
Makan malam pun usai. Butet dan Grazia pun beranjak kembali menuju ke ruang keluarga, di mana sebelumnya mereka berbincang sebelum makan malam. Grazia tersenyum puas dan merasa begitu kenyang, karena masakan Butet terasa sangat nikmat di lidahnya.
"Luar biasa masakan kakak, saya sampai nambah tadi." Puji Grazia.
"Eh, terima kasih loh." Jawab Butet, seraya tersenyum puas.
"Kalok gak ada maunya, mana mau aku kasi kau makan! Enak aja kau, udahlah aku masak, kau tinggal makan, tamboh pulak kau. Kecil nya badanmu, tapi makan mu kek orang kelaparan." Batin Butet, seraya menatap Grazia yang sedang membalas senyumannya.
"Silahkan dudok, lanjot kita cerita cerita di sini," Ucap Butet, setelah mereka berada di ruang keluarga.
"Terima kasih kak." Sahut Grazia.
"Eh, jadi cemana lakik mu, mbak?" Tanya Butet.
Grazia tersenyum hambar, lalu ia menyibak rambut indahnya yang menutupi setengah wajahnya. Kini wajah cantik Grazia, kini terlihat jelas. Namun terlihat juga sorot mata yang memendam kesedihan. Grazia menghela napas panjang dan kembali menatap Butet dengan seksama.
"Sebenarnya saya malu kak, untuk menceritakan masalah saya. Tapi memang, saya tidak ada teman bicara. Yah, mau bagaimana? Orang tua saya sibuk dan tidak mau mengurusi urusan rumah tangga saya. Teman-teman saya sudah sibuk dengan dunianya masing-masing dan saya pun membatasi diri dari dunia saya yang sebelumnya," Ucap Grazia, mengawali curahan hatinya.
Butet terdiam dan terus menatap Grazia dengan seksama.
"Sebenarnya masalah kita sama kak. Suamiku punya wanita lain."
"Apa! Bukan kau pelakornya! Kimbekkkk nya anak ini!" Maki Butet, di dalam hatinya.
"Teros? Kek mana ceritanya?" Tanya Butet.
"Ya, betul kata kakak. Sebenarnya suami saya tidak keluar Kota. Tetapi memiliki istri yang lainnya."
"Oooo... playing victim kau ya! pintar kali mulutmu itu memang. Rasa mau ku sumbat pakek ken lap!" Batin Butet yang mulai terpancing emosinya. Namun ia terpaksa harus menekan emosi itu dalam-dalam, agar ia tidak terlepas kendali dalam berucap.
"Teros? Diam aja kau, mbak?" Tanya Butet.
"Mau bagaimana lagi? Mungkin sudah nasib saya, kak." Jawab Grazia, seraya tersenyum kecut.
"Ish.. ya Tuhannnn.. makin jijik aku nengok kau, eeee Grazia!" Batin Butet.
"Padahal anak kelen masih kecil ya. Masih satu itu kan?" Tanya Butet lagi.
"Iya kak. Yah, mau bagaimana lagi." Grazia pun memasang wajah sedih, agar mendapatkan simpati dari Butet.
"Eee... jangan kau sedih mbak. Aku kan sahabatmu." Butet mencoba menghibur Grazia, walaupun hatinya begitu jijik melihat wanita yang sedang berada di hadapannya itu.
"Terima kasih ya, kak. Aku kuat kok. Aku pasti bisa mendapatkan cinta suamiku lagi," Ucap Grazia.
__ADS_1
"Hah! Kapan pulak si Dewa cinta sama kau! Eh... tapi... kok aku mulai ragu ya... apa si Dewa awalnya memang cinta sama si Grazia ini? Kok pening aku miker nya?" Batin Butet.
Tiba-tiba saja, ponsel Grazia berbunyi. Grazia pun meminta izin kepada Butet untuk membaca pesan yang baru ia terima, dan Butet pun mengizinkannya seraya menatap ekspresi wajah Grazia saat membaca pesan tersebut.
