Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Ajakan Dewa


__ADS_3

Dreett...!


Dreett...!


"Bunda.." Panggil Ardi, seraya menyentuh lengan Sri.


Sri tersentak dari lamunannya. Walaupun sedang mendampingi Ardi yang sedang belajar, namun pikiran Sri entah kemana. Hingga suara dering ponselnya sendiri pun ia tidak mendengarnya.


"Ya sayang?" Sri menatap Ardi dan mencoba tersenyum.


"Ponsel bunda berbunyi," Ucap Ardi.


Sri menatap ponselnya yang masih berdering. Lalu ia meraih ponsel tersebut dan menatap layar ponsel itu.


Mas Dewa


Sri mengerutkan keningnya. Tidak seperti biasanya saat berada di rumah Grazia, Dewa tidak pernah menelepon dirinya. Namun tidak pada malam ini, tiba-tiba saja ia menerima panggilan dari Dewa.


"Dari ayah, bun?" Tanya Ardi.


Sri menatap Ardi dan menganggukkan kepalanya.


"Sebentar ya, bunda angkat dulu telepon dari Ayah. Mana tahu, ada yang penting." Sri mencoba memberikan pengertian pada Ardi.


"Iya bun." Sahut bocah laki-laki tersebut.


Sri beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar Ardi, seraya menerima panggilan telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum mas," Sapa Sri.


"Waalaikumsalam,"


"Ada apa mas? Apakah sesuatu terjadi?" Tanya Sri dengan khawatir.


"Tidak. Aku hanya ingin menelepon kamu. Dan... kalai kamu berkenan, aku ingin mengajak kamu kencan."


Deg!


Mendadak jantung Sri berdebar-debar mendengar kata 'kencan' yang baru saja Dewa ucapkan melalui sambungan telepon.


"Hmmm.. maksudnya?" Tanya Sri.


"Aku ada di luar. Kalau kamu berkenan, aku mau mengajak kamu makan Ketoprak."


"Makan Ketoprak?" Sri terlihat bingung dengan ucapan Dewa.


"Iya. Kamu ingat tidak, pertama kali kita bertemu?"


Sri pun tersenyum sendiri, saat ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Dewa, saat ia baru saja sampai di Kota Jakarta. Saat itu ia baru saja turun di stasiun Senen. Lalu ia memutuskan untuk makan Ketoprak untuk menunggu waktu Subuh tiba. Di sanalah ia tidak sengaja bertemu dengan Dewa, yang ternyata kakak kandung dari teman satu kost nya. Yaitu, Cempaka.


"I-iya mas," Sahut Sri.


"Ayo makan Ketoprak. Kalau bisa, kita berdua saja. Aku ingin sekali makan di tempat yang sama dengan wanita yang sama. Yang dulu asing bagiku, dan kini sudah memberikan aku satu orang anak laki-laki yang tampan. Itu bila kamu tidak keberatan," Ucap Dewa.

__ADS_1


Sri terdiam. Jantungnya terus berdebar tak beraturan.


"Ng... mas, kamu kok tidak di sana? Kenapa ke sini?" Tanya Sri, yang mulai melangkah menuju ruang depan rumahnya dan lalu ia mengintip dari balik jendela. Benar saja, tepat di depan gerbang rumah Sri, terlihat mobil Dewa terparkir di sana.


"Tidak apa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Sri, aku rindu."


Sri terdiam. Dewa pun terdiam. Sambungan telepon tersebut pun hening sejenak.


"Maukah kamu ngedate sama aku?" Tanya Dewa, setelah beberapa saat mereka berdua saling terdiam.


"Ng... gimana ya mas.."


"Ardi? Apa dia belum tidur?" Tanya Dewa lagi.


"Belum mas." Jawab Sri.


"Tapi ada si mbok kan?"


"I-iya sih."


"Ya tidak apa-apa. Anak kita kan sudah besar, bukan bayi lagi. Ayo lah Sri, sebentar saja." Terdengar suara Dewa begitu memohon kepada Sri.


Sri masih terlihat bimbang. Bahkan ia terlihat sedikit panik, layaknya remaja yang di ajak berkencan oleh lelaki yang dia sukai.


"Sri.." Panggil Dewa.


"I-iya mas. Aku coba bilang ke si mbok dulu," Ucap Sri.


Lalu panggilan telepon tersebut pun berakhir. Sri pun terlihat semakin panik, hingga ia berjalan dengan cepat ke kamar si mbok. Asisten rumah tangga nya yang telah setia bekerja di rumahnya, dari Ardi masih dalam kandungan, hingga hari ini.


"Mbok.." Panggil Sri, seraya mengetuk pintu kamar si mbok.


"Ya bu.." Terdengar suara si mbok dari dalam kamar. Lalu tak lama kemudian, pintu kamar tersebut pun terbuka.


"Mbok, sudah tidur?" Tanya Sri.


"Belum bu. Saya sedang melipat pakaian." Jawab si mbok.


