
"Selamat malam bu. Mau kemana?" Tanya seorang Satpam yang menghentikan mobil Butet di gerbang perumahan rumah Grazia.
"Selamat malam, saya mau ke rumah bapak Dewa dan ibu Grazia." Ucap Sri, yang berada di balik kemudi.
"Kalau boleh tahu, rumah bapak Dewa dan ibu Grazia yang di blok apa, bu?" Tanya Satpam tersebut, untuk memastikan kejujuran Sri.
"Di blok C nomor 27, pak." Jawab Sri. Sri menghafal blok dan nomor rumah Grazia, saat pertama kali ia memata-matai Dewa.
"Oh, iya. Silahkan masuk bu." Ucap Satpam itu, seraya membuka portal otomatis yang menghadang jalan masuk.
"Terima kasih ya pak," Ucap Sri, seraya tersenyum ramah.
"Sama-sama bu.." Sahut Satpam itu.
Sri pun melajukan mobil milik Butet tersebut, masuk ke dalam jalan komplek tersebut.
"Kok hapal kau, blok sama nomor rumahnya?" Tanya Butet.
"Iyo Tet. Wis tak ceritoni toh, kalau aku pernah mengikuti mas Dewa pulang ke rumah perempuan iku?"
"Oh iya ya..." Butet mengangguk-anggukkan kepalanya dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat bangunan bangunan rumah di komplek perumahan tersebut.
"Ish... gilak kali ya rumah rumah di sini. Kerja apa orang ini ya? Rumah sama istana gadak bedanya ku tengok!"
Sri melirik Butet dan tersenyum kecut.
"Berarti kaya nya cewek itu, Sri! Tapi kenapa dia mintak uang bang Dewa jugak!"
"Ya..., mungkin mas Dewa merasa kalau itu anaknya, Tet. Jadi, dia tanggung jawab." Jawab Sri, seraya terus menyetir hingga ke perempat perumahan dan membelokkan kemudinya ke jalur kiri.
"Ishhh... tah terbuat dari apaaaaa lah hati kau ya Sri. Sabar kali kau jadi perempuan. Kalok aku, oooo... gadak cerita samaku! Ku tikammm pakek tusuk konde opung boru ku perempuan itu! Biar jadi tusuk konde keramat, itu tusuk konde opung boru ku!"
Sri menghela napas panjang dan menghentikan laju mobil tersebut di sisi kiri jalan.
"Kok berenti kau Sri? Udah sampek rupanya kita?" Tanya Butet.
"Sudah Tet, itu rumahnya." Sri menunjuk rumah megah dengan gerbang berwarna hitam yang berada di sisi kanan jalan tersebut.
"Omakjangggg.. Pejabat rupanya bapaknya? Kok ngeri kali ku tengok rumahnya?" Tanya Butet, seraya memperhatikan rumah megah tersebut.
"Mbuh lah. ra ngerti aku, Tet. Lagian ngopo toh, kamu ngajak aku ke rumah perempuan iku?" Tanya Sri.
"Ya... pen tau aja aku." Sahut Butet.
"Memangnya opo toh rencanamu, Tet?"
Butet menatap Sri dengan seksama.
"Kau tenang aja. Aku ada rencana, kau tau bersih aja ya Sri similikiti.." Butet tersenyum dan mengambil ponselnya. Lalu ia mengambil foto rumah tersebut dan menyimpannya di dalam memori ponselnya.
"Kowe gak aneh-aneh kan, Tet?" Sri mulai merasa takut bila Butet melakukan hal yang aneh dan membuat semua menjadi kacau.
"Enggak... kau tenang aja kenapa! Aku ngambel poto rumahnya, biar aku gak lupa rumahnya yang mana." Terang Butet.
"Feeling ku kok gak enak yo, Tet," Ucap Sri, seraya mengusap tangannya yang merinding.
"Maksud kau apa? Mau ku bunoh dia memangnya? Enggak lah! Masok sel aku, nanges nantik mamakku di kampong sanan!"
__ADS_1
"Lah, terus opo, Tet.." Desak Sri.
"Ish! Recok kau ya..."
