
Tepat pukul dua belas malam, Dewa pulang ke rumah nya. Lampu di dalam rumah sudah di matikan, yang terlihat hanya lampu kamar dari luar rumah dan lampu teras saja yang menyala. Dewa melangkah ke dalam rumah dan melepaskan sepatunya. Lalu ia menaruh sepatunya ke dalam rak sepatu dan menggantinya dengan sandal.
Dewa melangkah menuju ke ruang keluarga, lalu dari ruang keluarga, ia hendak singgah ke dapur untuk minum. Namun ia terkejut saat melihat Sri yang masih terjaga dan duduk di kursi meja makan. Sri tampak sudah memakai piyama. Make-up di wajahnya pun sudah di bersihkan. Layaknya wanita yang hendak beranjak tidur pada umumnya, namun Sri justru duduk menunggu Dewa pulang.
"Astaga!" Dewa terperanjat saat melihat Sri termenung di meja makan.
"Mas.." Sapa Sri, seraya tersenyum manis menyambut kedatangan suaminya.
"Kamu belum tidur?" Tanya Dewa.
"Aku menunggu kamu pulang." Sri beranjak dari duduknya dan menyalami Dewa, serta meraih tas kantor yang masih berada di tangan Dewa.
"Kenapa malam sekali mas? Bukannya mas bilang akan sampai di rumah pukul sebelas?" Tanya Sri.
Dewa tampak tidak nyaman dengan pertanyaan Sri. Lalu ia melangkah ke arah dispenser dan mengambil segelas air putih.
"Mas capek ya? Mau aku siapkan air panas untuk mandi?" Tanya Sri lagi.
"Hmmm, boleh." Sahut Dewa.
Sri mengangguk dan bergegas menyediakan air panas untuk Dewa di kamar mandi mereka.
Dewa terdiam dan menatap punggung Sri yang beranjak ke kamar mandi yang berada di kamar utama, yaitu kamar mereka berdua. Lalu ia menaruh gelas kosong bekasnya di atas meja makan dan ia pun meremas rambutnya sendiri serta menghela nafas panjang.
Rasa bersalah terlihat begitu jelas di wajah Dewa, namun seperti tak berdaya, ia hanya mampu diam dan terus terlihat bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Ya Allah... Maafkan aku... maafkan aku.." Gumamnya.
Sri yang sedang menyiapkan air panas untuk Dewa pun hanya dapat termenung di pinggir bathtub. Seraya mencelupkan tangannya ke dalam air untuk merasakan kadar suhu air tersebut, Sri terus berpikir tentang kebohongan Dewa yang jelas-jelas ia ketahui. Namun apa daya, Sri adalah orang yang penuh kehati-hatian. Ia terus mempertimbangkan baik dan buruknya sebelum berbicara. Maka ia memutuskan untuk tidak dulu membahas hal yang akan memancing keributan di dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Kamu pasti capek. Harusnya kamu jangan menunggu ku pulang. Kamu kan bisa tidur," Ucap Dewa, yang menyusul Sri ke kamar mandi.
Sri menoleh dan menatap suaminya yang sedang melemparkan kemeja kotor ke dalam keranjang baju kotor. Lalu ia beranjak dari duduknya dan tersenyum kepada Dewa.
"Aku rindu kamu mas," Ucap Sri, seraya memeluk Dewa dari belakang.
Lewat pantulan cermin, Dewa menatap Sri yang terlihat begitu nyaman saat memeluk tubuhnya.
"Aku minta maaf ya. Aku pikir akan selesai tepat waktu, ternyata sampai jam sebelas." Terang Dewa.
"Tidak apa-apa mas. Oh iya, kamu sudah makan? Kalau belum, aku siapkan ya. Sekarang, kamu mandi dulu," Ucap Sri dengan kedua matanya yang berbinar.
"Nggg.. aku sudah makan. Tadi memesan lewat aplikasi dan di antarkan ke kantor."
"Oh begitu. Ya sudah, sekarang mas mandi dulu saja. Aku siapkan baju tidurnya." Sri tersenyum dan meninggalkan kamar mandi. Lalu ia menuju ke lemari pakaian dan mempersiapkan pakaian untuk Dewa.
Sebagai ukuran wanita yang serba berkecukupan dan juga wanita bekerja, Sri termasuk istri yang tidak lalai akan tugasnya melayani suami. Namun baru kali ini Sri merasa dirinya kurang dalam segi apapun ssebagai seorang wanita. Dirinya mulai bertanya-tanya dan berkaca diri, bila saja Dewa berselingkuh, sudah jelas dirinyalah yang paling bersalah atas ketidakpuasan Dewa atas diri Sri yang mulai merasa tidak sempurna.
