Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Eksekusi Rencana


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Butet sudah berada di depan komplek perumahan milik Grazia. Bersama dengan Moana, putrinya, Butet duduk di dalam mobil sambil mengawasi akses pintu keluar dan masuk di komplek tersebut.


"Mak, ngapain kita di sini?" Tanya Moana.


"Adalah, kau makan aja dulu sarapanmu itu." Jawab Butet.


"Ish mamak, aku nanyak loh. Ngapain kita, kek mata-mata mamak ku tengok," Ucap Moana.


Butet menatap Moana yang sedang menatap dirinya. Lalu ia tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Tanda ia benar-benar takjub dengan kecerdasan berpikir putrinya tersebut.


"Darimana kau tau mamak kek mata-mata?" Tanya Butet.


"Mamak kek detektif Conan yang di komik komik itu loh ku tengok. Sama kek di pilem pilem jugak." Jawab Moana.


"Tau tauan kau, cok kau jabarkan dulu. Memang kek mana detektif itu?" Tanya Butet lagi, dengan ekspresi yang terlihat bersemangat.


"Ya, pertama mamak selalu liat ke sanan." Moana menunjuk akses keluar masuk gerbang perumahan Grazia.


"Terus?" Tanya Butet, seraya tersenyum.


"Iya, mamak pakek kaca mata itam. Terus kek orang yang sedang mengawasi. Tau nya aku mak." Jawab Moana.


"Ish.. memanglah kau pintar kali. Kau mewarisi kecerdasan mamak." Butet tersenyum puas, seraya mengecup puncak kepala Moana.


"Apa yang bisa ku bantu mak?" Tanya Moana.


Butet mengerutkan keningnya dan menatap Moana dengan seksama.


"Hmmmm..." Butet tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan putrinya tersebut.


"Biar kita kek rekan gitu mak." Desak Moana.


"Ish.. kepandean kali kau memang." Butet tertawa geli, lalu ia kembali menatap gerbang komplek tersebut.


Tiba-tiba saja Butet melihat mobil milik Dewa, keluar dari komplek perumahan tersebut. Dengan cepat, Butet meraih ponselnya dan menghubungi Sri.


Tak butuh waktu yang lama, Sri langsung menerima panggilan dari Butet.


"Halo," Sapa Sri.

__ADS_1


"Eh, dia udah keluar dari perumahan itu. Sekarang waktunya kau siap-siap sama rencana kita," Ucap Butet.


"Siap Tet." Sahut Sri.


......................


Rencana Butet dan Sri


Setelah pembicaraan yang panjang antara Sri dan Butet pada malam itu, mereka pun sepakat untuk mencari fakta yang sebenarnya dan juga mencoba untuk mencari titik terang atas keraguan Sri untuk berpisah dengan Dewa. Maka mereka berdua memiliki rencana untuk mencari tahu semua kegiatan Grazia, saat Dewa tidak ada di rumahnya.


Bagaimana caranya?


Tentu saja Butet meng-handle Grazia, dan Sri meng-handle Dewa.


Bagaimana cara Butet meng-handle Grazia dan mencari tahu kegiatan wanita itu? Tentu saja dengan cara memata-matai Grazia dan juga mendekatkan diri dengan wanita itu.


Sedangkan tugas Sri adalah, membuat Dewa betah di rumah dan menjadi teman bicara Dewa. Walaupun berat, karena Sri masih ada emosi dengan Dewa, namun Sri sepakat untuk melakukannya. Karena Sri ingin semua ini bertemu titik terangnya.


Pagi-pagi sekali, Sri sudah mengirim pesan kepada Dewa, yang memancing Dewa untuk segera pulang ke rumah. Sri semalaman memutar otak untuk membuat Dewa pulang. Cara satu-satunya adalah, Sri berpura-pura sakit dan menginginkan Dewa untuk di rumah menemani dirinya dan Ardi.


"Selamat pagi mas, aku sakit dan saat ini aku sangat membutuhkan mas Dewa ada di rumah. Bisakah mas Dewa pulang? Tolong temani Ardi, aku benar-benar merasa pusing dan butuh istirahat. Kasihan Ardi, bila ia terus bersama dengan si bibik. Sepertinya dia juga sangat membutuhkan mas Dewa."


Selama ini Sri memiliki ego yang begitu tinggi. Ia belum pernah begitu memohon kepada Dewa, agar Dewa menemani dirinya di rumah, setelah mereka bertengkar. Sri hanya pernah meminta Dewa untuk berada di rumah saat weekend dan itu hanya tentang Ardi, bukan tentang dirinya sendiri. Namun saat ini, Sri memohon untuk Dewa menemani dirinya dan Ardi. Tentu saja, Dewa merasa sangat di butuhkan oleh Sri. Maka Dewa memutuskan untuk pulang lebih awal. Meskipun ia harus melewati pertengkaran terlebih dahulu dengan Grazia.


...----------------...


Di luar rumah terdengar bunyi mesin mobil Dewa yang baru saja tiba. Sri yang mengintip dari balik jendela pun segera bergegas ke kamarnya dan berbaring di ranjangnya. Sedangkan Ardi sedang sarapan bersama dengan asistennya.


