Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kehilangan


__ADS_3

Sri duduk menghadapi nasi goreng yang baru saja di buatkan oleh Dewa. Dewa yang duduk di depannya, tersenyum seraya mempersilahkan Sri untuk menikmati nasi goreng buatannya. Sri menatap Dewa dengan seksama. Lalu ia kembali menatap nasi goreng buatan Dewa yang di tata sedemikian rupa agar menggugah selera Sri.


"Terima kasih mas," Ucap Sri, dengan ujung suara yang tercekat. Sri menahan haru yang tengah ia rasakan. Ia tidak menyangka, bila Dewa masih begitu peduli kepada dirinya.


"Ayo di makan. Apa kamu mau aku suapi?" Tanya Dewa.


Sri kembali menatap Dewa, lalu ia menggelengkan kepalanya dan segera mengambil sendok dan garpu yang sudah berada di atas piring berwarna putih tersebut.


"Aku makan dulu yo mas," Ucap Sri.


"Silahkan. Di tunggu kritik dan sarannya. Soalnya aku sudah lama tidak memasak untuk siapapun."


Sri terdiam mendengar kata-kata yang baru saja Dewa lontarkan. Pikirnya selama ini, Dewa akan memperlakukan Grazia sama seperti Dewa memperlakukan dirinya selama ini. Ternyata Dewa tidak pernah memasak untuk Grazia. Jadi, wanita satu-satunya yang pernah merasakan masakan Dewa, masih hanya dirinya seorang.


Sri tersenyum, lalu ia mulai menyantap nasi goreng buatan Dewa. Saking nikmatnya nasi goreng buatan suaminya itu, Sri pun memejamkan kedua matanya, untuk merasakan sensasi rasa yang begitu ia rindukan.


"Gimana?" Tanya Dewa.


Sri membuka kedua matanya dan menatap Dewa dengan malu malu.


"Enak?" Tanya Dewa lagi.


"Seperti biasanya mas, masakanmu selalu enak." Jawab Sri, sambil kembali menyantap nasi goreng buatan Dewa.


Dewa tersenyum, lalu tiba-tiba saja air mata membasahi pipi Dewa.


Sri mengerutkan keningnya dan menatap Dewa dengan seksama, saat melihat lelaki di depannya itu meneteskan air mata.


"Kamu kenapa mas?" Tanya Sri yang terlihat bingung.


"Aku? Aku tidak apa-apa." Jawab Dewa, seraya mengusap air matanya.


"Apa kamu sedang ada masalah dengannya?" Tanya Sri lagi.


"Tidak. Aku sedang ada masalah dengan istriku yang paling aku cintai. Aku melakukan kebodohan yang tidak dapat ia toleransi. Dan hari ini aku menangis bukan karena aku bersedih, melainkan aku menangis karena aku merasakan bahagia yang begitu luar biasa. Aku bersyukur, saat kamu seperti ini, kamu masih mengingatku. Kamu masih memanggil aku dan masih mau memakan masakanku."


Sri terdiam, saat mendengar penjelasan Dewa.


"Sayang, aku sangat bahagia. Setidaknya kita bisa duduk berdua seperti ini dan melihat kamu makan masakanku dengan lahap. Aku pernah berpikir, aku tidak akan pernah lagi merasakan suasana seperti ini. Dan ternyata aku masih diberikan kesempatan. Alhamdulillah. Jujur aku sangat merindukan momen seperti ini." Sambung Dewa.


Sri terdiam. Ia pun sedang mencoba tegar, agar air matanya tidak ikut menetes. Lalu ia berusaha untuk kembali menyantap nasi goreng buatan Dewa tersebut, tanpa ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua.


......................


"Mak.. sampek kapan lah kita di sini." Keluh Moana.


"Sabar kau ya nak. Mamak pun bosan kali lah." Butet pun ikut mengeluh.


