Love Scenario V2

Love Scenario V2
episode 91


__ADS_3

Di akhir bulan Febuari para anggota tujuh bersaudara yang sejenak berhenti dari kesibukan masing-masing memutuskan untuk berkumpul di rumah Khiren. Harusnya mereka ada enam orang tapi Dimas tidak bisa datang karena dia sangat sibuk di rumah sakit di tambahh dia harus mempersiapkan pernikahannya dengan perempuan yang selama ini dia hindari. Windy seorang anak perempuan dari miliader yang sangat terkenal setelah bertahun-tahun mengejar Dimas akhirnya berhasil menaklukkan pria dingin yang tampan itu di akhir tahun dan mereka langsung merencanakan pernikahan. Windy takut Dimas kembali berubah pikiran dan kabur dari genggamannya, dia sengaja langsung melamar Dimas karena sudah banyak saingan bertambah setelah Dimas bekerja di rumah sakit yang ada di korea.


“Oi! Masa ngumpul-ngumpul gak bawa cemilan?” Aldo terlihat lesu dan lemas di sofa siang itu.


“Lah itu mah gampang, tunggu aku pesan dulu” Morlin membuka handphonenya.


“Mau pesan sama siapa?”


“Si Farhan lagi jalan sama ceweknya, aku bakalan suruh dia buat beli cemilan pas pulang”


“Kalau gitu cepat, bisa mati lemas aku karena bosan banget”


“Kenapa gak main game aja?”


“Main sama siapa? Sama Ryo? Bisa makin stress aku, dia manang terus, ngeselin banget!” Aldo melirik kearah Ryo yang lagi asik main game di pojok sofa.


“Jadi cuma kita bertiga aja nih di sini?”


“Ya mau gimana, Dimas udah jelas sibuk, terus si Farhan masih pacaran di luar dan si Kiky pasti lagi ngorok tu di rumahnya”


“Lah kenapa gak di telpon aja?”


“Handphone nya mati, mau hubungi ortu dia, gue mah takut kena marah, kan kemarin si Kiky sakit gara-gara jalan bareng gue ke pantai”


“Itu mah salah dia, udah tahu malam, ngapain main di kolam?”


“Itu sebanarnya cewek gue dorong dia ke kolam soalnya dia pikir gue putusin dia gara-gara gue berbelok sama si Kiky”


“Hahhaa… yang benar aja, kasian banget tu si Kiky, udahlah jomblo, di tuduh pula belok sama elo hahha..”


“Maksud lo apa?” Aldo langsung naik darah


“Stop! Kalian berisik banget, udah jadi kita ngumpul di sini ngapain sih? Yang punya rumah aja gak ada, jadi kita ke sini buat apa?”


“Gak tahu, ya sesekali ngumpul kan gak masalah”


Ryo mematikan handphonenya lalu meletakkannya di meja, dia mulai fokus pada obrolan mereka. Dia terlihat mulai serius dengan tatapan yang tajam dan fokus pada ke dua orang yang duduk di depannya.


“Bicara soal Khiren, apa kalian gak sadar kalau yang kita lakukan selama ini udah keterlaluan?”


“Keterlaluan dari sudut mana sih, bro?”

__ADS_1


“Ya, kalian pasti sadar sejak awal Khiren tidak pernah memberikan Revan celah untuk menyuntuh hatinya, lalu kita mencari banyak cara agar mereka bisa saling mencintai tanpa mempertimbangkan perasaan sahabat kita?”


Aldo dan Morlin terlihat merenung, mereka menundukkan kepala dan merasa bersalah pada Khiren karena terlalu mamaksakan diri.


“Eh tunggu dulu! Mereka kan udah nikah jadi wajar dong kalau kita sebagai teman membuat mereka semakin dekat, ya’kan?”


“Betul itu! Seperti yang di katakan Aldo, mereka sudah sewajarnya saling mencintai selayaknya suami istri pada umumnya.”


“Kalian berdua gak ngerti! Cinta itu bukan hanya soal ikatan fisik tapi ini masalah hati, kita gak bisa memaksakan hati seseorang. Khiren dari kecil udah di didik dengan keras oleh keluarganya, dia terlihat tegas dan berwibawa tapi pada dasarnya dia hanyalah gadis yang membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang sekitarnya”


“Itu benar tapi, kita tidak bisa terlalu ikut campur dengan masalah keluarga mereka, ini bisa membuat hidup kita terancam”


“Kalau pemikiran lo kayak gitu Mor, lo gak pantas di sebut sehabat untuk Khiren! Mana ada sabahat yang hanya melihat sahabatnya menderita tapi tidak melakukan apapun.”