Sri sengaja tidak memakai make-up, agar ia terlihat begitu pucat. Sri juga sengaja memakai piyama agar ia terlihat benar-benar berada di atas ranjang semalaman.


Dewa yang baru saja memarkirkan mobilnya pun segera memasuki rumahnya. Di dalam rumah terlihat begitu sepi, hingga ia langsung menuju ke kamar Sri. Dengan wajah yang terlihat panik, Dewa langsung membuka pintu kamar Sri dan menghampiri Sri yang terkulai lemah di atas ranjang.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Dewa, seraya menempelkan punggung tangannya di dahi Sri.


"Aku lemas sekali mas," Jawab Sri.


"Tetapi, badanmu tidak panas," Ucap Dewa.


"Iya, tidak panas. Tetapi aku lemas sekali." Keluh Sri.

__ADS_1


"Kita ke Dokter ya. Atau aku hubungi saja Dokter untuk memeriksa mu." Tegas Dewa, seraya langsung meraih ponselnya.


"Mas, tidak perlu." Cegah Sri.


"Lalu?" Tanya Dewa yang terlihat semakin khawatir.


"Aku hanya ingin makan."


Dewa tertegun saat mendengarkan ucapan Sri.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Dewa.


"Aku rindu nasi goreng buatanmu," Ucap Sri.


Dewa tampak terlihat terkejut. Ia tidak menyangka bila Sri mengatakan hal itu kepada dirinya. Pasalnya selama mereka memiliki masalah, tidak sekalipun Sri pernah lagi membahas hal-hal romantis ataupun hal yang di rindukan Sri atas diri Dewa. Tentu saja Dewa merasa terharu. Seperti memiliki harapan baru, ia pun segera menggulung lengan kemejanya dan bergegas untuk membuatkan nasi goreng untuk Sri.


"Aku akan membuahkan nasi goreng untuk kamu. Apapun itu akan aku lakukan, asal kamu mau makan," Ucap Dewa, seraya beranjak dari duduknya.


Mendengar ucapan Dewa, Sri seakan menemukan sosok Dewa yang dulu. Sudah lama sekali Dewa dan dirinya tidak sedekat itu. Sudah lama juga Dewa tidak pernah berlaku romantis lagi dengan dirinya. Bukan karena Dewa tidak mau melakukannya, hanya saja Sri tidak memberikan kesempatan itu kepada Dewa. Namun hari ini, diam-diam Sri menyadari, bila ia pun merindukan masa-masa itu dengan Dewa.


"Mas," Panggil Sri, saat Dewa hendak meninggalkan kamarnya.


"Ya?" Dewa menoleh dan menatap Sri dengan seksama.


"Terima kasih banyak," Ucap Sri, dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Dewa menghela napas panjang dan kembali menghampiri Sri.


"Anytime. Apapun, aku akan lakukan untukmu. Asalkan berikan aku kesempatan itu," Ucap Dewa.


Sri terdiam, ia terus menatap kedua mata Dewa yang terus memandangi dirinya dengan raut wajah yang tampak begitu khawatir.


"I love you," Ucap Dewa, seraya mengecup kening Sri. Lalu Dewa pun beranjak keluar dari kamar Sri, untuk membuatkan sepiring nasi goreng, sesuai permintaan wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.


Sri terdiam. Kata cinta yang telah lama tidak lagi ia dengar, kini terucap dari bibir lelaki yang masih ia cintai itu. Namun Sri tidak berani untuk membawa kata-kata cinta itu kembali ke perasaannya yang terdalam. Sri hanya takut untuk kecewa, bila ternyata kata itu hanya sekedar kata-kata saja. Pasalnya, Sri masih belum begitu yakin bila Dewa benar-benar jujur kepada dirinya. Sri akan yakin bila Dewa benar-benar jujur kepada dirinya, bila terbukti bila anak dari Grazia, bukanlah anak kandung Dewa.


Bila hal itu terbukti, Sri akan melakukan apa saja untuk membebaskan Dewa yang sebenarnya hanya korban dari Grazia. Termasuk membebaskan Dewa dari hal yang ternyata menyiksa bagi suaminya tersebut. Darimana Sri tahu Dewa sangat menyesal dan merasa begitu tersiksa? Sejak Sri menyaksikan sendiri, bila hampir setiap malam, Dewa mendatangi rumah Sri hanya untuk menyesali apa yang telah terjadi dan menangis di depan rumah mereka. Hal itu menyadarkan Sri, bila apa yang Dewa katakan kepadanya, patut di pertimbangkan kebenarannya.


Dan hari ini, ia memberikan kesempatan itu kepada Dewa, dengan melancarkan rencananya bersama dengan Butet. Bila semua tidak sesuai dengan ekpektasinya, Sri sudah sangat siap untuk melepaskan Dewa. Karena seorang pembohong, akan terus berbohong untuk mengamankan dirinya sendiri. Dan Sri tidak akan mau menjadi orang bodoh lagi atau berperan menjadi istri yang berusaha untuk menerima kenyataan, hanya karena ANAK.

__ADS_1


__ADS_2