
"Eh Sri, betol nya kau gak ada masalah?" Tanya Butet saat Siti dan Cempaka sedang menyuapi anak mereka di halaman rumah kost, sedangkan mereka berdua masih berada di dapur. Butet mencuci piring, sedangkan Sri sedang mengepel lantai dapur.
Sri menghentikan kegiatannya beberapa saat dan menatap Butet dengan seksama. Lalu ia menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Ora ono Tet." Jawab Sri.
"Kok aku gak percaya ya," Ucap Butet seraya menatap Sri dengan tatapan curiga.
"Tenan Tet." Jawab Sri, singkat.
"Aku tau nya kau gak enak cakap depan si Cempaka kan? Kek mana pun dia itu adek ipar kau. Cok cakap jujur dulu kau sama aku." Desak Butet.
"Kowe iki Tet. Wis tak kandani, aku loh ora ono masalah." Sri terus mencoba meyakinkan Butet.
"Oh, ya udahlah kalau memang gak ada masalah. Mudah-mudahan aja rumah tanggamu sama bang Dewa awet ya Sri."
"Aamiin." Sahut Sri seraya tersenyum kepada Butet.
"Ya udah, aku juga mau nyuapin si Moana. Mintak makan dia tadi tu. Kau kok gak makan tadi Sri?"
"Aku belum lapar Tet." Sahut Sri.
"Ya udah, aku ke depan dulu ya," Ucap Butet, seraya beranjak meninggalkan Sri sendiri di dapur.
Sri terdiam, lalu menyenderkan punggungnya di tembok pembatas antara dapur dan ruang tamu rumah kost tersebut. Kedua matanya menatap langit-langit dapur, sedangkan nafasnya terasa sesak hingga ia harus menepuk dadanya sendiri.
"Astaghfirullahalazim... Astaghfirullahalazim.." Gumam Sri terus menerus. Lalu ia menghapus air matanya dengan cepat dan mulai kembali mengepel lantai.
*
Di cafe, Moan, Rozy dan Batra masih termenung memikirkan jalan keluar apa untuk masalah Butet dan Moan. Seakan jalan buntu, Rozy pun mulai meremas rambutnya sendiri.
"Arghhh! Pusing gue!" Serunya.
"Sama bang," Sahut Batra.
"Iyah! Jadi kelen pun gak bisa bantu?" Tanya Moan.
"Bukan gak bisa bantu Moan. Tapi, kayak benang kusut masalah lu!" Ucap Batra.
"Jadi cemana?" Tanya Moan.
"Au ah... pusing." Celetuk Rozy.
"Arghhh... kelen aja pening, cemana aku!" Moan ikut meremas rambutnya sendiri.
"Ah...! Gue ada ide nih!" Ucap Batra, dengan senyumnya yang terlihat misterius.
"Apa?" Tanya Rozy dan Moan..
"Lu deketin aja lagi si Butet."
"Caranya?" Tanya Moan dan Rozy secara bersamaan.
"Caranya lu pindah aja ke kosan nyak Komariah."
"Ah gila lu!" Celetuk Rozy.
__ADS_1
"Lah, die sendirian di rumah, mau ngapain? Kali hubungan kalian bisa bersemi kembali gegara pendekatan kayak jaman dulu kan?" Ucap Batra.
Rozy dan Moan terdiam, mereka tampak memikirkan ucapan Batra dengan serius.
"Gimana?" Tanya Batra.
"Apa efektif?" Tanya Rozy.
"Lu kaga bakal tau bang, kalo lu kaga coba."
Rozy kembali terdiam, lalu ia menatap Moan yang masih tampak berpikir.
"Gimana Moan?" Tanya Rozy.
"Memangnya kost nyak Komariah ada yang kosong?"
"Adaaaaa..." Sahut Batra.
"Tau dari mana lu?" Tanya Rozy.
"Tadi gue kan sempat singgah ke rumah nyak Komariah. Gue sempat nanya juga kan, penuh semua ape ada yang kosong itu kost-kostan. Nah, nyak Komariah bilang nih ke gue. Die bilang, kost-kostan lagi pada kosong. Cuma dua pintu doang yang terisi, dua lagi kosong." Terang Batra.
"Oh... gitu..." Rozy mengangguk paham.
"Gimane Moan? Kalo lu tinggal di kost-kostan, kan enak tuh. Lu bisa spy si Butet sama anak lu saban hari. Terus, lu bisa deketin die dah," Ujar Batra.
"Ya elah ribet tau Bat, tinggal datang aje ke kost-kostan kite. Nah tinggal bareng dah," Ucap Rozy.
"Et dah bang... bang... Bini ngambek bang! Lu kira gampang? Langsung di terima gitu? Perang iye malahan."
Rozy dan Moan pun menghela nafas panjang.
Rozy tersentak dan menatap Moan dengan seksama.
"Maksud lu, lu mau gitu tinggal di kostan nya nyak Komariah?" Tanya Rozy, mencoba memastikan.
"Iya bang." Sahut Moan.
"Ya... itu sih terserah elu Moan," Ucap Rozy.
