Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Ancaman Dewa


__ADS_3

"Sri, terima kasih," Ucap Dewa, saat mereka baru saja keluar dari ruang pengambilan sampel darah.


Sri yang masih menggendong Kimberly, hanya tersenyum dan kembali menatap Kimberly. Sedangkan Dewa terus memandang Sri dan Kimberly yang terlihat nyaman di pelukan Sri.


"Dia cantik," Puji Sri, seraya menatap Dewa yang mulai salah tingkah.


"Hmmm, biar aku gendong," Ucap Dewa, lalu ia berusaha untuk meraih Kimberly dari gendongan Sri.


"Tidak apa mas, kamu habis di ambil darahnya. Biar aku saja yang menggendong."


"Tetapi, aku hanya di ambil sedikit saja darahnya. Tidak banyak-banyak. Aku tidak apa-apa kok," Ucap Dewa yang kembali berusaha untuk mengambil Kimberly dari gendongan Sri.


Akhirnya Sri memberikan Kimberly kepada Dewa. Lalu mereka bertiga melangkah menuju ke arah lift. Saat menunggu lift terbuka, Sri terus menatap Dewa dan Kimberly yang sedang bercanda. Terlihat senyuman bahagia Kimberly saat melihat Dewa yang terus menggoda bocah perempuan tersebut.


"Andaikan kita memiliki anak perempuan, mungkin kamu juga akan sebahagia ini." Batin Sri.


Ting!


Akhirnya pintu lift terbuka. Mereka pun memasuki lift tersebut. Sri menekan tombol dengan angka yang menunjukkan lantai tujuannya. Lalu ia berdiri di samping Dewa yang masih asik menggoda Kimberly. Sri terus menatap Dewa dan Kimberly yang seolah sedang asik dengan dunia mereka. Ada rasa cemburu di hati Sri. Pasalnya anak yang sedang Dewa perhatikan itu, bukanlah anak yang lahir dari rahimnya. Sri mencoba tenang dan menghela napas dalam-dalam. Hingga akhirnya Dewa pun mulai merasa bila Sri sedang merasa tidak baik-baik saja.


"Ng... kamu lapar tidak?" Tanya Dewa, mencoba untuk membuka obrolan dengan Sri.


Sri menatap Dewa dan tersenyum, lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya aku langsung pulang saja mas. Soalnya Ardi pasti menungguku. Tadi aku berpamitan dengan alasan ingin mengantarkan barangmu yang tertinggal. Kalau aku lama-lama perginya, dia pasti akan banyak bertanya dan mengira aku menghabiskan waktu berdua denganmu, tanpa mengajak dirinya."


Deg!


Entah mengapa, ucapan Sri terasa begitu perih di hati Dewa.


"Ng... Sri,"


"Ya mas?"


"Aku minta maaf.. Aku sudah me..."


Ting!


Pintu lift pun terbuka. Tanpa menghiraukan permintaan maaf dari Dewa, Sri pun melangkah keluar dari dalam lift dan berjalan tanpa melihat ke belakang. Sedangkan Dewa, dengan tergesa-gesa mencoba mengiringi langkah kaki Sri.


"Sri.." Panggil Dewa.


Sri menghentikan langkah kakinya, lalu ia menatap Dewa dan mencoba untuk tersenyum kepada suaminya itu.


"Ya mas?" Sahut Sri.


"Kalau begitu, aku juga langsung pulang ya..., A-a-aku takut, bila Grazia mennyadari aku membawa Kimberly, tanpa membawa pengasuh."


Sri terdiam mendengar ucapan Dewa. Namun apa mau di kata, ia pun akhirnya mengangguk setuju.

__ADS_1


"Hati-hati mas," Ucap Sri. Lalu ia melangkah terlebih dahulu, meninggalkan lobby rumah sakit tersebut.


....


"Susss...."


"Sussss.. "


Grazia yang baru saja pulang, melangkah masuk ke dalam rumahnya seraya memanggil suster yang ia pekerjakan untuk mengasuh Kimberly.


"Sussss..!"


"Kimberly... Sayang... Mama pulang.." Panggil Grazia.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.


"Ya bu.." Sahut suster tersebut.


"Loh, kamu kok sendirian? Kimberly mana?" Tanya Grazia, dengan wajah yang tampak khawatir.


"Ng... anu..."


"Tidur?" Tanya Grazia lagi.


"Bu-bu-bukan bu.. Ta... tapi..."


"Dari mana kamu?" Tiba-tiba saja dari arah ruang keluarga, Dewa muncul seraya menggendong Kimberly.


"Eh, mas.. Ka-kamu sudah pulang?"


