Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kecuali BATRA


__ADS_3

"Papaaaaaa...!" Jerit si sulung, saat Fadli baru saja memarkirkan mobilnya di carport rumahnya. Tak lama kemudian, muncul lah Rima beserta anak ke dua mereka.


Fadli keluar dari mobilnya dan tersenyum menatap anak dan istrinya. Wajah Rima terlihat begitu bahagia kala menyambut suaminya pulang. Namun wajah bahagia itu pun langsung hilang begitu saja, kala ia melihat bundo Halimah turun dari kursi penumpang. Rima langsung menatap Fadli dengan tatapan tak percaya. Seolah mengerti dengan isi hati istrinya, Fadli pun beranjak membantu bundo Halimah untuk membawa tas nya dan meminta bundo, anak-anaknya dan juga istrinya untuk masuk ke dalam rumah mereka.


"Nenek.." Sapa sang cucu pada bundo Halimah.


Bundo Halimah pun tersenyum dan memeluk cucunya untuk melepaskan rasa rindu di dada. Namun seketika senyuman bundo Halimah pun memudar, seiring tatapan Rima yang kian tak enak kepada dirinya.


"Bundo minta maaf, karena tidak mengabari sebelumnya," Ucap bundo Halimah pada Rima dan Fadli.


"Kenapa tiba-tiba ke sini? Apa si Siti dan si Batra tidak mau merawat bundo?" Tanya Rima dengan nada suara yang terdengar sinis.


"Bukan begitu. Bundo lah yang mau tinggal dengan kalian. Bundo tidak nyaman tinggal dengan si Batra. Lagi pula rumah bundo kan sudah terbakar dan rata dengan tanah. Jadi, mau kemana bundo tinggal lagi?"


"Di Jakarta lah, ikut si Siti." Pungkas Rima.


Fadli terlihat serba salah saat Rima mengatakan hal itu pada ibunya. Sedangkan bundo Halimah terlihat terkejut dengan jawaban Rima.


"Rim, kita kan punya kamar tiga... Kan bisa.."


"Kan pas kamar tiga. Satu buat kita berdua. Dua buat si sulung, tiga buat si bungsu." Tegas Rima.


"Tapi bukannya si sulung tidur dengan si bungsu?" Tanga Fadli.


"Ini yang mau aku bicarakan sama uda. Saya baru saja ingin mereka tidur terpisah, biar mandiri."


Fadli terdiam mendengar ucapan Rima.


"Kan masih ada kamar satu lagi," Ucap bundo Halimah.


"Kamar pembantu? sudah di isi sama pembantu Rima. kalau bundo mau tidur di sana ya tidak apa. Tetapi sempit. Kamar pembantu itu hanya di design untu satu orang saja. Paling tidur di lantai pakai kasur lantai." Terang Rima.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rima, Fadli hanya mampu menelan salivanya.


"Lagi pula, siapa suruh tidak mengabari kami. Kalau begini kan kami bingung mau menaruh bundo di mana. Malah masih sakit pula," Ucap Rima.


"Rim.." Fadli berusaha untuk mengerem ucapan istrinya yang makin ke sini semakin tajam.


Sedangkan bundo Halimah hanya mampu terdiam, menahan rasa kesal dan juga rasa sedihnya terhadap menantunya yang kurang memiliki rasa hormat kepada dirinya itu.


"Sudah begini saja. Ini kan sudah malam, biarkan bundo menginap dulu di sini ya. Nanti uda coba komunikasikan sama si Siti."


Rima menghembuskan nafas dengan kasar. Lalu ia memutar matanya ke atas.


"Jangan lama-lama. Kalau bisa besok langsung di jemput," Ucap Rima, seraya beranjak dari duduknya dan membawa kedua anaknya untuk masuk ke dalam kamar.


Wajah bundo Halimah terlihat merah padam. Selain emosi, ia juga mengemban rasa sedih dan juga kecewa terhadap menantunya itu. Dulu saat Rima menjadi kekasih Fadli, sosok Rima sangatlah baik dan sopan kepada orang tua. Tidak di sangka oleh bundo Halimah bila sifat asli Rima sangat lah berbanding terbalik dari yang dulu.


"Bun, maafkan Rima ya. Sekarang bundo istirahat saja di kamar," Ucap Fadli, seraya membantu bundo Halimah untuk berjalan menuju ke kamar yang masih kosong.


Terdengar teriakan Rima yang sedang berada di kamar, untuk mencegah Fadli membawa bundo Halimah beristirahat di kamar yang ke tiga. Namun Fadli memcoba mengabaikannya dan tetap membawa bundo Halimah ke kamar ke tiga untuk beristirahat.


"Nanti istrimu marah Dli," Ucap bundo Halimah dengan ujung suara yang tercekat.