Sri kembali ke kamar dengan membawa segelas teh jahe buatannya yang akan ia berikan kepada Dewa. Saat itu ia melihat Dewa sudah bersiap untuk berpakaian. Sri meletakkan teh jahe buatannya di atas meja dan lalu duduk di atas ranjang. Sedangkan Dewa bergegas memakai pakaiannya dan juga menyerahkan handuk bekas pakainya kepada Sri. Sri menerima handuk basah itu dan menatap Dewa dengan seksama.
"Mas, ada surat untukmu di dalam laci nakas itu," Ucap Sri, seraya menunjuk laci nakas, di mana ia menaruh surat-surat yang di alamatkan untuk Dewa.
"Oh iya, besok saja aku baca," Ucap Dewa, seraya meraih teh jahe buatan Sri.
"Iya mas," Sahut Sri. Seraya beranjak untuk menjemur handuk basah bekas Dewa.
Saat Sri kembali lagi ke dalam kamar, ia melihat Dewa yang sudah memejamkan kedua matanya di atas ranjang. Sri hanya mampu menghela nafas dalam-dalam dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Dewa. Lalu ia menyelimuti Dewa dengan selimut dan mengecup kening suaminya itu dengan lembut.
"Sepertinya kamu sangat capek sekali mas." Batin Sri.
__ADS_1
Tanpa Sri sadari, sebenarnya Dewa belum terlelap. Dewa menyadari segala hal yang Sri lakukan padanya. Kecupan sebelum tidur, pelayanan Sri sebagai istri, menyelimuti tubuhnya kala tidur, semua itu rutin Sri lakukan walaupun mereka sudah lama menikah, dan itu tidak sekalipun berubah. Justru Dewa menjadi tidak dapat memejamkan matanya, saat mengingat betapa sempurnanya Sri sebagai seorang istri.
Dewa terus menyesali perubahannya kepada Sri selama beberapa bulan belakangan ini. Hingga Dewa menitikkan air mata penyesalannya di dalam diam. Pun dengan Sri yang sedang memunggungi Dewa, ia juga tak dapat memejamkan kedua matanya. Air matanya terus meleleh tanpa Dewa tahu. Hingga malam terus beranjak pagi, akhirnya mereka berdua pun tertidur.
Paginya, Sri terbangun dan seperti biasa ia langsung mempersiapkan semua kebutuhan anak dan suaminya di pagi hari. Walaupun hari Sabtu adalah hari libur bagi Ardi dan Dewa. Namun saat mempersiapkan sarapan untuk anak dan suaminya, tiba-tiba saja Sri melihat Dewa yang datang ke dapur dengan pakaian rapi serta sebuah koper di tangannya.
"Loh, mas mau ke mana?" Tanya Sri dengan wajah yang terlihat bingung.
"Maaf, tiba-tiba saja aku di suruh ke luar Kota untuk menangani proyek di sana." Terang Dewa, seraya meraih gelas kosong dan menuangkan kopi dari dalam teko kecil, ke dalam gelas tersebut.
Sri hanya bisa mengerutkan keningnya dan menatap Dewa dengan wajah yang bingung.
"Mas keluar Kota? Berapa hari mas?" Tanya Sri lagi.
"Aku belum tahu. Nanti aku kabari ya. Ini sangat mendesak," Ucap Dewa, lalu ia menyeruput kopinya.
Mendengar jawaban Dewa, Sri hanya terdiam dan tidak mau banyak bertanya. Tetapi hatinya seperti akan meledak, ingin sekali ia membahas tentang keluar Kota yang terkesan tiba-tiba dan juga surat tagihan kartu kredit yang melonjak. Namun ia memilih untuk mengunci rapat-rapat bibirnya dan melepaskan Dewa begitu saja, saat suaminya itu berpamitan kepada dirinya dan juga putra semata wayangnya.
"Bun, ayah ke mana? Bukannya ayah sudah janji sama Ardi, kalau kita mau liburan ke puncak?" Tanya Ardi, seraya mengerutkan dagunya, tanda bocah laki-laki itu tidak terima akan kepergian ayahnya yang bertugas ke luar Kota.
"Sabar ya... liburan sama ayah nya kita tunda minggu depan saja ya nak. Sekarang Ardi sama bunda saja ya. Ayooo... Ardi mau liburan ke mana? Pasti bunda antarkan. Ke Dufan? Ke Taman Mini? Atau ke mana?" Sri mencoba menghibur Ardi dengan ekspresi wajahnya yang berusaha tegar.
"Gak asik ah! Aku maunya sama ayah dan bunda!" Teriak Ardi, yang marah karena gagal liburan.
"Ardi.. gak boleh begitu ya nak. Namanya ayah bekerja untuk kita.. jadi......"
Belum selesai Sri melanjutkan ucapannya, Ardi pun berlari meninggalkan dirinya dan langsung mengunci dirinya di kamar. Sri hanya bisa terdiam, gejolak di hatinya pun semakin melonjak. Hingga ia menggerakkan giginya dan memejamkan kedua matanya untuk meredam emosi.
"Apa yang kamu lakukan di belakangku mas?" Gumam Sri.
__ADS_1