Love Scenario V2

Love Scenario V2
'pria milikku'


__ADS_3

“Bagaimana keadaanmu, kak Revan?” Seorang wanita datang membawa rantang berisi bubur untuk Revan.


“Aku dengar kakak cuma terkena demam saja tapi, kok bisa di rawat segala? Apa jangan-jangan Kakak kayak gini biar menarik perhatian aku, ya? Ih… Gemesin banget sih!”


“Berhenti berkhayal dan cepat keluar!” Ucap Revan yang dari awal memang tidak menyambut kehadiran wanita cantik berambut pirang itu.


“Kenapa Kakak begitu kasar padaku? Apa kakak emang gak sayang sama aku, ya?”


“Sudah pernah aku bilang kalau sikap kamu yang seperti ini membuat hubungan pertemanan kita jadi hancur, dan lihat ulah mu dulu, kamu membuat aku benar-benar jijik melihatmu hingga saat ini. Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran ku!” Revan menatap kesal kearah wanita itu.


‘Brakk!’ Pintu di buka dengan kasarnya hingga membuat orang yang berada di dalam termasuk Revan cukup terkejut. Beberapa pria berbadan besar dan menggunakan pakaian serba hitam masuk dan mempersilahkan tuannya yang berada di belakang mereka masuk. Seorang wanita yang terlihat anggun menggunakan jaket bulu putihnya masuk ke ruangan itu dan menghampiri Revan yang kembali memperlihatkan sisi menyedihkannya sebagai seorang pasie yang sedang sakit parah.


“Sayangku! Apa yang terjadi pada kamu selama aku tidak ada?” Khiren berlari dan langsung memeluk Revan yang terbaring di tempat tidur. “Apa kamu baik-baik saja?” Khiren mencoba memeriksa suhu tubuh Revan dengan mendekatkan keningnya dengan kening Revan.


“Aku sudah baik kan kok! Kamu kapan sampainya? Aku sudah sangat merindukanmu, aku merasa sudah sembuh setelah melihatmu, sayang.”


“Apa kamu sudah makan?”


“Belum”


Khiren langsung mengambil makanan yang ada di tangan wanita itu tanpa basa-basi dan wanita itu merasa kalau dia transparan di tempat itu hingga Khiren tidak menyadari kehadirannya.


“Kamu mau makan bubur?”


“Aku tidak suka bubur”


“Oh kalau begitu tunggu sebentar!” Khiren mengembalikan bubur yang di tolak Revan pada wanita yang masih tidak percaya dengan yang sedang terjadi di hadapannya.


“Kalian berdua, cari makanan yang enak buat Revan, dalam 10 menit harus sampai dan bawa juga sampaih ini bersama kalian!” Khiren melirik pada wanita berbaju biru itu.


“Apa maksudmu? Siapa yang kamu bilang sampah, hah?!”


“Oh, kamu manusia, ya? Kalau kamu merasa manusia ya pastinya kamu punya rasa malu, dan kayaknya kamu gak punya, deh! Mending pergi sebelum saya mendepak kamu dengan cara saya. Dan satu lagi jangan pernah menemui PRIA MILIKKU lagi, paham?” Khiren memberi kode pada pengawalnya untuk menyingkirkan wanita itu karena wanita itu terlihat tidak akan menyingkir dengan mudah tanpa paksaan. Di saat yang sama Revan tersipu malu saat mendengar Khiren mengatakan ‘pria milikku’ yang artinya Revan sudah masuk dala hati Khiren yang sedingin es dan sekeras baja.

__ADS_1


10 menit kemudian dua pria itu kembali dengan beberapa jenis makanan di tangan mereka.


“Letakkan saja di meja dan kalian bisa kembali berjaga di luar!”


“Siap nona!” Mereka meninggalkan Khiren dan Revan berdua di ruangan itu.


Khiren membuka di samping tempat tidur Revan dan terlihat bersantai dan tidak terlihat seperti pertama kali dia masuk ke ruangan itu, ekspesi khawatirnya dan kegelisahannya hilang dalam sekejap saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


“Cepat makan!” Ucap Khiren dengan sedikit membentak.


“Aku mau di suapin!”


“Boleh, boleh! Tapi salah satu tangan kamu kita patahkan dulu, gimana?” Ucap Khiren dengan nada bicara paling tenang dan senyuman yang menyiratkan makna mengerikan.


Revan langsung merinding melihat senyuman Khiren, dia dengan patuh mulai makan tanpa bicara. Sesekali dia melirik kearah wanita yang sedang sibuk dengan handphonenya.


“Lain kali kamu jangan temui wanita itu, paham?”


“Iya tapi…”


“Kapan kamu akan kembali?”


