
Angin bertiup menerpa wajah Sri yang sedang duduk di atas kursi yang terletak di balkon kamar yang ia dan keluarganya tempati. Aroma teh seketika memenuhi rongga hidung Sri, lalu sejurus kemudian, ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Sri menoleh dan mendapati Dewa tengah membawa dua cangkir teh yang baru saja ia bikin untuk dirinya sendiri dan Sri. Dewa pun tersenyum kepada Sri, setelah Sri menyadari ke hadirannya.
"Mas," Sapa Sri, seraya membalas senyuman manis sang suami.
"Aku buatkan kamu teh, untuk menghangatkan tubuhmu," Ucap Dewa, seraya menaruh dua gelas teh tersebut di atas meja. Lalu Dewa pun beranjak duduk di samping Sri.
"Terima kasih mas."
"Sama-sama," Dewa kembali tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Sri.
"Hmmm, Ardi sudah tidur mas?" Tanya Sri, untuk mengalihkan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Rasa yang membuat dirinya semakin yakin bila ia tidak akan pernah sanggup untuk melepaskan lelaki yang telah ia nikahi beberapa tahun silam tersebut.
"Sudah. Sepertinya dia capek. Jadi biarkan dia beristirahat lebih lama. Soalnya besok kita akan kembali ke Jakarta," Ucap Dewa, di iringi dengan senyuman khas nya.
Sri terpana beberapa saat. Senyuman itulah yang pertama kali ia lihat saat ia tidak sengaja bertemu dengan Dewa di depan stasiun Senen, di Jakarta. Senyuman tulus, ramah dan manis tersebut lah yang telah berhasil memikat hatinya. Lalu dengan ragu, Sri melayangkan pandangannya ke depan. Di mana hanya terlihat lampu lampu saja pada malam hari yang cerah ini.
Ya, ini adalah malam terakhir mereka berada di Labuan Bajo. Esok, mereka akan kembali ke Jakarta dan kembali ke rutinitas mereka sehari-hari. Tentu saja ada perasaan tidak rela di hati Sri. Terutama, di Jakarta pasti ada saja gangguan dari wanita bernama Grazia, yang juga wanita yang berstatus istri dari suaminya.
"Kamu kenapa?" Tanya Dewa, seraya menyentuh punggung tangan Sri.
Sri terperanjat dari lamunannya dan menatap Dewa dengan seksama.
"Tidak apa-apa mas," Jawab Sri, seraya mencoba tersenyum dan meraih gelas teh nya. Lalu dengan perlahan, Sri menyeruput teh tersebut. Setelah itu, Sri kembali menaruh gelas teh tersebut di atas meja.
"Mas,"
"Ya?"
"Kamu masih tidak mengaktifkan ponselmu?" Tanya Sri.
Dengan polos, Dewa menggelengkan kepalanya.
"Mamangnya kenapa?" Tanya Dewa.
"Tidak apa. Jadi kamu tidak tahu kabar Grazia?" Tanya Sri lagi.
Ekspresi wajah Dewa pun berubah, saat Sri mencoba menyebut nama Grazia.
"Maaf mas, apa besok kamu ke rumah Grazia?"
Dewa menghela napas panjang dan kembali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sudah bilang, sebelum test DNA itu ada di tanganku, aku tidak akan kembali ke sana." Pungkas Dewa.
Sri kembali terdiam. Lalu ia kembali melemparkan pandangannya ke depan.
"Memangnya ada apa? Kenapa harus membahas tentang dia?" Cecar Dewa.
"Mas.. hmm.. sebenarnya.."
"Apa?" Desak Dewa.
"Sebenarnya dia datang ke rumah kita, saat kita baru saja tiba di sini. Dia membuat keributan di rumah dan sudah dapat di pastikan bila status dia sudah di ketahui seluruh pekerja kita mas," Terang Sri.
Dewa terdiam. ia kembali menghela napas panjang dan lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mas.."
"Kenapa kamu tidak memberitahukan aku?" Tanya Dewa.
"Aku hanya tidak ingin merusak suasana liburan ini mas. Liburan ini kita lakukan untuk anak kita mas." Terang Sri.
Dewa menghela napas panjang dan mencoba untuk mengerti.
"Entah apa maunya, aku tidak mengerti," Gumam Dewa.
"Aku tidak mencintai dia. Dia bertemu denganku setelah aku memiliki kamu dan Ardi. Jadi dia tidak berhak memiliki aku!"
"Mas.."
"Sri, kita sudah membahas ini berkali-kali. Aku harap kamu mengerti. Aku memang menyayangi Kimberly, tetapi aku tidak berharap dia adalah anak ku. Aku hanya mau kamu dan Ardi. Aku hanya mau anak-anak yang terlahir dari rahim kamu. Tidak dengan siapapun!"
