Love Scenario V2

Love Scenario V2
Introgasi


__ADS_3

Saat pulang ke rumah Khiren di sambut dengan tatapan penuh curiga dari Revan dan wajahnya penuh dengan kekesalan.


“Dari mana kamu?”


“Kenapa?”


“Aku tanya kamu dari mana? Jawab aku serang dan jangan malah balik nanya!” Revan terlihat benar-benar kesal saat itu.


“….” Khiren mengabaikan pertanyaan Revan dan langsung masuk ke rumah.


Revan menarik Khiren dengan paksa dan meminta jawaban pasti dari Khiren dengan terus menatap matanya.


“Kamu bertemu dengan pria seharian ini’ kan? Siapa pria itu? Hahaha.. Berani-benarnya kamu pergi dengan pria barumu padahal aku suamimu masih hidup!”


“Apaan sih! Minggir! Ngada-ngada banget, sih kamu!”


“Kamu habis dari rumah siapa? Aku lihat kamu di jemput pria di sebuah café dan kalian sangat akrab.”


“Café ?” Khiren mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia kembali ke rumah, dia ingat kalau dia menemui Boby sepupunya di café karena mobilnya sedang di bengkel.


“Oh, yang kamu maksud itu Boby? Emang kenapa?”


“Beraninya kamu main mata dengan pria lain di belakangku!”


“Main mata? Gak jelas banget kamu! Dia itu sepupuku, makanya kalau mau nikah tu gak asal iya in aja, tapi cari tau juga siapa aja yang jadi keluarganya!” Khiren pergi dengan wajah kesal


“Sayang, maafin aku! Aku gak tau kalau dia kakak kamu!” Revan mulai lega sekaligus merasa bersalah.


“Terserah, pokoknya kamu gak boleh tidur di kamar mala mini!”


“Jangan gitu dong sayang, aku benar-benar minta maaf! Aku salah, jadi tolong jangan usir aku, ya”


Khiren segera menutup pintu kamar di depan Revan yang terus meminta maaf padanya, lalu menghubungi seseorang dari perusahaan penerbit komiknya. Setelah bertemu dengan Vano dia menemukan ide untuk melanjutkan cerita yang sempat dia tunda beberapa bulan karena tidak ada inspirasi yang sesuai dengan tema yang di minta.

__ADS_1


“Hallo, miss Zu! Saya sudah menemukan cerita yang sesuai dengan yang Anda ingin’kan, beri saya sedikit waktu dan kurang dari 3 bulan saya dan tim akan menyelesaikan ceritanya.”


“Bagus kalau begitu! Saya tunggu hasilnya!”


“Baik, sampai jumpa!”


Khiren merasa lega setelah bicara dengan penerbit komiknya karena dengan begitu dia tidak akan meneror Khiren lagi dan terus mempertanyakan kapan komik yang dia minta di selesai.


‘Tok tok tok’ Revan terus mengetuk pintu kamar sampai Khiren merasa sangat amat kesal.


“APA?” Khiren keluar dengan wajah masamnya.


“Sayang, aku tau kalau aku salah, tapi tolong jangan begini! Tolong maafin aku, ya?”


“Terserah deh!” Khiren keluar dan turun untuk makan malam.


Untuk pertama kalinya suasana makan malam terasa aneh, tidak ada satupun yang bicara dan hanya diam saja. Khiren terlihat seperti biasa tapi aura yang dia pancarkan malam itu menekan semua anggota hingga mereka tidak bisa fokus pada makanannya. Setelah selesai makan Dimas dan Aldi di panggil keruang latihan Khiren, tempat itu juga tidak kalah mengerikannya dengan rumah hantu jika mereka di panggil oleh Khiren untuk di interogasi.


“Dim, kira-kira dia mau bahas apa?”


Saat keduanya telah masuk kedalam ruangan, Khiren segera menutup pintu dengan rapat dan menguncinya agar tidak ada gangguan dari luar. Ruangan yang kedap suara itu sangat cocok di jadikan tempat interogasi dan juga tempat pembantaian karena tidak akan ada yang mendengar setiap jeritan atau tangisan dari korbannya. Dimas mencoba untuk bersikap tenang walau debaran jantungnya semakin kencang saat Khiren mematikan semua lampu dan hanya menyisakan satu lampu di meja tempat mereka sedang duduk. Aldo benar-benar bergemetaran hingga menggenggam tangan Dimas yang ada di sampingnya, dia mulai berkeringatan saat Khiren duduk di hadapan mereka dan terus menatap kearahnya.


