
Beberapa menit setelah itu Dimas di minta untuk menghubungi Khiren dan menanyakan keberadaannya.
“Hallo! Khiren kamu di mana?” Suara lembut Dimas terdengar begitu jelas.
“Kak, aku ada di café Angga! Aku pulang agak sore an jadi jangan di tunggu. Mobil aku lagi di bengkel dan nanti aku pulangnya sama Angga aja, bilang sama yang lain juga agar mereka tidak khawatir.”
“Baiklah kalau gitu sampai jumpa nanti malam!”
Setelah memberitahukan keberadaannya pada Dimas, Khiren menemui Angga yang sedang di ruangannya di lantai atas.
“Hai! Kamu masih suka melukis juga, ya?”
“Eh, Khiren! kamu ini bikin kaget aja. Ayo duduk!”
“Padahal kamu sangat sibuk, tapi masih sempat-sempatnya buat nge lukis, ya? Angga kamu lukis apaan, sih?” Khiren mendekati lukisan yang belum di selesaikan Angga.
Khiren terkejut melihat wajah yang ada di lukisan itu, terasa familiar tapi dia tidak bisa mengingat siapa orang itu. Pria yang memiliki perasaan hampir mirip Revan dengan mata biru yang indah, membuat Khiren terus berusaha mengingatnya sayangnya seberapa keras pun Khiren mencoba mengingatnya tetap saja dia tidak bisa ingat.
“Mengagumkan!” Khiren benar-benar terpesona dengan wajah yang ada dalam lukisan itu.
“Tentu saja mengagumkan, siapa dulu dong yang lukis!”
“Maksud aku itu, pria yang ada di dalam ini sangat mengagumkan! Dasar Angga narsis! Minta cappuccino dong!”
“Gak boleh!”
“Masa gara-gara aku bilang modelnya aja yang menarik, kamu jadi merajuk gitu, sih?”
“Bukan itu masalahnya! Kalau aku kasih minuman itu ke kamu nanti Kakak barbar kamu ngajar aku!”
“Apaan, sih! Mereka gak akan tau selam kamu tetap diam! Kali ini aja, please!” Khiren menunjukkan ekspresi imut dan menyedihkannya hingga membuat luluh hati seorang Angga.
“Iya iya deh!” Secara khusus Angga membuat minuman pesanan Khiren dan di bawanya ke ruangannya.
“Nih!”
__ADS_1
“Makasih Angga! Kamu emang yang terbaik!” Dengan hati-hati Khiren meminumnya. “Wah, dingin-dingin gini emang kopi hangat paling enak! Kalau di rumah mana boleh minum kaya gini, kangen banget deh aku sama rasanya yang the best ini! Oh iya, ngomong-ngomong siapa nama model kamu ini?”
“Kepo! Udah nikah, ngapain tanya soal cowok lain? Udahlah, em sebenarnya kamu ke sini ada masalah apa?”
“Gak ada, cuma cari hiburan doang!”
“Kenapa kamu gak liburan aja?”
“Bunda gak bolehin, kemaren aja pas aku ke Bali kena tegur sama Bunda, terus yang parahnya aku udah gak di bolehin jadi model dan gak boleh keluar negeri kalau gak sama Revan!”
“Heum, udahlah kamu pasrah aja! Kalau membantah nanti makin panjang urusannya! Ingat gak, waktu SMA kamu kan pernah gak masuk sekolah bisnis pas libur soalnya kamu mau jadi model majalah remaja, ya'kan? Terus seminggu setelah itukan, perusahaan majalah mendapat terror dan juga yang paling parahnya mereka hampir di musnahkan sama Bunda kamu. Intinya mending kamu nurut aja lah, Khi!”
“Udahlah, yang kayak gitu gak usah di ingat-ingat lagi lah! Itu pria yang di lukisan kamu namannya tadi siapa? Kalau kamu gak kasih tahu, aku robek ni lukisan” Khiren mendekati lukisan itu dan bersiap untuk menghancurkannya.
“Jangan!! Iya iya aku kasih tau, tapi kamu harus jauh-jauh dulu dari lukisannya, ya?”
Khiren mulai menjauh dari lukisan dan Angga menutupi lukisan itu dengan kain putih.
