
“Siapa diantar kalian yang bernama Vano?” Tanya pria itu.
“S-saya pak!” Ucap Vano takut.
“Kalau begitu tolong temui nona kami di dalam mobil!”
“B-baik!” Vano yang ketakutan dengan wajah seram pria itupun akhirnya menurut dan masuk ke mobil dan di sana dia benar-benar terkejut saat melihat siapa wanita yang memanggilnya.
“Khiren? Kenapa bisa kamu?”
“Kenapa? Kamu tidak suka? Cepat masuk!” Perintah Khiren.
Vano pun masuk dan duduk di sebelah Khiren dengan debaran jantung yang begitu kencang dan tidak terkendali.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku? Em, aku mau ke tempat pemotretan.”
“Pak tolong cepat jalan!”
Lalu mobil langsung berangkat dan meninggalkan Jeri yang masih di tahan oleh salah seorang pengawal Khiren.
“Apa kamu tidak merindukanku?”
“T-tentu saja aku rindu! Apa, apa aku boleh memeluk kamu?”
“Menurutmu? Apa boleh atau tidak?” Khiren malah balik melempar pertanyaan yang sedikit membuat Vano terdiam hingga dia menyadari apa yang ingin Khiren sampaikan.
Vano segera memeluk Khiren, dia memeluknya dengan amat kencang seakan tidak akan pernah melepaskan Khiren.
“Sayangku, kamu menyakitiku!”
“Eh, maaf, maafkan aku! Aku terlalu terbawa suasana, maafkan aku” Vano yang merasa bersalah terus meminta maaf setelah melepaskan pelukannya.
Khiren mengelus rambut Vano dengan lembut dan tersenyum kearahnya, “Sudahlah, kamu tidak perlu minta maaf lagi, aku paham!”
“Apa kamu masih mencintaiku?”
“Tentu saja, memangnya kenapa?”
__ADS_1
“Kalau kamu mencintaiku kenapa saat reuni kamu seakan tidak memiliki perasaan padaku dan malah terus saja membiarkan si Revan itu menggenggam tanganmu di hadapanku!”
“Ayolah, sayangku kamu jangan berpikir begitu! Meski wajahmu sangat imut saat cemburu tapi, aku tidak suka kamu mempermasalahkan hal itu”
“Lalu aku harus apa? Aku benar-benar kesal, cemburu dan juga marah pada waktu itu”
“Aku minta maaf soal itu, hanya saja aku memiliki situasi yang rumit dengan ‘orang itu’ makanya kamu harus sedikit lebih pengertian lagi”
Lalu mobil berhenti tepat di tempat tujuan Vano.
“Tapi-tapi, tapi aku tidak bisa terus melihatmu bersama pria itu, aku bisa gila kalau memikirkannya!”
“Makanya kamu tidak perlu memikirkan itu, yang pasti aku akan ada untukmu karena aku hanya mencintaimu seorang, sekarang cepat masuk ke dalam dan kita akan bertemu lagi di perusahaan, aku harap kamu bisa sering berkunjung”
“Baik! Aku pasti akan sering berkunjung!” Ucap Vano sebelum turun dari mobil.
Saat sudah cukup jauh tiba-tiba saja dia kembali masuk ke dalam mobil dan memeluk Khiren sambil berkata “Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Khiren”
“Aku juga sama! Sekarang cepat, aku harus pergi ke sebuah rapat setelah ini”
“Baiklah, maaf aku tadi sedikit emosianal dan egois.”
“Tidak masalah, lagian aku benar-benar menyukai semua sisimu.”
“Ini terasa seperti mimpi, aku pikir dia sudah berpindah arah dan meninggalkan aku, aku tidak menyangka kalau aku adalah pria yang dia cintai, rasanya aku ingin terbang saja” Vano terus tersenyum bahagia sambil melihat mobil Khiren yang semakin menjauh.
“Vano! Udah sampai kok gak bilang-bilang sih? Bikin orang lain kebingungan aja, aku udah takut banget kalau kamu di culik tadi, aku juga bingung mau ngasih alasan apa kalau jadwal hari ini di batalkan.”
“Iya-iya ayo masuk saja!”