"Biar nanti jadi urusan Fadli. Sekarang bundo istirahat saja di sini. Bundo sudah makan?" Tanya Fadli.


"Belum." Sahut bundo Halimah dengan cepat.


"Ya sudah, habis bundo bersih-bersih, Fadli tunggu di meja makan ya."


Bundo Halimah hanya mengangguk dan membiarkan Fadli meninggalkan kamar tersebut.


Tak lama kemudian, terdengar ribut-ribut dari kamar utama. Yaitu kamar Fadli dan istrinya, Rima. terdengar jelas segala ucapan Rima, saking Rima tidak terimanya ibu dari Fadli akan tinggal di rumah mereka.

__ADS_1


"Pokoknya suruh adik uda jemput bundo!" Ucap Rima dengan nada suara tinggi.


"Gak bisa begitu dong dek, bundo kan baru saja tiba."


"Gak peduli aku uda! Aku sudah merawat anak dua orang, di tambah merawat bundo? Gak bisa uda! Lagi pula aku males sama rewel nya bundo! Melebihi anak kecil saja!"


Bundo Halimah terdiam dengan hati yang pilu, saat mendengar ucapan Rima.


"Siapa yang bisa tahan dengan bundo? Rewel, banyak mengkritik, ini salah itu salah! Dulu waktu Rima ke kampung uda, apa yang bundo lakukan pada Rima. Bundo itu nyinyir! Semua mau di komentari! Merasa paling sempurna! Di mata bundo Rima itu salah melulu! Nyuci piring di bilang kurang bersih! Nyuci baju, di bilang kurang bersih, bagaimana bisa merawat uda dengan baik! Masa di bilang kurang enak! menyapu di bilang kurang bersih. Baru saja duduk, di bilang malas-malasan! Apa uda pikir Rima tidak dendam di perlakukan seperti itu? Apa bundo mau berkaca, kenapa Rima gak suka sama bundo nya uda!"


Deg!


Bundo Halimah terdiam, air matanya pun merembes di pipi tuanya.


Ia ingat betul beberapa tahun yang lalu, saat Rima baru saja menjadi anggota keluarga besarnya. Saat itu, Fadli baru saja menjadi pegawai negeri sipil. Karena Fadli sudah ingin menikah, maka ia melamar Rima untuk menjadi istrinya. Selain Fadli sudah yakin pada Rima, Fadli dan Rima juga sudah merajut kasih selama satu tahun.


Maksud bundo Halimah, Fadli jangan terburu-buru menikah. Lebih baik Fadli mengumpulkan uang dan membantu keluarga terlebih dahulu. Namun namanya anak laki-laki yang sudah di desak untuk menikah oleh sang kekasih, Fadli pun buta karena cinta dan takut kehilangan Rima. Maka Fadli pun bertekat untuk segera mempersunting Rima. Karena uang yang Fadli punya belum mencukupi, akhirnya bundo dan apak pun membantu biaya pernikahan mereka.


Setelah menikah, Fadli dan Rima pun terpaksa menumpang di rumah bundo Halimah. Mereka menempati kamar Siti yang saat itu kosong, karena siti berada di Jakarta. Hidup bersama dengan mertua tidak lah mudah bagi Rima. Segala niat baik Rima, di pandang sebelah mata oleh bundo Halimah. Semua serba salah dan tidak pernah benar.


Dari kejadian demi kejadian yang terus merendahkan harga diri Rima sebagai menantu, membuat hati Rima menjadi batu. Ya, semua orang punya batasan. Tidak swmua orang memiliki hati yang luas seperti Batra ataupun banyak menantu di luar sana yang mampu memaklumi dan memberikan maaf, tanpa yang bersangkutan mau meminta maaf.


Hari ini, layaknya singa betina yang kembali mendapatkan taringnya, Rima terus mengungkit segala tingkah jahat bundo Halimah pada dirinya dulu. Semua kata-kata Rima, membuat sang suami tidak berkutik. Karena semua adalah fakta. Mengapa fakta? Fadli pun tahu, seperti apa ibunya itu.


"Pokoknya hari Sabtu, uda antarkan bundo balik ke kampung!" Tegas Rima.


Bundo Halimah pun menangis mendengar ultimatum sang menantu. Terutama maksud dan tujuan Rima yang berkata-kata dengan suara yang keras. Yaitu agar bundo Halimah dapat mendengar ketidak sukaan dirinya kepada bundo Halimah. Semakin terasa menyakitkan kala bundo Halimah mendengar jawaban dari Fadli.


"Iya, nanti Sabtu uda balikkan bundo ke kampung."


Hancur sudah harapan dan kesombongan bundo Halimah. Nyatanya tidak ada satu orang pun yang rela menerima dirinya. Yang rela ia caci maki, yang rela ia sindiri dan salahkan, kecuali BATRA.

__ADS_1


__ADS_2