang baru saja ia sadari. Saat ini hubungannya dengan Dewa, sama saja seperti sudah bercerai.
__ADS_1
"Apalagi dia udah test DNA. Itu gak bisa di ganggu gugat Sri! Udah jelas itu anak dia. Kejujuran mana lagi yang mau kau pertimbangkan?"
Sri masih diam seribu bahasa.
"Aku bukan mendukung kau untuk cere ya Sri. Cuma satu yang harus kau pikerkan! Otak kau lama-lama gak sehat kek gini. Larinya ke badan kau! Kau liat ke kaca sana! Kek apa badan kau Sri! Sebelas dua belas kau sama zombie! Bangkit Sri! Bangun kau dari tidor kau itu! Kau bepiker tentang perasaan anakmu. Apa dia berpiker tentang perasaan anakmu jugak? Kalok dia miker, gak harus dia setiap minggu ke luar Kota! Yang iyanya dia gak tegas jadi laki-laki! Mau dia apa! Gak tau kau kan? Kalok dia masih ke sanan jugak, tandanya dia masih miker perasaan betina itu! Cok kau piker itu!"
Sri kembali meneteskan air matanya. Mulutnya seakan bungkam tak mampu berkata-kata.
"Kau masih cinta sama si Dewa iya? Walaupun fia udah kawen lagi?"
Sri menatap Butet dengan seksama. Terlihat jelas di matanya rasa yang tidak akan pernah ia mampu untuk dustai. Bila ia masih mencintai Dewa.
"Ealahhh... Payah! Payah kalok kek gini." Butet pun menepuk dahinya.
"Aku mau nanya sama kamu Tet."
"Apa?" Tanya Butet.
"Kenapa hingga saat ini kamu belum menggugat bang Moan?"
Butet terdiam membisu, setelah mendengar pertanyaan dari Sri.
"Bukankah ada perasaan antara percaya dan tidak percaya? Kita ini istri. Feeling kita selalu benar serataus persen, Tet. Dan kita terjebak di situasi antara percaya dengan kejujurannya, dan tidak percaya, kala kita menghadapi situasinya. Aku ndak bodoh, Tet. Hanya saja, aku lagi bingung Tet."
Butet pun tertunduk lesu.
"Iya jugak ya.." Butet tersandar si punggung sofa.
"Jadi cemana ya?" Sambung Butet lagi.
"Itulah, aku bingung." Timpal Sri.
Mereka pun terdiam beberapa saat. Hingga Butet mengejutkan Sri dengan idenya.
"Ahaaaaa...!"
"Astaga!" Sri terperanjat dan mengusap dadanya.
"Opo toh Tet! Kowe iki yo!"
"Aku dapat ide!" Seru Butet.
"Ide opo toh?"
"Kalok kau yang mendekat sama binik barunya, udah jelas pasti binik baru si Dewa udah tau mukak mu."
"Terus?" Tanya Sri yang terlihat penasaran.
"Biar aku yang mendekat."
"Maksudmu opo toh?" Sri masih belum mengerti dengan apa yang Butet bicarakan.
"Aku yang akan cari cara! Kau tenang aja! Sampek betol-betol terbukti kalok itu anak Dewa atau bukan! Kalok ternyata anak itu bukan anak Dewa, kau bisa percaya dan baek lagi sama si Dewa. Kalok itu anak Dewa, apa kau siap cerein dia?"
Sri terdiam membisu. Ia tidak menyangka bila Butet begitu nekat.
"Ya.. kalau memang itu anak nya mas Dewa, ya siap tidak siap sih Tet. Tapi kan mas dewa sudah test DNA, dan itu anaknya mas Dewa."
"Lah, tapi kau bilang kau percaya gak percaya! Test DNA bisa aja salah. Atau di buat-buat. Apa dia test sama biniknya itu, apa enggak. Kau kan gak tau! Bagosnya di ulang, tapi versi kita. Biar kau yakin! Kau kan butuh keyakinan cakapmu!"
Sri terdiam, ia terlihat begitu gelisah.
"Tapi Tet.."
"Udahhh... kau tenang aja. Kau di balek layar aja. Biar aku yang maju. Kau percaya sama aku?" Tanya Butet.
Sri menatap Butet dengan seksama.
"Percaya apa enggak! Ishhh geram aku nengok kau Sri!"
"I-iya Tet.. Tapi piye cara ne?"
__ADS_1
"Kau tenang aja. Biar agen khusus ini yang bekerja," Ucap Butet seraya memasang gaya ala tokoh detektif di film layar lebar.