“Mungkin dua bulan, dan selama aku tidak ada, jangan buat masalah! Bunda ingin bicara dengan kita malam ini, jadi cepat bersiap untuk kembali ke rumahmu, toh kamu juga udah sehat-sehat saja, ya’kan?”


Revan tidak habis pikir bagaimana Khiren bisa tau kalau dia sudah sehat padahal dia sudah coba berekting sakit parah di depannya tadi. Revan tidak bisa menanyakan hal itu pada Khiren atau Khiran akan murka karena tanpa sadar Revan mengakui kalau dia hanya pura-pura sakit agar Khiren menemuinya.


Malam pun telah tiba, Khiren bersiap menyambut bundanya yang akan berkunjung malam itu. Tak lama kemudian Mama Revan datang dengan membawa sebuah hadiah yang cukup besar untuk Khiren.


“Selamat malam Tante, Monika!” Khiren mencium tangan mertuanya dan mereka cepika-cepiki beberapa kali sebelum Revan memberi salam juga pada ibunya.


“Loh kok tante, sih? Panggil Mama dong sayang!” Monika ibu dari Revan yang masih terlihat muda dan menawan, memberikan kado yang dia bawa untuk menantu kesayangannya.


“Nanti di lihatnya ya, sayang?! Sekarang tunggu Bunda kamu, dia agak lama di jalan karena Ayah kamu harus menghadiri acara sebelum ke sini!”

__ADS_1


“Ma, ayo masuk!” Revan membawa Ibunya ke dalam dan meninggalkan Khiren yang masih menunggu Bundanya.


Tek lama kemudian orang yang di tunggu datang, seorang wanita hamil bersama dengan pria paru baya yang masih terlihat muda itu sangat bahagia melihat Khiren yang menyambut mereka.


“Putri kecilku!” Bunda langsung memeluk anak ke sayangannya. “Bunda harus bicara dengan kamu setelah makan malam!” Bisik Bunda.


“Sayang, Ayah tidak di peluk?!”


Khiren memeluk Ayah yang sangat sulit dia temui karena mereka sama-sama sibuk, dia sangat merindukan kedua orang tuanya meski dia sedikit kesal pada mereka yang kembali membuat ke putusan tanpa bertanya padanya.


“Ayah, Bunda, ayo masuk! Kak Revan sudah menunggu dengan Mama di ruang makan!”


Bunda sangat gembira saat bertemu dengan sahabatnya yang sangat dia sayangi, dan juga menantu kesayangannya yang begitu baik dan juga tampan.


“Mari kita makan!”


Makan malam di lewati dengan tenang meski Khiren tidak bisa makan dengan tenang setelah mendengar ucapan dari Bundanya, dia cukup tau kalau Bunda yang meminta bicara berdua saja tanpa Ayah itu bukanlah hal baik untuknya. Saat sesi makan sudah selesai, Khiren dengan alasan ingin berkeliling rumah di bawa menjauh dari anggota keluarga yang lainnya agar dia bisa bicara dengan Bundanya.


“Bunda ingin bicara soal apa sebenarnya?”


Bunda membawa dua amplop kuning di tangannya, wanita itu melempar salah satu amplop di tanganya ke wajah Khiren.


“Ini apa maksudnya, hah?! Kamu mencoba mencoreng nama baik keluarga kita dan menyakit Revan?”


“Apa ini Bunda?”


Khiren membuka amplop itu dan dia melihat foto dia dengan Vano saat di Café dan juga saat Khiren menjempur Vano untuk liburan. Khiren cukup kaget karena dia berpikir kalau dia sudah cukup hati-hati dalam menyembunyikan hubungannya dengan Vano.


“Kamu pikir Bunda tidak mengawasi mu? Bunda sangat menyayangimu sayang, kamu adalah putri Bunda, Bunda inginkan yang terbaik untukmu. Lihat ini!”


Khiren kembali di kejutkan dengan isi amplop kedua yang berisi foto Vano dengan seorang wanita di banyak situasi, Khiren merasa kecewa sekaligus lega, setidaknya dia melihat Vano yang bahagia meski bukan bersamanya, dia semakin yakin untuk melepas Vano karena Bundanya bukanlah hal yang bisa dia atasi dengan mudah. Dia tidak bisa menjamin keselamatan Vano jika dia bersama dengannya, terlebih jika Bunda tahu kalau dia masih sangat mencintai Vano dan Vano bisa jadi alasan yang cukup kuat untuk Khiren meninggalkan Revan.


“Hapus airmatamu! Ayo kita masuk, dan Bunda harap tidak ada laporan yang sama setelah hari ini, paham?” Bunda pergi dan meninggalkan Khiren yang masih menangis.

__ADS_1


Bersambung…


Jangan lupa meninggalkan jejak like dan vote nya


__ADS_2