
Begitu membuka mata Khiren sudah berada di tempat yang begitu asing, adegan ini lebih dari apa yang dia bayangkan. Tangannya terikat dan dia berusaha untuk tetap tenang agar dia tidak terbawa emosi dan membuat dia semakin masuk ke dalam masalah yang lebih dari apa yang dia bayangkan.
“Pagi istriku tercinta!” Revan masuk dan membawa makan untuk Khiren.
“Sesuai dugaan, aku tidak menyangka ini akan terjadi setelah setahun pernikahan kita, aku sudah menunggu-nunggu kamu menampakkan sifat aslimu”
“Kenapa kamu masih bisa tertawa? Apa tidak ada sedikitpun kekhawatiran dalam pikiranmu? Kamu terlalu tenang untuk seorang yang di culik, seakan kamu sudah siapa dengan semua ini”
“Lalu kamu mau aku lakukan apa? Berteriak? Marah, memaki? Itukan buang-buang energi saja, lagian tidak ada yang bisa aku lakukan selain tetap tenang sekarang, ya’kan?”
“Benar sekali, meski kamu berteriak sekalipun tidak akan ada yang datang ke tempat itu, aku bisa menjamin kamu akan aman bersamaku. Aku sangat menyesal tidak bisa bersama kamu saat kita kehilangan anak pertama kita”
“Lupakan itu, lepaskan tanganku! Ini menyakitkan!”
“Tidak bisa, kamu akan kabur jika aku melepasmu sekarang”
“Lepaskan saja, aku janji tidak akan kabur sekarang”
“Apa aku bisa percaya dengan ucapanmu?”
“Terserah saja”
“Baiklah, kali ini aku akan percaya” Lalu Revan membuka ikatan itu.
Akhirnya Khiren bisa duduk dengan santai dan bisa mengenggangkan tubuhnya setelah lama berada di posisi yang membuat dia tidak nyaman.
“Itu makanan untukku?”
“Iya, aku pikir mungkin kamu akan lapar di pagi hari”
“Jam berapa sekarang?”
“Ini masih jam 7”
“Bagus, kalau begitu aku akan makan makananku, berikan padaku”
“Tidak, biar aku menyuapimu”
“Aku bukan anak kecil”
“Aku suka melakukannya, mau aku suapi atau tidak?”
“Terserah saja”
Revan menyuapi Khiren dengan hati-hati, mereka terlihat bak pasangan yang sangat mesra, tapi Khiren sama sekali tidak tersentuh dengan perlakuan dari Revan. Dia bersiakap biasa-biasa saja, tidak berekspersi seperti wanita pada umumnya.
“Sudah, aku tidak mau makan lagi, ayo keluar, aku ingin jalan-jalan!” Khiren menarik tangan Revan bersamanya.
Mereka akhirnya pergi berkeliling tempat itu, rumah yang besar dan halaman yang luas, Khiren mulai menerka-nerka luas tempat itu dan apa yang bisa dia lakukan untuk bisa kabur dengan cepat dari tempat itu. Pengawasan yang ketat membuat Khiren meragukan rencananya, kemanapun dia melangkah akan selalu ada orang yang mengawasinya, dia merasa terjebak di tempat itu.
“Kenapa jadi lebih susah dari bayanganku? Aku harus lakukan sesuatu” Pikir Khiren.
“Hai! Apa kamu melihat gelangku?”
__ADS_1
“Galang? Apa itu berharga? Dari siapa?”
“Apa itu penting? Sekarang yang terpenting kamu melihatnya atau tidak?”
“Kalau lihat kenapa dan kalau tidak kenapa?”
“Katakan saja, kamu lihat atau tidak?”
“Sebanarnya sepenting apa gelang itu?”
“Kamu hanya perlu jawab lihat atau tidak itu saja, jangan membuat aku kesal”
“Apa itu dari pria sialan itu?”
“Tutup mulutmu! Dia punya nama dan itu bukan dari dia! Aku membelinya sendiri!”
“Tidak mungkin, kalau memang kamu membelinya sendiri kenapa kamu mencarinya seakan dia itu dari kekasihmu”
“Ku katakan untuk terakhir kalinya, kamu hanya perlu menjawab lihat atau tidak itu saja!”
“Kenapa kamu marah hanya karena gelang?”
“Kamu ini benar-benar bikin naik dari aja” Lalu Khiren pergi meninggalkan Revan dengan di ikuti dua pengawal yang berada di belakangnya.
“Kenapa sulit sekali sih dia jawab, cuma tanya soal gelang aja bikin ribet! Kapan gelang itu hilang, kalau sampai jatuh di tempat lain, aku akan sulit untuk keluar dari tempat ini sesuai jadwal.” Khiren mulai berpikir keras.
Khiren duduk di pinggir danau buatan sambil terus memikirkan gelang yang hilang itu, lalu Revan datang dan membawa gelang itu padanya.
“Berikan!”
“Tunggu dulu! Apa ini dari orang itu?”
