
"Mas, kapan pulang?" Tanya Sri pada Dewa, melalui sambungan telepon.
"Maaf ya sayang, mas masih belum bisa pulang." Jawab Dewa dari ujung sana.
"Oh, yo wes mas. Kamu sudah makan?" Tanya Sri lagi.
"Sudah." Sahut Dewa.
"Ehekkk... huaaaaaa..." Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan balita dari ujung sana.
"Eh, sudah dulu ya sayang. Nanti mas telepon lagi."
Tut... Tut... Tut..
Tiba-tiba saja sambung telepon itu terputus. Sri terdiam dan bersandar di dinding dapur kost putri. Ia menatap langit-langit dapur dan menghela nafas dalam-dalam.
"Woi..! Kenapa kau?" Tanya Butet yang baru saja tiba di dapur, untuk meletakkan piring bekas makan Moana.
"Eh Tet, tak delok akeh omah Laba-laba nang plafon," Ucap Sri yang terlihat gugup.
"Mana?" Butet turut menatap plafon dapur rumah kost tersebut.
"Itu loh Tet," Sri menunjuk ke sudut plafon dapur tersebut.
"Ish! Mana ada. Semalam aku siap bersih-bersih kok, ngarang kali kau!" Ucap Butet dengan wajah yang terlihat sewot.
"Oh, apa mata ku sing bermasalah yo Tet?" Ucap Sri seraya beranjak ke arah ruang tamu.
Butet mengernyitkan dahinya dan menatap punggung Sri dengan tatapan yang bingung.
"Makanya, jangan banyak bergaul kau sama spiderman!" Celetuk Butet, namun Sri mengabaikan Butet begitu saja.
"Aneh kali ku tengok dia bah!" Butet menggelengkan kepalanya dan beranjak mencuci piring bekas makan Moana.
*
Adzan Maghrib berkumandang. Sri, Siti dan Cempaka, beserta anak-anak mereka bergegas untuk menunaikan sholat Maghrib. Sedangkan Butet dengan Moana tidak ingin mengganggu, maka mereka berdua bergegas masuk ke dalam kamar.
Di kamar, terlihat Moana begitu murung. Moana terlihat acuh dengan ibunya. Ia mencoba menyibukkan dirinya dengan gadget yang sedang ia pegang. Butet menghela nafas panjang dan beranjak duduk di atas ranjang. Lalu ia menatap Moana dengan seksama.
"Lagi apa kau nang?" Tanya Butet.
Moana menatap Butet sekilas, lalu ia kembali fokus kepada layar ponselnya.
"Mamak bertanya samamu nak ku. Lagi apa kau?"
Kembali Moana menatap Butet, lalu ia beranjak duduk dan meletakkan ponselnya di atas ranjang.
"Mak,"
"Apa nak ku?"
"Aku rindu kali sama bapak. Aku rindu rumah lah," Ucap Moana.
Butet terdiam, lalu ia membuang pandangannya ke sudut kamar tersebut.
"Mak, mau sampek kapan kita di sini mak?" Tanya Moana.
Butet kembali menatap Moana dan menghela nafas panjang.
"Mak, apa betol mamak mau pisah sama bapak? Teros aku kek mana mak?" Pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan oleh Moana, sukses membuat mulut Butet terkunci rapat-rapat.
"Mak, cakap lah mak. Jan diam aja mamak." Desak Moana.
"Ada yang mau aku urus sama bapakmu dulu ya nak ku. Jadi sabar-sabar aja kau di sini dulu ya," Ucap Butet, mencoba memberikan pengertian kepada gadis kecil itu.
"Pertanyaan aku tadi gak mamak jawab?" Tanya Moana lagi.
"Yang mana?" Butet berpura-pura lupa dengan pertanyaan Moana.
"Apa betol mamak sama bapak mau cerai? Apa betol bapak punyak cewek lain?" Moana mengulangi perbuatannya lagi.
"Nak... mamak...."
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar pintu kamar Butet dan Moana, yang membuat Butet terpaksa menghentikan ucapannya.
"Siapa?" Tanya Butet.
"Romi tante.." Sahut Romi dari luar kamar itu.
__ADS_1
"Oh Romi..." Butet pun beranjak dari duduknya dan hendak membukakan pintu kamar tersebut.
"Mak," Panggil Moana.
"Ya nak?" Butet menghentikan langkah kakinya dan menatap Moana dengan seksama.
"Pertanyaanku belom mamak jawab." Tegas Moana.
"Nanti ya nang. Sekarang kau main lah dulu sama si Romi di luar. Nantik malam baru mamak cerita samamu," Ucap Butet, seraya mencoba tersenyum kepada Moana.
