Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Antara Sri dan Kimberly


__ADS_3

Grazia terlihat begitu cemas, saat menyaksikan Kimberly yang tengah di tangani oleh dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama saat Kimberly berteriak kesakitan, saat dokter mengambil sample darah Kimberly melalui jarum suntik yang di tancapkan di lengan batita itu.


"Huaaaaa...!" Kimberly yang tengah dipegangi oleh beberapa suster lagi-lagi berteriak kesakitan, membuat Grazia memejamkan kedua matanya karena merasa tidak tega saat melihat putrinya menahan rasa sakit dari jarum suntik tersebut.


"Bu, kita tinggal menunggu hasil pemeriksaan darah dari Kimberly. Jadi untuk sementara, kami hanya memberikan penanganan untuk demam nya saja. Kami juga terpaksa harus memberikan infus untuk Kimberly, mengingat panas demamnya yang begitu tinggi." Terang dokter anak yang sedang menangani Kimberly.


"I-iya dok, terima kasih," Ucap Grazia, seraya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah bu, kami permisi dulu. Bila hasil lab nya keluar, kami akan kembali lagi untuk penanganan selanjutnya. Tetapi, selama menunggu hasil lab keluar, nanti suster akan sering mengontrol keadaan adik Kimberly." Terang dokter itu lagi.


"Iya dok," Sahut Grazia.


Setelah itu, dokter dan para perawat nya pun meninggalkan Grazia, Kimberly dan suster pengasuhnya untuk menangani pasien lainnya yang berada di ruang unit gawat darurat tersebut. Kini Grazia hanya mampu menatap Kimberly dengan tatapan iba. Sedangkan sang suster perawat nya, mencoba menenangkan Kimberly yang masih menangis karena baru terkena jarum suntik.


Grazia menatap ponselnya, saat ini ia berharap bila Dewa kembali menghubungi dirinya setelah tahu bila ia menghubungi Dewa sampai puluhan kali. Ternyata harapannya hanya harapan kosong, Dewa tidak menghubungi kembali dan juga tidak mengiriminya pesan apapun. Dengan raut wajah yang terlihat kesal, Grazia pun mencoba mengirimkan pesan kepada Dewa.


Kamu di mana? Sekarang ponselmu sudah aktif, berarti kamu sudah kembali ke Jakarta. Tolong angkat teleponku. Kimberly sakit dan sekarang ada di ruang UGD rumah sakit! Kamu sadar gak sih, kalau kamu punya anak juga di sini! Jangan utamakan anak istrimu saja! Aku juga istrimu dan Kimberly juga anakmu! Aku gak ngerti lagi sama kamu mas! Kalau kamu tidak menyukai aku, setidaknya kamu harus bertanggung jawab sama Kimberly! Kimberly butuh sosok kamu mas!


Sekarang juga aku minta kamu ke rumah sakit! Aku tidak menerima alasan apapun! Pokoknya kamu harus ke rumah sakit dan melihat anakmu yang sakit! Kalau tidak, aku akan datang ke rumah kamu!


Grazia mengirim pesan tersebut dengan napas yang terlihat begitu berat. Lalu ia menunggu hingga pesan darinya di baca oleh Dewa. Namun setelah sekian menit berlalu, pesan darinya belum juga di baca oleh Dewa. Hal itu membuat hati Grazia menjadi panas karena menahan emosi yang begitu membara.


"Sialan! pasti dia takut dengan istrinya! Aku harus memberikan pelajaran untuk mas Dewa!" Batin Grazia.


.


Ting!


Bunyi pesan masuk di ponsel Dewa, membuat hati Sri bergetar. Lagi-lagi ia menatap ponsel Dewa yang di layarnya keluar notifikasi pesan dari Grazia. Rasa penasaran Sri begitu bergelora, hingga mendesak dirinya untuk meraih ponsel Dewa dan membaca pesan tersebut.


Tangan Sri gemetar saat ponsel Dewa berada di tangannya. Dengan ragu, ia mulai membuka ponsel Dewa yang memang tidak pernah memiliki kata sandi atau di kunci rahasia. Dewa selalu terbuka masalah isi di dalam ponselnya. Namun hal itu juga yang membuat Sri tidak pernah ingin atau berusaha untuk mengecek ponsel Dewa. Karena bagi Sri, bila tidak ada rahasia di ponsel suami, sudah pasti ponselnya tidak pernah dalam posisi terkunci. Namun kali ini, untuk pertama kalinya, Sri memberanikan diri untuk membaca pesan yang di tujukan untuk suaminya tersebut.


Sri terdiam saat membaca pesan dari Grazia. Hatinya begitu hancur tanpa mampu ia lukiskan. Bayangkan saja, seorang istri tengah membaca pesan dari istri lain suaminya. Hal itu tidak pernah terbesit sedikitpun di pikiran Sri, namun saat ini hal itu telah terjadi kepada dirinya. Apa lagi saat ini Sri sedang membaca keluhan dan laporan tentang Kimberly, yang di curigai anak dari Dewa.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


Sri terkejut, hingga ia hampir saja menjatuhkan ponsel Dewa. Sri menatap Dewa yang sedang berdiri di ambang pintu kamar, seraya menatap dirinya dengan seksama.


