
"Kenapa kau dek?" Tanya Moan, seraya menatap wajah Butet yang terlihat kesal, setelah kembali dari kamar Moana.
Butet pun beranjak duduk di samping Moan, seraya menghela napas panjang.
"Kenapa si Moana? Buat kesal kau dia?" Tanya Moan lagi.
"Tah hapa nya anak kau bang, dah lah.. gak usah bahas si Moana," Ucap Butet yang terlihat semakin kesal.
"Memang apa kata si Moana? Kok jelek kali mukak mu ku tengok," Tanya Moan dengan rasa penasaran, sekaligus merasa lucu saat melihat wajah Butet yang terlihat memerah.
"Aku bilang, gak usah di bahas! Gak jelas anak kau itu!" Butet mendelik kan kedua matanya dan memasang ekspresi wajah yang kesal.
"Iya.. iya.." Sahut Moan, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah jumpa? Lama kali!" Tanya Butet, prihal postingan teman Moan.
"Tah lupa aku. Udah lama jugak," Ucap Moan, yang mulai terlihat putus asa.
"Postingan kawan kau yang biang kerok itu gak? Mana tau tah si Nella itu sodara lakiknya kawan kau yang biang kerok itu," Ucap Butet, seraya meraih gelas berisi teh, yang sengaja Moan buatkan untuk Butet, saat istrinya itu sedang berada di kamar Moana.
Moan tampak berpikir sejenak. Lalu ia pun kembali meraih ponselnya.
"Kek nya memang iya," Celetuk Moan.
"Masak? Cok carik!" Ujar Butet yang tampak bersemangat.
"Si Choky kan? Kita bukan pesbuknya," Ucap Moan, seraya membuka profil medsos Choky.
"Udah lama dek, jadi kita harus scroll jaoh kali ke bawah." Keluh Moan.
"Eehhh.. Moan.. Kek baru men medsos aja kau. Foto kan?"
"Iya," Sahut Moan, seraya menatap Butet dengan wajahnya yang terlihat polos.
"Tinggal kau buka foto. Nah kau carik di situ. Kalok postingan, jauh lah kau scroll nya!" Ucap Butet.
Perlahan Moan tersenyum seraya menatap Butet dengan seksama.
"Ini yang aku sukak darimu dek. Selaen cantek, pintar kali kau," Puji Moan.
Butet mencebikkan bibirnya. Lalu ia ikut menatap layar ponsel Moan dengan seksama.
"Alay kali pun si Choky. Tah apa-apa aja dia posting. Bh nenek tetangga nya pun di posting sama dia," Keluh Moan, seraya terus mencari foto yang ia maksud.
"Dari mukak mukaknya memang gak beres kawan kau itu bang! Kau aja mau bekawan sama dia. Heran aku!" Protes Butet.
"Nah! Ini!" Seru Moan, seraya menunjukkan foto Choky bersama dengan Nella dan juga anak-anak mereka.
"Cok tengok," Butet meraih ponsel Moan, seraya memperhatikan wajah wanita pada foto tersebut.
"Ih! Iya bang! Ini si Nella. Kok bisa sama kawanmu itu?" Tanya Butet.
"Gak kau tengok caption nya ini? Binik nya si Nella itu rupanya. Patut lah, waktu itu pas nengok foto orang ni, aku sempat juga ngebaten. Ku piker pernah nengok biniknya, tapi di mana, lupa aku. Ku piker, memang pernah jadi pelanggan cafe. Jadi gak ku apakan kali," Ucap Moan.
Butet membaca caption yang tertera pada foto tersebut.
'Selamat hari minggu untuk kawan-kawan semua. Edisi liburan sama istri dan anak'
"Oh iya nya! Baru tau aku lakik si Nella!" Wajah Butet tampak begitu terkejut.
__ADS_1
"Memang gak pernah si Nella posting tentang lakiknya?" Tanya Moan, mencoba memastikan kembali.
"Kalau pernah, pasti aku udah tau dia lakik si Nella, pas aku jumpa sama si Choky di rumah bang Rozy!"
"Iya jugak ya," Moan mengangguk paham.
"Jadi dia yang kirem foto aku sama kau dek?" Tanya Moan lagi.
"Iya," Jawab Butet.
"Sibuk urus rumah tangga orang, gak tau dia lakiknya ada di dalam tempat karoke itu sama cewek-cewek!" Sesal Moan.
