Love Scenario V2

Love Scenario V2
cemburu


__ADS_3

“Mex, apa yang harus aku lakukan dengan dua anak itu?”


“Saya juga bingung, sebaiknya anda tidak membawa keduanya,”


“Hal itu makin tidak mungkin karena Revan sudah memintanya, Vano mungkin bisa di atasi dengan memberinya pekerjaan yang membuat dia sangat sibuk”


“Saya akan mengurusnya.” Lalu Mex menghubungi agensi model tempat Vano bekerja. Dia membuat Vano harus keluar kota beberapa waktu karena dia harus melakukan pemotretan dan juga beberapa iklan yang dia bintangi semakin membuat Vano sengat sibuk.


“Semua sudah di urus, sekarang tinggal tuan Revan saja.”


“Itu, em… biarkan aku yang menanganinya, siapkan saja perjalanan bisnisnya dan sisinya biar aku yang urus.”


Sore itu Vano menghubungi Khiren, di saat yang sama Khiren sedang bersama Revan untuk membereskan barang yang akan Revan bawa dalam perjalanannya bersama Khiren.


‘dring dring’ Khiren hanya melihatnya saja dan tidak mengangkat ataupun mematikannya.


“Kenapa diabaikan?” Tanya Revan curiga.


“Kalau begitu aku angkat saja!” Ucap Khiren acuh.


“Hallo! Ada apa?”


“Kenapa kamu dingin sekali dan kenapa tadi lama sekali mengangkatnya?”


Khiren mulai menjauh dari Revan yang sedang menyiapkan barangnya, dia berjalan kearah balkon kamar atas, meski angin sore itu sebenarnya sedikit dingin di banding biasanya.


“Iya, baiklah aku minta maaf. Kamu ada masalah atau ada hal yang mengganggu mu?”


“Aku mendapatkan banyak pekerjaan dan mungkin aku tidak akan merawat si kembar, lalu bagaimana sekarang?”


“Kamu lakukan saja sesuai keinginanmu, si kembar akan ada yang mengurus jadi kamu tidak perlu memikirkan hal itu.”


“Lalu bagaimana kalau aku merindukanmu?”


“Kita akan sering video call jadi kamu tidak usaha khawatir, jalankan saja apa yang ingin kamu lakukan, aku akan mendukungmu dari belakang.”


“Baiklah! Aku sangat mencintaimu…”


Lalu Revan datang menghampiri Khiren yang berdiri di balkon dengan tanpa menggunakan baju tebal padahal suhu di luar cukup dingin.

__ADS_1


“Sayang” Revan menyelimuti Khiren dengan kain yang tebal lalu memeluknya dari belakang.


“Kamu akan kedinginan jika terus di luar, ayo masuk!” Aja Revan.


“Baiklah!” Lalu Khiren mematikan handphonenya sebelum Vano mulai bicara dan membuat Revan curiga.


Lalu Vano mengirim banyak pesan dan klip suara penuh kekesalan karena mendengar suara pria lain. Khiren segera keluar dari pelukan Revan dan pergi ke ruang kerjanya, dia mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggunya.


“Hallo! Maaf, tadi ada sedikit masalah”


“Masalah apa? Siapa pria tadi? Kenapa dia memanggilmu sayang?...”


“Dengar aku dulu!” Bentak Khiren untuk menghentikan pertanyaan yang seakan tidak berujung dari Vano.


“Maafkan aku!”


“Aku tidak ingin membuang waktuku, intinya kamu pasti sudah cukup tahu kalau aku sudah menikah, ya’kan? Aku hanya ingin mengingatkanmu kalau langkah yang kamu pilih untuk bersamaku itu akan berat jadi, pikirkan kembali harapanmu sekarang!”


“Maafkan aku! Maafkan aku!” Vano terus saja minta maaf padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.


“Berhenti minta maaf, kamu tidak salah! Aku yang salah karena memaksa kamu untuk tetap di sisiku dengan situasiku yang serti ini.”


“Aku… Vano, kamu tahu aku tidak mungkin membuangmu, ya’kan? Jangan bersedih, jika kamu bisa bertahan sampai akhir, aku berjanji tidak akan ada orang lain selain kamu.”


“Kamu janji?” Ucap Vano dengan suaranya yang terdengar sedang menahan kesedihannya.