“Kenapa? Kenapa kalian menghianati aku? Harusnya kalian mendukungku bukannya si Revan! Kalian para penghianat pantas mati!” Khiren mencekik leher Aldo dengan sekuat tenaga dan Dimas yang melihat itu pingsan karena kaget.


“Tidak!!!” Aldo berteriak sekuat tenaga.


“Hai! Kamu kenapa?” Dimas yang di sampingnya menepuk pundak Aldo yang hanyut dalam fantasi yang dia bangun sendiri.


“Tidak apa?” Khiren bertanya pada Aldo yang wajahnya hampir sepucat mayat.


“Huft! Untung bukan nyata! Gak ada kok!”


“Kalau begitu aku mulai! Apa kalian ingat dengan Vano?”

__ADS_1


“Oh anak cupu itu? Memangnya kenapa?”


“Aku hanya ingin tau, sebenarnya kenapa aku kehilangan sebagian memori ku tentang dia?” Mata Khiren langsung menuju kearah Dimas.


“Itu…” Dimas mulai berkeringatan dan dia cukup tahu kalau jika dia salah menjawab pertanyaan Khiren maka hal buruk bisa saja terjadi hari itu.


“Biar aku yang jawab saja!” Aldo mencoba menyelamatkan Dimas dari pertanyaan Khiren.


“Silahkan!”


“Waktu itu, tepatnya setelah Vano pindah kamu jadi penyendiri dan terlihat seperti depresi, setelah itu saat latihan berenang kamu menenggelamkan diri di dalam kolam terlalu lama hingga membuat semuanya panik, setelah kamu demam hampir seminggu tiba-tiba saja kamu kembali seperti sebelum mengenal Vano, dan setelah itu Kakek melarang kami membahas Vano di depan kamu, hanya itu yang kami tau!”


“Apa kamu yakin? Apa masih ada rahasia yang tidak aku ketahui? Kalau begitu alasan kenapa Vano keluar dan kenapa aku waktu itu meminta Vano untuk pindah kalau emang dia sangat penting waktu itu?”


“Kalau itu… Sebenarnya setelah kamu dekat dengan Vano, Alex melaporkan hal itu pada Kakek dan kita semua mendapat teguran yang keras karena itu, Kakek menganggap kalau Vano hanyalah kelemahan kamu dan meminta kamu menjauhi dia atau kalau tidak maka keluarga Vano akan di musnahkan”


“Iya, waktu itu Kakek terlihat sangat seram, dan kami sangat terkejut karena kamu masih saja menemui Vano walau pada akhirnya kamu melakukan taruhan dan Vano terpaksa pergi dari sekolah.”


“Apa tidak ada lagi?” Khiren bangun dan berjalan kearah mereka, dia berbisik dengan suara yang mengerikan dan membuat kedua pria itu jadi merinding.


“Aku sangat menyayangi kalian, jadi jangan buat aku kecewa karena kalau kalian menyembunyikan sesuatu lagi dariku, aku tidak bisa menjamin bisa menahan diri untuk tidak melukai kalian, apa kalian paham?!”


Kedua pria yang sudah sangat ketakutan setengah mati itu hanya bisa mengangguk saja dan tidak berani bersuara.


“Kalau begitu, Aldo cepat keluar dan Dimas tetap di sini! Dan panggil yang masuk!”


Mendengar hal itu Aldo langsung berlari secepat kilat dan meninggalkan Dimas yang masih berada dalam cengkraman singa gila. Dimas menatap Aldo yang meninggalkan dia dengan begitu mudahnya.


“Dasar gak setia kawan” Dimas meringis dalam hatinya melihat Aldo membiarkan dia diterkam sendirian.


“Tenanglah, aku tidak akan membunuh Kakakku tercinta, kok!” Ucapan lembut yang menyiratkan makna yang berbeda dari ucapannya membuat Dimas semakin berharap dia bisa kabur dari tempat yang mengerikan itu.


Bersambung......

__ADS_1


Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2