
Satu bulan lamanya, Dewa tak lagi merespon apa pun tentang Grazia. Pun dengan nomor telepon Grazia yang juga sudah ia blokir. Dewa kembali ke kehidupannya, yaitu membahagiakan Sri dan Ardi. Namun suatu hari, ia mendapatkan pesan di sertai gambar sebuah testpack bergaris dua, dari nomor yang tak ia kenal.
Apa kabar mas? Semoga kamu baik-baik saja. Aku kemarin ke Dokter, karena aku demam. Ternyata aku hamil anakmu. Maaf bila mengabari kamu hal yang mungkin kamu tidak percaya. Tetapi ini adalah darah dagingmu mas. Bisakah kita bertemu untuk membicarakan hal ini. Orang tuaku juga ingin bertemu denganmu.
Grazia.
Hampir saja Dewa menjatuhkan ponselnya, karena ia sangat terkejut mendapatkan berita kehamilan Grazia.
Dewa terlihat panik. Namun hatinya berkata, Grazia hanya ingin mempermainkan dirinya. Maka dari itu, ia pun mencoba mengabaikan pesan dari Grazia.
Namun tidak hanya sampai di situ saja. Grazia seakan menggila. Bahkan orang tua Grazia dan orang suruhannya sampai mencari Dewa ke kantornya. Untuk menghindari konflik dan malu yang terjadi di kantor, Dewa pun memutuskan untuk menemui Grazia dan kedua orangtuanya.
Sudah sebulan lebih, Dewa tidak pernah menginjak rumah Grazia. Namun hari ini ia terpaksa harus datang karena ancaman dari orang suruhan orangtua Grazia. Dewa di sambut dengan sangat baik, walaupun ada masalah yang tidak mengenakkan antara kedua belah pihak.
Dalam persidangan keluarga tersebut, ternyata orangtua Grazia sudah menyiapkan pengacara dan juga dua orang anggota polisi. Seakan terjebak, mau tidak mau Dewa pun menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bila dirinya akan bertanggung jawab dan menikahi Grazia.
Hancur. Ya, itulah yang Dewa rasakan saat ini. Bahkan ia tidak merasa pernah berbuat hal itu pada Grazia. Namun hal ini menyeretnya dengan konsekuensi yang tidak main-main. Mulai dari hukum, rumah tangganya yang terancam bubar dan juga anak yang tengah di kandung oleh Grazia. Dewa hanya takut menyesal, bila ia tidak mengakui anak itu adalah darah dagingnya, bila ternyata dirinyalah yang alpa.
__ADS_1
"Kamu tidak mau kan bila masalah ini sampai di telinga istrimu?" Ancam papinya Grazia.
Dewa terdiam membisu. Ia sangat takut kehilangan Sri. Bagaimanapun, Sri adalah wanita yang sangat sempurna di mata Dewa.
"Ja-jangan pak," Dewa terlihat panik dengan ancaman tersebut.
"Kalian harus menikah. Saya tidak mau tahu." Tutup papinya Grazia. Seraya berlalu begitu saja dari hadapan Dewa yang hendak berpamitan pulang, setelah sidang keluarga berakhir."
Kini Dewa hanya mampu pasrah. Penyesalan terus menyerang dirinya. Ia begitu menyesali bila ia pernah merespon dan dekat dengan Grazia, walaupun tidak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu.
Namun begitulah faktanya. Lelaki berkeluarga, tidak boleh merespon teman atau bersahabat dengan wanita. Itu sama saja membuka peluang untuk memberikan perhatian yang membuat orang lain berharap lebih. Perhatian dan hal-hal kecil mampu menumbuhkan perasaan kagum dan cinta. Hal itu akan memancing obsesi yang berlebihan dari lawan jenisnya.
Hingga saat ini, hubungan Dewa dan Sri hanya sebatas demi anak mereka satu-satunya, yaitu Ardi. Walaupun Dewa sudah menjelaskan yang sebenarnya, hingga Dewa bersujud dan mencium kaki Sri. Namun Sri belum bisa menerima kenyataan itu.
Sri pun tidak pernah mau lagi di sentuh oleh Dewa. Bahkan Sri sudah berniat ingin menceraikan Dewa. Namun lagi-lagi ia berpikir tentang psikologi Ardi yang begitu dekat dengan Dewa. Mungkin Sri mampu memikul rasa sakit, namun tidak dengan anaknya yang pasti akan kecewa kepada dirinya bila ia menggugat cerai Dewa.