"Memang sebenarnya si Choky itu kek mana bang?" Tanya Butet yang semakin penasaran atas tingkah suami Nella yang sebenarnya.
"Aku kan udah cerita. Dia jugak datang temui kau di rumah bang Rozy. Dia ngaku kan kalau itu sebenarnya salah dia. Dia pinjam hape aku, karena hape dia drop. Nah, rupanya dia donlot aplikasi Men_Creet itu. Pesan dia cewek. Memang rencana orang-orang ni gak mau pulang, mau nya maen sama cewek-cewek kek gitu. Pas dia udah pesan, kau telepon. Nah, aku angkat lah. Kau mintak aku pulang dek, teros pas jugak orang tu mau pulang. Tapi memang udah setengah tenggen orang itu, nah.. lupa si Choky itu lanjutkan chat dia sama cewek itu. Aku pun, ku kira si Choky udah selese. Jadi dia udah uninstall. Kan pikir ku udah tukaran nomor hape lah orang ini. Jadi aku maen pulang aja, karena kau udah nunggu aku pulang. Rupanya belom, jadi akulah yang kau amok." Terabg Moan panjang lebar.
Butet terlihat sedikit merasa bersalah. Namun ia lebih berpikir tentang Nella yang selalu memuji kesetiaan suaminya.
"Gak akan selingkuh suamiku itu. Hape nya selalu aku cek! Aku sterilkan dari kontak-kontak perempuan! Ngumpol pun sama laki-laki aja, kawan geng motornya!"
Butet tertawa geli, saat mengingat ucapan Nella.
"Rupanya lakik binik biang kerok! Patut lah cocok!" Moan menggelengkan kepalanya.
"Eh, tapi ingatku, kau bilang postingan si Nella kek janda. Apa iya? Bukannya biasanya perempuan lebih sering posting tentang keluarganya?" Tanya Moan.
"Iya bang, gak percaya kau? Nah, kau tengok lah postingan si Nella." Butet pun menyerahkan ponselnya kepada Moan.
Dengan cepat Moan meraih ponsel Butet dan melihat-lihat postingan Nella, beserta caption yang di sertakan Nella pada postingan media sosialnya.
"Omakjanggg.. ngeri ya," Komentar Moan, setelah ia melihat-lihat postingan Nella.
"Aku sempat ngebaten juga bang. Apa dia lagi ada masalah sama lakiknya. Tapi ku tengok si Nella ini masik kek gadis aja. Kemana-mana sendiri dia. Dugem pun masih mau dia," Terang Butet.
"Betol nya?" Tanya Moan.
"Sumpah aku bang. Dia cakap sendiri sama aku! Tapi kek mana-mana nya aku gak tau bang. Dia cuma cerita sampek di situ aja,"
"Keknya orang-orang ini cuma sibuk sama dunianya masing-masing. Jadi kek gitu orang ni," Sambung Butet.
Moan menatap Butet dengan seksama. Lalu ia tersenyum dan mengusap pipi Butet dengan lembut.
"Tet, kita sudah ada kesepakatan kan. Kalok siap liburan ini, kita carik tau kebenarannya. Aku berani sumpah kalok aju gak salah. Aku jugak berani bersumpah pakek Alkitab. Apa pun yang kau mintak, untuk membuktikan aku gak salah, aku berani, Tet. Apa yang aku bilang semua fakta."
"Teros?" Tanya Butet dengan memasang ekspresi yang datar.
"Cemana kita jumpa berempat sama si Choky dan biniknya."
"Alahh.. mana mau si Choky jujor kalau ada biniknya. Gak akan mau dia! Mau sumpah pakek kitab Sun Go Kong pun gak akan mau dia jujor. Carik kesibukan rupanya kau?" Ucap Butet dengan ekpresi wajah yang terlihat kesal.
"Kalok kek gitu, cemana kita buat orang ni ribot jugak. Dendam kali aku bah!"
"Maksud kau bang?" Tanya Butet yang tidak paham dengan maksud ucapan Moan.
"Kau bilang kelakuan si Nella kek gitu. Tau nya lakik nya?" Tanya Moan.
Butet tampak berpikir sejenak.
"Kek nya gak tau bang. Soalnya Nella bilang, lakiknya ini jarang kali pulang. Makanya dia bebas kali. Tapi apa iya kek gini cara kita bang? Apa gak hancur juga rumah tangga orang lain?" Tanya Butet.