"Saya boleh minta tolong?"


"Apa itu bu?" Tanya Si mbok.


"Saya mau ke luar. Saya titip Ardi ya. Jangan lupa, pintu di kunci. Bilang juga sama si akang, pagar jangan lupa di kunci." Terang Sri.


"Iya bu." Jawab si mbok.


Sri pun tersenyum. Lalu ia mengucapkan terima kasih kepada si mbok, lalu ia melangkah kembali ke kamar Ardi.


"Sayang,"


"Ya bun?" Sahut Ardi, yang baru saja selesai belajar.


"Hmmm, bunda ada urusan. Kamu di rumah dulu ya, sama si mbok dan si akang."

__ADS_1


Ardi menatap Sri dengan tatapaj menyelidik.


"Memangnya bunda mau kemana?" Tanya Ardi.


"Bunda ada urusan sama tante Butet. Sebentar saja kok." Sri berbohong demi kebaikan. Sri tidak mungkin mengatakan ia pergi bersama dengan Dewa, pasalnya Ardi hanya tahu bila saat ini Dewa ada di luar Kota. Maka tidak mungkin berkata jujur pada bocah yang masih di usia kritis tersebut.


"Oh, ya sudah. Bunda hati-hati ya," Ucap Ardi, seraya tersenyum dan memeluk Sri dengan erat.


"Iya sayang. Bunda tinggal dulu ya."


"Iya bunda."


Sri pun mengecup puncak kepala putranya. Lalu ia beranjak dari kamar Ardi dan menuju ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Sri terlihat semakin panik. Layaknya wanita yang tiba-tiba di datangi kekasih hati, tentu saja Sri panik, karena ia belum berdandan dan mengganti pakaian yang layak untuk keluar rumah.


Sri membuka lemari pakaiannya dan mencari gaun yang pantas untuk ia pakai di malam hari. Apalagi Dewa tidak mengajaknya untuk makan di restoran mewah, melainkan makan di pinggir jalan, tepat di depan stasiun Senen.


"Aku pakai apa ya?" Batin Sri, yang terus melihat satu persatu koleksi gaun nya.


Hingga akhirnya, kedua matanya melihat sebuah gaun dengan model yang sederhana berwarna cappucino. Tanpa berpikir panjang, Sri pun meraih gaun tersebut dan memantaskan gaun itu ke badannya.


Gaun itu bukan gaun baru. Bukan juga terlalu lama. Hanya saja, Sri sempat melupakan gaun itu, hingga akhirnya ia kembali melirik gaun itu malam ini.


"Ok, aku pakai ini saja." Gumam Sri.


Sri pun mulai mengganti pakaiannya dengan gaun tersebut. Setelah memakai gaun itu, Sri pun beranjak ke meja riasnya. Lalu ia menatap wajahnya pada pantulan cermin di depannya. Sri pun menghela napas panjang, untuk mengusir rasa gugupnya. Setelah tenang, ia mulai memoles wajahnya yang cantik dengan makeup.


Sedangkan di luar, Dewa terlihat menunggu dengan gelisah. Dewa yang masih berada di dalam mobilnya, terus melirik ke arah pintu rumah dan berharap Sri segera keluar. Namun tampaknya belum ada tanda-tanda Sri akan keluar. Dewa kembali menatap layar ponselnya. ingin sekali ia menghubungi Sri, namun ia terus mencoba bersabar.


Kurang lebih lima belas menit berlalu, akhirnya Dewa melihat Sri keluar dari dalam rumah. Dewa terus melihat sri yang tampak cantik dengan balutan gaun nya yang berwarna cappucino. Dewa pun tampak bersemangat dan tersenyum sendiri.


Sri beranjak menuju ke arah gerbang. Sejurus kemudian, Sri pun membuka gerbang dan beranjak keluar. Tak lupa ia kembali menutup gerbang dan menguncinya. Sedangkan Dewa terus memantau Sri dari kaca spion mobilnya.


Setelah selesai mengunci gerbang, Sri pun melangkah mendekati mobil Dewa. Lalu, ia membuka pintu mobil sebelah kiri dan beranjak masuk ke dalam mobil tersebut.


"Hai," Sapa Dewa dengan senyuman semringah nya.


Sri menatap Dewa dan membalas senyuman suaminya tersebut.


"Terima kasih ya, sudah mau aku ajak keluar," Ucap Dewa dengan ekspresi wajah yang terlihat malu-malu.


"Sama-sama." Sahut Sri.


"Sebenarnya akan lebih indah kalau naik sepeda motor, seperti awal kita bertemu. Tetapi, sepeda motor itu sudah lama tidak ada. Jadi pakai mobil saja." Seloroh Dewa.


Sri kembali tersenyum dan mengangguk.


"Tidak apa," Ucap Sri.


"Ya sudah, kita jalan sekarang."


Dewa pun mulai melajukan mobilnya dengan hati yang berbunga-bunga.

__ADS_1


__ADS_2