Love Scenario V2

Love Scenario V2
Episode 9


__ADS_3

“Hubungi Revan, dan minta anggota lain berkumpul di rumah Bunda sekarang!” Perintah Dimas kepada Aldo.


Tak berapa lama kemudian mereka berkumpul di rumah Bunda Khiren.


“Ada perubahan rencana! Sebelumnya aku dan teman-teman mau minta maaf karena dari awal kami berencana untuk memisahkan kalian.”


“Apa??!” Revan kaget mendengar ucapan yang di keluarkan Dimas.


“Benar kata Dimas tapi, kami menyadari kalau kamu lebih cocok bersama Khiren ketimbang si bajingan Alfin. Dia udah buat putri kecil kami yang imut, manja, dan baik hati menjadi jahat dan pembangkang!” Ekspresi kesal Aldo sangat terlihat jelas ketika menyebut nama Alfin.


“Jadi, rencananya apa?” Ucap Morlin santai sambil meminum tehnya.


“Alfin tidak bisa di singkirkan kecuali Revan bisa memenangkan hati Khiren.”


“Tapi, itu hal yang hampir mustahil terlebih Khiren dari awal gak pernah terlihat suka dengan kehadiran Revan dalam hidupnya.”


“Tenang! Sebagai seorang sutradara film aku bisa membimbing kalian untuk membuat skenario cinta yang akan membuat Khiren bertekuk lutut pada Revan” farhan mulai menyombongkan kemampuannya. “Sebagai pria sejati, kita tidak bisa kalah dari wanita yang lemah. Ups! Tapi jangan sekali-kali kamu menyebut kata lembah di hadapan Khiren, oke!”


“Kenapa?” Revan sedikit bingung dengan ucapan Farhan.


“Adalah pokoknya, nanti kamu tau sendiri.” Farhan mengeluarkan sebuah buku yang berisi semua rencana mengejar cewek idaman. “Look!” Farhan membuka halaman pertama buku tersebut. “Rencana pertama kita mulai dari ini. Buat Khiren merasa nyaman dan menerima kehadiran Revan.”


“Ide bagus tapi, rinciannya rencananya gimana?”


“Tenang! Serahkan pada ahlinya. Hahaha” Farhan mulai tertawa licik dan semua mata tertuju pada Revan yang terlihat amat polos.


Keesokan harinya, Khiren sedang duduk santai sambil menggambar komik di taman dekat rumahnya. Aldo, Farhan dan yang lainnya sedang mengamati dari kejauhan.


“Rencana hari ini, lo Revan datengin Khiren sambil bawa susu coklat dan cemilan buatan Dimas. Ni ambil!” Farhan memberikan napan yang berisi susu coklat kesukaan Khiren dan cemilan ringan pada Revan.


“serius! Kalian yakin?”


Mereka semua mengangguk dan memberikan dukungan dari belakang Revan.

__ADS_1


“Semangat adik ipar!” Ucap Morlin dengan suara kecil.


Revan mencoba berjalan senatural mungkin agar Khiren tidak curiga kalau kakak-kakaknya yang lain sedang mengintip dari kejauhan.


“Hai, Khiren!” Revan meletakkan susu dan cemilan di dekat khiren. “Kamu lagi buat apa?”


“Buta?”


“Maksudnya?”


“…” Khiren hanya lirik sekilas kearah Revan sebelum dia mulai menggambar kembali.


“Maksud dia apa, sih?!” Revan terus berpikir dan akhirnya dia mulai mengerti maksud Khiren.


“Khiren, kamu gak minum susunya?”


“Emm..”


“Kamu gak suka, ya?” Revan menunggu jawaban khiren tapi Khiren masih saja fokus menggambar.


“Gila tu si Revan. Masih sanggup aja berdiri terus! Beh, kalau gue udah dari tadi langsung duduk di samping Khiren.” Ucap Morlin mengamati Revan dengan kasihan.


“Itu sih, mungkin kakinya terlalu kuat, cuy! Tapi, perhatiin deh! Khiren kok makin dingin sama Revan.”


“Benar kata lo Al, kayaknya dia makin dingin sama Revan. Seingat gue beberapa hari yang lalu gak separah ini. Aduh kalau kayak gini mah gue nyerah aja!” Farhan mulai putus asa.


