
"Mak...! Mamak!"
Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!
Butet yang masih tertidur, samar mendengar panggilan Moana, di susul suara ketukan di pintu depan rumah kost.
"Mak! Mamak!"
"Masih tidor kek nya dia pak.." Keluh Moana.
"Dek..! Ooo Dek!" Panggil Moan, seraya mengetuk pintu depan rumah kost tersebut.
"Ng..." Butet membuka kedua matanya dan menatap ke arah jendela kamar. Terlihat bias cahaya yang menembus dari celah daun jendela yang terbuat dari kayu tersebut.
"Udah pagi rupanya." Batin Butet.
"Mak...! Mamak!"
"Dek... Oooo dek.."
Panggil Moana dan Moan.
"Ya.." Sahut Butet, seraya beranjak dari ranjangnya.
Butet berjalan keluar dari kamarnya, seraya merapikan rambutnya yang tampak berantakan. Setelah Butet sampai di depan pintu, ia pun bergegas membukakan pintu rumah kost tersebut untuk anak dan suaminya.
Cahaya silau mentari pagi membuat Butet memicingkan kedua matanya, saat pintu itu baru saja terbuka.
"Ha.. baru bangun mamak ya. Kemana mamak semalam? Gak pulang mamak? Aku nunggu mamak loh.." Keluh Moana.
"Maaf lah ya nak. Asik kali mamak cakap sama tante Sri itu lah." Butet terlihat sangat menyesali perbuatannya kepada Moana.
"Kek gitu lah mamak. Kalok udah sama kawannya, ha.. gadak lagi.. awak berakkk di celana pun gak peduli dia." Keluh Moana, seraya menyelonong masuk ke dalam rumah.
Butet terdiam mendengar ucapan Moana. Ia hanya dapat menatap punggung Moana yang berjalan ke arah dapur rumah kost tersebut.
"Mandi kau ya nang..." Ucap Butet.
"Iya.. ini kan mau mandi aku mak..!" Sahut Moana dari arah dapur.
Butet menghela nafas panjang dan melemparkan pandangannya kepada Moan yang sedari tadi menatap dirinya.
"Mau kerja kau bang?" Tanya Butet.
"Sebentar lagi. Ini aku bawakkan sarapanmu, dek," Ucap Moan, seraya menyerahkan sebungkus penuh jajanan pasar kepada Butet.
Butet menatap Moan sejenak. Lalu dengan ragu, ia pun menerima pemberian Moan tersebut.
"Kau udah sarapan nya bang?" Tanya Butet.
"Udah tadi, sama si Moana." Jawab Moan yang masih berdiri di depan pintu.
"Ng.. yodahlah.. berangkat lah kau lagi bang," Ucap Butet, seraya hendak menutup pintu rumah kost tersebut.
"Tet, tunggu dulu. Masih lamanya aku berangkatnya. Kan cafe buka jam sepuluh. ini jam berapa? Masih jam delapan nya." Cegah Moan, seraya menahan pintu rumah kost tersebut.
"Terus mau apa kau bang? Ini kost putri loh.."
"Tapi kita lakik binik." Tegas Moan.
Butet terdiam, memang tidak ada larangannya bila Moan mendatangi dirinya kapan saja. Karena di rumah kost tersebut, hanya Butet lah satu-satunya penghuni di sana.
"Eh, dek. Kek mana cerita semalam?" Tanya Moan.
Butet menghela napas panjang dan menatap Moan dengan seksama.
"Masok lah kau dulu bang. Gak enak di luar, nantik dengar pulak si Cempaka. Gak enak loh.. kita ceritakan abangnya dia," Ucap Butet, setengah berbisik.
Moan tersenyum dan bergegas membuka sepatunya.
"Masok abang ya dek," Ucap Moan, seraya melangkah masuk ke dalam rumah kost tersebut.
"Iya..." Sahut Butet.
Lalu mereka berdua duduk berhadapan di sofa ruang tamu.
"Eh bang, mau kopi kau? Aku mau buat teh ini.." Tanya Butet.
__ADS_1
"Eh, udah mulai dia nawarkan aku kopi. Omakjanggg... udah ada lah kemajuan ini." Batin Moan.
"Eh, boleh kali lah dek." Sahut Moan dengan bersemangat.