Sri kembali terdiam dan menatap wajah Dewa dengan lekat. Lalu ia menghela napas panjang dan menundukkan pandangannya.
"Kalau dia ternyata anakmu, bagaimana?" Tanya Sri.
"Kita sudah membuat perjanjian. Bila memang aku pernah berzina dengan dia, hingga terlahir Kimberly, aku siap untuk merelakan kamu. Namun hingga detik ini, hatiku mengatakan aku tidak pernah menyentuh dia. Aku tidak meminta kamu percaya kepadaku. Aku hanya meminta kamu untuk tidak memikirkan dia atau masalah ini untuk saat ini. Waktu ku tinggal dua minggu lagi. Aku mohon, mari kita isi dengan kebahagiaan."
Sri menatap Dewa dengan seksama, lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Dewa yang masih duduk seraya membalas tatapan Sri dengan ekspresi wajah yang terlihat bersedih.
"Maafkan aku," Ucap Sri, seraya memeluk Dewa dengan erat.
Seketika apa yang tengah Dewa rasakan menghilang begitu saja saat dirinya berada di pelukan Sri. Dewa pun membalas pelukan hangat itu dengan erat.
__ADS_1
"Sayang, aku hanya ingin kamu dan Ardi. Aku mencintaimu lebih dari pada yang kamu tahu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu," Tiba-tiba saja air mata menetes di pipi Dewa. Sri pun melepaskan pelukannya dan berjongkok di depan Dewa. Ia menghapus air mata yang semakin deras membasahi pipi Dewa.
"Aku berjanji tidak akan membalas ini lagi. Setidaknya sampai test itu keluar. Maafkan aku mas," Ucap Sri.
Dewa kembali memeluk Sri dengan Erat.
"Aku juga minta maaf atas segala yang terjadi. Sri, ini malam terakhir kita di sini. Mari kita nikmati dan bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan saja." Pinta Dewa.
Sri mengangguk dan beranjak kembali ke kursinya.
"Kamu tahu, apa yang aku suka dari kamu mas?" Akhirnya Sri berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Tiba-tiba saja Dewa tersenyum, seraya menghapus air matanya.
"Apa?" Tanya Dewa, seraya menatap Sri dengan seksama.
"Senyumanmu, sabarmu, kasih sayangmu, Dewasamu. Tanggung jawab mu dan romantis mu," Ucap Sri.
Dewa kembali tersenyum dan mulai terlihat malu-malu.
"Dan kamu tahu apa yang paling aku suka dari kamu?" Balas Dewa.
"Apa?" Tanya Sri dengan bersemangat.
"Kamu itu dewasa. Kamu itu istri yang baik, pengertian, lembut, tenang, kasih sayangmu, wajah cantik mu, dan yang paling aku suka adalah.."
"Apa?" Potong Sri.
"Melihat kamu bangun di pagi hari," Ucap Dewa.
Sri pun tersipu malu.
"Sayang, sejak hari pertama kita menikah, hingga detik ini, aku selalu berdoa, agar dapat terus melihat kamu di pagi hari. Hanya melihat wajahmu dan senyumanmu di pagi hari, itu sudah cukup membuat hidupku terasa tenang. Di kantor pun aku merasa bersemangat. Itulah mengapa aku merasa tersisa bila tidur terpisah darimu. Aku tak sanggup kehilangan itu semua," Ucap Dewa.
Sri terdiam, lalu ia mencoba mengedipkan kedua matanya berkali-kali, hanya untuk mencegah air mata yang tengah mendesak untuk keluar dan membasahi kedua pipinya.
"Mungkin, bila takdir berkata lain, sudah dapat di pastikan hidupku akan hancur bila kehilangan kamu." Sambung Dewa.
"Hmmm, mas, lebih baik kita tidur yuk." Ajak Sri, seraya beranjak dari duduknya.
"Aku belum mencicipi teh ku," Protes Dewa.
__ADS_1
Sri melirik ke arah gelas teh Dewa, lalu ia tersenyum dengan canggung dan kembali duduk. Dewa pun meraih gelas teh nya dan menikmati teh tersebut seraya memandangi lampu lampu di bawah sana.
Tidak ada pembahasan lagi, mereka berdua hanya diam hingga mereka menghabiskan teh mereka. Lalu mereka masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang. Dewa memeluk tubuh Sri dengan erat dari belakang. Hingga mereka berdua pun terlelap di iringi suara binatang malam yang terdengar sayup-sayup di telinga mereka.