Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Cemburu


__ADS_3

Tuuuutt..! Tuttttt...! Tuttttt..!


"Ck! Kemana nya si Moan ini lah. Dari tadi ku telepon gadak di angkatnya!" Butet yang sedang menghubungi Moan, terlihat kesal karena Moan tak kunjung mengangkat telepon darinya.


"Jan jangan, di bawaknya lari pulak si Moana. Mentang-mentang hari ni aku ijen kan dia bawak si Moana!" Gumam Butet, dengan wajah yang tampak geram.


Tuuuutt..! Tuttttt...! Tuttttt..!


Lagi, Butet menghubungi Moan, namun panggilannya tak kunjung di terima oleh Moan.


"Makjaaaaanggg...! Mendidehhh darah kuuu.." Butet yang sedang menyetir, terus mengomel sendiri.


Tuuuutt..! Tuttttt...! Tuttttt..!


"Halo.."


Terdengar suara Moan dari ujung sana.


"Woii..! Moannn..! Dimanaaaaaa kauuuuu... Dari tadi ku hubongin gadak kau angkat angkat teleponkuuuu..!" Butet langsung mengomel kala panggilannya di jawab oleh Moan.


"Abang ketiduran loh dek... Abes lama kali adek, abang nunggu adek tadi di depan kost."


Butet terdiam mendengar ucapan Moan, lalu ia melirik arlojinya. Pantas saja Moan tertidur, saat ini audah pukul dua dini hari.


"Memang dari mana nya kau dek? Kok baru jam segini baru kasi kabar?"


"Ng..." Butet bingung akan mengatakan apa. Ia merasa bersalah kepada Moan.


"Bang, di mana kau sekarang?" Tanya Butet dengan nada suara yang melunak.


"Di kost abang lah dek. Abang piker kau pulang cepat Jadi ke kost abang pulang. Kalok tau kau lama, tidor di rumah abang, dek sama si Moana."


Butet terdiam, lalu ia menghela napas panjang.


"Yodahlah. aku bentar lagi sampek. Turon lah kau bang, bawak si Moana." Ucap Butet.


"Ya." Sahut Moan.


.


Beberapa menit kemudian, mobil Butet memasuki gang menuju ke rumah kost nya. Butet terlihat memajukan tubuhnya untuk melihat ke depan. Tentu saja ia ingin melihat Moan dan Moana, yang di perintahkannya untuk menunggu dirinya di depan rumah kost. Namun tak tampak Moana di sana, hanya Moan saja yang sedang berdiri di temani sebatang rokok di tangannya.


"Iyah! Mana moananya?" Tanya Butet, saat ia baru saja turun dari mobilnya, untuk membuka pagar rumah kost.


"Ada, di kamar kost ku. Udah tidor dia. kasian aku kalok dia di bangunkan." Ucap Moan.


"Alasan kali kau..." Celetuk Butet, seraya membuka gerbang rumah kost nya.


"Teganya kau bangunkan dia? Kalok kau tega, sanalah bangunkan!"


Butet menatap Moan sejenak, sebelum dirinya kembali masuk ke dalam mobilnya untuk memarkirkan mobil tersebut ke dalam halaman rumah kost.


Setelah Butet memarkirkan mobilnya dengan sempurna, ia pun bergegas menghampiri Moan.


"Kau kenapa bang? Kok keras kali kau ku tengok barusan."


Moan menjatuhkan rokoknya ke bawah dan menginjaknya dengan telapak sendalnya. Lalu ia menatap Butet dengan seksama.


"Kau dari rumah si Sri, apa jalan sama cowok baru kau dek?" Tanya Moan dengan wajah yang tampak memerah.


"Hah!" Butet mengernyitkan dahinya, tanda ia tak percaya dengan pertanyaan Moan.


"Tadinya abang mau nyusol, lupa pulak abang rumah si Sri." Sambung Moan.


"Eh, cemburu rupanya si Moan?" Batin Butet.


"Jujur kau dek, gak biasa kau pulang jam segini." Desak Moan.


Butet terus menatap Moan dengan seksama. Lalu ia mendengus kesal.


"Mulot mu itu ya Moan! Aku bukan kek kau ya! Belom putos cere, udah men maen sama cewek-cewek. Aku gadak kek gitu! Mau ku teleponkan si Sri, memangnya? Biar kau tanyak tanyak sama dia!" Ucap Butet yang terlihat semakin kesal.