Moana menghela nafas dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal. Lalu ia beranjak dari ranjang tersebut dan berjalan menuju ke arah pintu kamar itu. Butet tersenyum dan mengecup puncak kepala Moana. Lalu ia membuka pintu kamar tersebut.
"Hai Moana.." Sapa Romi seraya melambaikan tangannya.
"Hai bang. Udah kau sembahyang nya bang?"
"Udah. Sekarang main yuk.." Ajak Romi.
"Yok lah, walaupun sebenarnya aku lagi gak pingin maen," Ucap Moana seraya sekilas melirik Butet dan lalu berlalu begitu saja dari hadapan Butet dan Romi.
Butet tertegun melihat sikap Moana yang terlihat protes dengan keadaan. Namun Butet tidak bisa berbuat apa-apa. Kini dirinya sedang merasa marah dan juga bingung hendak bagaimana. Butet pun sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum ia benar-benar memutuskan untuk menggugat cerai Moan di pengadilan.
Butet kembali menutup pintu kamar nya rapat-rapat. Lalu ia beranjak duduk di atas ranjang. Kini air mata mulai meleleh di pipinya. Bagaimanapun, sekuat apapun seorang wanita, dia tetaplah seorang wanita yang memiliki hati yang begitu rapuh.
**
"Eh... lama kali," Keluh Moan, saat Choky baru saja tiba di cafe.
"Maaf lah, macet tadi," Ucap Choky, yang hendak melepaskan helmnya.
"Eh, gak usah kau lepas helm mu. Kita langsong berangkat," Ucap Moan, seraya beranjak dari duduknya dan menarik tangan Choky untuk keluar dari cafe miliknya tersebut.
"Eh, mau kemana kau bawak aku?" Tanya Choky.
"Adalah, ikot aja kau. Gosah banyak kali cakapmu."
"Eh, ku pikir mau jumpa sama binik mu di sini."
"Udah, gosah banyak tanyak kau. Cepatlah naek." Perintah Moan, untuk Choky segera naik ke boncengan motornya.
"Iyah, kenapa aku gak bawak kreta sendiri aja?" Tanya Choky.
"Biar gak lari kau. Cepatlah!" Perintah Moan lagi.
"Pelan-pelan kau bawak kreta!" Choky mencoba mewanti-wanti Moan untuk tidak ugal-ugalan saat mengendarai sepeda motor tersebut.
"Kenapa? Takot mati kau rupanya? Bagos mana? ku matikan kau sekarang ato jatoh dari kreta? Banyak kali cakapmu. Udah dudok kau tenang!" Ucap Moan seraya mulai menjalankan sepeda motornya.
***
Moana yang sedang asik bermain di halaman rumah utama, seketika menghentikan kegiatannya saat mendengar bunyi sepeda motor milik Moan yang baru saja menghentikan lajunya tepat di depan pagar rumah tersebut.
Moana yang sedang berjongkok, pun langsung berdiri. Ia tampaknya mengenal bunyi sepeda motor tersebut dan juga mengenali sosok yang sedang menunggangi sepeda motor tersebut.
"Bapak!" Teriak Moana, seraya berlari menghampiri Moan.
Melihat anaknya berlari mendekati dirinya, dengan cepat Moan memarkirkan sepeda motornya dan langsung menyambut Moana dengan pelukan hangat nya. Lalu ia menggendong Moana dan mencium buah hatinya itu dengan ekspresi wajah yang begitu merindu.
"Ya Tuhan.. anak bapak.. sehat kan kau sayang?" Ucap Moan seraya terus mencium pipi Moana yang terus memeluknya dengan erat.
"Sehat pak." Sahut Moana.
"Mana mamak mu nak ku?" Tanya Moan lagi.
"Ada di sanan pak." Jawab Moana, seraya menatap rumah kost putri.
Moan tertegun menatap rumah kost putri tersebut. Dengan cepat, kenangan-kenangan masa lalu pun terlintas silih berganti di benaknya.
"Eh, udah dateng lu Moan?" Batra melangkah mendekati Moan dan mempersilahkan Moan untuk memasuki halaman rumah tersebut.
"Baru aja aku sampek. Ini dia si Choky." Moan menunjuk Choky yang sedang berdiri di sampingnya.
"Oh. Batra." Batra langsung memperkenalkan dirinya kepada Choky.
"Choky," Balas Choky, seraya menjabat tangan Batra.
"Ya udeh, masuk dulu dah. Kita bicara di dalem," Ucap Batra seraya mengajak Moan dan Choky untuk masuk ke dalam rumah utama peninggalan nyak Tatik, yang kini di tempati oleh Rozy dan Cempaka.
Moan yang sedang menggendong Moana dan juga Choky pun memasuki rumah tersebut. Di dalam sudah ada Cempaka dan Rozy yang menyambut mereka.
