
Saat langit mulai tenang dari cahaya dan panasnya, dan para burung sudah berada di sangkarnya bersiap untuk lelap dalam malam yang semakin larut. Seorang pria yang berada di pulau kecil di istana yang megah tidak bisa menenangkan dirinya. Hati dan pikirannya tidak berada di tempat itu, dia tidak mampu mengendalikan pikirannya yang terus memikirkan wanita yang memenuhi hampir seluruh memori hati dan pikirannya. Dia terus mender-mandir, kadang duduk dan membaca buku, lalu bangun melihat lautan di malam hari dari jendela ruangan kerjanya, lalu kembali membaca laporan atau buku yang ada di mejanya berulang kali karena tidak bisa tenang. Namun sesungguhnya dia tidak membaca apapun karena pikirannya terlalu kacau, dia tidak bisa mengendalikan hatinya yang terus meronta-ronta meminta untuk bertemu dengan sang wanita yang tak hilang dari ingatannya itu.
“Master, apa yang anda lakukan di sana? Apa pria itu memperlakukan anda dengan baik atau dia menyakiti anda? Andai saya di sana, saya akan menjaga anda dengan baik.”
‘trakk’
Dia membanting buku yang ada di tangannya ke atas meja dengan sangat kuat.
“Apa yang aku pikirkan? Aku tidak boleh memperlihatkan perasaanku! Mex, master itu adalah gurumu, dia penyelamatmu, jangan pernah memiliki perasaan padanya!” Mex menekan tangannya di atas meja dengan sekuat tenaga.
“Apa master menyukai pria itu? Kenapa dia tidak pergi denganku? Aahh…” Mex berteriak kesal.
“Untuk apa aku memikirkan itu?! Mau master suka atau tidak pada pria itu tetap saja mereka suami istri, berhenti Mex! Jangan punya perasaan lebih pada master mu! Kamu tidak pantas untuknya! Kamu hanya bisa menjadi abdi nya, sadar posisimu!” Mex berjalan kearah jendela dan menatap dirinya dari pantulan kaca.
“Sembunyikan! Tetap bersikap tenang! Lakukan seperti biasa! Jangan pernah tunjukkan pada siapapun kalau kamu menyukainya Mex, jangan ada yang tahu termasuk Master, jangan biarkan ada yang menyadari perasaanmu atau kamu kita tak bisa bersamanya dan melindunginya!”
Lalu Mex pergi menuju rak buku yang sebanarnya adalah pintu masuk rahasia yang langsung menuju ke kamar Khiren, dia biasanya beristirahat di sana karena Khiren selalu menyuruhnya untuk beristirahat dengan tenang di kamar yang benar-benar memberikan ketenangan bagi siapapun yang masuk ke dalamnya. Mex seakan bisa melihat Khiren yang tidur di sana, lalu melihat Khiren sedang duduk di meja rias sambil menunggunya untuk menyisir rambut Khiren seperti biasa. Setiap sudut ruangan itu di penuhi dengan kenangan tentang Khiren, itulah alasan kenapa Mex selalu datang ke tempat itu tiap kali dia merindukan Khiren yang berada jauh darinya.
Mereka banyak menghabiskan waktu bersama meski Khiren tidak pernah menyadari bagaimana perasaan Mex padanya, meski Khiren hanya menganggap Mex sebagai tangan kanannya tapi bagi Mex, Khiren itu adalah segalanya lebih berharga dari hidupnya sendiri. Seorang wanita yang menyelamatkan hidupnya dan juga adiknya, seorang yang tadinya tidak dia kenal tapi dengan murah hati memberikan kehidupan baru untuknya dan adiknya. Ketika semua orang meninggalkannya dan membuangnya, Khiren lah yang mengulurkan tangan menyambutnya masuk ke dalam kehidupan baru yang tak pernah bisa Mex impikan olehnya.
“Master, andai saya bisa menjadi pria itu? Apa anda juga akan mencintai saya? Apa saya boleh berharap?” Mex mengambil sebuah foto yang dia simpan di laci, sebuah fotonya dan Khiren di pesta ulang tahun Khiren yang ke 19.
“Saya tidak paham, apa yang membuat anda sangat menyukai pria yang bernama Vano itu, pria lemah yang tidak berguna itu hanya menyulitkan anda. Mex! Jangan begini! Kamu tidak boleh memiliki perasaan padanya! Lupakan perasaanmu! Sadar posisimu, kamu tidak bisa sebanding dengan dua pria yang bersamanya!” Mex terus saja mencoba menyadarkan diri dari pikiran dan perasaanya pada Khiren yang melewati batasan yang ia buat sendiri.