“Stop! Kalian harus optimis dan percaya dirilah! Kita pasti bisa melepas Alfin dari Khiren. Farhan, kamu gak boleh putus asa secepat ini. Aku dan Morlin akan membuat rencana cadangan kalau semua rencana kamu gagal.”


“Serius? Dimas, lo dan Morlin mau ikutan? Gue pikir lo bergantung sama kami untuk urusan ini ternyata kalian memiliki rencana cadangan. Bagus! Al, kita siapkan rencana kedua!”


“Oke!!”


“Lihat tu!” Tunjuk Farhan kearah Khiren dan Revan.

__ADS_1


Revan mengambil kembali Susu yang di bawanya. Namun, tangan Khiren menghentikan tangan Revan yang mencoba mengambil cemilannya.


“Iya aku mau! Tarok aja di situ! Ngapain mau ambil lagi, sih?!” Wajah khiren terlihat kesal.


Revan meletakkan kembali susu dan duduk di sebelah Khiren. “Nih! Gambar kamu bangus banget! Gimana kalau kamu gambar aku?” Tawar Revan sambil terus menatap gambar yang baru setengah jadi.


“Oke!” Khiren meletakkan gambarnya dan mengambil kertas baru lalu mulai menggambar wajah Revan.


Dari kejauhan ada yang menatap penuh amarah di balik bunga-bunga indah yang sedang bermekaran.


“Ngeselin banget tu si Revan! Gue aja yang udah sering minta di gambar tapi, dia gak pernah gambar gue tu! Cih! Kalau bukan untuk menyingkirkan si Alfin sialan itu udah pasti gue habisin tu si Revan.” Kiki terlihat cemburu dengan perilaku Khiren terhadap Revan.


“Udahlah Ki, bukan lo aja yang kesal kami semua juga tapi, demi kelancaran rencana kita dan demi balas dendam pada Alfin kita harus menahan diri.” Aldo mencoba menenangkan Kiki yang emosi.


Sementara Dimas dan Farhan langsung menuju kearah Revan yang sedang berpose untuk di gambar Khiren. Dimas dan Farhan mulai ikut berpose di samping Revan.


“Sialan gue keduluan sama mereka.” Aldo meninggalkan Kiki dan Ryo yang masih dalam keadaan kesal.


“Woi tungguin!” Akhirnya Kiki dan Ryo ikut-ikutan berpose di samping Revan.


Akhirnya Khiren mulai menggambar 7 pria yang antusias menjadi model di hadapanya, Khiren kertawa kecil melihat pose-pose alay mereka. Khiren fokus menggambar dan saat selesai dia memberikan gambar itu pada Revan. Tatapan-tapan membunuh dan afmosfer dingin membuat bulu kuduk Revan berdiri, Revan tidak bisa menerima gambar dari Khiren karena tekanan dari kakak-kakaknya.


Aldo merebut gambat di tangan Khiren dan berlari dari kerumuna para pria yang marah karena tidak mendapatkan gambar itu. Mereka semua berlarian menangkap Aldo dan berusaha mengambil gambar di tangan Aldo. Khiren dan Revan yang tidak ikut mengejar Aldo menikmati tontonan yang menarik itu sambil tertawa bersama. Revan melihat Khiren yang kembali ceria setelah kemaren murka tanpa sebab yang jelas dan Revan ikut bahagia karna itu.


Tiba-tiba sebuah notif dari handphone Khiren membuat senyumnya seketika memudar dan dia fokus pada pesan yang baru saja masuk. Revan penasaran siapa yang mengirim pesan pada istrinya sore itu.


“Sayangku, aku akan menunggu kamu di depan gerbang tepat jam 7 kita akan pergi ke kencan yang terakhir.”


“Baiklah, tapi kali ini aku tidak mau tempat yang terlalu jauh dan membosankan seperti sebelumnya.”


“Apapun untuk kekasihku!” balas Alfin dengan emosi love dan beberapa stiker bentuk hati.


Khiren bukannya tersentuh dengan stiker dari Alfin, dia malah tertawa karena baginya itu sangat lucu. Khiren tau Alfin itu lebay tapi dia tidak menyangka kalau kadang-kadang Alfin bisa terkesan amat sangat lucu. Revan yang melihat raut wajah Khiren yang berubah seketika hanya karena sebuah pesan, dia benar-benar kesal melihat hal itu.

__ADS_1


Bersambung…


Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2