Tiba-tiba saja, ia melihat mobil milik Grazia keluar dari komplek perumahan tersebut. Raut wajah lesu Butet pun berubah menjadi bersemangat.


"Ha, mau kemana kau betina busuk!" Batin Butet. Lalu dengan cepat ia melajukan mobilnya tepat di belakang mobil milik Grazia.

__ADS_1


"Kok tiba-tiba jalan? Gak jadi rupanya mamak jadi detektif?" Tanya Moana lagi.


"Ish... Recok kali lah kau. Ini lagi menjalankan misi nya mamak."


"Oh.. jadi mamak lagi ikotin mobil yang di mukak itu." Moana menunjuk mobil Grazia.


"Iya nak ku. Kau diam aja di situ. Nantik mamak kalok butuh bantuanmu, mamak kasikan kau kode ya," Ucap Butet, seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Oooo.. siap lah kalau kek gitu." Moana tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.


Butet membalas senyuman Moana, dan lalu ia kembali fokus dengan mobil Grazia. Hingga beberapa menit kemudian, Grazia pun menghentikan laju mobilnya di sebuah mall. Pun dengan Butet yang bergegas memarkirkan mobilnya, tak jauh dari mobil Grazia. Lalu ia pun beranjak turun dengan Moana, setelah ia melihat Grazia turun dari mobilnya bersama dengan Kimberly dan juga seorang pengasuh anaknya itu.


"Mau kemana betina itu ya." Gumam Butet.


"Mak, tante itu yang mau mamak selidiki?" Tanya Moana, seraya menunjuk Grazia yang berjalan beberapa meter dari mereka.


"Hus! Pelan pelan sikit suaramu." Butet menempelkan jari telunjuknya di bibir Moana.


"Maap lah mak." Moana memelankan suaranya.


"Jadi itu ya mak?" Tanya Moana lagi.


"Iya. Diam-diam aja kau ya. Jangan recok."


"Iya mak." Moana pun mengangguk paham.


Grazia dan pengasuhnya yang sedang menggendong putrinya pun memasuki pintu mall. Lalu mereka berjalan menyusuri mall tersebut. Sedangkan Butet terus berada di belakang Grazia dan juga pengasuh anaknya itu. Tak lama kemudian, Butet melihat Grazia memasuki sebuah toko pakaian dalam yang bermerek. Melihat hal itu, Butet pun memutuskan untuk memasuki toko tersebut. Butet melirik Grazia yang sedang melihat-lihat pakaian dalam dan juga baju tidur yang di jual di toko tersebut.


Tanpa sengaja, Grazia menatap Butet yang berdiri tak jauh darinya. Butet yang sedari tadi menatap Grazia, mulai terlihat panik dan mencoba berpura-pura sedang memilih baju tidur juga.


"Ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya seorang pegawai toko yang baru saja menghampiri Butet.


"Ah, aku baru mau nengok nengok aja dulu mbak." Sahut Butet.


"Mau cari yang seperti apa bu?" Tanya pegawai toko itu lagi. Karena ia sedari tadi hanya melihat Butet terus melihat-lihat baju tidur, tetapi tidak memilih satupun dari baju tidur yang ada di display.


Butet mulai terlihat kesal. Pasalnya Grazia belum juga keluar dari toko tersebut. Tetapi ia terus di desak oleh pegawai toko itu untuk membeli salah satu produk dari mereka.


"Aku masih nengok nengok dulu mbak. Kalok cocok nantik, ku panggil nantik," Ucap Butet.


Pegawai toko tersebut pun mulai melihat Butet yang tampak mencurigakan. Lalu ia mengangguk dan mencoba untuk tersenyum ramah. Tetapi tak sekalipun pegawai itu melepaskan pandangannya dari Butet.


Merasa tidak nyaman karena terus menerus di tatap oleh pegawai toko, Butet pun akhirnya asal mengambil baju tidur dan menyerahkannya kepada pegawai toko itu.


