
Dreettt..!
Dreettt..!
Dreettt..!
Cempaka melirik ponsel milik Rozy yang berdering di atas meja. Lalu ia menghampiri ponsel tersebut dan menatap layar ponsel itu.
"Batra?" Batin nya.
Lalu ia membawa ponsel tersebut ke dalam kamar, untuk menberikannya pada Rozy yang baru saja selesai sholat Isya.
"A'," Panggil Cempaka.
Rozy menoleh dan menatap Cempaka dengan seksama.
"Ya?" Sahut Rozy, yang masih duduk di atas sajadah.
"Ada telepon dari Batra," Ucap Cempaka, seraya menyerahkan ponsel tersebut kepada Rozy.
Rozy mengerutkan keningnya dan menerima ponsel tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum," Sapa Rozy.
"Waalaikumsalam, bang," Sahut Batra.
"Apa kabar lu? Gimana di sana?" Tanya Rozy, seraya beranjak dari sajadah nya dan melangkah menuju ke ruang depan untuk duduk di sofa.
"Kabar baik bang. Di sini... hmmm.. ya gitu deh," Jawab Batra.
"Gitu deh gimana?"
"Hmmm, bang. Sebenarnya gue gak enak mau minta bantuan lagi sama lu. Cuma..."
"Cuma apa?" Tanya Rozy.
"Gini bang. Mertua gue masuk rumah sakit."
"Hah! Kenapa?" Tanya Rozy, penasaran.
"Kena stroke bang." Jawab Batra. Lalu ia terdiam beberapa saat.
"Ya Allah, terus?" Tanya Rozy, yang kini memasang wajah yang tampak khawatir.
"Bang, lu tau kalau gue baru kerja. Hmmm, ini juga sebenarnya gue gak enak sama atasan gue. Besok harusnya gue balik ke Jakarta dan langsung kerja bang. Cuma ada musibah ini. Ya, namanya musibah, gue gak bisa apa-apa," Ucap Batra, dengan ujung suara yang tercekat.
"Iya, gue paham." Sahut Rozy.
"Hmmm, bang. Gue gak tau mau gimana lagi. Gue hanya punya lu bang," Ucap Batra.
Rozy terdiam dan mencoba mendengarkan keluh kesah adiknya yang sedang di dalam kesulitan.
"Gue tau juga, kalau gue baru aja kemaren berhutang sama lu, bang. Sebenarnya gue benar-benar merasa gak enak hati. Tapi mau gimana lagi. Gue bener-bener gak gablek duit bang. Duit juga sisa untuk pulang ke Jakarta. Ini aja tiket pesawat sudah hangus, karena gak bisa di return. Gue terpaksa batalin penerbangan bang, soalnya gue gak mungkin ninggalin bini gue sendirian, ngurus dua anak sama ngurus nyokapnya yang kena stroke. Mana bapak nya baru aja meninggal. Abangnya kaga peduli," Terang Batra.
Rozy menghela napas panjang dan mencoba memahami Batra.
"Ya, gue paham. Jadi kerjaan lu gimane?" Tanya Rozy.
"Ya itu bang, terpaksa gue lepas aja. Memang terkesan bodoh sih. Tapi gue gak mau menyesal lagi bang. Kemaren gue udah cukup bodoh dan akhirnya gue kehilangan nyak, tanpa sempat melihat dia terakhir kali nya, bang."
__ADS_1
Rozy kembali menghela napas panjang. Lalu ia terdiam mengingat betapa hancurnya Batra, saat datang dan melihat nyak Tatik sudah terbujur kaku.
"Terus gimane?" Tanya Rozy.
"Hmmm, bang, kalau bagi orang Minang, rumah warisan itu kan turun menurun buat anak perempuan bang. Jadi, abangnya si Siti, kaga mau bantu. Gue pengennya sih bawa bundo ke Jakarta. Tapi lu tau sendiri, bundo kek apa sama gue." Terang Batra.
"Iya. Terus, dia gak mau ke Jakarta?" Tanya Rozy lagi.
"Tetap gak mau bang. Barusan gue habis bicara sama bundo. Tapi malah gue di maki-maki." Terdengar suara Batra sedang menahan ke sedihannya.
"Lu dapet mertua lebih horor daripada valak, emang." Celetuk Rozy.
"Huss! Bang, jangan gitu apa.. Gitu-gitu, mertua gue," Ucap Batra.
"Iyeee... maap dah maap. Lah terus gimane, dia kaga mau ke Jakarta. Terus rumahnye kaga ada yang mau memperbaiki. Anak sendiri kaga gablek mau tau sama ortu nye. Terus lu udeh lepasin kerjaan lu. Duh.. begini amat nasib lu dah, Tra!"