"Nah, jadi lu pindah aja ke rumah nyak Komariah. Terus, malamnya kita pertemukan lu sama si Butet, gimane?" Tanya Batra.
"Ha... boleh tu! Aku juga udah rindu kali sama si Moana." Moan tersenyum semringah.
"Udah dah, deal yak. Ntar malam lu ketemu ama Butet. Kite-kite orang bakal dukung lu Moan. Kite bakal jadi penengah lah." Janji Batra.
"Betol kau ya..."
"Iyeeee.. et dah, kaga percayaan banget lu!" Sahut Batra, seraya meraih gelas kopinya dan menyeruput kopi yang tinggal setengah itu.
"Menurut gue, lebih baik kalau lu bawa juga temen lu yang jadi biang kerok itu, Moan," Ucap Rozy.
"Iya ya bang..." Moan menganggukkan kepalanya.
"Iya, biar dia jelasin ama si Butet. Kalau apa yang lu bilang itu kaga bohong. Sukur-sukur lu berdua langsung baikan. Ye kan..."
"Lah, kalo aku baekan sama si Butet, ngapain pulak aku ngekost?" Tanya Moan.
__ADS_1
"Iyak juga yak..." Rozy tertawa geli dan menepuk dahinya.
"Gini, malamnya sidang dulu.. musyawarah dulu pan. Nah, kalo kaga ada jalan keluar, ya lu ngekost di rumah nyak Komariah. Dengan begitu, elu bisa mantau dah tuh si Butet ama anak elu Moan." Terang Batra.
"Nah.... kek gini lah... encer otak kau ternyata ya Batra." Moan tersenyum puas mendengar solusi dari Batra.
"Hahahaha.. gue gitu loh." Sahut Batra.
"Ok, jadi kita sidang dulu nih ye, ntar malam, ba'da Isya." Rozy mencoba memastikan rencana mereka bertiga.
"Iya bang, siap. Nantik malam aku ke sanan sama si Choky." Sahut Moan.
**
"Tet, Ti... Saya ke rumah dulu ya. Mau tidurkan si Roma," Ucap Cempaka.
"Iyo, pai lah." Sahut Siti.
"Sebentar ya. Nanti kalau si Roma sudah tidur dan bang Rozy sudah pulang, saya teh pasti ke sini lagi." Janji Cempaka.
"Iya Cem." Sahut Butet.
Cempaka pun beranjak menuju ke rumah utama peninggalan almarhumah nyak Tatik. Kini tinggallah Butet dan Siti saja berdua di halaman rumah kost tersebut, seraya memperhatikan buah hati mereka yang sedang bermain bersama.
"Indak taraso yo Tet, anak-anak lah gadang kini," Ucap Siti, seraya tersenyum melihat tingkah polah anaknya dan juga anak para sahabatnya.
"Iya, nanya jugak di kasih makan. Cepatlah besar." Celetuk Butet.
"Bukan modetu Tet. Maksud nyo, waktu terlalu capek berlalu!" Ucap Siti dengan kesal.
"Oh.. bilang lah... Kau pun gak jelas kalok cakap!" Butet tertawa geli melihat Siti yang terlihat semakin kesal padanya.
"Eh, ingat aku. Kau percaya kalau si Sri gadak masalah dia?" Tanya Butet.
Dengan cepat Siti menoleh ke arah rumah kost mereka, untuk memastikan tidak ada Sri di sana.
"Kau gak percaya yo Tet?" Tanya Siti.
"Enggak."
"Samo...! Aku caliak matonyo tu, bantuak menyimpan kesedihan. Kau maraso kan?" Tanya Siti dengan nada suara yang begitu pelan.
"Iya. Kek nya dia purak-purak selo aja. Padahal dia mau nanges ku tengok. Mungkin jugak dia gak enak mau cerita sama kita, karena ada si Cempaka. Gak enak lah dia ada adek iparnya," Ucap Butet.
"Nah... ambo pun bepikia modetu!" Celetuk Siti.
Mereka berdua pun tampak berpikir, seraya terus menatap pintu depan rumah kost mereka.
"Aku yakin kali ada yang di sembunyikan sama si Sri. Tadi pun aku udah nanyak sama dia. Dia bilang gak ada masalah. Macam betol aja pun! Mukak nya gak bisa nipu aku lah..."
"Kira-kira apo yo Tet?" Tanya Siti.
"Mana ku tau! Kau tanyak sendiri sanan!"
"Ish.... kau macam indak tau sajo Tet, si Sri itu kan tertutup orangnya. Samo bantuak si Cempaka."
"Iya ya..., hmmmmm..."
__ADS_1
Kini Butet dan Siti tampak berpikir keras, bagaimana caranya mereka bisa membuat Sri bercerita prihal rumah tangga sahabatnya itu. Meskipun Sri bersikeras mengatakan bila rumah tangganya baik-baik saja, namun para sahabatnya tidak bisa mempercayainya. Pasalnya tubuh Sri yang terlihat lebih kurus dari biasanya, serta wajahnya yang terlihat seperti sedang mempunyai pikiran yang sangat berat itu dapat di tangkap oleh para sahabatnya.