Saat mereka berdua berdebat, terlihat gerbang rumah tersebut di buka oleh seorang satpam penjaga rumah Grazia. Tak lama kemudian, terlihat mobil Dewa bergerak meninggalkan rumah tersebut.
"Ish, bang Dewa itu ya Sri?" Tanya Butet, seraya menundukkan kepalanya.
Sri yang ikut menundukkan kepalanya, pun memperhatikan mobil tersebut.
"Iyo Tet, kemana yo mas Dewa?" Sri terlihat penasaran dan menatap Butet dengan seksama.
"Kita ikotin apa cemana?" Tanya Butet.
"Iyo yuk.. Ngapain kita di sini?"
"Ya udah lah, tancap gas kau!" Perintah Butet.
Saat itu juga Sri pun melajukan mobil tersebut dan mengikuti mobil Dewa yang melaju ke arah jalan keluar komplek perumahan mewah tersebut.
"Pulang ke rumah kau gak dia?" Tanya Butet.
"Mbuh.., biasane yo gak pulang. Lusa baru mas Dewa pulang, Tet." Terang Sri.
"Teros kemana dia ni? Apa punyak binik ke tiga dia? Hebat kali memang si Dewa ini ya!" Ucap Butet dengan emosi yang berapi-api.
"Hust! Lambemu Tet! Tet!"
"Iya teros mau kemana dia rupanya! Kok naek sasak ku. Baru ku liat mobilnya aja ini ya, belom nampak si Dewa nya samaku!" Butet terus mengomel panjang lebar.
Sri merasa kepalanya pusing, mendengar omelan Butet. Hingga ia harus memijat pelipisnya berkali-kali.
"Hah!" Butet pun memperhatikan mobil Dewa yang berjarak beberapa belas meter di depan mobilnya.
"Yakin kau?" Tanya Butet.
Dan benar saja, mobil yang Dewa kendarai berhenti di depan gerbang rumah Sri. Saat mobil Dewa berhenti, Sri pun turut menghentikan laju mobilnya jauh di belakang mobil Dewa.
"Mas Dewa ngapain yo Tet?"
"Mana tau aku! Kau pulak nanyak sama aku. Aku aja ada di sampeng kau! Kau pon lucu kali Sri!"
Sri menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mendengus kesal. Lalu mereka berdua kembali memperhatikan Dewa yang beranjak turun dari mobilnya. Namun mereka berdua tidak melihat Dewa masuk ke dalam gerbang rumah Sri. Dewa hanya diam saja di depan gerbang dan tertunduk lesu di sana.
"Ih, kenapa bang Dewa Sri?" Tanya Butet.
"Aku yo Mbuuuuhhhh Tetttt Tetttt...! Wong aku onok di sampingmu!" Sahut Sri.
"Eh, balas dendam kau rupanya!" Butet mendelik kepada Sri.
Sri mengacuhkan Butet dan kembali melihat Dewa yang masih berdiri di depan gerbang rumah miliknya dan Dewa.
"Abes dari dukun ku rasa si Dewa itu, Sri. Lagi baca-baca mantra dia, biar kau balek sama dia."
"Hust! Gendeng kowe Tet!"
"Teros, ngapain dia!"
__ADS_1
"Gini aja, kita pura-pura lewat aja. Dia gak tau toh, mobil barumu ini?" Tanya Sri.
Butet pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, kita pura-pura lewat. Kita lihat dia lagi apa," Ucap Sri, seraya melanjukan mobil milik Butet itu secara perlahan.
Jarak lima meter dari posisi Dewa, Sri melihat bahu Dewa terguncang. Dewa juga menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sadar ada mobil akan melintas, Dewa pun segera berjalan ke arah mobilnya. Saat itu juga Sri melihat wajah Dewa yang terlihat basah oleh air mata. Jantung Sri berdegup kencang, lalu ia menepikan mobil tersebut di depan rumah tetangganya yang berjarak sepuluh meter dari rumahnya.
"Mas Dewa menangis, Tet. Kowe ndelok toh?" Tanya Sri, seraya menatap Butet dengan seksama.
