Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Orang-orang yang membalut lukanya sendiri


__ADS_3

"Hallo, Assalamu'alaikum," Sapa Dewa melalui sambungan telepon.


"Waalaikumsalam, mas," Sahut Sri.


"Sayang, maaf, semalam aku tidak sempat menghubungi kamu."


"Tidak apa mas," Jawab Sri, dengan suara yang agak sengau.


"Eh, kamu kenapa? Kamu pilek?" Tanya Dewa.


"Iya sepertinya. Tetapi tidak apa kok mas, aku baru saja minum obat." Jawab Sri.


"Oh begitu. Ya sudah, kamu beristirahat saja ya. Aku pulang agak siangan."


"Ng... mas..."


"Ya?"


"Ba-bagaimana kabar Kimberly?" Tanya Sri dengan ujung suara yang tercekat.


"Hmmm, nanti aku ceritakan ya. Tunggu aku di rumah. "


"Ba-baiklah mas," Jawab Sri, seraya memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing.


"Ya sudah, sampai jumpa."


"Sampai jumpa mas, hati-hati nanti di jalan ya.."


"Iya, terima kasih ya sayang,"


"Sama-sama mas.."


Percakapan melalui sambungan telepon itu pun berakhir. Sri meletakkan ponselnya di atas ranjang dan kembali memijat pelipisnya. Semalaman suntuk Sri tidak dapat tidur, ia menunggu kabar dari Dewa yang tak kunjung menghubungi dirinya. Ia juga berharap Dewa pulang pada tadi malam dan ternyata, ia harus rela menelan pil pahit dengan tidak pulangnya Dewa dan memilih untuk tinggal di rumah sakit. Sebenarnya Sri tidak dapat marah kepada Dewa. Karena ia sangat sadar, bila saat ini hubungannya dengan Dewa masih abu-abu. Selama Kimberly belum terbukti bukan darah daging Dewa, Sri tidak memiliki hak apapun untuk menahan suaminya.


"Ya Gustiiii... begini banget rasanya," Keluh Sri, seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Mbok... Pak... Anakmu kini butuh pelukan dan kekuatan. Tetapi sialnya aku gak iso cerito sama kalian. Nasib ku kok begini nemen yo pak mbok.." Batin Sri.


Bagaimanapun itu, Sri tidak mampu untuk bercerita pada siapapun tentang masalahnya, kecuali Butet. Ia bercerita kepada Butet pun, karena Butet sudah lebih dahulu mengetahui hubungan Dewa dengan Grazia. Andaikan Butet tidak memergoki Dewa dan Grazia di taman hiburan, mungkin Sri tidak akan pernah memberitahukan Butet tentang masalahnya.


Sri tipe wanita yang membalut lukanya sendiri. Itulah mengapa semua masalahnya membuat tubuh Sri semakin kurus, karena masalah itu terus menerus ia pikirkan seorang diri, yang membuat dirinya tidak dapat tidur dengan nyenyak dan juga makan dengan lahap. Hampir dua puluh empat jam, semua masalah itu berputar di dalam otaknya. Meskipun terasa mengganggu, namun Sri berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan tetap bersikap tenang. Itulah mengapa, hanya orang yang memiliki perasaan yang peka lah yang langsung paham, saat melihat tubuh Sri yang kian hari semakin mengurus.


Sri mencoba memejamkan kedua matanya yang terasa perih, karena belum tidur semalaman suntuk. Namun suara-suara berisik di otaknya terus menggema. Putaran kejadian demi kejadian yang membuat dirinya tertekan terus tampil di kedua matanya, walaupun saat ini kedua matanya tengah tertutup rapat. Akhirnya Sri kembali membuka kedua matanya dan mendengus kesal.


"Diammm! Berhentilah! Aku butuh tidur dan beristirahat!" Teriaknya dengan putus asa.


Namun justru hal-hal itu terus menghantui benaknya. Akhirnya Sri memutuskan untuk tidak tidur dan kembali meraih ponselnya.


"Butet... di mana kamu?" Batin Sri, seraya mencoba menghubungi Butet.


.


Butet tengah termenung di meja makan. Di hadapannya berjejer beberapa jenis lauk yang baru saja ia masak bersama dengan asisten rumah tangganya. Namun, tidak seorang pun memakan masakannya, kecuali Moana yang sedang makan di hadapannya.


"Mak.. o... mak.."


Butet yang sedang termenung, pun tersadar dari lamunannya. Lalu ia menatap Moana yang tengah menatap dirinya dengan seksama.


"Mamak kok gak makan?" Tanya Moana.


"Nantik aku makannya." Jawab Butet.

__ADS_1


"Kusot kali ku tengok mamak ni lah. Kenapa rupanya mamak? Banyak tunggakan cicilan panci sama inang-inang rupanya?" Tanya Moana.


"Asal aja cakapmu! Mana pernah mamak ngutang panci sama inang-inang!"


"Teros, mamak kenapa? Apa mamak miker bayar uang masok SD aku, mak?" Tanya Moana lagi.


"Astaga, mulut mu itu ya nang! Tajam kali kek piso dageng!" Celetuk Butet.


"Aku cuman nanyak nya mak. Atoooo, mamak ribot lagi sama bapak?"


Deg!