Kini sudah berbulan-bulan hal itu Sri ketahui. Ia hanya bisa menerima kenyataan sendirian tanpa mampu menceritakan masalah yang sedang ia hadapi kepada siapapun, termasuk kedua orangtuanya dan sahabatnya. Sri hanya mencoba menikmati rasa sakitnya sendiri, tanpa berniat untuk memberitahu siapapun.
__ADS_1
Namun diamnya Sri seakan surga bagi Grazia. Wanita itu terus menerus memiliki alasan yang membuat Dewa terpaksa harus tinggal di rumahnya. Yang paling utama adalah, alasan anak yang di lahirkan Grazia. Anak perempuan yang mengenal Dewa adalah bapaknya.
Dewa tidak mau tinggal diam. Setelah Kimberly lahir, Dewa pun mencoba mengambil sempel rambut Kimberly untuk di periksa DNA nya. Namun lagi-lagi hasil DNA membuat Dewa terdiam, Kimberly memang benar anaknya. Hal itu cukup membuat Dewa merasa semakin hancur dan dengan terpaksa membagi cinta dan kasih yang tadinya hanya untuk Sri dan Ardi, kini harus di berikan juga untuk Kimberly.
*
Setelah Ardi tertidur, Dewa pun beranjak ke kamar Sri. Ternyata kamar tersebut sudah Sri kunci, tanda Sri tidak ingin di ganggu. Sejak pernikahan keduanya di ketahui oleh Sri, mereka sudah tidak lagi sekamar. Sri mengeluarkan pakaian Dewa dari lemari dan menaruhnya di depan pintu kamar tersebut. Dengan terpaksa, akhirnya Dewa menempati kamar tamu dan menyusun pakaiannya di lemari kamar tamu.
Dewa kembali melangkah ke ruang keluarga. Ia termenung di sana, memikirkan bagaimana ia dan Sri dapat kembali seperti dulu lagi. Namun seakan tidak pernah di berikan kesempatan oleh Sri, Dewa hanya mampu menunggu momen itu datang.
Hanya satu yang setiap hari Dewa syukuri, hingga detik ini, kekhawatirannya tidak terjadi. Yaitu menerima gugatan cerai dari Sri. Walaupun Sri kerap mengatakan hal yang berbau perpisahan.
*
Di kediamannya, Grazia juga termenung di ruang keluarga. Sudah hampir dua tahun ia menikah dengan Dewa, namun Dewa tidak pernah menyentuh dirinya sama sekali. Hal itu membuat Grazia merasa sedih dan juga kesepian. Setiap Dewa sedang bersama dengannya, jiwa Dewa seakan tidak sedang bersama dengan dirinya. Berbagai alasan sudah Grazia lakukan untuk menahan Dewa dan juga agar Dewa lebih memilih bersama dengannya. Namun semua seakan sia-sia, tanpa membuahkan hasil sama sekali.
Suatu saat, Dewa sudah mulai tergoda dengan Grazia. Namun saat Dewa hendak menyentuh Grazia, Dewa seakan di sadarkan oleh kenyataan, bila Dewa tidak mencintai Grazia. Hal itu membuat Grazia semakin merasa terpuruk. Pasalnya, lelaki mana yang mau menolak dirinya selama ini? Hal itu membuat Grazia merasa tidak menarik di mata Dewa.
__ADS_1
"Bagaimana bila aku temui saja istrinya mas Dewa dan mengakui bila aku adalah istri keduanya mas Dewa. Lalu meminta dia mengalah dan meninggalkan Dewa." Batin Grazia yang merasa sudah tak tahan lagi dengan sikap Dewa yang selalu tak acuh pada dirinya. Karena bila Dewa datang ke rumahnya, Dewa hanya fokus kepada Kimberly. Bahkan bila Dewa menginap di rumahnya, Dewa selalu tidur dengan Kimberly. Selama satu minggu Dewa di rumah, tidak sekalipun Dewa mau berlama-lama menatap dirinya apalagi menyentuhnya.
"Aku memiliki dirimu, namun tidak utuh mas." Gumam Grazia, seraya mulai terisak karena merasa tersiksa oleh keadaan.