"Ng... mas.." Dengan cepat, Sri meletakkan ponsel Dewa di atas ranjang dan beranjak berdiri dengan ekspresi wajah yang terlihat pasrah menunggu reaksi dari suaminya tersebut.


Dewa berjalan menghampiri Sri dan menatap ponselnya yang terlihat menyala. Lalu ia kembali menatap Sri dengan seksama.


"Kamu baca apa?"


Di luar dugaan Sri, ternyata Dewa tidak memarahi dirinya karena telah lancang membuka ponselnya. Justru Dewa bertanya dengan suara yang terdengar begitu lembut di telinga Sri.


"Ng.. anu.. itu.. hmmm.."


"Kamu penasaran sama isi ponselku?" Tanya Dewa.


Sri menundukkan pandangannya. Ia mulai merasa bersalah dengan Dewa.


Dewa pun meraih ponselnya dan membuka ponsel tersebut. Saat Dewa membuka ponsel itu, langsung terlihat pesan dari Grazia yang baru saja di baca oleh Sri. Dewa menatap Sri sejenak, sebelum ia membaca pesan yang Grazia kirimkan untuknya. Setelah membaca pesan itu, Dewa pun menghela napas panjang dan duduk di tepi ranjang dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.


Dewa mendongak dan menatap dengan seksama ke kedua manik mata Sri. Lalu ia kembali menundukkan wajahnya.


"Ng... kalau... kalau mas mau ke rumah sakit, tidak apa-apa."


Dewa tidak mampu berkata-kata, saat mendengar ucapan Sri.


Sri beranjak duduk di samping Dewa. Lalu ia mengusap pundak Dewa dengan lembut.


"Dari pada dia ke sini bikin ribut, kalau Ardi tahu, bukankah hal itu akan berdampak buruk untuk Ardi?"


Dewa menatap Sri dengan tatapan yang merasa bersalah dan perasaan yang malu.


"Te-tetapi... aku sudah janji padamu..."

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa mas. Anggaplah saat ini Kimberly memang darah dagingmu. Bila kamu tidak bisa menganggap itu, anggaplah ini perbuatan baik mu untuk sesama."


Ucapan Sri, sukses membuat Dewa merasa semakin malu. Hal itu justru membuat dirinya merasa tidak ada satupun kekurangan dari sosok wanita yang telah ia nikahi bertahun-tahun yang lalu itu.


"Te-tetapi.."


"Mas, aku mengizinkan." Potong Sri.


Dewa tertunduk malu. Antara perasaan Sri dan juga merasa kasihan pada Kimberly, membuat Dewa menjadi bimbang. Sekali lagi ia mencoba menatap kedua mata Sri yang terlihat begitu tulus kepada dirinya.


"Pergi lah. Tidak apa-apa, aku di sini menunggumu tanpa adanya amarah. Jangan lupa, kabari aku tentang kondisi Kimberly," Ucap Sri, seraya tersenyum kepada Dewa.


Seluruh tubuh Dewa gemetar, lalu ia mengangkat tangannya dan mencoba untuk menyentuh pipi Sri. Belum sampai tangannya menyentuh pipi Sri, Sri sudah menyambut tangan Dewa dan meletakkannya di pipinya. Sri memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan getaran di tangan Dewa dan mencoba meyakinkan Dewa dan mencoba menyampaikan kepada Dewa bila dirinya baik-baik saja, andai Dewa menyusul Kimberly dan Grazia ke rumah sakit.


"Kamu yakin?"


Pertanyaan Dewa, sukses membuat hati Sri terkoyak. Namun Sri tidak dapat menyalahkan Dewa, karena ia lah yang meminta Dewa untuk menyusul Kimberly fan Grazia ke rumah sakit.


"Aku yakin. Pergilah dan jangan lupa memberiku kabar," Ucap Sri dengan senyuman yang hampa.


"Baiklah kalau begitu."


Dewa mengecup kening Sri dan beranjak dari duduknya. Lalu dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil jaketnya.


Sri hanya dapat menatap Dewa dengan tatapan hampa. Terlihat jelas di mata Sri, bila Kimberly saat ini sama pentingnya dengan Ardi, anak mereka. Namun Sri tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum hasil tes DNA itu keluar dan menyatakan bila Dewa bukanlah ayah biologis dari anak tersebut.


"Aku pergi dulu. Kamu tidur duluan saja, jangan menunggu aku," Ucap Dewa, seraya kembali mengecup kening Sri.


"Iya mas," Sahut Sri, seraya tersenyum.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam," Jawab Sri, seraya menyaksikan kepergian Dewa yang terlihat begitu tergesa-gesa.

__ADS_1


Tangisan Sri pun pecah, seiring bunyi deru mobil Dewa yang mulai meninggalkan halaman rumah mereka.


"Tuhan, aku sudah tidak mengerti lagi." Batin Sri.


__ADS_2