
Khiren sangat marah dan mulai kehilangan akal sehatnya. Dia hampir tidak bisa berpikir karena keadaan Emilly tak memungkinkan dia untuk mengulur waktu lebih lama lagi.
“Kalian lakukan penyerangan diam-diam dari arah selatan, utara, dan barat. Dari mulai titik ini lakukan penyerangan tanpa menimbulkan suara, menurut informasi orang dalam kita, Emilly berada di ruang lantai dua kamar kedua dari arah barat. Apa kalian siap?!” Khiren menghentakkan tangannya keatas peta rumah Revan dan menatap tajam kearah seluruh pasukan khususnya yang berada di hadapannya.
“Siap” Ucap serentak penuh sengat tempur dari pasukan khusus yang telah Khiren latih selama ini.
“Tapi, Master… Apa anda yakin akan menemui orang itu sendiri?”
“Apa kamu meragukanku?” Ucap Khiren tegas.
“Tidak, master”
“Kalau begitu, mulai bergerak!”
Seluruh pasukan mulai mengambil senjata di ruangan itu dan pergi dengan cepat dan meninggalkan Khiren sendiri di dalam markas yang sebagian ruangan dipenuhi banyak jenis senjata.
“Emilly tunggu aku, tolong tetap bertahan!” Ucap Khiren dengan raut wajahnya yang terlihat sangat sedih.
Dengan menghapus air matanya, Khiren berjalan dengan percaya diri dan pergi ke tempat Revan janjikan. Khiren yang pada dasarnya seorang aktor yang sudah terbiasa berakting dan menyembunyikan perasaannya dibalik ekspresi karakter yang dimainkan pun kali itu mulai menerapkan kemampuan ektingnya agar bisa terlihat tenang di depan musuhnya.
Begitu masuk dan melewati gerbang rumah Revan, hatinya mulai goyah dan marahnya mulai memuncak tapi dia tidak ingin ada yang menyadari kalau Emilly adalah kelemahannya. Dengan ekspresi datar dan langkah tenang Khiren turun dari mobil dan menghadap Revan yang sudah berada di depannya.
“Apa mau mu?” Ucap Khiren dingin.
“Kamu tahu aku keinginanku. Aku hanya menginginkan kamu dari dulu, kini dan sampai aku mati.” Ucap Revan sambil tersenyum dan berjalan mendekat kearah Khiren.
“Hentikan omong kosong ini, cepat serahkan Emilly padaku!”
“Kenapa dia lebih penting dari aku? Bahkan kamu menikahi kakaknya, memangnya apa yang mereka miliki dan aku tidak punya?!” Revan terlihat kesal dan berhenti melangkah.
__ADS_1
“Berhenti mengulur waktu, cepat serahkan Emilly!”
“Bahkan kamu tidak peduli dengan ucapanku, dia lebih penting dari aku orang yang paling mencintai kamu!” Revan terlihat kecewa.
“Kenapa kamu harus mencintai aku? Banyak wanita lain di dunia itu, kenapa tidak mereka saja??”
“Karena aku hanya mencintai kamu, Khiren.”
“Revan, kamu tidak mengerti maksudku, ya? Aku bukan orang yang cepat untuk kamu cintai, jadi berhentilah mencintaiku.”
“Tidak bisa! Karena kamu adalah takdirku!”
“Kamu sudah gila?! Revan sadarlah! Semua orang juga tahu takdir bukan sebuah skenario yang dibuat manusia dan tidak ada yang bisa mengetahui bagaimana takdir seseorang. Dan apa hak kamu mengatakan kalau aku adalah takdirmu?”
“Manusia bisa memilih takdir mereka dan aku memilih kamu sebagai takdirku maka, kamu harus jadi milikku!”
“Revan! Cukup! Ini sudah diluar batas! Kamu pikir dengan kamu melakukan ini aku akan mau kembali bersama kamu? Tidak, Revan! Semua yang kamu lakukan hari ini cukup untuk membuat aku membencimu untuk seumur hidupku.”
“Revan, aku memohon pada kamu untuk berhenti melakukan hal bodoh dan mulailah kehidupanmu. Aku bisa menjadi teman untukku, kita bisa memulai hubungan baru ini dengan damai, tolong lupakan semuanya dan lepaskan Emilly.”
“TIDAK! Aku tidak ingin hanya berteman, aku ingin kamu jadi milikku!”
“Revan, sadarlah ini bukan lagi cinta tapi ini sudah menjadi obsesi mu saja!”