"Ya udah, tunggu dulu ya," Ucap Butet, seraya beranjak ke dapur.
"Ish.. bahagia kali aku!" Batin Moan, seraya tersenyum sendiri.
Setelah beberapa menit, Butet pun muncul dari arah dapur, dengan membawa baki berisi segelas kopi dan dua gelas teh, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Moana yang sedang mandi.
"Minumlah bang," Ucap Butet, seraya menghidangkan kopi tersebut di atas meja.
"Makasih ya istriku. Udah lama kali aku gak di layani kau dek. Udah hampir nya dua bulan."
Butet menatap Moan dengan tatapan datar, lalu ia beranjak duduk di hadapan Moan.
"Abang minum ya dek. Ini kopi ternikmat yang selalu abang rindukan loh," Ucap Moan, seraya meraih gelas kopi tersebut dan menyeruputnya dengan perlahan.
"Banyak kali lah cakap mu bang.. bang."
"Eh, serius ini loh," Ucap Moan, seraya berekspresi begitu menikmati kopi buatan Butet.
"Halah..!" Butet mengibaskan tangannya di hadapan Moan. Lalu ia meraih salah satu jajanan pasar yang Moan belikan untuk dirinya.
"Ngomong ngomong, makasih lah ya, udah di belikkan aku sarapan pagi."
"Sama-sama dek. Eh, cemana nya cerita semalam?" Tanya Moan.
Butet menghela napas panjang dan menatap Moan dengan seksama.
"Eh bang, aku nengok si Dewa itu tah cemana ya..."
"Kenapa rupanya dia?" Tanya Moan, yang semakin penasaran.
"Rupanya setiap malam, dia itu pulang bang. Tapi, gak berani masok."
"Maksudnya?" Tanya Moan lagi.
"Ish.. kau gak tau ya cerita awalnya.."
"Oh iya lah. Aku cerita dulu. Tapi jan kau potong."
"Iya.. cok, cerita lah kau. Biar tau pulak aku, kenapa sebenarnya. Siapa perempuan itu. Siapa anak kecel itu," Ucap Moan.
Butet pun langsung menceritakan kejadian yang telah di alami oleh Sri, tanpa terkecuali. Moan tampak terkejut dengan semua fakta yang baru saja ia dengar. Pasalnya, Moan berpikir bila Dewa tidak akan pernah melakukan hal seperti itu kepada Sri. Karena selama ini, dalam kaca mata Moan, Dewa termasuk suami yang di perbudak cinta. Bahkan Dewa tidak segan segan untuk memperlihatkan kemesraan dirinya dan Sri di depan Moan dan sahabat mereka yang lainnya.
"Ish.. tekejot kali abang dek.." Ucap Moan, seraya mengusap dadanya.
"Itulah, aku pon sama lah. Tapi, ada yang buat aju kasian sama si Dewa dan Sri."
"Apa itu dek?" Tanya Moan, penasaran.
"Sri itu katanya nasih cinta. Mau cere dia bingung. Sedangkan Dewa, dia lebih aneh lagi bang..."
"Aneh kenapa pulak?" Tanya Moan yang terlihat begitu antusias.
"Dia bilang dia gak pernah kek gitu sama binik mudanya. Tapi, pas di test DNA, hasilnya itu anak dia. Apa gak bongak si Dewa itu?"
Moan terdiam dan tampak berpikir keras.
"Jadi anak siapa? Cobak kau piker dulu bang!" Sambung Butet.
"Jadi dia datang kerumah perempuan itu? Terus, tiba-tiba dia numpang tidor? Terus gak sadarkan diri. Terus tiba-tiba udah kek gitu?" Tanya Moan.
"Iya. Eh, ada yang mau ku tanyak dulu samamu."
"Apa?" Tanya Moan.
"Kalok pingsan karena di kasih minuman itu, apa bisa bediri adek kecil laki-laki itu?" Tanya Butet.
"Hah?" Moan terlihat bingung akan menjawab apa.
"Jawab lah bang, jan purak-purak bongak kau bang." Desak Butet.
"Kek mana? Kek mana?" Tanya Moan lagi.
"Ish.. capek aku cakap lah. Gini, kalok pingsan karena di kasikan obat dalam minuman, apa iya adek kecil laki-laki itu bisa bediri sendiri dia?" Butet mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Ng..." Moan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jawablah cepat..!" Desak Butet.
