Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Merenungi kebodohan


__ADS_3

Ting!


Moan terjaga dari tidurnya, karena ponselnya yang ia taruh di samping bantalnya berbunyi. Dengan malas, ia meraih ponselnya dan membuka pesan bergambar yang baru saja ia terima dari Choky.


"Lay, ini binik mu bukan?"


Moan mengerutkan keningnya dan mendownload foto yang di kirimkan oleh Choky.


Saat melihat foto tersebut, sontak saja Moan beranjak duduk, seraya terus menatap foto itu dengan raut wajah yang penuh amarah.


"Di mana kau dapat?" Balas Moan.


Ting!


Tak lama kemudian, Moan mendapatkan balasan dari Choky.


"Aku liat dia masok diskotek." Balas Choky.


Moan mengepalkan tangannya dan menghela napas panjang, untuk meredam emosinya.


"Kasikan aku alamat diskoteknya." Balas Moan.


Tak lama, alamat diskotik itu sudah Moan dapatkan. Lalu ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari.


"Liar kali kau sekarang ya, Tet. Gak pernah pernah kau ke sanan. Tapi sekarang udah mulai kau kenal dunia kek gitu. Ku susol lah kau lagi." Batin Moan, seraya beranjak dari ranjangnya.


Satu jam berlalu. Kini Moan sudah berada di basement parkir diskotik yang di maksud. Tidak ingin menunda waktu, ia pun memasuki diskotik tersebut dan mencoba mencari sosok Butet. Namun pencariannya sia-sia, Butet sudah tidak berada di sana. Pikiran Moan mulai negatif. Ia mulai menerka-nerka apa yang telah terjadi pada Butet. Moan pun mencoba menghubungi Butet.


Sekali...


Dua kali...


Tiga kali...


Namun panggilan dari Moan tak kunjung di terima oleh Butet.


"Kemana lah dia ini! Takot ku kenal dia sama orang jahat kan, di bawaknya tah kemana-mana." Moan benar-benar merasa sangat panik.


Tidak mau putus asa, Moan pun kembali mencoba menghubungi Butet.


"Tuttttt... Tutttt...." Bunyi nada panggil telepon tersebut.


Dengan gelisah, Moan terus menunggu hingga panggilan itu terjawab.


"Halo," Sapa Butet, dengan suara yang terdengar serak.


"Di mana kau! Cok kau bilang dulu! Di mana kau, Butettttt...!"


Butet yang baru saja terjaga dari tidurnya pun beranjak duduk di atas ranjangnya. Lalu ia menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.


"Keras kali kau cakap!" Ucap Butet.


"Di mana kau! Ku susol kau ya! Men maen kau sama aku, Tet! Ingat ya, aku masih lakik kau! Tolong kau hargai itu!" Bentak Moan, melalui sambungan telepon tersebut.


"Kau kenapa? Kok marah-marah kau!" Butet yang merasa terganggu, pun mulai merasa emosi.


"Di mana kau!" Bentak Moan lagi.


"Aku di rumah! Mau apa kau!"


"Tunggu aku di sanan! Awas kau pigi!" Ancam Moan.

__ADS_1


"Eh, ngapain kau malam-malam kemari?"


Tuttt...! Tuttt..!


Sambungan komunikasi itu pun terputus. Kini Butet hanya bisa terperangah dan menatap ponselnya dengan wajah yang bingung.


"Ada apa pulak?" Batinnya.


......................


Hanya butuh waktu tiga puluh menit saja, kini Moan sudah berada di depan rumahnya. Dengan kasar, Moan membuka gerbang rumah dan melangkah menuju ke pintu utama rumah tersebut.


Dorrrr dorrr dorrrr dorrr dorrr!


"Butet!" Panggil Moan, seraya terus menggedor pintu rumah itu.


Dorrrr dorrr dorrrr dorrr dorrr!


"Tet! Buka!" Panggil Moan lagi.


Tak lama kemudian, terlihat lampu ruang tamu menyala dan terdengar langkah kaki Butet mendekat.


Cklek!


Pintu rumah itu pun terbuka. Kini Moan dapat melihat Butet lengkap dengan piyama yang melekat di tubuh istrinya tersebut.


"Dari mana kau?" Tanya Moan, seraya melangkah masuk, tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh Butet.


"Kau kenapa? Kok gilak kali ku tengok kau? Kesurupan kau?" Tanya Butet.


"Jawab, Tet!"


"Ini! Ini kau kan?" Tanya Moan, seraya menunjukkan foto yang di kirim oleh Choky.


Butet terdiam, ia tidak menyangka ada seseorang yang mengambil foto dirinya dan mengirimkannya pada Moan.