"Mana, cok telepon lah dulu. Mau ku pastikan aja." Tantang Moan.

__ADS_1


"Eh, gilak kau ya bang! Udah pagi ini loh... Ku rasa si Sri pun baru tidor dia."


"Telepon aja, mau tau aku." Desak Moan.


"Cemburu rupanya kau Moan!"


"Iya aku cemburu! Kau masih istriku!" Bentak Moan.


Butet terdiam saat Moan membentaknya dengan sorot mata yang terlihat begitu emosi.


"Dek, sampek aku tau cowok barumu, ku tikammm dia. Ingat kau itu?" Ancam Moan.


Butet bergidik ngeri saat mendengar ancaman tersebut.


"Ishh... dah gilak kau bang! Ayok lah telepon si Sri, gak percaya kali. Aku sama si Sri buntotin si Dewa tau kau? Kami bicarakan si Dewa. Itu pun pertama di rumahnya, teros kami jalan ke rumah binik baru si Dewa. Teros, kami balek ke rumah, cakap cakap lagi. Kau pun tah apa!" Butet tetus mengomel seraya mencoba menghubungi Sri.


.


Sri yang belum dapat terlelap, melirik ponselnya yang baru saja berdering. Lalu ia meraih ponsel tersebut dari atas meja nakasnya.


"Butet?" Gumam Sri.


Dengan segera, Sri pun langsung menerima panggilan telepon dari Butet.


"Halo?" Sapa Sri.


"Sri..!"


Sri menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.


"Opo toh Tet.., Suaramu iku loh.. kuwencengggg men..!" Keluh Sri.


"Sri!" Panggil Butet lagi.


"Opo? Kewenceng men suaramu Tet! Tet!"


"Udah tidor kau?" Tanya Butet.


"Oh iya ya.." Sahut Butet.


Sri menggelengkan kepalanya, tanda dirinya tak habis pikir dengan kekonyolan sahabatnya itu.


"Onok opo?" Tanya Sri.


"Ini, kau cakap dulu sana bang Moan. Cemburu dia kek nya!" Ucap Butet.


Sri terbelalak, dan mengerutkan keningnya, tanda tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Maksut ne opo toh?"


Belum sempat Butet menjawab, tampaknya ponsel Butet sudah berpindah tangan ke Moan.


"Halo Sri, maaf ya, abang ganggu malam malam. Gak enak jugak abang sama Sri." Sapa Moan, berbasabasi.


"Eh, bang Moan. Piye kabare? Gak popo bang. Onok opo toh?" Tanya Sri.


"Kabar abang baik, Sri. Ngomong-ngomong, betolnya yang di bilang si Butet?" Tanya Moan, langsung ke inti percakapan.


"Yang mana bang?" Tanya Sri yang terlihat bingung.


"Itu loh dek. Dia pulang semalam ini abes dari rumah adek." Terang Moan.


"Owalaaahh.. iyo bang. Maaf ngeh bang.. Butet jadi kemalaman pulangnya. Bener kok bang, Butet sama Sri, di rumah Sri." Terang Sri.


"Ooh... Ya lah.. Abang kira dia kemana," Ucap Moan.


Sri tersenyum geli. Ia baru paham bila Butet terpaksa menghubungi dirinya karena Moan sedang menginterogasi sahabatnya itu.


"Tenan bang. Butet gak aneh-aneh kok. Nek aneh-aneh, tak sentil irung ne," Sri mencoba meyakinkan Moan.


"Oh, iyalah. Maaf ya dek, abang ganggu istirahat adek," Moan terdengar sangat merasa bersalah.


"Gak popo bang." Sahut Sri.

__ADS_1


"Ya udah. Makasih ya dek."


"Sama-sama bang." Sahut Sri.


"Ha! Percaya kau kan!"


Terdengar suara Butet di ujung sana. Hingga membuat Sri pun tertawa geli.


"Sri!"


"Opo?" Sahut Sri.


"Udah dulu ya. Maap aku ganggu tidor kau," Ucap Butet.


"Gak popo toh. Aku sing terima kasih, aku wis di kancani."


"Iya. dah Sri..."


"Dahh..." Sahut Sri.


