Love Scenario V2

Love Scenario V2
Kucing menggemaskan


__ADS_3

Sesuai dugaan Vano sudah merajuk dan mengurung diri di kamarnya.


‘tok tok tok!’ Khiren langsung ke kamar Vano dan dia mengunci kamarnya.


“Vano! Buka pintunya! Ayolah jangan begini!”


Khiren tak langsung habis akal, dia mencari kunci cadangan dan membuka pintu kamar Vano. Dia melihat Vano sedang tidur dan menutup telinganya dengan bantal.


“Vano, dengar! Aku bukannya mau ingkari janji dan ninggalin kamu, aku cuma ada keperluan mendadak tadi!” Khiren mencoba menyingkirkan bantal yang menutupi wajah Vano tapi Vano menarik kembali.


“Vano, aku minta maaf! Vano sayang, jangan ngambek dong!”


“Vano, kalau kamu berhenti ngambek nanti aku cium!”


“APA?” Vano langsung bangun saat mendengar tawaran yang menarik dari Khiren.


“Kamu masih ngambek? Ayolah, jangan jadi anak kecil! Aku janji lain kali gak akan ninggalin kamu lagi.”


“Selamanya?” Sambung Vano.


“Iya Selamanya, sekarang berhenti ngambek, ya?”


“Baiklah, tapi tadi kamu bilang mau cium aku’kan?”


Khiren hampir lupa yang sudah dia ucapakan tanpa sadar dan Vano seakan menuntutnya untuk memenuhi apa yang dia janjikan barusan.


“Baiklah!” Khiren mencium kening Vano lalu lekas pergi.


Tangan Vano menarik Khiren hingga dia tidak bisa meneruskan langkahnya.


“Masa itu yang kamu sebut ciuman?”


“Sayangku, lain kali saja, ya? Aku benar-benar lelah dan ini sudah lewat dari jadwal tidurku.”


“Kalau gitu kamu bisa menemaniku di sini?”


“Ayolah sayang, ini sudah berlebihan!”


“Kalau gitu aku gak mau bicara lagi sama kamu!”

__ADS_1


“Iya, iya!” Khiren langsung kalah dengan wajah cemberut Vano. Khiren tidur di sebelah Vano dengan keadaan masih setengah duduk, “Aku hanya menemanimu sampai kamu tidur saja, ya?”


“Baiklah!” Vano menurut dan mendekatkan diri pada Khiren, dia memeluk Khiren yang masih bersandar di tempat tidur.


“Menggemaskannya!” Khiren memandangi wajah Vano yang sedang berusaha untuk tidur sambil memeluk Khiren. Tak lama setelah itu hampir saja terlelap dan sebuah notifikasi dari seorang yang dia minta untuk mencari tau apa yang sedang Revan lakukan selama di Amerika, membuat dia terjaga. Dia mencoba melepaskan pelukan Vano dan perlahan-lahan keluar dari tempat itu.


“Nona, tuan Revan masuk rumah sakit beberapa hari ini! Ada seorang wanita yang terus datang menjenguknya dan dia tidak termasuk dalam data keluarga.”


“Siapa wanita sialan ini, tunggu dan milik siapa yang kamu usik dasar wanita sialan!” Khiren cukup kesal membaca pesan dari orang suruhannya.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin meninggalkan Vano, tapi… Aku juga tidak bisa membiarkan Revan di sana sendirian apa lagi kalau sampai Bunda tau aku tidak mendampingi Revan yang sakit! Sial! Kenapa hidup makin ribet aja!”


Khiren jadi sulit tidur saat memikirkan Vano dan Revan yang sama-sama harus dia perhatikan, dia tidak bisa meninggalkan Vano dan mengakhiri libur mereka lebih cepat dari jadwal. Jika dia tidak pergi menemui Revan, maka hal buruk juga akan terjadi pada Vano sebagai efek dari amarah Bunda jika tau Khiren tidak menemani Revan karena kehadiran Vano.


“Padahal aku ingin menghabiskan sisa liburku bersama Vano, aku ingin mengganti setiap waktu yang aku lewatkan tanpa kehadirannya, aku ingin melihat senyum dan tingkah manjanya lebih lama lagi. Sayang sekali, seakan takdir tak pernah menginginkan kita bersama, aku harus meninggalkan kamu lagi, dan pergi menemui orang yang di pilihkan untuk menggantikan mu di hidupku.”


“Apa aku masih bisa melihat senyummu lagi setelah malam ini berlalu? Aku sangat berharap semua perjuanganku tidak sia-sia dan kita bisa bersama, akan kah kamu bisa menungguku lebih lama lagi?” Untuk pertama kalinya Khiren ragu mengambil keputusan karena semua yang jadi pilihan tetap akan membuat dia terpaksa melukai orang yang amat dia cintai.


