
"Tah apa nya kau bang. Udah jelas-jelas si Moana peragakan dengan jelas. Tapi kau gak bisa nebak! Jadi gak kompak kita kan, malu aku sama ibuk-ibuk yang lainnya." Protes Butet, saat mereka sekeluarga baru saja tampil di atas panggung.
"Kan memang kita gak adak kompak kompak nya mak. Rumah aja pisah." Celetuk Moana.
"Eh!" Butet terlihat panik saat Moana berbicara tentang kondisi rumah tangganya. Ia takut sekali ada orang tua murid yang lainnya mendengar ucapan Moana.
"Pelan-pelan kau siket cakapnya nang!" Ucap Butet yang terlihat kesal pada Moana.
"Kan memang betol nya itu!" Seru Moana.
"Iya, tapi gak perlu juga kau cakap kencang-kencang. Mau deklarasi rupanya kau?"
"Udah.. Udah... lapar kali aku. Makan kita yok." Ajak Moan.
"Yok lah." Butet, Moan dan Moana pun bergegas ke arah kantin tempat wisata tersebut.
Saat berjalan ke arah kantin, Moan yang penasaran pun membisikkan sesuatu kepada Butet.
"Jadi cemana cerita si Dewa tadi?" Tanya Moan.
"Sama cewek laen dia bang! Gendong anak perempuan kecik pulak!" Balas Butet.
Moan terperangah dan menatap Butet dengan tatapan tak percaya.
"Ah gak mungkin lah, salah nengok aja nya kau dek!" Moan terlihat tak percaya dengan cerita Butet.
"Ish kau ya bang. Tanda lah aku sama bang Dewa. Masak iya aku salah liat! Aku kalok sama yang ganteng ganteng kek gitu, apal aku bang. Tanda nya aku..!" Ucap Butet.
Moan mendengus kesal saat mendengar ucapan istrinya itu.
"Jadi yang ganteng ganteng aja kau ingat ya dek." Sindir Moan.
"Iya lah. Jangan udah jelek, selingkuh pulak." Butet balik menyindir.
"Siapa pulak itu? Aku maksud kau dek? Eh, untuk yang ke seribu kalinya aju bilang sama kau ya dek. Mati aku kalau aku pernah berselingkuh. Seujung kuku pun gadak niatku! Lagipulak kalok aku jelek, mana mau kau sama aku."
"Eeeeee.... jadi pede kali kau ya ceritanya," Ucap Butet, seraya menatap Moan dengan tatapan jijik.
"Pede lah aku! Ha.. cobak kau tanyak sama hatimu! Pasti hatimu bilang kalok aku ganteng!" Goda Moan.
"Ish! Jijik kali aku nengok kau ya memang!" Butet terlihat kesal dan berjalan lebih cepat daripada Moan.
Tiba-tiba saja Moan menarik tangan Butet dan juga Moana. Lalu ia mengajak Butet dan anak mereka bersembunyi di balik patung badut.
"Eh, apanya ini!" Butet berusaha melepaskan genggaman tangan Moan.
"Ssssttt... kau bilang kau nengok si Dewa kan. Itu bukan?" Tanya Moan, seraya menunjuk ke arah pukul dua.
Butet mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Moan. Lalu seketika ia pun mendelikkan kedua matanya.
"Opppp... betol kan apa yang aku bilang bang!" Ucap Butet.
Moan menelan salivanya dan menghela nafas panjang. Ternyata apa yang di lihat Butet, memang benar adanya. Dewa sedang bersama dengan wanita lain dan seorang balita.
"Gak nokoh aku kan bang! Oooo.. gak bisa ku biarkan ini. Bagos nya ku kasi pelajaran si Dewa ini lah!" Ucap Butet, seraya menggulung lengan bajunya.
"Jangan Tet!" Cegah Moan.
__ADS_1
"Kenapa kau larang aku bang! Naik sasak ku semeter nengok si Dewa ini lah. Pande kali memang ya laki-laki ini, nokoh kawanku!" Ucap Butet dengan penuh emosi.
"Ya, tapi gak kek gitu lah. Ini bukan urusan kita loh.." Ucap Moan, seraya terus menahan Butet.
"Mamak kenapa mak? Kok kek kuda lumpeng ku tengok mamak. Mencak mencak!" Ucap Moana dengan polosnya.
"Diam dulu kau nang! Ada yang mau mamak selesekan!" Ucap Butet, seraya kembali ingin menghampiri Dewa yang sedang asik menyantap makan siangnya di kantin tempat wisata itu.
"Tet, jangan Tet. Nantik kita yang burok di mata orang." Cegah Moan lagi.
"Kau kenapa bela dia bang! Sama nya kelen ya! Tukang selingkuh! Jadi saleng menutupi gitu!" Butet melampiaskan emosinya pada Moan.
"Ya Tuhaaaaaannn... Bukan kek gitu loh Butet cantekkkk... istrikuuuu..." Moan terlihat putus asa dalam mencari cara untuk memberikan pemahaman pada istrinya itu.
"Jadi cemana! Cok kau bilang samaku!"
Moan menghela nafas panjang sekali lagi dan menatap Butet dengan seksama.
"Kalau kau sayang sama Sri. Kau foto aja dulu si Dewa. siap itu, cok kau dekatkan si Sri. Carik tau dia udah tau apa belom. Kalok dia udah tau, baru kau kasi perhatian sama dia, kau hibur dia. Kalok dia gak tau, kau kasi tau pelan-pelan. Orang gak semua sama kek kita loh Butet, istriku yang paleng cantekkkk..." Terang Moan.