"Gak apa bang. Kerjaan bisa di cari. Rezeki kaga kemane. Yang penting, gue bisa buat anak bini gue nyaman dan aman kalau ada gue. Gue juga bisa ada buat mertua gue, walaupun dia kagak anggap gue ada."
Ucapan Batra, sukses membuat Rozy terdiam. Rozy baru menyadari, bilaa adiknya tersebut memiliki hati yang begitu tulus dan sangat menyayangi keluarganya.
"Ya udeh, kalau memang itu keputusan lu. Jadi, sekarang lu mau apa?" Tanya Rozy.
"Bang.. mohon maaf sebelumnya ye. Tapi gue benar-benar butuh banget bantuan lu."
"Iyak, lu ngomong aje. Lu mau minjem berape?" Tanya Rozy lagi.
"Gue bukan mau minjem bang."
"Lah terus?" Rozy terlihat bingung dengan ucapan Batra.
"Kan gue punya jatah warisan kan yak?"
"I-iyak. Terus?" Tanya Rozy.
"Gini bang. Kayaknya, gue memutuskan untuk menjual jatah gue aja bang. Gue mau memulai hidup di sini aja sama anak istri dan juga mertua gue bang." Terang Batra.
"Ah, lu gila..!" Rozy memijat pelipisnya. Ia tak percaya atas keputusan yang telah di buat oleh Batra.
"Jangan bercanda ah lu, Tra! Lu mau kerja apaan di sono? Bukan lebih baik di Jakarta aje? Terus lu kira gampang maen jual-jual warisan? Butuh waktu lama, Tra!"
"Bang, gue gak ada pilihan, bang. Dari tadi gue udah mikir, gue harus apa dan gimana. Tapi, akhirnya gue nemuin jawaban, kalau lebih baik gue jual aje warisan bagian gue. Terus gue bangun lagi rumah di mari dan gue lanjutin usaha almarhum bapak mertua gue. Gue juga mulai berpikir untuk buat usaha lain nya bang. Mungkin ini jalannya, gue kaga usah kerja, tapi gue usaha bang. Kerja gue makan gaji, loyalitas gue buat perusahaan. Sedangkan buat keluarga aje, waktu gue sulit. Kalau gue usaha, insya Allah bisa maju bang, kalau gue gigih. Dan waktu gue bisa gue bagi-bagi sendiri untuk anak bini dan juga mertua gue di mari." Terang Batra.
Rozy benar-benar tidak habis pikir. Ia hanya bisa terdiam membisu.
"Tra, tapi ini warisan dari enyak babe kita, Tra. Lu kaga sayang? Kalau lu mau minjem uang, gue kasih. Tapi buat jual... kek nya gue kaga bisa, Tra."
"Bang, gue minta tolong bang. Apa artinya gue dapat warisan, cuma gue ndok-ndokin aja, kaga ada gunanya. Lagi pula, gue jual bukan buat foya-foya bang. Gue mau memulai hidup bang! Dan gue yakin, enyak sama babe bakal ridho, bang. Lagi pula, kalau gue gak jual, gue kaga bakal bisa bayar hutang sama elu." Terang Batra.
"Jadi, gue minta tolong sama lu, bang. Pinjemin gue duit sepuluh juta lagi aja. Terus, lu jual bagian gue dan hasilnya, lu potong hutang gue bang. Sisanya lu transfer." Pinta Batra.
Rozy masih bergeming. Satu sisi, ia merasa iba pada adiknya. Satu sisi lagi, ia mwrasa tak rela untuk menjual warisan orang tuanya. Walaupun yang di jual itu adalah hak Batra.
"Bang," Panggil Batra.
"Ya?"
"Gimane? Gue bener-bener minta tolong bang," Ucapan Batra begitu memelas.
Rozy menghela napas panjang. Lalu ia memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar merasa bimbang atas keputusan apa yang harus dia ambil.
__ADS_1
"Kalau lu ke Jakarta, lu nanti gak ada bagian lagi. Lu semakin jauh dari kami. Gue gak mau begitu, Tra," Ucap Rozy.
"Bang, kita gak akan jauh bang. Gue benar-benar merasa keluarga itu adalah hal yang terpenting bagi gue. Jadi lu kaga usah khawatir. Gue kaga bakal hilang bang. Nanti kalau gue ada uang, gue bakal beli lagi rumah di Jakarta. Jadi, gue bakal sering ke Jakarta, bang. Lu juga kalau liburan bisa ke mari, bang." Batra mencoba untuk meyakini Rozy.
"Tra.."
"Ya bang?"