“Namanya Devano, 25 tahun dan dia tinggal di Bali, oke udah cukupkan?”
“Putri kecil yang kepo, masa aku harus cerita lebih detail lagi, sih?” Ucap Angga dengan nada mengolok-olok Khiren.
Tiba-tiba suasana jadi suram, dan hawa dingin mulai memenuhi ruangan itu, mata Khiren menatap Angga seperti singa yang sedang mengincar mangsanya. Angga mulai merinding dan pada akhirnya dia mengalah pada Khiren yang siap menerkamnya.
“Gak itu cuma aku iseng aja, mata aslinya gak biru kok. Bentar lagi orangnya juga datang. Sekarang rasa penasaran putri kecil udah hilangkan?”
Angga kembali membuka penutup lukisannya dan melanjutkan melukis, di saat yang bersamaan terdengar ada langkah kaki yang menuju keruangan itu.
‘Tok tok tok’ ketukan pintu yang sedikit mengagetkan, pintu terbuka dan muncullah pria yang sama persis seperti lukisan yang sedang di kerjakan Angga.
“Hai! Eh, kamu?” Orang itu kaget melihat kearah Khiren.
“Kamu kenal dia?” Angga langsung menyambut kedatangan pria itu dengan pertanyaan.
“Khiren, ini adalah Devano yang membuat kamu penasaran tadi, dan Vano ini adalah temanku sejak SMP. Ayo duduk!”
__ADS_1
“Apa kita pernah bertemu?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Iya soalnya dari tadi kamu lihat aku seperti seorang yang sudah sangat lama ingin kamu temui, kalau emang pernah, aku minta maaf kalau gak bisa ingat, soalnya aku paling sulit mengingat wajah orang yang tidak aku temui dalam waktu lama.”
“Oh pantas aja!”
“Maksudnya?”
“Pantas saja kamu tidak mengingatku, waktu itu kita pernah bertemu di pantai, kamu ingatkan? Kalau kamu tidak ingat tidak papa, anggap saja ini awal baru untuk kita, dan mungkin kita bisa menjadi teman hidup yang baik.”
Angga merasa ada yang janggal dari ucapan Vano tapi dia mencoba mengabaikan itu karena melihat reaksi keduanya yang terbilang biasa saja.
“Tentu saja!” Khiren melihat kearah jam lalu dia ingat kalau dia harus segera pulang sebelum lama tiba karena seorang pengawas akan datang untuk melihat keadaannya bersama Revan.
“Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama karena ada urusan keluarga, kalau gitu sampai ketemu lain waktu!” Khiren bergegas pergi sebelum orang-orang suruhan keluarganya datang.
“Loh, kamu pulang sama siapa?”
“Aku udah minta di jemput, kok tenang aja!” Khiren segera berlari keluar karena waktu terus berjalan dan orang yang akan mengawasinya mungkin saja datang lebih awal dari jadwal.
“Angga, kamu ingatkan kalau aku pernah cerita tentang cewek yang jadi cinta pertamaku”
“Ingat! Cewek yang membuat kamu frustasi sampai hampir mati itu’ kan? Emang kenapa?”
“Cewek itu adalah Khiren, meski dia tidak mengingatku tapi aku selalu mengingatnya hingga detik ini! Kali ini aku tidak akan melepaskan dia lagi!”
“Jangan gila kamu Angga, dia itu udah nikah!”
“Angga, kamu pikir aku tidak tau, hah?! Meski begitu, aku tidak akan menyerah untuk kedua kalinya, meski dia sudah menikah tapi, mereka dengan menikah bukan karena karena cinta dan alasan yang mereka punya pun akan membuat penggemar Khiren marah. Aku akan membuat mereka berpisah dengan tanganku sendiri, dan aku pastikan kalau Khiren akan kembali kepadaku!”
“Terserah deh, yang penting jangan bawa-bawa aku dalam urusan kalian!” Angga tidak bisa menentang obsesi dari sahabatnya itu karena dia sangat tau kalau meski dia menentang sekalipun tidak akan ada yang berubah.
Bersambung…
__ADS_1
Cuma mengingatkan buat jangan lupa like dan komen, kalau bisa sih kasih vote juga biar bisa semangat. Makasih sudah berkunjung, sampai jumpa di episode berikutnya.