Emosi Butet mendadak turun. Ia pun mulai menepuk-nepuk dadanya agar ia dapat mengontrol emosinya kembali.
"Iya ya bang," Ucap Butet.
"Iya lah. Ingat, kita orang berpendidikan. Kita juga bukan bagian dari keluarga mereka, walaupun kita itu sahabat mereka. Tapi kita payah untuk masuk kek gitu aja dalam urusan rumah tangga orang laen dek." Terang Moan lagi.
Butet menatap Moan dengan seksama, lalu ia tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Kok ketawa kau dek?" Tanya Moan.
"Eeeee.. aku tu pintar dari dulu. Sejak sama kau aja aku jadi paok!" Celetuk Moan.
"Jadi nyesal kau! Mau cere ku samaku? Kau urus lah cepat!" Tantang Butet.
"Ish.. cere ke cere aja cakapmu. Ku buntengkan kau lagi nantik! Biar tetutop muncong mu itu. Gak jadi cere! Sampek mati pun gak ada cerita cere!" Tegas Moan.
"Ish! Agak laen kau memang bang. Dah lah ayok! Jangan makan di sekitar sini kita. Jijik pulak aku nengok si Dewa itu lah," Ucap Butet.
*
"Bun.. Kita gak kemana-mana lagi bun?" Tanya Ardi yang baru saja menyusul Sri yang sedang mengerjakan laporan kantornya.
Sri menatap Ardi yang terlihat kesal dan bosan, karena setiap akhir pekan ia jarang sekali di ajak berwisata seperti dulu lagi. Lalu Sri menghela nafas panjang dan mengusap lembut rambut Ardi dan tersenyum kepada anak semata wayangnya itu.
"Sabar ya nak, ayah sedang ada tugas keluar Kota." Lagi-lagi Sri selalu memberikan pemahaman yang sama pada Ardi.
"Keluar Kota sebulan dua kali, sibuk banget ya ayah sekarang!" Protes Ardi.
Sri terdiam membisu. Lalu ia di kejutkan dengan bunyi ponselnya. Seketika ia pun langsung meraih ponselnya dan menatap layar ponsel tersebut.
"Butet?" Gumamnya.
Lalu dengan cepat, Sri menerima panggilan telepon itu dan menyapa sahabatnya itu dengan ramah.
"Halo Tet, apa kabar?" Tanya Sri.
"Baek, kau apa kabar Sri similikiti ku..." Balas Butet dari ujung sana.
__ADS_1
Sri tersenyum mendengar panggilan sayang Butet kepada dirinya yang tidak pernah betubah dari jaman mereka masih kuliah, hingga masing-masing sudah saling berumah tangga.
"Baik aku Tet." Sahut Sri.
"Eh, udah makan nya kau Sri?"
Sri mengerutkan keningnya saat mendapatu Butet yang terdengar begitu perhatian kepada dirinya.
"Uwes Tet, kok tumben kowe perhatian?" Tanya Sri.
"Hehehehe, gadak. Nanyak aja aku. Eh, ingatku mau kemana kau malam ini Sri? Boleh aku men maen ke rumah kau? Bosan pulak aku di kost," Ucap Butet.
"Boleh lah. Mosok gak boleh. Jam piro mau ke sini?" Tanya Sri.
"Aku lagi di tempat wisata ini. sebentar lagi pulang. Istirahat aku sebentar, siap tu siap-siap aku. Abes maghrib baru aku ketempat kau. Cemana?"
"Boleh tet. Tak tunggu pokmen," Ucap Sri yang tampak semangat akan kehadiran sahabatnya itu.
"Siap! Jangan lupa kau sediakan makanan enak-enak ya! Jangan ragu-ragu kau. Soalnya aku gak tau malu...!"
Sri tertawa geli mendengar ucapan Butet.
"Iyo iyo.. Tak siapkan."
"Ha.. mantaplah.. Eh, tapi aku datang sendiri ya. Si Moana mau ikot bapaknya ke cafe."
Sri mengerutkan keningnya. Lalu ia mulai tersenyum.
"Alhamdulillah.. akhirnya ada kemajuan antara kamu dengan bang Moan toh?"
Butet pun terdiam mendengar ucapan Sri.
"Wes damai toh Tet?" Tanya Sri lagi.
"Belom! Gadak kata damai! Itu si Moana yang mintak ikot. Bosan mungken dia di kost." Terang Butet.
"Owalaaahhh... yo wes lah. Mending cerita-cerita nanti. Tak tunggu yo Tet, kedatanganmu," Ucap Sri.
"Iya. Sampek ketemu ya Sri."
"Iya Tet." Sahut Sri.
Percakapan melalui sambungan telepon itu pun berakhir. Lalu Butet menatap Moan yang sedang duduk di depannya dan melahap bakso pesanannya.
"Iya nya? Udah turon rupanya emosi ku nengok si Moan ini? Semalan rasanya takot kali aku kalok dia bawak Moana. Sekarang kenapa lah aku lepas aja si Moana sama dia." Batin Butet.
"Udah? Apa kata si Sri?" Tanya Moan, seraya menatap Butet dengan seksama.
"Mau tau aja kau bang!" Sahut Butet, seraya mulai menyantap bakso pesanannya.
"Aku kan cuma nanyak." Keluh Moan.
"Gosah kau banyak tanyak bang! Gak jadi ku ijen kan si Moana ikot kau nantik!" Ancam Butet.
"Bah! Iya iya.. diam aja lah aku lagi," Ucap Moan, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Omakjaaaanggg... payah lawan betina ini bah!" Batin Moan.
__ADS_1