“Masalahnya keluarga mereka rumit! Gue bukannya gak mau bantu, kalian tahu sendiri Bunda Khiren itu dia orangnya sangat mengerikan.”


“Betul kata Morlin! Emang kalau di lihat dari luar bunda orangnya baik tapi, aslinya super kejam jadi wajar kalau Khiren ada sifat tersebunyi, kalian berdua juga tahukan?”


“Iya tahu tapi, masa kita gak ada usaha sama sekali, sih? Ya seenggaknya kita jangan mendukung Revan. Dan lo Aldo, berhenti memberik si Revan itu informasi tentang Khiren!”


“Enak aja, gue gak kayak gitu! Lagian dari mana sih lo dapat infomasi itu?”


“Lo kok gitu sih, Ryo?”


“Kami ini juga sahabat Khiren, kami pasti akan membantu.”


“Bagus deh kalau kalian mau membantu. Tapi, jangan berbalik arah di tengah-tengah”


“Lalu sekarang kita harus apa?”


‘ting tong’ bel rumah berbunyi terus-menerus hingga membuat tiga pria bak pangeran itu kesal.


“Siapa sih yang bunyiin bel? Kalian ada pesan sesuatu?”


“Enggak tu, coba aja lihat ke luar”


Morlin pergi mengejek ke pintu depan, lalu saat membuka pintu tidak ada seorang pun yang terlihat.


“Sialan! Pasti ada yang sedang bercanda!”


“A…” Teriak Farhan untuk mengegetkan Morlin dari arah tenaman hias di dekat pintu yang tidak di perhatikan oleh Morlin.

__ADS_1


Bukannya kaget Morlin malah melihat Farhan dengan tatapan aneh dan acuh, lalu kembali masuk dengan tidak menutup pintu.


“Apaan sih gak asik banget, masa lo gak keget sih? Padahal udah gue kejutin kayak gitu tadi?!”


“Silahkan coba lagi!” Morlin masih tetap acuh sambil terus berjalan.


“Siapa?”


“Tu si Farhan udah gila, bukannya masuk malah bunyiin bel” Morlin duduk dengan wajah sedikit kesal.


“Gimana kabarnya?”


“Kami semua baik, lo gimana? Pacar baru asik gak?”


“Biasa aja juga sih, tadi udah putus tapi tenang besok malam gue mau nembak cewek baru. Ni pesana kalian ambil!” Farhan meletkan belanjaannya di atas meja lalu duduk di samping Ryo.


“Thanks bro!” Mereka mulai merebut cemilan yang datang.


“Udah usia 25 lo masih aja kayak dulu, udalah, kita berhenti aja mainin anak orang, cari cewek yang bisa di ajak nikah” Ucap Aldo sambil ngemil keripik singkong.


“Males ah, mending nikahnya nanti-nanti aja, lagian masih ada masa-masa muda ngapain di sia-sia-in”


“Yang di bilang sia-sia tu kayak kita gini, Kerjaan di jadiin hobi, lah yang hobi malah di jadiin prioritas utama, kita itu lagi buang-buang waktu, tahu!?”


“Sorry ya! Gue gak ikut-ikutan, gue mah orang sibuk, pacaran aja susah”


“Morlin, morlin… lo mah bukan susah pacaran karena sibuk, tapi karena lo gak laku aja hahahah” Aldo menertawakan Morlin dengan suara yang sangat keras hingga membuat perutnya sakit.


“Enak aja! Gini-gini gue dokter kulit yang terkenal dan banyak tu cewek yang minta nomor gue”


“Palingan buat konsultan soal kulit, ya’kan?” Ucap Ryo sambil menahan tawanya.


“Udah-udah jangan di ledek terus nanti dia nangis”


“Gue gak nangis kok!”


Morlin sih bilang gak nangis tapi matanya mulai berkaca-kaca, dan semua itu semakin membuat Aldo dan yang lainnya tidak bisa menahan tawa.


Bersambung…


Kalau ada kesalahan dalam penulisan silahkan komen aja, biar cepat di perbaiki. Jangan lupa Like dan Favoritkan, para pembaca setia yang tidak lupa meninggalkan jejaknya dengan memberikan satu likenya untuk karya ini terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2