Setelah Grazia membalas pesan yang baru saja ia terima, raut wajah wanita itu pun, mulai terlihat kurang nyaman dan tampak ingin segera berpamitan kepada Butet. Ternyata benar saja, tak lama kemudian, Grazia pun meminta izin untuk pulang. Butet pun tak dapat menahan Grazia, karena tampaknya wanita itu sedang terburu-buru.
"Kenapa? Apa Kimberly nyarik?" Tanya Butet.
"I-iya kak. Dia terbangun dan mencari saya." Sahut Grazia, seraya beranjak dari duduknya.
"Oo.. ya udahlah.."
Grazia tersenyum lega dan memeluk, serta mengecup pipi kiri dan pipi kanan Butet, saat berpamitan.
Butet pun menyambut Grazia dengan hangat, walaupun hati Butet sedang membara. Butet juga mengantarkan Grazia sampai wanita itu berada di samping mobilnya.
"Sekali lagi, terima kasih ya kak," Ucap Grazia.
"Sama-sama ya, mbak. Tapi rajen-rajen ke sini. Biar kita cerita-cerita lagi. Aku butuh kawan, mbak pun butuh kawan," Ucap Butet berbasa basi.
"Iya kak. Tenang saja. Ya sudah, saya pulang dulu ya kak," Ucap Grazia.
Butet pun mengangguk dan tersenyum kepada Grazia.
Setelah mobil Grazia sudah di luar pekarangan rumahnya, Grazia pun membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Butet. Butet pun tersenyum dan membalas lambaian tangan Grazia. Setelah itu, Grazia mulai melajukan mobilnya dan beranjak meninggalkan rumah Butet.
Merasa tidak tenang dan penasaran, Butet pun segera menuju ke dalam rumah dan menyambar kunci mobilnya.
"Kek nya ada yang serius ini. Harus ku dapat ini." Batin Butet, seraya bergegas menuju ke mobilnya.
Tidak menunggu lama, kini Butet sudah berada di dalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Butet pun mengeluarkan mobilnya dan kembali beranjak turun untuk menutup gerbang rumahnya. Masih sempat Butet melihat mobil Grazia yang hendak berbelok di ujung jalan komplek perumahannya tersebut.
"Masih bisa tekejar!" Batin Butet.
Setelah pagar rumahnya terkunci, Butet pun segera kembali masuk kedalam mobilnya dan langsung mengejar mobil Grazia. Saat berada di tikungan jalan, Butet melihat mobil Grazia baru saja keluar dari gerbang perumahannya. Sengaja menunggu Grazia berbelok, Butet pun menghentikan laju mobilnya.
"Sabar, Tet, sabarr.." Batinnya. Ia mencoba untuk mengerem rasa penasarannya.
Setelah Mobil Grazia sudah berbelok dan berada di lajur jalan raya. Butet pun tancap gas untuk segera keluar dari gerbang komplek nya.
Butet merasa beruntung, karena kondisi jalan malam ini agak sedikit padat. Maka, mobil Grazia belum begitu jauh dan masih dapat ia lihat dari jarak beberapa meter di depannya.
"Mau kemana kau!" Gumam Butet, seraya melanjutkan mobilnya dengan begitu lincah.
__ADS_1
"Sat! Set! Sat! Set!" Gumam Butet, seraya menyalip beberapa mobil di depannya. Hingga Butet mengurangi kecepatannya saat ia merasa jarak mobilnya dengan mobil Grazia, cukup aman.
Beberapa menit kemudian, mobil Grazia tampak berbelok ke sebuah jalan yang terlihat banyak sekali cafe cafe di sepanjang jalan tersebut. Butet pun mengerutkan keningnya dan melihat ke kanan dan ke kirinya.
"Katanya mau pulang, mau nokoh kau ya? gak tau kau aku ratunya nokoh! Men maen kau sama aku ya!" Gumam Butet.