"Iya Sri. Kok gak masok aja dia? Ngapain dia nanges-nanges di depan gerbang rumahmu?" Tanya Butet.
Mereka pun saling berpandangan dan setelah itu mereka melihat mobil Dewa melaju di samping mobil mereka.
"Mas Dewa kemana lagi yo, Tet?"
"Mana lah tau aku! Jalan kau sanan!"
Sri pun kembali melajukan mobil tersebut dan membuntuti Dewa yang ternyata kembali meninggalkan komplek perumahan tersebut.
"Ish! Bingung aku nengok si Dewa ini lah! Datang cuma nanges aja. Teros pigi lagi, gitu? Udah kenak LCD hotak nya ku rasa!"
Sri diam saja, ia mencoba fokus untuk membuntuti mobil Dewa. Hingga mobil Dewa berhenti di sebuah minimarket.
"Hah?" Butet dan Sri kembali bertatapan. Lalu mereka kembali menatap Dewa yang baru saja keluar dari mobilnya.
Terlihat Dewa memasuki minimarket tersebut dan berbelanja beberapa item barang dan lalu membayarnya di kasir. Setelah itu Dewa beranjak keluar dan kembali ke mobilnya. Tak lama kemudian, Dewa pun melajukan mobilnya kembali kearah komplek perumahan milik Grazia.
Saat itu juga Sri dan Butet kembali bertatapan. Mereka merasa apa yang di lakukan Dewa terlihat begitu aneh di mata mereka berdua.
"Tet, apa mas Dewa sering diam-diam pulang ke rumah yo, Tet? Kayak tadi Tet. Cuma dia gak masuk saja, cuma nangis saja di depan gerbang rumah."
Butet menatap Sri dengan seksama. Ia sedang berpikir keras, maksud dari Dewa yang melakukan hal tersebut.
"Kau udah nengok CCTV rumahmu?" Tanya Butet.
"Aku gak pernah lihat hasil rekaman, kalau gak ada apa-apa Tet," Jawab Sri.
"Ayok, kita pulang sekarang. Kita tengok!" Ajak Butet.
Sri pun mengangguk dan kembali melajukan mobil tersebut ke arah rumahnya.
Sesampainya mereka di rumah Sri, Sri dan Butet pun langsung beranjak ke kamar Sri, untuk melihat hasil rekaman CCTV yang berada di depan rumahnya, di tanggal tanggal di mana Dewa bermalam di rumah Grazia.
Betapa terkejutnya Sri saat melihat hasil dari rekaman-rekaman di tanggal tanggal tersebut. Ternyata hampir setiap malam Dewa singgah di depan rumah Sri dan berdiam diri beberapa menit di depan gerbang dan lalu pergi begitu saja, tanpa singgah ke dalam. Persis seperti yang Dewa lakukan tadi dan di saksikan sendiri oleh Sri.
"Ini tandanya, hati dia di sini Sri. Dia pingin pulang, tapi dia bilang dia di luar Kota sama anakmu. Jadi dia gak berani masok. Takot besoknya ijin lagi sama anakmu, malah lebih nyakitin hati anakmu. Terus kayaknya dia jugak ragu mau masok Sri, mungkin sambutanmu udah hambar aja sama dia. Yang ku tengok saat ini, Bang Dewa itu kek orang linglung. Pening dia mau kek mana, Sri," Ucap Butet.
Sri terdiam di kursinya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Namun sebisa mungkin ia menahannya dan terus menatap layar yang menayangkan kegiatan Dewa di setiap malam, kala jadwal Dewa menginap di rumah Grazia.
"Apa benar yang Butet katakan itu mas? Apa kamu begitu linglung saat ini? Ku pikir kamu bahagia bersama dengan perempuan itu mas." Batin Sri.
"Tet.."
"Apa Sri?"
__ADS_1
"Ayo kita selidiki, anak siapa itu sebenarnya. Aku capek Tet! Biar aku bisa memilih sikap," Ucap Sri, seraya menatap Butet dengan kedua mata yang terlihat begitu bersemangat.
"Laksanakan!" Sahut Butet, dengan penuh semangat.