“Jika suatu hari kamu lelah menunggu, aku akan melepas mu dari sangkar emas ini, aku tidak bisa melihat sayap-sayap rapuh mu patah karena keegoisanku. Aku akan melindungi mu dengan segala cara, agar kamu bisa terbang bebas meski tujuan akhir mu bukanlah aku.”


Keesokan harinya, Khiren sudah siap mengemas koper dan bersiap untuk berangkat ke Amerika menemui Revan.


“Kamu mau ke mana?” Vano datang ingin memanggil Khiren untuk sarapan.


“Kebetulan, aku juga ada jadwal pemotretan di sana, kita bareng aja?”


“Sayangku, aku terlanjur memesan tiket! Mengertilah!” Khiren menghampiri Vano dan memegang tangan Vano.


“Aku akan mengerti kalau kamu mengizinkan aku ikut!” Vano mulai memakai senjatanya yang membuat Khiren jadi luluh padanya, wajah cemberutnya itu selalu mempan untuk di gunakan pada Khiren.


“Kenapa kamu selalu melakukan itu?” Khiren mencubit pipi Vano dan dia mencoba untuk tidak terpengaruh dengan wajah cemberut dan menggemaskan Vano. Khiren mengalihkan pandangannya dan keluar kamar agar bisa menghindari Vano yang sedang merengek.


“Ayolah, aku ingin ikut dengan kamu! Sayang… Apa aku tidak menginginkan kamu lagi?” Ucap Vano yang memeluk Khiren untuk menghentikan langkahnya.


“Aku sangat amat menyayangimu bahkan aku sangat mencintai dirimu, tapi kali ini tidak bisa! Kamu tahu kan, tidak boleh ada yang tahu hubungan kita apa lagi kalau sampai media memberitakan hal-hal aneh tentang kita? Aku tidak ingin kamu terluka sayang?” Khiren mencoba membuat Vano mengerti dengan situasi mereka saat itu.


“Baiklah!” Ucapnya dengan terpaksa.


“Anak pintar!” Khiren mengelus kepala Vano yang di sandarkan di bahunya.

__ADS_1


Mereka akhirnya turun untuk sarapan, Khiren sarapan dengan lahapnya sedangkan Vano masih terlihat sedih dan tidak berselera makan.


“Ada apa dengan kucing kecil menggemaskan ku? Kenapa dia tidak menyentuh makanannya?”


“Kenapa kamu tidak makan?”


“Aku tidak nafsu saja!”


“Benar kah? Kamu masih kepikiran dengan yang tadi’kan?”


Vano hanya mengangguk saja dan membuat Khiren makin gelisah karena Vano seakan tidak mau bicara lagi dengan dia.


“Aku suapin gimana?” Khiren hanya asal bertanya dan tidak berniat benar-benar menyuapi Vano.


Vano dengan cepat mengubah posisi duduknya dan membuat dia lebih dekat dengan Khiren, dia mulai membuka mulut dan menunggu Khiren menyuapinya.


“Eh, dia serius?” Khiren dengan terpaksa menyuapi Vano, meski terpaksa pada akhirnya dia menikmatinya juga karena saat melihat Vano tersenyum dan makan dengan lahap entah kenapa harinya sangat bahagia dan dia ingin menghentikan waktu agar bisa terus melihat Vano yang terlihat sangat bahagia.


“Kamu menyukainya?”


Vano hanya mengguk dan tersenyum  saja.


“Bagus kalau begitu, sekarang ayo kita bereskan semua ini?!” Khiren mulai membereskan semua nya sendiri karena semua pelayan di tempat itu di minta keluar untuk sementara selama dia dan Vano berada di tempat itu.


“Kapan kamu akan berangkat?”


“Sebentar lagi akan ada yang menjemput, jadi aku akan pergi saat mereka datang.”


“Apa aku tidak bisa mengantarmu?”


Terdengar beberapa orang masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu dan menghampiri Khiren.


“Nona, semua sudah siap!”


Khiren mengelap tangannya dan pergi untuk mengambil tas dan di bantu oleh seorang pelayan yang datang bersama para pengawal yang akan mengantarnya ke bandara.


“Bisa kah kamu tidak pergi?”


“Tidak, jangan seperti ini lagi, bukannya tadi kita sudah bahas tentang ini? Sekarang lepaskan tanganku, lalu nikmati saja liburmu, kita akan bertemu lagi kalau semua sudah selesai, bersabarlah sebentar lagi, ya?” Khiren mengecup kening Vano sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Bersabung….


Jangan Lupa LIKE dan FAVORIT Kan ya teman-teman.


__ADS_2