"Bang," Sapa Moan kepada Rozy.
__ADS_1
"Eh, Moan. Dateng juga lu. Duduk dah." Rozy mempersilahkan Moan untuk duduk di sofa ruang tamu rumah tersebut.
"Iya bang." Sahut Moan.
"Apa kabar Cem?" Tanya Moan, berbasa-basi kepada Cempaka yang tersenyum menyambut suami dari sahabatnya tersebut.
"Alhamdulillah, baik bang. Abang teh apa kabar?" Balas Cempaka.
"Baik Cem." Moan membalas senyuman Cempaka dan lalu beranjak duduk.
"Ini bang yang namanya Choky," Ucap Moan, saat melihat Rozy yang tengah memperhatikan Choky yang masih berdiri di ambang pintu rumah tersebut.
"Oh. Masuk lah." Rozy mempersilahkan Choky untuk masuk dan duduk di samping Moan.
"Iya bang." Sahut Choky yang terlihat canggung.
"Masok kau, cepat... " Timpal Moan.
"Iya, kau recok kali! Heran aku lah." Choky yang mulai terlihat kesal dengan Moan yang selalu bersikap kesal kepada dirinya.
"Saya ke belakang dulu ya, mau buat minum," Ucap Cempaka.
"Iya, Cem." Sahut Moan.
"Jadi, benar kalau aplikasi itu bukan punya Moan?" Tanya Rozy kepada Choky, setelah Cempaka beranjak ke dapur.
"I-iya bang." Sahut Choky dengan gugup, karena pertanyaan Rozy yang tanpa basa basi sebelumnya.
"Jadi, ape yang di ceritain sama Moan itu bener semua?" Tanya Rozy lagi.
"Be-benar bang." Jawab Choky, yang terlihat semakin gugup.
Rozy mengangguk paham dan menghela nafas panjang.
"Lagi pada nyari penyakit aje sih." Celetuk Rozy.
Choky mulai terlihat menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Iya bang, aku yang salah bang." Choky terlihat sangat menyesal dengan ulahnya.
"Iye, emang elu yang salah. Lagi lu mau begituan pake minjem hape temen lu. Kesian kan si Moan, yang tadinye rumah tangga nye adem ayem, eh... gegara beginian jadi belibet."
Choky terdiam membisu. Ia terlihat begitu merasa bersalah.
"Jadi, kapan bang kita mulai?" Tanya Moan.
"Et dah, kagak sabar amat dah lu. Bentar ape. Kita kudu atur strategi dulu."
"Strategi?" Tanya Moan.
"Iyak, pertama lu kudu adem itu otak ama hati lu. Lu lagi menghadapi bini yang lagi galak galak nye. Kalau lu kepancing emosi, selese dah lu. Pasti kagak ada kata damai. Yang kedua, lu kaga usah banyak omong. Biarin aje nih si Choky yang jelasin ama si Butet. Kalau lu banyak omong, kaga bakal ada titik temu. Gontok-gontokan iye lu di mari. Inget, misi lu ke sini pengen Butet balik kan?"
"Iya bang," Sahut Moan.
"Nah, lu kudu dengerin omongan gue. Ape lu udeh siap?" Tanya Rozy.
"Udah bang." Sahut Moan lagi.
"Oh ya udeh," Ucap Rozy. Lalu ia menatap Cempaka yang baru saja datang dengan membawa beberapa gelas kopi dan menghidangkannya di atas meja.
"Nah, sekarang tugas bini gue nih."
Cempaka membalas tatapan Rozy dengan wajah yang terlihat bingung.
"Tugas? tugas apa a'?" Tanya Cempaka dengan polosnya.
"Kamu panggil si Butet ya." Pinta Rozy.
Cempaka sempat terdiam beberapa saat. Lalu dengan canggung, ia melirik Moan dan Choky.
"Kamu bisa bantuin a'a kan?" Tanya Rozy.
"Ng... bisa a', " Jawab Cempaka.
"Ya sudah, tolong bilangin sama si Butet. Dia di panggil a'a. Tapi jangan bilang ada si Moan ya."
"Iya a', " Sahut Cempaka.
Masih dengan ekspresi wajah yang bingung, Cempaka pun beranjak menuju ke rumah kost putri untuk memanggil Butet.
"Siap lu Moan?" Rozy mencoba kembali memastikan kesiapan Moan untuk menghadapi Butet.
__ADS_1
"Siap bang." Sahut Moan dengan mantap.
"Sip... sekarang kita tinggal menunggu si Butet. Di minum dulu dah kopinya." Rozy tersenyum dan mempersilahkan tamunya untuk mencicipi kopi buatan Cempaka.