“Iya aku berjanji! Jadi, sekarang jadilah anak baik dan lakukan semuanya dengan benar, kita akan segera bertemu lagi.”


“Khiren!”


“Iya”


“Aku mencintaimu!” Ucap Vano dengan tulus.


“Aku juga”


‘tok tok tok tok’


“Khiren, ayo makan malam bersama!” Revan yang tidak bisa membuka pintu akhirnya mengetuk pintu dan memanggil Khiren untuk segera keluar dan makan malam bersamanya.

__ADS_1


Khiren segera mematikan handphonenya dan menghapus semua pesan dari Vano dan juga daftar panggilan keluar dan masuk hari itu. Setelah semua di rasa beres dia keluar dengan ekspesi seolah-olah tidak terjadi apapun, dia berjalan di depan Revan.


“Khiren kenapa kamu menggunci pintunya tadi?”


“Aku lapar, jalan cepat sedikit, dong!”


“Baiklah”


Setelah semuanya selesai mereka berangkat dengan mengambil penerbangan malam, jarak yang tidak terlalu jauh membuat waktu mereka tidak terbuang banyak, begitu sampai Khiren segera pergi ke hotel terbaik di kota itu dan beristirahat sebelum fajar menyapanya dan memaksanya kembali beraktivitas. Saat Khiren tidur saat lelap karena terlalu lelah, Revan mengambil kesempatan dengan membuka handphone Khiren menggunakan sidik jari Khiren. Dia memeriksa semua pesan dan juga panggilan masuk, meskipun tidak ada yang bisa membuatnya kesal tapi, entah kenapa dia lebih terlihat kesal karena tidak menemukan apapun.


“Dia menghapus semuanya, aku jadi tidak bisa tahu siapa yang menghubunginya tadi” Revan sangat kesal.


Lalu tak lama kemudian sebuah pesan dari nomor tidak di kenal masuk.


“Aku akan berangkat besok” Isi pesan itu.


“Siapa orang ini?” Pikir Revan, lalu Revan meminta orangnya untuk menyelidiki siapa pemilik dari nomor tersebut dan tidak lama kemudian di ketahui kalau pemiliknya bernama Revano.


“Revano, Vano! Em, aku pernah membacanya di suatu tempat, tapi… Dimana?” Revan mencoba mengingat nama itu lalu tiba-tiba dia ingat tentang informasi yang dia dapat dari sumber yang tidak di ketahui.


“Sertinya nama ini sama seperti nama cinta pertama Khiren, pria dengan sifat yang lemah lembut dan sensitive ini, karakter yang selama ini aku coba tiru. Tidak! Tidak boleh, dia tidak boleh bersama Khiren atau semua rencanaku menjadi hancur!”


“Aku… Aku harus segera menyingkirkan pria sialan itu!” Pikir Revan.


Revan mengembalikan handphone Khiren ke tempat semula lalu di tidur di sebelah Khiren dengan tenang agar Khiren tidak terbangun karena pergerakannya. Dia kesulitan untuk tidur karena setiap dia memejamkan matanya dia akan teringat tentang pria yang mungkin saja akan merebut istrinya. Revan berbalik dan mentap Khiren yang sedang tidur dengan posisi muka menghadap ke arahnya.


“Bagaimana kalau kamu semakin mencintainya dan mencapakan aku?” Revan melai mengelus rambut Khiren dengan pelahan-lahan.


“Aku, aku takut kamu menghilang… Bagimana aku bisa hidup tanpa melihatmu, padahal aku sudah bersusah payah menghilangkan sifat burukku agar kamu menyukaiku, aku bahkan meninggalkan semua pekerjaanku demi bisa tetap di sisimu.”


“Bisakah sekali saja kamu memikirkanku? Bisa tidak kalau hatimu hanya untukku saja?”


“Sulit sekali memperjuangkan wanita secantik dan semanarik dirimu”


“Sebanarnya apa sih yang kamu lihat dari pria lemah itu? Aku tidak paham, apa yang menarik dari pria dengan latar belakang yang tidak lebih baik dariku itu.” Saat sedang berpikir Revanpun ikut terlelap dengan waktu yang terus berjalan dan malam yang semakin larut membuat matanya semakin berat.


Bersambung….


Jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya dengan like, vote, dan kasih reting 5 untuk novel ini.

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA 😊😊😊😊


__ADS_2