"Gue cuma punya uang lima ratus juta. Anggap aja lu jual itu warisan sama gue. Suatu saat, kalau lu mau nebus, lu tebus dah dengan harga yang sama. Gue gak mau lu susah, gue juga gak bisa melepaskan warisan daei enyak dan babe. Kalau lu secinta itu sama keluarga, gue bener-bener salut sama lu. Selama ini gue bukan gak pernah mau tau atau gak mau bantu elu. Gue hanya pengen lu jadi laki-laki bertanggung jawab. Karena memang setelah babe kaga ada, gue lah yang jadi pengganti babe di rumah. Gue yang harus didik elu dan adek-adek laen nya. Kalau hari ini lu ngomong begini, jujur, Tra, gue metasa sukses jadi abang. Gue merasa lu emang bener-bener lakik dan imam yang baik."
Batra terdiam mendengar ucapan Rozy.
"Tra, gue langsung transfer besok yak. Gue percaya sama lu. Kalau emang ini jadi jalan lu, semoga lu sukses dan jauh lebih baik di sana. Gue ikut mendoakan yang terbaik untuk lu. Tapi inget satu hal, lu punya keluarga di mari. Jangan pernah lupakan kami. Inget apa kata enyak dan babe, walau tinggal di ujung berung, atau planet mane pun, kudu inget sama sodara. Terus jalin silaturahmi. Paham lu?"
"Paham bang!" Sahut Batra.
"Ya udeh. Lu tenang dah ini malam. Gue urus besok." Tegas Rozy.
"Iya bang." Sahut Batra.
"Hmmm, bang..."
"Apaan lagi?" Tanya Rozy.
"Terima kasih bang. Gue kaga ngarti dah, kalau hidup gue tanpa elu!" Ucap Batra.
"Terima kasih jangan sama gue. Sama Allah sono! Die yang gerakin hati gue. Die yang titipin rezeki di gue, jadi gue bisa bantu-bantu adek-adek gue. Dah, lu istirahat dah. Gue juga mau makan, kesian bini gue udeh nungguin dari tadi."
"Siap bang! Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam," Sahut Rozy.
Percakapan itu pun berakhir. Lantas Rozy pun menghela napas lega dan beranjak dari duduknya. Saat itu juga ia melihat Cempaka yang sedang menatap dirinya.
"Ka-kamu denger semua?" Tanya Rozy, yang merasa tertangkap basah, karena Cempaka yang sedang menatap dirinya.
Cempaka mengangguk dan menghampiri Rozy, dengan terus menatap kedua mata Rozy.
"Maaf ya, aku tidak mendiskusikan ini dulu dengan kamu. Padahal... kamu berhak untuk tau atau di ajak diskusi sebelumnya," Ucap Rozy, yang kini memasang wajah bersalahnya.
"A'a tahu tidak apa yang ada di pikiran saya saat ini?" Tanya Cempaka.
Dengan polosnya, Rozy menggelengkan kepalanya.
"Saya teh bangga, jadi istri a'a. Dari dulu, saya teh merasa beruntung, jadi bagian dari keluarga ini. A'a dan keluarga a'a teh baiiik banget. Terutama enyak. Nyak teh sukses mendidik anak-anak nya untuk saling suport. Bahkan, walaupun nyak sudah gak ada. Tapi nyak teh sukses menanamkan hal itu sama anak-anak nya."
Rozy menatap Cempaka dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Saya teh ingin seperti nyak. Anak-anak nya tetap damai, walaupun nyak meninggalkan banyak warisan. Di tengah banyaknya anak-anak yang tidak tahu di untung. Malah ribut masalah warisan. Tapi kalian teh malah terus menguatkan. Kalian teh seperti ini, karena kalian punya ibu yang hebat. Kalian teh tahu persis, kedamaian almarhum dan almarhumah di alam sana, adalah kalian yang di tinggalkan di dunia ini, tetap seperti saat mereka masih ada," Ucap Cempaka.
Rozy meneteskan air matanya. Lalu ia tersenyum dan memeluk Cempaka dengan erat.
"Saya juga harus berterima kasih pada ambu. Karena telah melahirkan bidadari sebaik dan secantik kamu, Cem," Ucap Rozy, di tengah rasa haru yang tengah menghinggapi hatinya.
Cempaka tersenyum dengan tulus, lalu ia membalas pelukan Rozy dengan erat.
"Ayo kita makan, a'. Nanti semuanya terlanjur dingin," Ucap Cempaka, seraya melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Rozy, untuk menuju ke meja makan.
Rozy tersenyum, lalu mengangguk dan mengikuti Cempaka untuk menikmati makan malam mereka.
__ADS_1
"Bagi seorang anak, orang tuanya adalah malaikat tak bersayap. Namun bagi orang tua, anak-anak adalah malaikat penolongnya di hari tua, maupun di akhirat." -De'rini-