Dia kembali meletakkan foto itu di dalam laci, lalu dia mengambil obat tidur milik Khiren dan meminumnya. Dalam hitungan menit matanya semakin berat lalu dia terlelap di tempat tidur sambil memeluk boneka panda milik Khiren.
***
__ADS_1
Langit berawal pagi itu, Khiren tidak bisa lari pagi karena rintihan hujan lebih awal datang di banding dia. Dia meminta pelayan membuat susu coklat panas untuknya, dia berdiri di dekat jendela sambil melihat hujan yang semakin deras. Lalu dia mulai mengingat saat dia dan teman-temannya berada di titik tergila sebagai remaja. Setelah menang dari pertarungan waktu mereka melawan kakak kelas semasa SMP, seketika hujan turun lalu bukannya berteduh mereka malah main di bawah hujan yang deras sambil saling bercanda, tertawa tanpa beban dan melupakan rasa sakit di tubuh mereka sehabis berkelahi dengan kakak kelas. Menjadi orang yang paling tidak peduli dengan situasi, mereka berlari-lari di bawah hujan hingga sampai di depan rumah Alex, lalu beberapa mobil datang untuk menjemput mereka semua.
“Andai aku bisa mengulangnya, pasti rasanya akan sangat menyenangkan”
“Khiren! Ngapain di sana, ayo duduk di sini saja, nanti kamu masuk angin” Pinta Revan yang baru saja turun dari lantai atas.
Khiren menoleh lalu dia kembali melihat hujan sambil meneguk susu yang hampir dingin di tangannya itu. Revan menghampirinya dengan membawa selimut yang dia dapat dari pelayan yang membawa selimut untuk Khiren.
“Sayang, kamu pasti kedinginan, ayo duduk di sana saja dan kita tutup saja jendelanya, ya sayang?”
“Terserah!” Berbalik dan menjatuhkan selimut yang menutupi bahunya.
Revan mengambil selimut berwarna biru tua itu lalu menyusul langkah Khiren ke meja makan.
“Sayang, mau aku ambilkan jaket atau sweater?”
“Gak usah! Kamu gak kerja hari ini?”
“Oh!” Khiren acuh dan kembali menikmati susu coklat yang hampir habis itu.
Setelah mengengguk susu coklatnya, dia mengambil roti yang ada di atas meja lalu mengolesinya dengan selai tapi, Revan malah memberikannya roti yang sudah siap untuk dimakan saat Khiren akan menyentuh selai di depannya.
“Kamu makan saja ini, aku sudah mengolesinya sedangan selai kacang seperti biasanya.”
Tanpa bicara Khiren mengambil roti di piring yang di berikan Revan lalu memakannya dengan perlahan.
“Makasih” Ucapnya dengan suara cukup kecil.
__ADS_1
“Sama-sama” Revan yang telinganya cukup peka masih bisa mendengar apa yang Khiren ucapkan lalu membalasnya dengan senyum penuh ketulusan seperti biasa.
“Apa rencana mu hari ini?” Tanya Khiren untuk mengalihkan tatapan Revan darinya.
“Seperti biasa, aku akan menemani istri cantikku di rumah.”
“Jangan lakukan itu! Aku sudah cukup bosan di sini tanpa melakukan apapun lalu jika di tambah dengan kehadiranmu di sini, aku bisa mati tahu!”
“Jangan gitu dong sayang, kita bisa berkebun bersama tau menonton film berdua atau melakukan apapun asal bisa bersama kamu”
“Aku berharap hari cepat berlalu, aku sudah mulai muak dengan semua ini! Revan, lusa adalah waktu yang kita sepakati, jadi kamu jangan coba-coba mengulur waktu, paham?”
“Iya, aku tahu, tanpa kamu ingatkan aku juga tahu kok”
“Bagus deh kalau kamu tahu, cepat siapkan surat cerainya dan kita akhiri semua permainan rumah-rumahan yang membosankan ini”
“Surat cerai? Yang benar saja? Kita tidak pernah membahas ini”
“Kamu sudah janji akan membebaskan aku, ya’kan?”
“Khiren, aku tidak pernah mengatakan akan menceraikan kamu!”
“Pada akhirnya kamu harus melakukan itu untuk kita berdua, urusanku tidak akan selesai jika aku terikat padamu, paham?!”
“Apa tidak ada jalan lain selain cerai?”
“Jangan merengek dan tepati saja janjimu!” Lalu Khiren pergi dari tempat itu setelah meneguk segelas air.
__ADS_1
Bersambung….
Kalau ada kesalahan dalam penulisan silahkan komen aja, biar cepat di perbaiki. Jangan lupa Like dan Favoritkan, semakan para penulis dari para pembaca setia yang tidak lupa meninggalkan jejaknya dengan memberikan satu likenya untuk karyanya.