Akhirnya mobil Grazia tampak berhenti di sebuah cafe yang tampak sedikit tertutup dan eksklusif. Butet pun segera menghentikan laju mobilnya beberapa meter dari mobil Grazia. Setelah ia melihat Grazia turun dari mobilnya, Butet pun bergegas untuk memarkirkan mobilnya di dalam sebuah cafe yang berada tak jauh dari cafe yang Grazia singgahi.
"Mari kita tengok! Ngapain betina ini!" Batin Butet, seraya memasang masker dan memakai jaket yang selalu berada di dalam mobilnya.
Setelah itu, Butet beranjak turun dan berjalan menuju ke cafe yang Grazia singgahi.
Saat Butet masuk, terlihat suasana begitu tenang di dalam cafe tersebut. Tidak ingin menarik perhatian banyak orang, Butet pun segera menyapukan pandangannya ke seluruh sudut di dalam cafe tersebut. Namun ia tidak melihat sosok Grazia di sana.
"Iyah! Kemana siluman itu ya? Kok ilang dia?" Batin Butet.
"Selamat malam kakak, ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang pegawai cafe tersebut.
"Ah, untung ada kau. Di sini ada tempat VIP nya atau cemana?" Tanya Butet.
"Maksudnya kak?" Tanya pegawai cafe itu.
"Ish.. gak paham kau ya. Aku mau carik temanku yang tadi masok. Tau kan? Yang cewek cantek tadi. baru aja dia masok." Terang Butet.
"Oh.. iya kak. Kakak itu duduk di area garden. Kakak bisa langsung masuk, letaknya di luar koridor sana." Pegawai itu pun menunjuk ke arah sebuah lorong yang berada di sudut ruangan.
"Ok lah. Makasi ya," Ucap Butet.
"Mau pesan apa kak? Apa nanti saja?" Tanya pegawai tersebut.
"Nanti aja. Aku lagi ligat ini," Ucap Butet, seraya bergegas menuju ke lorong tersebut.
Setibanya di area garden, Butet pun menyapukan pandangannya ke segala arah, hingga tatapannya tertuju pada Grazia yang sedang duduk membelakangi dirinya. Sedangkan di depan Grazia, terlihat seorang lelaki tampan, dengan bulu bulu halus di wajahnya. Grazia dan lelaki itu tampak sedang berbincang begitu serius. Hingga mengundang penasaran bagi Butet.
"Kenak kau! Nemui jantan rupanya kau ya. Lagi bahas apa kelen? Apa mau men cewek kelen bedua?" Batin Butet. Lalu dengan sangat berhati-hati, Butet mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto kebersamaan Grazia dengan lelaki tersebut. Lalu karena di dorong rasa penasaran yang begitu menggebu, akhirnya Butet memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka berdua.
Butet berjalan menuju ke bangku kosong yang berada tepat di belakang Grazia. Namun saat ia hampir saja sampai di bangku tersebut, terlihat sepasang muda mudi yang entah dari mana, tiba-tiba saja duduk di sana. Butet pun menatap sepasang muda mudi tersebut dengan emosi yang membara. Ingin sekali ia memaki muda mudi tersebut. Namun ia sadar, bila saja ia membuat keributan di sana, pasti akan mengundang perhatian semua orang, termasuk Grazia dan lelaki di depannya.
"Ish.. anak anak jahanaaammm, gak ada sopan santun nya. Udah liat nya dia awak mau dudok di sana. Tapi di serobotnya!" Maki Butet di dalam hati.
Saat itu juga Grazia menoleh ke belakang, dengan cepat Butet membalikkan tubuh nya dan berjalan meninggalkan area garden tersebut.
"Ish! Gagal total aku. Kimbeeekkk kimbeeek!" Sesal Butet. Meskipun begitu, Butet harus puas dengan bukti baru tentang Grazia. Yaitu, menemui lelaki lain di luar, selain Dewa.
__ADS_1
"Gak akan kau bisa lepas, tengok lah. Selingkuh kau rupanya.." Batin Butet, seraya meninggalkan cafe tersebut.