"Aku belik yang ini," Ucap Butet dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Ini saja bu?" Tanya pegawai toko tersebut.


"Iya, mau berapa lusin memangnya kau mau?" Tanya Butet.


"Oh, baik bu. Saya ambil yang baru ya bu. Untuk pembayaran, langsung saja ke kasir." Terang pegawai toko itu lagi.

__ADS_1


"Tau nya aku, kalok bayar di kasir." Batin Butet.


"Mak, mungkin mamak di kira mau nyuri kali di toko ini." Celetuk Moana.


Butet mengerutkan keningnya. Lalu ia menatap pegawai toko yang baru saja melayani dirinya. Memang benar, dari tadi pegawai toko itu terus menatap Butet dengan tatapan yang curiga.


"Iya juga ya?" Gumam Butet.


Kebetulan sekali, saat itu juga Grazia juga beranjak ke kasir untuk membayar barang yang baru saja ia beli. Melihat hal itu, Butet pun segera beranjak ke kasir, bersama dengan Moana. Mereka pun sampai di depan kasir secara bersamaan. Kembali, Butet dan Grazia saling bertatapan. Hingga Butet sadar akan misinya yang harus mendekati Grazia. Ia pun mengalah, dan mempersilahkan Grazia untuk lebih dahulu membayar di kasir tersebut.


"Duluan aja kak," Ucap Butet dengan ramah.


"Mbak nya saja duluan," Ucap Grazia, seraya mempersilahkan Butet untuk maju ke depan kasir.


"Ah, kakak nya aja. Silahkan."


Grazia tersenyum ramah, lalu ia beranjak ke depan kasir.


"Terima kasih loh ya," Ucap Grazia dengan ramah.


"Tidak masalah." Sahut Butet, yang sangat berusaha sekali memasang wajah yang ramah.


"Kalok bukan karena si Sri, udah ku jambak jambak kau. ish..! Geram aku!" Batin Butet.


Akhirnya Grazia pun maju ke depan kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, Grazia pun meninggalkan toko tersebut. Sedangkan Butet masih harus tertahan di toko itu, karena ia harus membayar belanjaannya.


Butet pun panik, ia sangat takut kehilangan jejak Grazia.


"Semuanya satu juta rupiah, kak," Ucap petugas kasir di toko itu.


"Duh.. mana ya ATM ku?" Butet terlihat sibuk mencari dompetnya yang terselip di dalam tas tangannya. Sedangkan ia terus melirik ke arah luar, mencoba memastikan bila Grazia tetap dalam pantauannya.


"Sebentar ya mbak," Ucap Butet, seraya terus merogoh tas nya.


"Mak, takotnya ilang orang tu," Ucap Moana.


Mendengar ucapan Moana, Butet pun semakin panik.


"Mak, aku pigi duluan lah ya," Ucap Moana, seraya berlari keluar dari toko tersebut.


"Eh! Moana!" Panggil Butet.


Namun bocah perempuan itu tak menghiraukan panggilan dari ibunya. Moana terus berlari mengikuti Grazia. Butet pun panik, namun ia terlihat gengsi untuk meninggalkan toko tersebut, tanpa membayar terlebih dahulu.


"Aduhhh.. kek mana ini?" Batin Butet.


Akhirnya ia pun menemukan dompetnya dan dengan cepat mengeluarkan ATM, milik Moan, yang masih ia pegang.


"Cepat sikit mbak! Ilang anakku nantik!" Ucap Butet yang terlihat sangat panik.


Setelah membayar, Butet pun terlihat bingung. Pasalnya ia sudah tidak lagi melihat sosok Grazia maupun Moana. Butet pun semakin panik, hingga ia berlari ke sana ke mari untuk mencari Moana.

__ADS_1


"Ya Tuhan..." Keluh Butet, dengan penuh rasa penyesalan.


__ADS_2