“Bukan!” Lalu Khiren merebutnya dari Revan. Khiren mengambil sebuah batu dan menghancukan gelang itu di depan Revan.
“Kenapa kamu hancurkan?”
“Bukannya ini membuat kamu senang? Puaskan karena aku udah hancurin gelang itu?”
“Aku tidak bermaksud… Khiren dengar dulu” Revan mengajar langkah Khiren yang cepat.
“Tunggu! Khiren! Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu”
“Sudahlah, aku tidak ingin bicara dengan kamu”
“Tunggu! Aku tetap ingin kamu mendengarkan aku!” Revan menarik tangan Khiren dan menghentikan langkah cepat Khiren.
“Apa lagi sekarang?!”
“Aku tidak berpikir kamu akan menghancurkannya, aku tidak pernah bermaksud membuat kamu kesal, tolong jangan marah”
“Lalu kalau aku tidak amarah apa yang akan berbeda sekarang? Aku tetap akan di kurung di tempat ini, ya’kan?”
“Aku tidak ingin melakukan ini tapi, aku tidak ingin kamu terus berada di tempat itu dan bekerja sama dengan pria aneh itu”
__ADS_1
“Pria aneh? Siapa yang kamu bicarakan?”
“Tentu saja master K, dia pria yang selalu menggunakan topeng, dia terkenal sangat kejam, aku tidak ingin kamu memiliki hubungan dengan orang itu”
“Kamu salah paham, tapi ya sudahlah!”
“Aku pikir setelah semua yang terjadi dia tahu kalau akulah master K, hahahah… aku terlalu banyak berharap pada otak kecilnya itu” Pikir Khiren.
“Kenapa kamu tertawa?” Tanya Revan.
“Tidak ada, ayo masuk! Aku ingi beristirahat, aku lelah berjalan-jalan hari ini”
“Baiklah!” Revan mengikuti Khiren seakan dia adalah ekor Khiren.
Malam pun tiba, setelah makan malam Khiren hanya duduk di kamar sambil memandangi langin lewat jendala kaca. Revan datang membawa segelas air untuk Khiren.
“Apa yang kamu lihat?”
“Hanya langit hampa. Revan, apa kamu tahu kenapa kita berada dalam situasi ini?”
“Aku pikir mungkin ini takdir”
“Tidak, ini bukan takdir, ini hanya bentuk keegoisan wanita itu.”
“Maksudmu bunda mu?”
“Siapa lagi kalau bukan dia, apa kamu tahu rasanya aku merasa sedikit lega setelah kejadian itu. Aku merasa benar-benar lepas dari cengkraman yang menyiksaku selama ini. Aku tidak pernah mendapat cinta dari orang tuaku meski aku melakukan segalanya untuk menarik perhatian mereka.”
“Aku mengerti itu”
“Jangan berbohong, kamu tidak mengerti, tidak ada yang mengerti apa yang aku rasakan selain diriku sendiri. Bahkan kamu di lahirkan dan di besarkan dengan penuh cinta, walau aku hanya sekali bertemu dengan ibumu tapi aku cukup yakin dia adalah wanita yang lemah lembut, ayahmu juga meski bukan orang tua kandung dia tetap mencintaimu seperti anak sendiri. Aku sangat iri padamu.”
“Mungkin kamu akan menganggapku aneh atau gila tapi, aku pernah mencoba bunuh diri setalah pernikahan kita. Aku tidak pernah menyangka mereka akan berbuat sejauh itu hanya untuk mendapatkan keuntungannya. Bukankah lucu, mereka menjanjika aku segalanya tapi yang aku dapatkan hanya luka. Mereka tidak pernah peduli aku hidup atau mati, dari dulu sampai sekarang mereka masih saja sama, tidak ada yang berubah.”
Lalu Revan memeluk Khiren, dia seakan bisa merasakan rasa sedih yang tidak di ekspesikan oleh Khiren. Meski Khiren terlihat tenang saat bercerita tapi, dia tahu kalau wanita di hadapannya sedang sangat sedih.
“Lepaskan! Aku tidak memintamu untuk bersimpati padaku”
“Khiren, kamu hanya perlu tahu sekarang kamu punya aku, aku akan menjagamu.”
“Sudah aku bilang, aku tidak membutuhkan simpati dari kamu, aku menceritakan ini agar kamu tahu situasiku dan berhenti keras kepala. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan cepat.”
“Khiren, tolong izinkan aku untuk membahagiakan kamu dan menjagamu.”
“Menjagaku? Jangan terlalu keterlaluan, aku ini bukan makhluk lemah yang perlu perlindungan, aku sangat bahagia jika kamu cepat menceraikan aku, lakukan itu dan aku akan bahagia”
Revan tidak mengatakan apapun, dia masih saja memeluk Khiren dan Khiren tidak menyingkirkan Revan darinya. Mereka berdiri cukup lama sambil menatap maling malam tanpa bicara sepatah katapun.
Bersambung.....
Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.
SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊
__ADS_1