__ADS_1
"Tapi apa tanpa si Choky bersumpah pun kau percaya nya sama aku?" Tanya Moan, seraya menatap Butet dengan seksama.
Butet membalas tatap Moan, namun ia tidak mampu berkata-kata.
"Tapi, mau di biarkan pun, enak kali orang ini. Udah buat aku amper aja cere sama binik ku. Tapi orang ni gak dapat ajab!" Keluh Moan.
Dan suasana pun hening. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Jadi cemana dek?" Tanya Moan, setelah lima belas menit merek saling diam.
Butet menatap Moan dengan seksama.
"Dek, kek mana caranya supaya kau percaya. Bersumpah pake Alkitab pun aku berani, dek. Satu yang ada di pikiran ku saat akau menikahi kau dek. Mungkin kau gak pernah tau hal ini,"
"Apa itu bang?" Tanya Butet.
Moan meraih tangan Butet dan menggenggamnya dengan Erat.
"Di depan Tuhan, aku bersumpah. Kau yang pertama dan yang terakhir. Hanya tiga orang wanita yang aku cintai di dunia ini. Pertama mamak ku, kedua kau, yang ketiga Moana. Aku punyak anak perempuan dek, aku gak akan buat karma untuk dia. Itu bukti ku, kalok aku mencintai Moana. Aku percaya karma dek. Segala perbuatan buruk akan di balas buruk. Aku gak mau anak ku, keluargaku kenak dampak dari kelakuan ku yang negatif," Ucap Moan, dengan sorot mata yang terlihat begitu bersungguh-sungguh.
"Betol nya kau bang?" Tanya Butet, seraya menahan air matanya.
"Demi Tuhan dek! Mati aku hari ini kalok aku nipu kau!" Ucap Moan dengan bersungguh-sungguh.
"Aku gak bisa cakap manis-manis dek, kau tau aku dari dulu kek apa. Kalok gak fakta, gak cakap aku dek," Sambung Moan lagi.
Butet menghela napas panjang. Memang ia sangat mengenal Moan yang memang apa adanya sedari dulu. Dan hal itu tidak pernah berubah dari sosok Moan sendiri.
"Kau percaya sama aku kan dek?" Tanya Moan dengan sorot mata yang terlihat begitu memohon.
"Kasi aku waktu ya bang. Bukan aku gak percaya samamu. Tapi memang aku butuh waktu. Hal yang paling sulit aku lakukan bukan aku gak mempercayai orang lain. Tapi membuat diriku sendiri percaya untuk memberikan kepercayaan bang," Ucap Butet.
"Gak papa dek, yang penting kau mau percaya sama aku. Sikap kau balek kek dulu sama aku. Aku udah cukup senang." Ucap Moan.
"Masalah di Choky sama biniknya.. biar kita selesaikan orang tu.. biar tau jugak kek mana rasanya ajab!" Sambung Moan dengan geram.
"Bang, masalah ajab bukan kita yang ngasi. Jugak bukan urusan kita bang. Tapi serahkan aja sama Tuhan. Kalok memang busuk kali orangtu, kenak sendiri nya dia," Ucap Butet.
"Iya lah dek. Aku nurut kau aja. Tapi tentang kita kek mana?" Tanya Moan lagi.
"Kau masih mau sama aku?" Tanya Butet seraya menatap Moan dengan seksama.
"Mau kali lah!" Seru Moan dengan ekspresi wajah yang terlihat bersemangat.
"Kau dekati aku lagi, kau buat aku luluh. Siaptu, jalan lagi kita. Biar kau tau, kalok salah kau, gak semudah itu dapatkan aku lagi!" Ucap Butet.
Moan tercengang mendengar syarat dari Butet.
"Semalam kau kan udah luluh sama aku.." Ucap Moan, seraya menahan tawanya.
"Luluh sebentar bang! Gak sampek lima menit!" Ucap Butet, seraya menjulurkan lidahnya dan beranjak dari duduknya.
"Omak! Penghinaan ini! Mau kemana kau dek!"
"Mau tidor aku!"
"Oh tidak bisa!" Seru Moan, seraya mengejar Butet yang sedang berjalan menuju ke kamarnya. Lalu dengan cepat Moan menggendong tubuh Butet dan membawanya ke dalam kamar.
"Bang! Apa nya kau!"
__ADS_1
"Aku buktikan aku bisa setengah jam sekarang!" Ucap Moan, seraya tertawa terbahak-bahak.
"Moaaaaann! Gilak kau!" Jerit Butet.