Panggilan itu pun berakhir.


Sri kembali menaruh ponselnya di atas meja nakas. Lalu ia terus menatap langit-langit kamarnya. Terbayang olehnya Dewa yang terlihat menangis di depan gerbang rumahnya dan ternyata, hampir setiap malam, Dewa lakukan hal itu, kala Dewa menginap di rumah Grazia.


"Ya Gustiii... Aku manut rencanamu." Batin Sri.


.


"Masih kau gak percaya?" Tanya Butet, setelah ia mengakhiri panggilan teleponnya dengan Sri.


Moan menghela napas panjang dan menatap istrinya itu.


"Tet, jujur ya. Aku bukan gak percaya samamu."


"Terosss?" Tanya Butet.


"Aku hanya takut kehilanganmu."


Butet terdiam membisu, setelah mendengar ucapan Moan.


"Tet, abang cinta samamu. Apa yang kau tuduhkan sama abang, itu gak seperti itu sebenarnya. Apa yang di bilang si Choky waktu itu udah jujur kali, Tet. Tah kek mana abang buktikan samamu."


Butet pun bergeming, ia terus menatap Moan dengan seksama.


Benar sekali apa yang di katakan Sri. Terkadang ada rasa percaya dan tidak percaya di hati seorang istri. Satu sisi, ada rasa percaya karena melihat kejujuran di sorot mata suami. Satu sisi lagi, bukti mengatakan seakan hal itu benar terjadi. Posisi Butet sama persis dengan apa yang sedang Sri rasakan. Bukan karena tidak bisa memutuskan apa maunya saat ini. Karena mengambil suatu tindakan, apalagi masalah perceraian, butuh kekuatan dan keyakinan yang begitu kuat. Namun bagaimana caranya memutuskan sesuatu, bila hati masih bimbang, antara percaya dan tidak percaya dengan akar masalah yang tengah di hadapi?


"Tet, kasi....."


"Tidor si Moana bang? Teros kek mana?" Butet sengaja mengalihkan topik dan memotong ucapan Moan.


"I-iya. Di kamar kost ku.


"Oh, ya udahlah. Biar aja dia tidor samamu bang. Aku istirahat dulu ya. Besok pagi kau antar aja dia ke kost ku bang." Pinta Butet.


"Tet, tapi abang belom selesai."


"Capek aku bang. Aku tidor ya bang. Kau temani lah dulu si Moana. Kasian dia di kamarmu sendirian." Butet pun bergegas masuk ke halaman rumah kost nya dan mengunci pagar tersebut.


"Tet," Panggil Moan.


"Besok kita bicara ya bang," Ucap Butet, seraya melangkah menuju ke rumah kost nya.


Moan hanya dapat terdiam dan menatap punggung Butet yang menjauhi dirinya. Moan terus memandangi Butet hingga istrinya tersebut menghilang di balik pintu rumah kost putri.


Moan menghela napas panjang dan berjalan dengan gontai, kembali ke rumah kost nya.


.


Butet terdiam dan bersender di daun pintu rumah kostnya. Kedua matanya memandangi langit-langit ruang tamu rumah kost tersebut. Tidak dapat Butet Pungkiri, bila dirinya masih sangat mencintai Moan. Namun rasa kecewalah yang membuat dirinya bersikap seperti ini. Terkesan egois memang, namun tidak ada satupun wanita yang bisa menerima kenyataan seperti apa yang Butet hadapi saat ini. Terlepas hatinya yang bimbang antara percaya dan tidak percaya bila Moan melakukan hal itu. Namun tetap saja, bukti itu semua mengarah kepada Moan.


Sebenarnya Butet ingin sekali memaafkan Moan. Namun api dihatinya yang terbakar cemburu dan merasa terkhianati, masih belum reda. Saat ini, Butet hanya ingin menjalani hari senyaman mungkin. Karena ia tidak ingin merasa stress karena permasalahannya dengan Moan. Butet ingin emosinya mereda terlebih dahulu, barulah ia ingin kembali berbicara dengan Moan dengan sebaik-baiknya. Apapun akhir dari cerita rumah tangganya, Butet ingin, semua itu di putuskan tanpa ada rasa penyesalan.


Butet melangkah menuju ke kamarnya dan beranjak tidur. Karena ayam jantan mulai terdengar kokok pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2