“Ya, kamu benar. Aku sangat terobsesi dengan kamu karena aku sangat mencintaimu hingga aku tidak rela kamu bersama orang lain meski hanya sedetik saja. Jiwa dan ragamu hanya milikku!”
“Tuan Nona Emilly dibawa kabur!” Teriak seorang penjaga yang keluar dari rumah.
“Khiren, kamu menipu aku! Tangkap dia!” Revan sangat marah dan memerintah beberapa penjaga yang berada di belakangnya untuk menangkap Khiren.
__ADS_1
Pertarungan pun tidak bisa dielakkan lagi, Khiren mengambil belati yang diselipkan di belakang punggungnya pun dia keluarkan. Tangan lincah Khiren berhasil menumbangkan 5 orang pria yang berusaha menangkapnya, tak lama kemudian bantuan datang dan Emilly berhasil dibawa keluar bersama anak yang baru dilahirkannya. Revan hasil ditahan oleh dua orang anak buah Khiren.
“Emally, apa kamu baik-baik saja? Bagaimana anakmu?”
“Semua baik, kak.”
“Kalau aku tidak bisa memilikimu maka dia pun tidak, dia harus mati!” Revan merebut pistol dari penjaga yang ada disampingnya dan langsung melepaskan beberapa tembakan kearah Emilly.
Khiren sangat panik dan mencoba menahan tubuh Emilly bersama bayi yang berada di gendongannya. Revan kembali ditahan dengan beberapa orang yang baru keluar dan melihat kejadian itu. Khiren mulai kehilangan kendali dan tidak bisa mengontrol ekspresinya lagi, dengan Emilly dalam pangkuannya bersama dengan bayi laki-laki yang terus menangis.
“Emilly bertahanlah! Cepat bantu aku bawa dia ke rumah sakit!”
“Tidak kak! Aku tidak bisa bertahan lagi…T-tolong rawat anakku seperti anakmu sendiri, dan aku menitipkan kak Mex padamu tolong cintai dia karena dia hanya punya kamu sekarang. Maafkan aku!” Lalu Emilly tidak sadarkan diri, darah terus mengalir dari punggungnya dengan sangat deras, kondisinya yang sudah dari awal lemah membuat dia tidak bisa tertolong sebelum dibawa kerumah sakit.
“Tidak! Tidak Emilly! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku seperti ini! Emilly! Buka mata kamu, Emilly!” Khiren memberikan anak Emilly kepada orang disampingnya lalu dia memeluk Emilly yang berlumuran darah, sambil menangis histeris. “Kenapa kamu pergi di hadapanku? Bagaimana aku bisa hidup dengan rasa bersalah ini? Emilly!!!!”
Lalu tiba-tiba Khiren terdiam, dia melepaskan Emilly dan mengambil sebuah pistol. Dia berjalan kearah Revan yang tangan dan kakinya sudah terikat.
“Semua terjadi karena obsesi gilamu! Aku kehilangan mereka orang yang paling aku sayangi, kamu membunuh Samuel, lalu Emilly dan sekarang aku sudah cukup alasan untuk membunuhmu” Khiren meletakan ujung pistol di kepala Revan dan begitu dia akan bersiap menembak sebuah tangan menariknya dari belakang. “ Siapa?” Dan begitu dia memalingkan wajahnya, ternyata Mex yang berada belakangnya.
“Khiren, hentikan ini! Lepaskan saja dia, kita tidak harus membuat masalah ini semakin besar!” Mex pun memeluk Khiren dan mencoba menenangkan Khiren.
“Emilly sudah tiada! Aku tidak bisa membiarkan dia hidup” Ucap Khiren sambil menangis dalam pelukan Mex.
“Ini bagian dari takdir yang tidak bisa kita hindari. Ini semua bagian dari skenario hidup yang sudah diatur Tuhan untuk kita semua, kita tidak bisa mengubahnya meski memutar waktu lagi . Ikhlaskan saja, Emilly akan lebih tenang jika kamu melakukannya.”
Saat Mex mencoba memenangkan Khiren, orang tua Revan datang, lalu membawa Ravan meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat sebelum Mex menemukan Khiren, dia terlebih dulu menemui orang tua Revan untuk membuat kesepakatan agar kedua belah pihak tidak memiliki masalah lagi depannya. Orang tua Revan setuju untuk membawa anaknya dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Khiren, dan Mex berjanji akan membiarkan Revan tetap hidup.
__ADS_1
Bersambung…