Dewa menghampiri suster dan menyerahkan Kimberly kepada suster tersebut. Tanpa di berikan perintah, suster tersebut pun meninggalkan Dewa dan Grazia dengan membawa Kimberly bersama dengannya.


"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang? Aku sudah pulang dari tadi pagi," Ucap Dewa.


Grazia terlihat salah tingkah, namun ia berusaha untuk tetap mencoba untuk tenang.


"Ng...., aku habis dari arisan mas."


"Selama itu? Dari pagi, hingga pukul tujuh malam seperti ini?" Cecar Dewa.


"Hmmm, tadi aku mampir ke apartemen temanku. Dia baru saja beli apartemen dan kami mengadakan pesta di sana." Terang Grazia.


"Oh, apartemen di mana?"


Grazia tampak gugup saat mendengar pertanyaan Dewa. Tidak biasanya Dewa begitu kritis bertanya tentang apa yang Grazia lakukan. Selama ini, Dewa terkesan tak peduli dengan apa yang Grazia lakukan.


"Di... di... di daerah Jakarta selatan!" Jawab Grazia.


Dewa menatap kedua mata Grazia yang mengisyaratkan bahwa wanita itu sedang berbohong.

__ADS_1


Dewa tersenyum sinis, lalu ia menghela napas panjang serta memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sedangkan kedua matanya, terus mengintimidasi Grazia yang terlihat semakin gugup.


"Grazia. Siapa lelaki itu?" Tanya Dewa.


Deg!


Grazia terlihat pucat, saat Dewa melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak ia duga.


"Le-lelaki mana mas?" Tanya Grazia.


"Mungkin selama ini kamu menganggap aku ini bodoh. Tetapi, aku tahu yang sebenarnya. Kamu sering menemui lelaki lain bukan?"


Grazia terperangah, dadanya mulai terasa sesak.


"Ka-kamu ngaco mas! Jangan bilang, kalau kamu sedang mencemburui aku?"


Dewa kembali tersenyum sinis. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Grazia, sepintar pintarnya kamu menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Dan perlu kamu ingat, aku tidak bodoh," Ucap Dewa, seraya beranjak keluar dari rumah tersebut.


"Mas!" Grazia langsung mengejar Dewa dan mencoba untuk menahan tangan Dewa yang hendak memasuki mobilnya.


"Mas, kamu mau kemana?" Tanya Grazia dengan ekspresi wajah yang panik.


"Aku mau kemana? Apa kamu lupa, kalau aku punya istri?" Ucap Dewa, seraya menepis tangan Grazia.


"Mas! Tapi aku juga istri kamu! Ibu dari anak kita! Kamu gak bisa begini dong mas! Kamu harus adil!" Grazia masih terus berusaha menahan Dewa.


"Aku mau pulang ke rumah istriku." Tegas Dewa.


"Mas! Bagaimana aku bisa betah di rumah! Sedangkan pikiran kamu selalu sama Sri! Bahkan ku tidak mau menyentuhku! Apa kamu tidak memikirkan perasaan ku?" Grazia berusaha untuk mencari celah kesalahan Dewa.


Dewa menatap Grazia dengan seksama. Lalu dengan tatapan tajamnya, ia meraih kedua pundak Grazia.


"Jawab dengan jujur, apakah benar aku adalah ayah biologis Kimberly! Jawab dengan jujur, apakah hasil test DNA itu memang yang sebenar-benarnya? Jawab dengan jujur, apakah aku pernah menyentuhmu!" Ucap Dewa, seraya mengguncang kedua bahu Grazia dengan kasar.


Kali ini Grazia terlihat shock dengan sikap Dewa. Hingga ia mendelik dan menatap kedua mata Dewa yang terlihat memerah.


"Kenapa jadi begini sih mas..."


"Jawab dengan jujur! Apakah kamu tidak sedang membodohi aku!"


Grazia terdiam membisu.


"Mas... tetapi.. aku.."


"Apa! Aku tidak menerima kata tetapi! Aku hanya membutuhkan jawaban iya atau tidak!" Ucap Dewa dengan nada suara yang lantang, hingga menarik perhatian asisten rumah tangga dan juga satpam yang menjaga gerbang rumah Grazia.


"Mas.. kamu hanya salah paham.."

__ADS_1


"Ingat ya Grazia, aku tidak akan membiarkan kamu begitu saja bila semua terbukti kalau kamu hanya mempermainkan aku. Cam kan itu baik-baik!" Ucap Dewa, seraya menunjuk wajah Grazia dengan jari telunjuk kirinya.


Grazia pun mematung. Ia hanya dapat menatap Dewa yang memasuki mobilnya dan lalu meninggalkan halaman rumahnya yang mewah itu, namun terasa tidak ada artinya karena tidak ada kebahagiaan di hati penghuninya.


__ADS_2