"Bisa dek. Laki-laki kan beda dek. Lagi tidor aja bisa. Kecuali di kasikan obat bius di sekitar situ. Baru itu nya yang pingsan." Terang Moan.
Butet mengangguk paham. Lalu ia mengerutkan keningnya.
"Jadi, ada kemungkinan memang si Dewa nya aja yang gak sadar ya. Tapi adeknya sadar, gitu?" Tanya Butet.
"Iya, bisa jadi. Tapi tergantung ya..., Abang gak bilang kalau itu memang anak si Dewa. Tapi liat kondisi jugak dek. Kalok dia di kasikan minum, ada obatnya. Pas dia lagi gak fit badannya, ya sama aja bohong. Belom tentu jugak bisa tegak itu gigik mobilnya." Terang Moan.
"Iya ya.." Butet mengangguk paham.
"Jadi cemana ini bang. Ada rencana kami lah." Sambung Butet.
"Apa itu?" Tanya Moan.
Butet pun langsung memberitahukan rencananya dengan Sri, kepada Moan.
Moan mengangguk paham dan menatap Butet dengan seksama.
"Kau paham kan bang maksudku?" Tanya Butet.
"Paham aku dek. Tapi kau paham gak maksudku dek?" Tanya Moan kembali.
"Hah? Yang mana?" Butet terlihat bingung, pasalnya dia tidak mendengar penjelasan apapun dari Moan sebelumnya.
"Sini ku bisekkan dulu," Ucap Moan, seraya menarik tangan Butet, agar Butet mendekat kepadanya.
"Apa bang?" Tanya Butet dengan polosnya.
"Tadi kau nanyak, masalah adek bisa berdiri. Ini berdiri dia."
"Maksud kau?" Tanya Butet, seraya menatap Moan dengan seksama.
"Adek ku berdiri, silaturahmi kita yok. Udah hampir dua bulan loh." Moan tersenyum malu-malu.
"Eh! Pigi kau sanan! Orang lagi serius, di ajaknya pulak bikin adek si Moana. Pigi kau! Malas aku cerita sama kau lagi!" Teriak Butet.
"Eh, kok marah kau dek?"
"Pigi kau Moaaaaannn! Baru aja melunak aku sama kau, kau ajak pulak aku menegang! Jijik kali aku nengok kau! Pigi kau!"
"Yah.. marah pulak. Maksudku baek loh dek.." Moan terlihat merasa bersalah.
"Gadak cerita! Tah apa aja kelakuanmu itu! Pigi lah kau sanan. Udah jam sembilan ini loh!"
Moan melirik arlojinya, lalu ia pun beranjak dari duduknya.
"Iya, iya, jijik kali kau rupanya samaku?"
"Tah hapa nya kau! Aku lagi serius, tah apa-apa aja yang kau cakapkan. Muak pulak aku!" Butet terus mengomel.
Moana yang baru saja selesai berpakaian pun menatap kedua orang tuanya yang tampak sedang bersitegang.
"Ha, berantam lagi? Jodoh kelen ku rasa," Ucap Moana, seraya beranjak duduk di atas sofa ruang tamu.
"Ish.. diam lah kau nang!"
"Pekak telinga ku kelen buat ya.. Masok SD nantik aku, kek nya perlu aku ke THT dulu." Keluh Moana.
"Ha! Pigi kau bang! Nantik ke THT pulak si Moana!"
"Iya... iya..." Moan pun beranjak keluar dari rumah kost itu dan dengan cepat memakai sepatunya.
"Moana, bapak pigi dulu ya. Baek-baek kau ya boruku," Ucap Moan.
"Iya pak.." Sahut Moana.
"Dek pigi dulu aku ya," Ucap Moan, dengan wajah yang memelas.
"Ya udah pigi kau sanan! Jangan lupa belik sabon buat adekmu!" Ucap Butet seraya menutup pintu rumah kost tersebut.
Moan pun melangkah dengan gontai. Sedangkan Butet, terlihat begitu emosi. Namun, pada akhirnya ia pun tersenyum sendiri.
"Ish, di tularin si Moan pulak gilaknya sama aku. Jadi senyum-senyum tanpa sebab pulak aku." Keluhnya, setelah menyadari dirinya tersenyum senyum sendiri.
__ADS_1