***
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat perusahaan JRan semakin berkembang dengan tingkat penjualan semakin meningkat dari hari ke hari berkat Vano yang bersedia jadi model iklan produk mereka. Karena kerja sama antara mereka Vano jadi sering datang ke kantor menemui Khiren dengan berbagai alasan, hingga tersebar gosip antar karyawan kalau Khiren dan Vano itu adalah pasangan kekasih.
“Hai hai! Tadi aku berpapasan sama Vano, dia bawa bekal dan kayaknya mau keruangan nona Khiren.”
“Benar, aku juga lihat tadi! Kayaknya mereka ada apa-apanya.”
“Oh, pantesan dia tiba-tiba mau menerima kontrak dari perusahaan ini padahal sebelumnya dia udah menolak dengan keras soal kontrak dari perusahaan kita.”
__ADS_1
“Iya, iya mereka sangat mencurigakan tapi, apa laporan kalian sudah siap?” Tiba-tiba ketua tim mereka datang dan membuat sekumpulan orang-orang yang sedang asik bergosip di jam kerja terkejut dan langsung segera kembali ke meja mereka masing-masing.
“Dasar mereka, selalu saja membuang-buang waktu untuk bergosip!”
Sementara itu Vano dengan penuh semangat menuju ke ruangan Khiren.
‘plak’ Sebuah dokumen di lempar ke lantai.
“Apa-apaan ini, ini yang kamu sebut kerja? Ini bukan pekerjaan tapi setumpuk kesalahan, sekarang buat laporan baru dan periksa hingga tidak ada cacat sedikitpun, paham!”
Seorang pria muda itu benar-benar bermetaran di depan Khiren dan wajah pria itu terlihat sangat pucat, dia mengutip semua kertas yang tersebar di depannya lalu keluar dengan terburu-buru.
“A-apa yang baru saja aku lihat?! Mana mungkin Khiren bisa seseram itu? Apa aku pulang saja?” Vano langsung masuk keruangan Khiren padahal dia sudah dari tadi mengamati Khiren yang sedang marah dari pintu yang tidak di tutup rapat.
“Vano, kenapa hanya berdiri di pintu saja, ayo masuk!” Ucapan Khiren begitu lembut seakan tidak ada kejadian apapun barusan.
“Apa aku salah lihat tadi? Ah, masuk aja lagian udah ketahuan, kan gak mungkin kalau kabur sekarang”
“Kenapa kamu lama sekali? Aku jadi merindukanmu!”
Lalu Vano meletakkan makanan yang di bawanya di meja, kemudian dia menghampiri Khiren yang masih duduk di kursi kerjanya yang bak singgasana yang megah.
“Aku juga merindukanmu” Vano memberikan sebuah ciuman di kening Khiren lalu menariknya untuk duduk di sofa dan makan bersamanya.
“Aku tahu kamu sedang menjaga berat badang, karena itu aku memilih membuat makanan yang rendah lemak dan cocok untuk orang diat.”
“Aku sangat senang kamu datang, apa lagi membawa makanan hanya saja jam untuk aku makan sudah habis, karena itu aku tidak boleh makan lagi dan 20 menit lagi aku harus rapat.”
“Tapi, aku sudah susah-susah membelikannya”
“Kalau gitu kamu makan saja, biar aku yang menyuapinya. Lain kali kalau kamu ingin makan siang denganku, kamu harus datang kurang dari jam 12 siang.”
“Tapi… Padahal aku ingin makan siang bersamamu” Wajah Vano terlihat sangat amat kecewa.
Khiren benar-benar lemah di depan Vano dan pada akhirnya dia terpaksa tidak mengikuti jadwal makannya hanya demi melihat senyum dari seorang Vano.
“Baiklah, ayo kita makan bersama.”
Mendengar hal itu wajah Vano kembali ceria dan mereka menghabiskan siang bersama di ruangan Khiren. Bak pasangan kekasih Vano terus saja bersikap manja pada Khiren, dia beberapa kali meminta Khiren untuk menyuapinya, dan hal yang sulit di percaya Khiren menyuapi Vano dengan senang hati bahkan dia hampir terlambat ikut rapat karenanya.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa untuk meningkatkan jejak bacaannya. Selamat membaca 😊