"Jawab, Tet! Ngapain kau masok ke sanan? Kau gak pernah kek gini, Tet! Kenapa kau sekarang kek gini!"


Butet masih bergeming. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Jawab, Tet!" Desak Moan.


"Bapak..."


Tiba-tiba saja terdengar suara Moana. Butet dan Moan pun menoleh menatap Moana yang sedang berdiri di antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Moana.." Moan mulai terlihat salah tingkah, saat ia mengetahui bila Moana melihat semua yang terjadi.


"Bapak kok teriak teriak sama mamak? Kok bapak kasar?"


Deg!


Moan terdiam membisu.


Saat itu juga terdengar isak tangis Moana yang memecah keheningan di antara mereka bertiga.


"Kau liat itu!" Ucap Butet, seraya beranjak dari hadapan Moan dan lalu memeluk Moana dengan erat.


Moan menghela napas panjang dan mulai memijat pelipisnya.


"Ma-maafkan bapak, ya Moana..." Moan beranjak mendekati Moana.

__ADS_1


Namun Butet berusaha untuk mencegah Moan.


"Jangan kau dekat Bang! Anak ini masih trauma sama kau!" Ucap Butet.


Moan menghentikan langkahnya dan terdiam mematung.


"Bapak, kalau bapak marah sama mamak. Marah aja pak. Tapi bapak jangan bentak-bentak mamak loh.." Ucap Moana, di sela isak tangisnya.


Moan semakin merasa bersalah, setelah mendengar ucapan Moana.


"Maafkan bapak nak," Ucap Moan dengan nada suara yang terdengar putus asa.


"Aku benci kali nengok kelen berantam terus loh mak, pak. Kalok mau cere kelen, kek mamak bapaknya kawan ku, cere lah. Jan ribooottt berkepanjangan aja kelen. Aku pening loh dengarnya. Udah suara kelen ngeri kali.."


Butet dan Moan terdiam. Mereka berdua merasa malu dengan ucapan jujur dan polos dari Moana.


"Biar selese, gak ada lagi ribot ribot kek gini." Sambung Moana.


"Moana.."


"Dah lah pak, mak, teserah kelen aja lah." Moana beranjak dari hadapan Moan dan Butet. Lalu tak lama kemudian, terdengar pintu kamar di tutup dengan keras oleh Moana.


Brakkkk...!


Kini Butet menatap Moan dengan tatapan yang terlihat begitu marah. Sedangkan Moan semakin merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat. Hal yang membuat Moan merasa sangat menyesal adalah, ia begitu cepat terpancing emosi, kala melihat foto Butet memasuki diskotik. Tidak seharusnya ia mendahulukan emosi, bila ia masih menginginkan Butet sebagai pendamping hidupnya. Dan tidak seharusnya ia membuat keributan pada dini hari ini, karena selain Moana, mungkin saja tetangga juga mendengar keributan yang telah ia lakukan.


"Balek lah kau ke kost mu, bang," Ucap Butet.


Dada Moan terasa begitu sesak. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Tet.. aku.."


"Aku udah gak mau bicara samamu lagi bang," Ucap Butet lagi.


"Tapi, Tet."


"Udah lah bang..."


"Tet, aku hanya mau tau, apa yang kau lakukan di sanan?" Ucap Moan, seraya mengejar Butet yang akan kembali ke kamarnya.


Butet menghentikan langkah kakinya dan menatap Moan dengan kedua mata yang memerah.


"Kalau gak karena si Sri, gak akan ku pijak diskotek bang. Tapi kau kan bisa nunggu besok untuk konfirmasi. Atau kalau kau tedesak kali, kau pun bisa nanyak baek-baek samaku," Ucap Butet.


Moan terpaku, ia terlihat begitu merasa bersalah.


"Ada betolnya kata si Moana, bang. Kalok mau cere, cere lah kita. Jan kek gini teros, aku pun capek."


"Tet, aku gak bermaksud..."


"Udah lah bang. Kek nya memang harus berakhir kita bang. Aku keras, kau pun keras. Gak jumpa di tengah kita bang. Akhiri aja semua, aku udah muak kali."


"Tet, abang gak mau cere dari kau, Tet.."


"Dah lah bang..." Butet pun melangkah menuju ke kamarnya.


"Tet..!" Panggil Moan.


Namun Butet tidak lagi menghiraukan dirinya. Butet memasuki kamarnya dan menutup rapat rapat dan mengunci pintu kamar tersebut.


Kini Moan hanya mampu menyesali apa yang terjadi. Ia benar-benar merasa begitu bodoh. Moan melangkah menuju ke ruang keluarga, dan terduduk di atas sofa. Hidupnya benar-benar merasa hancur, dan kini ia hanya mampu dapat merenungi segala kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2