Jantung Butet berdegup kencang. Lalu ia menundukkan pandangannya dalam-dalam.


"Ha... ribot lagi kelen kan!" Protes Moana.


Butet hanya dapat terdiam dan terus menundukkan pandangannya.


"Ntah apa mau kelen berdua mak. Kok sukak kali kelen ribot."


"Dah lah nang, gosah kau ceramah lagi." Celetuk Butet.


"Kalok kek gini, lama-lama aku mau tinggal aja sama opung lah mak."


Butet mengerutkan dahinya dan menatap Moana, saat Moana mengatakan ingin tinggal bersama dengan kakek dan neneknya.


"Maksudmu apa?"


"Aku masih kecil loh mak, tapi lama-lama dewasa aku nengok kelen," Ucap Moana.


Butet menelan salivanya saat mendengar ucapan Moana.


Dreettt... Dreeettt...!


"Sri? Udah pulang dari holidey dia rupanya?" Batin Butet.


"Nantik kita bicara lagi. Abeskan makananmu ya nang, mamak mau angkat telepon dulu," Ucap Butet pada Moana.


Moana hanya mengangguk dan kembali melanjutkan sarapan paginya. Lalu Butet beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke beranda rumahnya, seraya menerima panggilan telepon dari Sri.


"Halo!"


"Tet,"


"Udah pulang kau?" Tanya Butet.


"Sudah, Tet." Sahut Sri.


"Eh, sebentar dulu. Kok sengau kali suaramu? Habis nanges kau rupanya?" Tanya Butet.


Sri terdiam. Lalu tak berapa lama, ia mulai terisak tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.


"Sri, kau kenapa?" Perlahan intonasi suara Butet pun mulai pelan, untuk menunjukkan rasa khawatir nya pada Sri.


Namun tidak kunjung ada jawaban dari Sri. Sri terus menangis dan meluapkan segala kekecewaannya, walaupun itu semua tanpa kata.


"Sri, di mana kau sekarang?" Tanya Butet.


"Di-di-di rumah, Tet," Sahut Sri.


"Kau butuh aku?" Tanya Butet.

__ADS_1


Sri diam saja, namun ia terus menangis pilu.


"Kemana si Dewa?" Tanya Butet lagi.


"Di-dia lagi di rumah sakit, Tet," Jawab Sri.


"Saket rupanya dia? Saket apa?" Butet tampak semakin khawatir.


"Bu-bukan dia, Tet. Te-tetapi, dia sedang menunggui Kimberly," Jawab Sri.


"Ealahhh...!" Butet mendengus kesal. Lalu ia kembali mencoba untuk memenangkan Sri.


"Kau mau kita jumpa? Aku pun lagi pening ini," Ucap Butet.


"Ka-kamu kenapa, Tet?" Tanya Sri, seraya menghapus air matanya yang terus membasahi pipinya.


"Biasalah, si Moan."


Sri terdiam, lalu ia menghela napas panjang.


"Tet, si Moana lagi ngapain?"


"Lagi sarapan. Si Ardi lagi ngapain?" Tanya Butet.


"Lagi butuh teman dia. Kayaknya kalau kita ketemuan, anak-anak bakalan seneng yo Tet.." Ucap Sri.


"Alasan kali kau! Anak-anak atau kita yang senang?"


"Hehehe, dua-duanya Tet. Halah, koyok gak paham wae!"


"Hihihihi.. iya lah, OTW aku ya!"


"Iyo Tet, tak enteni."


"Siap!"


Sambungan telepon itu pun berakhir, Butet pun segera beranjak kembali menuju ke ruang makan. Terlihat Moana baru saja menyelesaikan sarapan paginya dan gadis kecil itu pun beranjak untuk mencuci piring bekas pakainya.


"Nang," Panggil Butet.


"Apa mak?" Sahut Moana.


"Ke tempat si Ardi kita yok, mumpung kau masih perei. Minggu depan kau udah mulai masok Sd. Jadi gak bisa kita maen-maen lagi," Ucap Butet.


Moana melirik Butet dan mulai mengangguk dengan pelan.


"Pasti mau curhat-curhat kelen kan. Pening kali kek nya jadi orang dewasa. Kalok bisa, kecil aja aku teros!" Batin Moana.


"Ya sudah, siap nyuci pireng, siap-siap kau ya nang. Ganti bajumu."


"Iya makkk.." Sahut Moana.


"Ya udah, mamak mau ganti baju dulu. Nantik ku tunggu kau di depan," Ucap Butet.


"Iya..." Sahut Moana.


Lalu Butet bergegas menuju ke kamarnya. Setelah selesai mencuci piringnya, Moana pun menghela napas panjang.


"Eh, tapi kalok kecil teros aku, pening pulak lah ya. Arghhhh..! Kek mana lah! Serba salah kali rupanya idop itu!" Ucap Moana, lalu ia bergegas menuju ke kamarnya.


.......................

__ADS_1


"Percayalah, bukan hanya orang dewasa yang kerap membalut lukanya sendirian. Tetapi, anak-anak pun kerap melakukan hal yang sama. Mengapa hal itu terjadi? Karena di mata anak-anak, tidak ada kebahagiaan yang tercipta di dalam rumah. Termasuk kedua orang tua yang terus menerus memiliki masalah di dalam rumah tangganya." -De'Rini-


__ADS_2